Langkah kaki yang sembarangan. Pandangan mata ke arah bawah namun tidak memperhatikan jalan. Dahi yang mengerut. Bibir bawah yang dimajukan. Begitulah kira-kira kondisi Nick yang dilihat oleh Ethan. Karena tidak melihat ke arah depan, Nick terus berjalan hingga kepala yang lebih condong ke depan daripada badannya sendiri terantuk sesuatu yang berada di hadapannya.
“Auch…”
Nick meringis sambil memegang kepala walaupun sebenarnya kepalanya terantuk oleh suatu bidang yang tidak dapat membuatnya terluka. Saat mendongak, Nick melihat sepasang mata tajam yang sedang memperhatikan tingkahnya.
“Aaa, Ethan. Maafkan aku.” Nick panik dan langsung menghindari badan Ethan yang sudah berjarak beberapa sentimeter saja dari dirinya. Tanpa sadar Nick menginjak sebuah batu yang cukup besar sehingga kakin