Hana terbangun dengan posisi menyamping dan sedikit sesak. Begitu dia menguap serta membuka mata, wanita langsung kaget dan memeriksanya.
"Apa yang dia lakukan, apa dia pikir aku guling?!" dumel Hana dengan suara yang masih serak khas bangun tidur.
Tidak pernah begitu sebelumnya, bahkan saat bulan madu. Mereka memang sudah tidur di ranjang yang sama, tapi pasti saling menjaga jarak dan bahkan membelakangi. Berbeda dengan kondisi pagi ini, tiba-tiba saja suami sekaligus dosennya itu memeluknya dari belakang.
Namun, Hana pun hanya menghela nafas, tidak mau menciptakan masalah, dia pun memutuskan untuk melupakannya. Wanita itu menyibak selimut dan bergerak untuk duduk. Sialnya dia justru tertahan dan pelukan itu semakin erat.
"Apa-apaan dosen rese ini, dibiarkan malah ngelunjak!" keluh Hana sambil mengomel.
Wanita itu langsung menyingkirkan tangan yang memeluk perutnya, tapi urat yang menonjol pada permukaan tangan itu tiba-tiba menarik perhatian Hana.
"Wah, ternyata tangannya kekar juga. Keliatan kuat dan--"
Hana menghentikan ucapannya sambil mendekatkan tangannya sendiri pada tangan Argan. Lalu dia menatap sambil mengamati.
"Besar juga. Kayaknya satu cengkraman tangannya bisa muat kedua pergelangan tanganku. Pantas saja susah lepas kemarin malam," ujarnya sambil membayangkan Argan semalam.
Bayangan dirinya di bawah Argan masih terbayang jelas, dan membuat Hana merinding entah kenapa. Wanita itu pun menggeleng, lalu menepuk-nepuk pipinya sendiri, tapi dia kesakitan saat melakukannya terlalu keras.
"Aarrggh! Ssstt ... Hana kamu bodoh sekali," omel Hana pada dirinya sendiri.
Agar mengurangi rasa sakitnya, reflek Hana mengangkat tangan untuk mengusap pipinya itu, tapi Hana segera menyadari sesuatu yang salah.
Dia melirik ke arah tangan itu saat menyadari telapak tangan itu mampu menangkup seluruh pipinya bahkan wajahnya.
"Ini bukan tanganku!"
Hana horor sendiri saat jemari telapak tangan itu bergerak mengusap pipinya, dan begitu tangan itu dia lepas, tangan itu bahkan bertahan di sana. Nafasnya Hana pun langsung terasa berat, menyadari hal lainnya yang lebih horor. Ragu-ragu dia berbalik, dan langsung membulatkan kedua matanya.
"Ternyata kamu suka sama tangan saya?!"
Jleb!
Hana terkejut bukan main, ternyata Argan sudah terbangun tanpa terduga. Membalas tatapan Hana, hingga tatapan mereka bertemu. Hal itu membuat Hana membeku, apalagi elusan di pipinya masih berlanjut.
"Pak Argan!"
Tuk!
Argan langsung menghentikan elusannya, dan menyentil dahi Hana. Membuat Hana protes dalam kegugupan yang masih menyertainya. Sementara Argan langsung bangkit dan membuat Hana memalingkan wajah. Sialnya pria itu masih tanpa baju seperti semalam.
"Berapa kali saya katakan, di rumah kamu istri saya. Berhenti memanggil seperti itu!"
"Maaf, sa--saya belum terbiasa Mas ...."
Hana ikut bangkit dan masih dengan tatapannya yang enggan ke arah Argan. Mendengar ucapan Hana, pria itu mendesah kasar.
"Pas bulan madu kemarin kamu sudah biasa, kenapa sekarang berubah. Kamu mau kita bulan madu lagi?!" balas Argan cukup sarkas.
Hana belum sempat menggelengkan kepala, tapi Argan langsung melanjutkan ucapannya.
"Baiklah, tapi sebelum itu kamu lulus dulu. Saya nggak tahan kalau terlalu lama menahan diri," lanjut Argan yang tidak di mengerti Hana.
"Apa?"
"Bangun sekarang Hana, dan lihat jam. Mau sampai kapan kamu di tempat tidur terus?!"
"Hahh!"
Hana akhirnya menoleh dan menatap Argan, tapi akhirnya dia menghela nafas saat melihat suaminya pakai baju. Kemudian dia pun menurut dan memeriksa jam. Ternyata sudah pukul sepuluh pagi. Mereka terlambat bangun karena tidur larut semalam.
Apalagi Hana yang tak tenang. Dia uring-uringan suntuk dan gelisah hampir sepanjang malam. Lalu dia pun teringat penyebabnya dan meraba bibirnya sendiri.
"Apa lagi yang kamu tunggu Hana? Kamu tidak lapar?"
Argan buka suara lagi, Hana yang terbengong dan sedikit kaget, langsung menoleh menatap Argan kembali.
"Cuci muka, dan sikat gigimu sekarang!" lanjut Argan sedikit mendesak.
Hana akhirnya sadar dan melupakan lamunannya. Dia kemudian menurut dan melakukan ucapan suaminya.
*****
"Saya sudah memeriksa bab duamu. Tidak ada masalah lagi dan kamu cuma tinggal memperbaiki tata penulisan juga typo. Kamu boleh lanjut ke bab berikutnya," ujar Argan bersuara.
Mereka baru saja menyelesaikan sarapan, dan saat itu Hana tengah membereskan bekas peralatan makan yang digunakan. Seperti diterpa angin sejuk, Hana tentu saja langsung tersenyum.
"Pak Argan serius?" ujar Hana memastikan, tapi karena terlalu bersemangat dia melupakan panggilannya.
"Tidak, saya tarik ucapan saya kembali!" jawab Argan langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
Membuat Hana bingung dan mengerutkan dahi. "Tapi kenapa? Loh, nggak bisa gitu dong. Pak Argan mempermainkan saya!"
Hana protes sambil cemberut dan menatap kesal suaminya, tapi anehnya Argan terlihat lebih kesal padanya.
"Bapak-bapak? Saya di rumah ini bukan dosenmu, tapi suami kamu!" omel Argan sambil kemudian bangkit dari tempatnya. Pria itu bersiap hendak pergi.
"Saya kan belum biasa, gimana lagi selama kita mengenal saya seringnya manggil bapak," jelas Hana cukup berani.
"Makanya dibiasakan, Hana!"
"Iya, saya juga sedang mencoba. Maafkan saya ya, Mas ...." Tiba-tiba Hana melembutkan nada suaranya. Wanita itu seperti memelas, menatap Argan dengan penuh harap. "Jangan ditarik ucapannya, saya lanjut bab dua ya, Mas ...."
Argan terdiam memperhatikan Hana, kemudian menghela nafas. "Siang nanti datang ke kampus, temui saya di ruang dosen. Jangan lupa bawa makan siang, dan menunya harus makanan favorit saya!"
Begitu Argan menyelesaikan ucapannya, Hana tampak terkejut, tapi tak berani protes secara langsung.
'Memanfaatkan keadaan, bisa-bisanya dia giniin aku. Jangan-jangan dia sengaja ngambek biar dibujukin!' batin Hana tanpa sadar membuatnya melirik Argan tajam.
"Kenapa, kamu keberatan Hana?" tegur Argan membuat Hana keluar dari lamunannya.
"Nggak kok, Mas. Itu hal yang mudah, lagian bagus juga habis makan siang langsung bimbingan," ungkap Hana mencoba tersenyum.
Argan hanya berdehem, dan berangkat kerja setelahnya. Beberapa jam kemudian, tepatnya siang itu, Hana benar-benar menuruti kemauan suaminya.
Namun, bukannya bimbingan seperti harapannya, Hana malah dejavu di sana.
"Loh, Mas. Bukannya kita mau bimbingan?"
"Saya dosen kamu di sini!"
Hana membuang nafasnya kasar, dia merasa serba salah lalu memutar bola matanya jengah. Namun, alih-alih protes lagi-lagi Hana malah menurut saja.
"Pak Argan bukannya kita mau bimbingan hari ini, tapi kenapa Bapak malah menyodorkan tugas mahasiswa?" tanya Hana cukup hati-hati.
Dia takut salah lagi, dan berakibat fatal. Argan berubah pikiran soal acc bab duanya.
"Saya masih banyak pekerjaan Hana. Jadi, sebelum itu bantu saya. Kerjakan saja yang itu. Lebih cepat selesai, lebih cepat kita bimbingan," jelas Argan membuat Hana membulatkan matanya.
"Kalau keberatan, kamu bisa pergi!" ungkap Argan memberi penawaran, tapi tentu saja itu bukan penawaran melainkan ancaman.
"Nggak kok, Pak. Saya akan mengerjakannya," jelas Hana tak berani menolak.
Dia tahu bagaimana dosen pembimbingnya. Jika saja Hana menolak lalu nekat pergi, maka bisa dipastikan Argan akan marah dan melakukan suatu hal yang Hana sesali nantinya.
"Baguslah, kerjakan secepatnya," ucap Argan tampak puas.
Namun, baru beberapa menit kemudian. Seorang mahasiswa izin masuk ke ruang dosen tersebut. Dia mahasiswa bimbingan Argan, dan ke sana untuk bimbingan. Hal yang tidak Hana duga adalah suaminya menerima bimbingan itu tanpa drama. Membuat Hana kesal dan geram sekali.
"Kenapa beda?" tanya Hana ketika mereka kembali berdua.
"Maksud kamu apa, Hana?" balas Argan seolah tanpa dosa, dia bahkan mengerut seolah tak mengerti ucapan Hana.
"Bapak baik bangat sama mahasiswa tadi, menerima bimbingan begitu saja. Beda pada saya, harus bantu memeriksa tugas mahasiswa baru bisa bimbingan. Tidak adil," ungkap Hana berani karena kesal.
Argan langsung paham, tapi dia masih tetap tidak merasa bersalah sama sekali.
"Periksa saja tugas mahasiswa itu, tidak usah banyak tanya," tukas Argan membuat Hana langsung terdiam.
'Selalu saja begini, dasar bossy!' batin Hana sambil mengeram, tapi anehnya dia tanpa sadar juga selalu saja tak berdaya melawan.
*****