"Kalian mau berangkat jam berapa, Hana?" tanya ayah tirinya terdengar biasa saja.
Namun, Hana tetap saja kesal. "Tidak usah sok perhatian seperti itu, aku tahu apa yang Ayah pikirkan. Ayah puas bukan membuat aku hampir gila, karena harus bersama orang yang aku hindari dua puluh empat jam!"
Alih-alih marah, pria paruh baya itu justru tersenyum geli mendengar ucapan putri sambungnya.
"Kamu masih marah sama Ayah, Han. Jangan seperti itulah. Lagipula itu demi kebaikanmu. Kurang baik apa ayah, bukan cuma mencarikan-mu jodoh, tapi memperbaiki hubunganmu dan dosen pembimbing-mu. Tidak baik menyimpan benci sama seseorang, Nak," jelas pria paruh baya itu dengan sabar.
Namun, Hana malah menatap sinis dan melipat tangan di depan dad*.
"Ayah itu pintar sekali berpolitik!" cibir Hana langsung berbalik dan hendak meninggalkan ayah tirinya itu, tapi sebelum itu pria paruh baya itu menahannya.
"Tunggu dulu, Han. Katanya tadi kamu mau pamitan sama ibu kamu, kok malah mau langsung pulang. Hm, yasudah. Kalau kamu nggak betah ngobrol sama Ayah, tidak masalah, tapi pergilah temui ibumu. Sepertinya dia membuat sesuatu di dapur," jelas pria paruh baya itu.
Hana menurut dan menjumpai ibunya di sana. Ternyata sang ibu sedang menyiapkan jus apel kesukaan Hana, sontak sebelum ditawari gadis itupun meneguknya. Kemudian pamit karena tidak mau membuat Argan menunggu lama di ruang tamu. Apalagi saat itu suaminya sedang ditemani Andreas kakak tirinya Hana.
"Yaudah, kami pamit pulang dulu ya, Bu. Aku dan Mas Argan masih harus mempersiapkan banyak hal," jelas Hana, tapi di sana tidak hanya ibunya, jadi dengan malas pun dia pamit juga. "Hana pulang, Yah!"
"Ketusnya anak Ayah!" cibir pria paruh baya itu menggoda putrinya, tapi Hana malah berlalu dan memutar bola matanya dengan jengah.
"Maafkan putriku, Mas. Hana sudah keterlaluan sama kamu," ungkap ibunya Hana setelah Hana pergi dari sana.
Pria paruh baya itu menghela nafas kemudian mengangguk. "Tidak apa-apa, aku mengerti apa yang dia alami. Aku tidak tersinggung, justru aku merasa dekat karena Hana sudah tidak canggung padaku lagi, tapi omong-omong gimana dengan obatnya, kamu sempat mencampurkannya ke dalam minuman Hana?"
Ibu Hana mengangguk paham. "Tapi itu nggak masalah kan, Mas? Tidak akan terjadi sesuatu sama Hana ...."
"Tentu saja terjadi, setelah ini dia mungkin akan memberi kita cucu!" jelas pria paruh baya itu membuat istrinya memukul bahunya, lalu mereka saling tersenyum.
*****
Dalam perjalanan pulang, Hana terus saja melirik suaminya. Ada luka memar disudut bibirnya, dan Hana mencurigai kalau hal itu pasti ada kaitannya dengan Andreas kakak tirinya.
"Kamu ngapain ngeliatin saya begitu, giliran di rumah kamu malah menghindar!" cibir Argan yang memergoki kelakuan Hana dari sudut matanya.
Hana pun reflek menjauh dan menatap ke arah lain. Dia bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang hubungan mereka bertambah canggung sejak kejadian malam itu, dan mengingatnya pun membuat pipi Hana memerah saat ini.
"Ak-aku nggak ngeliatin, Mas, kok ... kurang kerjaan banget!" jelas Hana gugup reflek mengalihkan gugupnya dengan cara mengusap anak rambutnya sendiri.
Indah memang sial*n, patut disalahkan karena kejadian itu. Hana bahkan sudah berniat membalasnya. Lihat saja nanti, wanita itu pasti kapok dibuatnya.
"Pembohong!" cibir Argan membuat Hana membulatkan mata. "Pipimu sudah menjelaskan semuanya. Ngaku kamu, pasti sedang membayangkan yang tidak-tidak pada saya!"
Jleb!
Bagaimana bisa Argan malah terpikirkan demikian. Hana yang malu seketika jadi kesal.
"Aku cuma memperhatikan memar di wajah Bapak, jangan-jangan itu disebabkan kak Andreas!" ucap Hana langsung menaikkan nada suaranya.
Tepat setelah mengatakannya tiba-tiba Hana merasa panas menyelimuti sekujur tubuhnya. Dia pun jadi gelisah, dan spontan mengusap sekujur tubuhnya yang terasa aneh.
Disaat yang sama Argan masih belum menyadari hal itu. Dia terus mengemudi dan fokus pada jalanan.
"Ini memang disebabkan oleh Andreas, tapi tidak perlu khawatir. Diantara kami hanya terjadi masalah antara pria," jelas Argan.
"Huft ... i--iyahhhh, ah!" jawab Hana tak sadar mengeluarkan desahan.
Spontan Argan pun melirik dan menyadari keadaan istrinya. Pria itu sedikit panik, tapi tak lupa segera menepikan kendaraannya ke tempat yang aman.
"Hana kamu kenapa?!" tanya Argan sembari mengulurkan telapak tangannya untuk mengecek suhu tubuh istrinya.
Di saat yang sama Hana mulai berkeringat dan geleng-geleng kepala.
"Kenapa berhenti?!" ucap Hana masih tanpa sadar menaikkan nada suara. "Cepat! Aku ingin pulang! Tubuhku panas, aku ingin mandi!!
"Apa?!" kaget Argan langsung kebingungan.
Namun, pria itu juga tidak bodoh. Dia sepertinya tahu apa yang dialami istrinya. Sehingga tanpa bertanya lagi diapun mengemudikan mobilnya. Beruntunglah jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh, karena mereka memang sudah hampir sampai saat itu.
"Aaahhhh! Ughhh ... pa-panas, a--kuhh tidak tahan!"
Hana langsung mencengkram Argan begitu mereka sampai, tapi ternyata sentuhan itu berhasil membuat Hana menyadari sesuatu. Rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya membutuhkan Argan, sehingga dia pun melakukan lebih.
"Hana!" bentak Argan kaget, tapi gadis itu malah semakin agresif, dan membuatnya pusing.
"Sial! Kenapa kamu tidak bisa menahan diri?!" geram Argan kesal.
Sebagai seorang pria, diserang sedemikian rupa oleh istrinya sendiri dan sudah sah menjadi miliknya. Tentu saja membuat pertahanannya runtuh dalam seketika.
"Kau yang meminta ini, jangan menyesal setelah selesai?!"
"Ughh, aaaah ... pa--panas, Pak Ar--ganhhh!"
"Ckck! Aku tidak akan bekerja kalau kamu belum setuju. Katakan kamu tidak akan menyesal setelah kita melakukannya?!" tuntut Argan.
Di saat itu, Argan ternyata berpikir untuk merekam persetujuan Hana lewat ponselnya.
"Aaahh, ughhh ... to--tolong, akuhhh!"
"Katakan dulu, Hana!"
"Iyahhh ... akuhh ti--tidak akan me--menyesal. Argghhh!!"
Tuk!
Argan menutup rekamannya dan membiarkan teleponnya jatuh begitu saja. Dia menyeringai dan tanpa buang waktu diapun melakukan tugasnya sebagai suami yang seharusnya.
*****
"Aaaaaarrrgghhh--huft!"
Hana kaget bukan main, dia syok menemukan kondisinya di bawah selimut dalam keadaan tidak mengenakan apapun. Namun saat reflek berteriak, gadis yang sudah tidak gadis itu langsung dibungkam.
"Sssttt!" desis seseorang dari sebelahnya.
Hana yang masih syok, perlahan menoleh untuk memeriksa, tapi sepertinya dia harus menyesal. Lantaran hal itu justru membuat jantungnya bekerja keras.
"Ada apa Hana, kenapa kamu melihatku seperti itu? Sudah puas mengagumi tubuhku?" ucap Argan membuat kedua pipi Hana memerah bagaikan tomat busuk.
Dia reflek terpejam, tapi kemudian Argan dengan seenaknya merangkul bahunya. Membuat Hana seketika membuka kelopak matanya lebar. Waspada dan kali ini degub jantungnya sudah seperti tidak bisa ditahan. Seolah mau meledak saja.
"Apa yang Pak Argan lakukan pada sa--saya?" tanya Hana ragu, tapi Argan malah tersenyum menyeringai dan tampak menyeramkan bagi Hana.
Dia meremang, merinding dan ngeri sendiri membayangkan apa yang sudah terjadi, tapi hal itu malah membuat sekelebat bayangan dia dan Argan melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan olehnya.
"Perhatikanlah baik-baik, Hana," ucap Argan tiba-tiba saja menyerahkan sebuah rekaman padanya.
Hana ragu, tapi akhirnya dia menyaksikan semuanya dengan bergidik ngeri sendiri.
"Kamu tidak bisa menuntut saya, dan kamu harus bertanggung jawab!" tegas Argan sembari bangkit dari tempat tidur, dan membuat Hana kaget.
"Apa, tapi kita sudah menikah?!" Reflek Hana langsung menggelengkan kepala.
Tapi sial, kejadian sekilas yang berlalu dengan cepat itu membuatnya kapok. Argan yang bangkit tentu saja membuat selimut yang menutup tubuhnya meluncur jatuh begitu saja, dan hal itu membuat Hana melihat sesuatu yang belum pernah disaksikannya seumur hidupnya secara langsung.
Namun, Argan seperti tidak tahu malu malah meraih pipi istrinya dan mengusapnya pelan.
"Kapan pun dan di manapun saya menginginkannya, kamu tidak bisa menolak!"
"Apa? Tidak-tidak!" protes Hana yang kembali membuatnya kapok.
Kenapa dia menoleh lagi, sial karena hal itu dia harus melihatnya lagi.
"Pak Argan pakai bajumu!!" Akhirnya kalimat itu yang meluncur di tengah perasaannya yang campur aduk.
"Mas, Hana! Jangan lupa kita berada di mana, atau kamu mau saya ingatkan soal statusmu sekarang?"
Degh!
Hana meraup udara sebanyak-banyaknya, sembari menarik selimut menutupi tubuhnya, dan reflek menjauh. Sementara itu kondisi ponsel yang menunjukkan rekaman dia dan Argan sudah tergolek jatuh tanpa dipedulikan.
"Ii--iya, Mas ...." Hana gugup sambil meneguk ludahnya kasar.
*****