Nama lengkapnya Doyi Adisaputra Dipura. Dosen young, dosen muda yang benar-benar masih muda dan tidak sok muda. Usianya belum genap dua puluh lima tahun, tetapi sudah dua tahun terakhir mengabdikan diri sebagai pengajar di sebuah kampus swasta di Kota Malang Jawa Timur, yaitu Universitas Matahaya.
Penampilannya sangat kece sekece umurnya, tampan bin ganteng, dan bersahaja. Namun, jangan pernah lupakan bahwa beliau adalah sosok dosen yang terkenal dengan sifat yang galaknya luar biasa.
Setiap mahasiswi akan jatuh cinta padanya. Namun, cinta mereka akan berubah sebal karena cara beliau mengajar.
Pak Doyi Adisaputra Dipura yang terhormat kalau ngejelasin udah kayak dikejar kereta!
Suka ngebentak kayak preman yang lagi malak!
Begitulah. Setiap orang selalu ada sisi menyenangkan begitu pula sisi menyebalkan.
Hidup agaknya memang selalu adil.
Tetapi bagi Bina, hidup tidak pernah adil jika dirinya mendapatkan nilai D di mata kuliah yang diampu Pak Doyi Adisaputra Dipura atau biasa dipanggil Pak Doyi.
Bina Sabrina. Begitulah nama yang tertera di lembar presensi kelas, di kartu tanda mahasiswa, dan siang itu, di sebuah baris nilai yang berhasil merobohkan suasana hatinya sampai ke akar-akarnya.
Mahasiswi semester empat, Jurusan Akuntansi, D3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Matahaya. Tinggi badan seadanya, suara cempreng, dan rambut yang selalu diikat asal-asalan karena katanya lebih hemat waktu.
Bina bukan mahasiswi bodoh. Sungguh. Kalau ada penghargaan untuk mahasiswi paling rajin masuk kelas se-angkatan, mungkin namanya yang akan disebut paling awal. Tidak pernah bolos. Tidak pernah titip absen. Tidak pernah pula menitipkan tanda tangannya pada siapa pun. Bahkan saat hujan mengguyur Kota Malang sejak subuh dan separuh isi kelas memilih meringkuk di kosan masing-masing, Bina tetap datang dengan jas hujan dua lapis dan sepatu yang basah sampai ke kaus kaki.
Catatannya pun rapi. Pulpen empat warna. Stabilo tiga jenis. Sticky note kuning di setiap sudut halaman.
Sayangnya, rapi tidak sama dengan paham.
Akuntansi Keuangan Menengah 3. Empat belas pertemuan, satu ujian tengah semester, satu ujian akhir semester, dan entah berapa ratus angka yang tidak pernah sekali pun mau duduk manis di kepalanya. Bagi Bina, mata kuliah itu seperti bahasa asing yang dituturkan makhluk dari planet lain. Ia mendengar. Ia mencatat. Ia bahkan menyalin ulang catatan itu di rumah dengan pulpen yang lebih bagus.
Tetap saja tidak masuk.
Dan orang yang mengampu mata kuliah tersebut, sialnya, adalah Doyi Adisaputra Dipura.
"Jadi, kalau ada selisih di sini, larinya ke mana?"
Begitu Pak Doyi bertanya, seisi kelas akan kompak menunduk. Menatap meja. Menatap buku. Menatap apa saja asalkan bukan menatap mata dosen muda itu. Karena semua sudah hafal, satu detik saja terlambat menjawab, suara Pak Doyi akan naik satu oktaf dan spidol di tangannya akan diketukkan ke papan tulis seperti palu hakim.
"Halo? Ini kelas atau kuburan? Saya nanya!"
Nah. Begitulah.
Bina pernah menghitung, dalam satu semester dirinya hanya empat kali berani mengangkat tangan. Tiga kali untuk izin ke toilet, satu kali untuk bertanya. Dan satu pertanyaan itu dijawab Pak Doyi dengan kalimat yang sampai sekarang masih menempel di kepalanya.
Waktu itu pertemuan kesembilan. Ruang D3-402. Pendingin ruangan mati sebelah, jadi separuh kelas mengipas-ngipas dengan buku tulis. Pak Doyi baru saja menutup satu contoh soal di papan tulis dengan tulisan tangan yang miring-miring dan mustahil dibaca dari barisan belakang.
"Ada yang mau ditanyakan?"
Sunyi.
Bina menggigit ujung pulpennya. Sebenarnya ada. Banyak. Tetapi dari sekian banyak, ia memilih satu yang paling dasar, yang paling ia yakini tidak akan membuatnya terlihat bodoh.
Tangannya terangkat.
"Pak."
Seisi kelas menoleh. Ayu yang duduk di sebelahnya sampai menahan napas.
"Ya, Bina."
"Yang bagian selisih tadi, Pak. Itu masuknya ke mana ya, Pak?"
Pak Doyi meletakkan spidolnya di meja. Pelan. Terlalu pelan sampai bunyinya terdengar sampai ke barisan paling belakang. Lalu laki-laki itu menatap Bina dengan tatapan yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka adalah dua orang yang tumbuh besar di gang yang sama.
"Pertanyaan kamu itu materinya pertemuan ketiga. Sekarang pertemuan kesembilan. Ke mana aja kamu?"
Sejak hari itu, Bina memilih menjadi patung.
Maka ketika nilai akhir semester genap akhirnya keluar, siang itu, sekitar pukul satu, Bina sebenarnya sudah menyiapkan hatinya untuk sesuatu yang tidak indah. C, mungkin. Paling parah C minus. Ia sudah berdamai dengan angka-angka itu sejak jauh hari.
Bina berbaring tengkurap di lantai kamarnya, beralaskan karpet bulu yang sudah tidak jelas lagi warnanya. Di sebelahnya, seekor kucing oranye gemuk bernama Krucil ikut berbaring dengan perut menghadap kipas angin, tidak peduli sedikit pun pada nasib akademik majikannya.
Jari Bina menggeser layar ponsel. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Halaman sistem informasi akademik kampus itu memuat lambat sekali, seolah sengaja memperpanjang penderitaan seluruh mahasiswa Universitas Matahaya.
Lalu muncul.
Bahasa Inggris Bisnis, B.
Perpajakan, B.
Sistem Informasi Akuntansi, A minus.
Bina tersenyum lebar. Ia mengangkat Krucil dan mengguncang-guncangkan tubuh kucing malang itu ke udara. "Cil! Cil! Gue A min, Cil!"
Krucil mengeong protes.
Bina meletakkan kucingnya kembali, lalu menggeser layar sekali lagi. Ke baris paling bawah. Ke satu-satunya baris yang sedari tadi sengaja ia hindari.
Akuntansi Keuangan Menengah 3.
D.
Bina mengerjap. Ia mendekatkan layar ke wajahnya sampai matanya juling. Diusapnya layar itu dengan ujung kaus, siapa tahu hanya debu. Ia keluar dari halaman tersebut, lalu masuk lagi. Ia bahkan sempat mematikan data seluler dan menyalakannya kembali, seolah dengan begitu huruf D akan berubah menjadi huruf lain yang lebih berperikemanusiaan.
Tetap D.
"HAH?!"
Teriakan itu terdengar sampai ke dapur.
"BINA! Ngagetin!" balas suara Mama dari lantai bawah.
Bina tidak menjawab. Ia bangkit, duduk bersila, dan menatap layar ponselnya dengan tatapan seorang manusia yang baru saja difitnah di depan umum. Dadanya naik turun. Telinganya panas. Rasanya seperti ada air mendidih yang dituang pelan-pelan dari ubun-ubun sampai ke tengkuk.
Ponselnya bergetar. Panggilan video dari Ayu.
Bina mengangkatnya dengan wajah kusut.
"BIN! Lo udah cek?" Wajah Ayu memenuhi layar. Rambut panjangnya masih basah, sepertinya baru saja keramas. "Gue B! Gue B, Bin! Gue kira gue bakal ngulang!"
"Lo B?" suara Bina datar.
"Iya! Padahal lo tahu sendiri UTS gue kemarin isinya ngarang semua." Ayu tertawa lepas. "Lo berapa?"
Bina diam.
"Bin?"
"D."
Tawa Ayu berhenti. Layar sempat membeku dua detik karena sinyal, tetapi Bina yakin, ekspresi Ayu memang benar-benar berubah, bukan gara-gara jaringan.
"Serius?"
"Gue kayak orang bercanda?"
"Ya Allah, Bin ...." Ayu menutup mulutnya. "Tapi ... kok bisa? Lo kan yang paling rajin masuk. Absen lo full, gue tahu itu."
"Makanya gue juga nanya."
"Bentar, gue tarik Mark ke sini."
Belum sempat Bina menjawab, panggilan itu berubah menjadi panggilan grup. Wajah Mark muncul di kotak sebelah, lengkap dengan kacamata bulat yang membuat teman-temannya tidak pernah bosan memanggilnya Harry Potter versi Jurusan Akuntansi. Latar belakangnya rak buku. Tentu saja rak buku.
"Ada apa ini? Kok mendung banget mukanya?" tanya Mark.
"Mark, kamu dapet berapa Akuntansi Keuangan Menengah 3?" tanya Ayu buru-buru.
"B minus."
"Nah." Ayu menoleh ke kotak Bina. "Bina D."
Mark menaikkan kacamatanya. "Kamu serius, Bin?"
"Kalian berdua kompak banget nanyanya, ya," gerutu Bina. "Gue kirim tangkapan layar deh biar puas."
Tidak sampai sepuluh detik, gambar itu terkirim ke grup kecil mereka — BHAM Squad, walau Haekal jarang menyahut sebelum tengah malam. Dan tidak sampai sepuluh detik berikutnya, dua orang di seberang sana kompak terdiam.
"Ini ... aneh sih," gumam Mark akhirnya.
"Aneh gimana? Aneh banget!" Bina meninggikan suaranya. "Gue nggak bilang gue pinter, ya. Gue emang nggak paham materinya. Tapi coba lo pikir, Mark. Si Rendi tuh berapa kali masuk kelas? Empat kali! Empat kali dari empat belas pertemuan! Terus dia dapet C. C, Mark! Lulus!"
"Terus Vina," sambung Ayu pelan. "Vina kan sering nitip absen ke gue. Dia dapet B."
"NAH!" Bina menepuk lantai sampai Krucil kaget dan lari ke kolong ranjang. "Terus gue yang dateng terus, ujan-ujanan, duduk di depan, nyatet sampe tangan gue kriting, dapet D?"
Bina menarik napas panjang.
"Ini bukan soal nilainya doang," lanjutnya dengan suara yang tiba-tiba melemah. "Ini soal gue ngerasa dikadalin."
Ayu dan Mark saling melirik lewat layar.
"Terus lo mau ngapain?" tanya Ayu hati-hati.
"Gue mau protes."
"Ke bagian akademik?"
"Ke orangnya langsung."
"Bin." Mark memijat pelipisnya. "Kamu tahu Pak Doyi kayak gimana, kan? Yang kemarin cuma nanya soal revisi tugas aja disemprot di depan kelas."
"Gue tahu."
"Terus kamu masih mau?"
"Masih."
Ayu menghela napas. "Bin, sabar dulu. Besok kita ke kampus bareng-bareng, cari infonya dulu—"
"Nggak bisa nunggu besok."
"Bina!"
Panggilan itu terputus. Bukan karena sinyal, melainkan karena Bina memang menekan tombol merah lebih dulu, lalu melempar ponselnya ke atas kasur.
Dan begitulah. Ada satu hal yang tidak diketahui oleh Ayu maupun Mark. Satu hal yang membuat Bina berani berkata "ke orangnya langsung" dengan begitu enteng, seolah menemui dosen paling galak se-fakultas itu semudah menemui penjual sempol di depan gang.
Bina mengenal Doyi.
Bukan mengenal sebagai mahasiswi yang mengenal dosennya. Bukan pula mengenal sebagai orang yang pernah satu kali berpapasan di parkiran motor.
Bina mengenal Doyi sejak dirinya lahir ke dunia.
Rumah keluarga Doyi hanya berjarak enam rumah dari rumah Bina. Gang yang sama, pos ronda yang sama, tukang sayur keliling yang sama. Doyi adalah sahabat Johnny, kakak laki-laki Bina, sejak keduanya masih berebut sepeda roda tiga di gang yang sama. Sejak Bina lahir dan Johnny dengan senang hati membagi adik barunya itu untuk Doyi juga, lalu dijadikan bahan candaan sepanjang belasan tahun berikutnya.
Doyi pernah menjatuhkan Bina dari boncengan sepeda saat gadis itu kelas dua SD. Doyi pernah membuat Bina menangis semalaman karena menyembunyikan boneka beruangnya di atas lemari. Doyi juga yang mengantarkan Bina ke rumah sakit dengan motor bebek bututnya saat telapak kaki gadis itu tertusuk paku, karena Johnny sedang tidak di rumah dan kedua orang tua Bina sedang menjaga warung bakso mereka.
Bagi warga gang itu, Doyi adalah kebanggaan. Anak yang dulu doyan main layangan sampai maghrib, sekarang menjadi dosen di usia yang belum genap dua puluh lima tahun. Ibu-ibu arisan tidak pernah bosan membicarakannya.
Bagi Bina, Doyi ya Doyi. Titik.
Makanya, huruf D itu terasa dua kali lebih pedih. Bukan hanya karena nilainya jelek, melainkan karena yang memberikan nilai itu adalah orang yang tadi pagi masih mengiriminya pesan minta tolong dibelikan gorengan.
Menjelang sore, perutnya berbunyi juga. Bina turun ke dapur dengan rambut acak-acakan dan wajah bantal, lalu membuka tudung saji satu per satu tanpa semangat.
"Kok mukanya kayak gitu?" Mama sedang mengiris bawang di dekat kompor.
"Nggak apa-apa."
"Sakit?"
"Nggak."
"Berantem sama Ayu?"
"Nggak, Ma." Bina mengambil piring, menyendok nasi seadanya, lalu duduk di kursi kayu di pojok dapur. Krucil langsung menempel di kakinya, mengeong-ngeong minta jatah.
Mama meletakkan pisaunya, lalu berbalik. "Mas Johnny pulangnya telat lagi katanya. Ada lembur."
Bina cuma mengangguk. Diam-diam ia bersyukur. Kalau kakaknya ada di rumah sore ini, sudah pasti wajah kusutnya akan dijadikan bahan interogasi sampai tuntas. Dan kalau Johnny sampai tahu soal nilai D itu, Bina berani bertaruh, kakaknya bukan akan membela, melainkan akan tertawa sampai terguling-guling di lantai ruang tamu.
"Bin."
"Hm?"
"Kalau ada apa-apa cerita, ya."
"Iya, Ma."
Bina menunduk, menyuapkan nasi ke mulutnya, mengunyah tanpa merasakan apa pun. Nasi itu terasa seperti kertas. Di kepalanya, huruf D itu masih berkedip-kedip seperti lampu sein motor yang lupa dimatikan.
Ia menghabiskan makanannya dalam diam, mencuci piringnya sendiri, lalu naik lagi ke kamar.
Bina membuka lagi ruang obrolannya dengan laki-laki itu. Pesan terakhir masih di sana, dikirim pukul tujuh lewat dua puluh pagi tadi.
Bin, lewat depan nggak? Titip gorengan dong. Yang tahu isi sama pisang.
Dan di bawahnya, balasan Bina, lengkap dengan foto bungkusan gorengan yang sudah ia gantungkan di gagang pintu rumah Doyi sebelum berangkat ke kampus.
Nih. Bayar sana.
Nanti gue transfer.
Bohong. Sampai sekarang tidak ada yang ditransfer.
Bina menatap layar itu lama sekali. Pagi tadi. Pagi tadi laki-laki itu masih santai menitip gorengan padanya, memakai bahasa yang sama seperti belasan tahun terakhir, seolah tidak ada apa-apa. Padahal nilai itu pasti sudah selesai ia olah. Pasti sudah ia unggah. Pasti sudah ia tahu bahwa siang harinya, adik sahabatnya sendiri akan membuka halaman itu dan menemukan huruf D di sana.
Dan laki-laki itu memilih diam. Memilih menitip gorengan.
Jari Bina bergerak, mengetik satu kalimat, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapusnya lagi. Sampai lima kali. Semua kalimat yang ia susun terasa kurang. Terlalu sopan, atau justru terlalu panjang.
Akhirnya ia meletakkan ponselnya menelungkup di atas kasur.
Percuma. Orang seperti Doyi tidak akan pernah menjawab pesan dengan serius. Paling-paling dibalas stiker kucing joget, lalu dibiarkan mengambang sampai besok pagi.
Kalau begitu, harus bertemu muka.
Bina menatap langit-langit kamarnya lama sekali.
Sampai akhirnya azan maghrib terdengar dari mushola gang, lalu berlalu, lalu berganti suara anak-anak mengaji, lalu sepi lagi. Dan Bina masih berbaring di sana dengan kepala yang mendidih.
Ponselnya bergetar berkali-kali sepanjang sore. Grup kelas ramai. Grup mata kuliah juga ramai. Ada ratusan pesan yang belum terbaca di sana. Tetapi Bina sedang tidak berminat membaca satu pun pesan dari grup mana pun. Notifikasinya sudah ia bisukan sejak siang, tepat setelah melihat nilainya, karena tidak sanggup melihat teman-temannya saling mengucapkan selamat.
Satu keputusan kecil yang nanti akan membuatnya menyesal setengah mati.
Pukul setengah delapan malam, Bina bangkit.
Ia menyambar jaket denim yang tergantung di balik pintu, mengikat rambutnya sekali putar, lalu turun ke bawah dengan langkah menghentak-hentak seperti orang yang punya urusan pribadi dengan anak tangga.
"Mau ke mana kamu malam-malam?" tanya Mama dari depan televisi.
"Keluar bentar, Ma."
"Ke mana?"
"Deket kok. Nggak sampe setengah jam."
Mama menoleh, memicingkan matanya pada anak perempuannya itu. "Nilaimu udah keluar belum?"
Bina berhenti sebentar di depan pintu. Ia tersenyum lebar sekali. Terlalu lebar untuk ukuran orang yang sedang baik-baik saja.
"Udah, Ma. Aman."
Lalu ia keluar sebelum Mama sempat bertanya lagi.
Gang itu sudah sepi. Lampu-lampu teras menyala kekuningan. Ada suara televisi yang bocor dari rumah nomor tiga, dan aroma kopi tubruk dari arah pos ronda. Bina melangkah cepat, melewati enam rumah, sambil menyusun kalimat pembuka di dalam kepalanya.
Kalimat pertama harus tegas.
Kalimat kedua harus menusuk.
Kalimat ketiga harus membuat laki-laki itu tidak bisa menjawab apa-apa.
Bina berhenti tepat di depan pagar rumah bercat abu-abu. Rumah orang tua Doyi. Lampu di lantai dua menyala, tetapi tirainya tertutup rapat.
Didorongnya pagar itu pelan-pelan, lalu ia masuk, dan berdiri tepat di depan pintu.
Bina menarik napas dalam-dalam.
Lalu mengepalkan tangan kanannya.