"Ckck ... malah ketiduran!" ujar Argan yang masih terdengar di telinga Hana.
Sebenarnya dia memang belum sepenuhnya tidur, tapi sudah sangat mengantuk. Melihat suaminya datang ke sana. Hana langsung pura-pura tidur agar bisa bebas dari sesuatu yang menurutnya kerja rodi.
Rencananya itu pun berhasil, namun Hana setelahnya justru tidur sungguhan. Selang beberapa saat kemudian dia sudah tidak tahu apa-apa lagi, tapi saat terbangun Hana menemukan jas milik suaminya menyelimuti tubuhnya.
"Sudah bangun?" ucap Argan menatap Hana datar.
Walaupun begitu, Hana jadi ragu untuk menguap selepas tidur. Entah kenapa dia malah menahan diri sambil mengangguk pelan.
"Cuci muka sekarang dan bersiaplah, kita akan pulang," jelas Argan.
Hana mengangguk kembali sembari memeriksa jam pada ponsel miliknya. Lalu dia menyadari sesuatu dan memeriksa hal itu juga.
"Tugas para mahasiswa itu sudah saya selesaikan. Ckck, setengah saja tidak bisa. Jangan-jangan pas saya tinggal kamu pasti main HP terus," ujar Argan sedikit mengomel.
Hana cuma bisa cemberut meski tak terima dengan hal itu, tapi sebenarnya Argan pun tak salah. Selamat memeriksa tugas mahasiswa, Hana sesekali berselancar di akun media sosialnya.
"Apalagi yang kamu tunggu, Hana. Kamu mau saya gendong ke kamar mandi juga dan sekalian wajah kamu saya cucikan?!" lanjut Argan menaikkan nada suara.
Dia gemas lantaran Hana tak kunjung bangkit, tapi memang setelah berkata demikian istrinya pun menurut dan masuk ke dalam kamar mandi yang tersedia di ruang kerjanya itu. Melihat itu, Argan yang masih tidak puas lanjut geleng-geleng kepala.
*****
Malam itu setelah membersihkan diri, dan juga berganti pakaian. Hana melakukan rutinitasnya sejak menjadi istrinya Argan. Dia menyiapkan makan malam untuk mereka. Baru saja menyelesaikan pekerjaannya itu, Hana mendapatkan telepon dari Indah.
"Apa lagi mau perempuan menyebalkan ini, awas jika sampai dia mengerjai aku. Lama-lama aku blokir juga nomor teleponnya!" gemas Hana sambil melihat layar teleponnya, sebelum kemudian dengan malas dia menjawab panggilan itu.
"Kalau tidak penting teleponnya aku matikan!" ultimatum Hana dengan angkuh.
Akan tetapi, hal selanjutnya yang dia dengar adalah isakan seseorang yang menyayat hati, dan hal itu sontak saja membuat Hana kaget.
"Kamu kenapa In? Indah ... kamu baik-baik saja bukan?!"
Hana mendadak menjadi serius. Dia yang tadinya kesal kini menjadi khawatir. Sementara Indah yang menghubunginya bukannya langsung menjawab, perempuan itu malah semakin mengencangkan suara tangisnya.
"In, kamu bisa dengar suara aku nggak ...."
"Hiks-hiks ... sakit Hana. Ak--aku nggak percaya dengan se--mua ini, ta--tapi suamiku selingkuh. Mas Danu punya wanita lain, Han ... hiks-hiks!!"
Akhirnya Indah pun buka suara meskipun gagap akibat menangis, tapi Hana masih mengerti maksudnya, dan dia menjadi sedih setelah mengetahuinya.
"Kamu tidak lagi bercanda kan, Indah. Dokter Danu nggak mungkin kayak gitu, mungkin saja kamu salah paham," ucap Hana masih berpikiran positif, sebab dia pun mengenal suami dari sahabatnya itu.
Agak ragu dari kabar yang Indah ucapkan, tapi mendengar bagaimana Indah yang biasanya ceria dan tiba-tiba histeris di telepon. Sepertinya sahabatnya itu juga tidak berbohong.
"Ak--aku nggak bisa cerita di telepon, ka--kamu bisa nggak temui aku sekarang. Hiks-hiks, aku butuh kamu Han ...."
Hana pun menganggukkan kepala meski indah tidak melihatnya. Dia setuju, dan setelah bicara beberapa kalimat dia pun menutup teleponnya dengan Indah, tapi segera menyadari sesuatu yang lainnya.
"Kalau aku pergi sekarang gimana dengan suamiku?" ucap Indah sambil menatap hidangan di meja.
Argan memang tidak di rumah saat itu, dia sempat pamit keluar sebentar pada Hana, dan akan segera kembali untuk makan malam bersama.
"Ah, sudahlah. Lagian udah siap juga, dia bisa langsung makan sendiri, dan aku tinggalkan saja catatan biar dia tidak mencariku!" ungkap Hana langsung melakukan ucapannya.
Namun, dia cukup ceroboh. Meletakkan catatan itu di tepi meja, sehingga begitu berbalik pergi dari sana catatannya pun jatuh tanpa sepengetahuannya.
*****
"Kenapa kita malah ke sini sih, In?"
Hana nampak tidak terima ketika kesedihan Indah malah membawa mereka ke sebuah kelab malam. Sebenarnya diapun sudah menolak, tapi sejak tadi Indah terus memaksanya.
"Kamu nggak tahu rasanya gimana diselingkuhin, Han. Dadaku sesak, aku kecewa, aku tak terima, aku hancur Hana. Hiks-hiks ... kenapa sih, mas Danu suamiku malah selingkuh?!" teriak Indah jauh lebih histeris ketika mereka di tempat penuh kebisingan itu.
Hana geleng-geleng kepala, dia paham maksud sahabatnya itu. Indah pasti ke sana untuk melupakan masalahnya sejenak, dan wine di hadapan mereka adalah jawabannya.
"Yaampun, Indah, tapi kamu juga nggak harus menyakiti diri sendiri seperti ini. Kamu nggak harus minum In!!" tegur Hana.
Indah langsung menggelengkan kepala. "Lalu aku harus apa Han? Apa aku harus melompat dari jembatan, supaya aku mati dan suamiku puas?!" teriak Indah makin menggila.
"Terserah kamu sajalah. Habiskan minuman-mu secepatnya, supaya kita bisa pulang," jawab Hana akhirnya pasrah.
Indah mengangguk dalam kesedihannya, lalu meraih wine yang sudah dipesannya. Namun, saat mengangkat gelas miliknya, tangan Indah gemetar dan tak sengaja menumpahkan isinya ke arah Hana.
"Maafkan aku, Han. Ak--aku tidak sengaja," jelas Indah dengan wajah menyesal.
"Tidak usah minta maaf, aku lebih bersyukur wine itu tumpah pada bajuku ketimbang lambungmu. Yasudah, kita pulang sekarang!" ajak Hana memaksa.
Dia dan Indah sebenarnya tidak terbiasa di tempat itu. Pergi ke sana hanya untuk menghadiri acara dari teman-temannya. Pernah mencicipi minuman haram itu juga, namun hanya memuaskan rasa penasaran. Ketika sudah tahu, baik Hana ataupun Indah tidak pernah mau mencobanya lagi. Karena mereka tidak suka dengan rasanya, dan menjadi kapok.
Sekarang ketika hendak mencobanya lagi, keduanya pun mengurungkan niat. Mereka tidak suka dengan bau alkohol yang dihasilkan.
"Lebih baik kita mukbang makanan pedas dari pada minum alkohol. Itu juga bisa tahu untuk melupakan kesedihan!" usul Hana saat mereka sudah di jalan.
Indah mengangguk saja karena tidak tahan dengan sesak di dad*nya. Dia sudah tak kuasa. Hingga tibalah mereka di sebuah tempat makan yang menyediakan ramean pedas dan sejenisnya.
Hana tidak makan dan membiarkan Indah memesan makanan ekstra pedas. Sementara dia sendiri memesan jus untuk menemani Indah. Dia teringat masakannya di rumah, dia masak cukup banyak, dan sayang jika tidak di makan. Walaupun saat Hana pulang mungkin sudah dingin.
"Kamu benar, Han! Hiks ... makan begini pas lagi sakit-sakitnya memang pas," ungkap Indah masih terlihat sedih.
Hana hanya mengangguk dan menjadi pendengar yang baik. Dia ikut prihatin dengan sahabatnya itu, lalu saat mereka selesai makan Hana mengantar Indah pulang, tapi bukan ke rumah suami Indah melainkan apartemen milik Indah yang digunakan wanita itu sebelum menikah.
"Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi aku nanti!" pesan Hana sebelum dia sendiri pamit pulang.
*****