"Apa? Ethan belum bangun?" tanya Nick pada Pedro sambil melihat jam digital di atas televisi.
Jam tujuh pagi dan Pedro mengatakan bahwa Ethan belum keluar kamar sama sekali. Kedua anak muda yang berada di apartemen nomor 3903 itu kebingungan. Tidak ada sosok Ethan di dapur pada pagi hari membuat Nick dan Pedro merasa aneh. Tidak ada aroma kopi yang mengisi seluruh ruangan dan tidak ada pandangan tajam yang sesekali melihat ke arah mereka berdua.
Nick melangkahkan kakinya ke arah dapur dengan malas. Terbiasa menikmati sarapan yang sudah disediakan oleh Ethan membuat Nick tidak bersemangat. Biasanya ia tinggal duduk di atas kursi pantry dan melahap sarapannya. Kali ini ia yang harus menyiapkan makanan karena Pedro masih mengeringkan memindahkan cucian baju seluruh penghuni apartemen nomor 3903 ke dalam tumble dryer. Tentu saja selain pakaian dalam Nick yang dicuci oleh pemiliknya sendiri.
Kemarin Near baru saja membuatkannya kentang rebus yang diberi garam saja dan membuat Nick ingin memakannya lagi. Setelah melihat ada beberapa buah kentang yang masih tersisa di samping tempat bumbu dapur, Nick pun berpikir untuk membuat kentang rebus seperti yang dibuat oleh Near.
"Hanya tinggal mengupas dan memotong kentang, memasukkannya ke dalam panci yang berisi air, lalu dipanaskan. Sepertinya mudah."
Pedro membiarkan Nick berada di dapur sendirian karena merasa temannya itu hanya sedang memanaskan makanan siap saji dalam microwave. Jadi Pedro masih tetap melakukan kegiatannya bersama dengan tumpukan baju di tangannya. Namun tiba-tiba saja terdengar teriakan dari belakang punggung Pedro disusul dengan suara benda jatuh. Pedro langsung menjatuhkan barang yang dipegangnya dan bergegas menghampiri Nick.
Tidak hanya Pedro, ternyata Ethan pun langsung keluar dari kamarnya begitu mendengar suara teriakan dan pisau yang terjatuh. Ethan langsung berteleportasi ke arah Nick yang berada di dapur sehingga sosok yang pertama kali berada di samping Nick adalah Ethan dan bukan Pedro. Nick terdiam beberapa saat melihat jari telunjuk yang sedang dipegang oleh Ethan dengan sebuah garis sepanjang setengah sentimeter yang berwarna merah.
"Aku tidak apa-apa! Tenang saja. Hahaha…"
Nick tersenyum gugup melihat wajah Ethan yang tampak panik. Nick berteriak karena sebelumnya ia sudah membayangkan jarinya yang teriris dengan lebih ekstrim. Ia menyesal karena teriakan yang berlebihan itulah yang telah membuat dua laki-laki di ruangan itu menjadi panik dan khawatir.
Ethan menghela nafas dengan wajah setengah lega dan juga menahan rasa kesal. Ia keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan dan baju piyamanya yang penuh dengan lipatan tidak rapih. Penampakan Ethan saat itu sangat berbeda dari biasanya sehingga orang di hadapannya giliran memandanginya dengan khawatir.
"Kau tidak apa-apa, Ethan?" tanya Nick dengan alis yang ditekuk dan pandangan lurus ke arah wajah Ethan.
"Tidak apa-apa…. Pedro, ambilkan kotak first aid untuk Nick."
Tidak hanya penampilan Ethan yang membuat Nick kebingungan, tapi juga aroma yang tidak asing tercium dari badan Ethan. Aroma alkohol. Dan Nick tahu persis sebanyak apa Ethan sudah meminum alkohol hingga aromanya bisa menyengat seperti yang ia cium.
Hidung Nick mengendus baju Ethan dengan gerakan yang disengaja. Lalu Nick mendongak dengan tiba-tiba sehingga dua pasang mata saling berpandangan dalam jarak sekitar tiga puluh sentimeter. Alis Nick semakin ditekuk sehingga memperlihatkan wajah seperti seorang anak kecil yang baru saja menuduh orang lain menyembunyikan mainan miliknya.
"Kamu minum-minum lagi tadi subuh," tuduh Nick sambil memicingkan mata.
Untuk kedua kalinya Ethan menghembuskan nafas dengan keras. Kali ini Ethan melakukannya karena tidak nyaman saat gadis di depannya memergokinya minum minuman keras.
"Ya, Nick. Oleh karena itu jauhkan wajahmu dariku supaya kamu tidak mencium aroma alkohol lagi," kata Ethan sambil mendorong dahi Nick dengan tangan kanannya. Lalu Ethan pun berjalan menjauhi Nick dan membiarkan gadis itu mengobati dirinya sendiri saat Pedro sudah menaruh kotak first aid di atas meja pantry.
"Pantas saja dia bangun kesiangan," kata Pedro berbisik-bisik saat Nick duduk di atas kursi pantry dan membuka kotak first aid.
"Aku bisa mendengarmu, Pedro," kata Ethan yang sedang membuka kulkas.
Ethan menutup pintu kulkas dan melihat ke arah dua anak muda di dekatnya dengan pandangan sinis. Nick dan Pedro melihat sebentar ke arah Ethan lalu melanjutkan perbincangan mereka. Dengan sengaja mereka berdua berbisik-bisik untuk membicarakan Ethan padahal volume suaranya cukup besar untuk didengar satu ruangan. Ethan memejamkan matanya dan menghembuskan nafas dengan keras untuk ketiga kalinya dalam lima menit setelah dirinya beranjak dari tempat tidur.
Suara-suara yang diucapkan oleh Nick dan Pedro terdengar seperti cicitan anak ayam yang sedang meminta makan di dalam pikiran Ethan. Suara itu terus menerus terdengar di kepala Ethan selama ia menyiapkan sarapan. Seakan hangover yang sudah selesai teratasi sebelum keluar dari kamarnya muncul kembali.
"Kenapa saat ini aku seperti seorang Ayah yang mempunyai dua balita?" gumam Ethan sambil memejamkan matanya karena membayangkan apa yang ia gumamkan dalam pikiran.
Sarapan pagi hari itu pun disediakan oleh Ethan kembali setelah Nick gagal saat berinisiatif menyiapkannya. Walaupun Ethan sudah berada bersama-sama Nick dan Pedro di sekeliling meja pantry untuk sarapan, tidak ada aroma kopi yang tercium saat itu. Ethan memilih untuk meminum air lemon saja dibandingkan meminum kopi dan akan memperparah gejala yang ia terima setelah terlalu banyak meminum minuman beralkohol.
Nick belum menyentuh makanannya sama sekali. Pedro sudah asyik melahap sebuah bola dari kentang yang sudah dihancurkan dan dicampurkan dengan daging cincang dan keju. Dan Ethan baru saja menyusul Pedro untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Namun gerakan Ethan terhenti saat mengetahui ada seseorang yang memandangnya dengan intens.
Sendok yang hampir mengenai mulut diturunkan kembali oleh Ethan. Pandangan Ethan berpindah dari kedua bola mata Nick menuju jari yang sudah dibalut oleh perban, lalu kembali berpandangan satu sama lain dengan Nick.
"Kamu tidak terluka di tempat yang lain, kan?" tanya Ethan setelah sadar bahwa bisa saja pisau yang terjatuh mengenai kaki atau bagian lain dari badan Nick.
Nick menggeleng dengan cepat. Takut membuat kedua orang di dekatnya itu semakin khawatir bila menunggu jawabannya.
"Mengapa kamu sampai minum sebanyak itu?" tanya Nick setelah menunggu beberapa lama untuk mengutarakan kebingungannya.
Ethan terdiam sesaat dan menatap bola mata berwarna biru cerah di hadapannya. Ia hampir saja menjawab pertanyaan Nick dengan "tidak ada apa-apa", namun tiba-tiba saja Ethan terpikirkan hal lain. Ada sedikit keraguan atas apa yang akan diucapkannya namun Ethan langsung menepis keraguan itu dengan alasan yang kuat.
"Aku cukup kesulitan saat menghadapi pêlanggan kemarin malam."
"Kalau begitu aku akan tetap bekerja untuk membantumu."
"Tidak perlu. Kamu hanya perlu benar-benar belajar dari temanmu sehingga pengorbananku ini tidak sia-sia."
Wajah Nick yang awalnya seperti seorang investigator berubah menjadi seperti seorang anak yang baru saja memecahkan kaca dan takut dimarahi. Ethan mengamati Nick dengan seksama dan ia mengambil kesimpulan bahwa rencana yang ia pikirkan untuk membuat Nick merasa bersalah pun berhasil.
Sebenarnya Ethan tidak tega memojokkan Nick seperti ini namun ia harus melakukannya. Ethan tidak ingin Nick sampai tahu mengenai apa yang sedang dilakukannya sehingga Nick dipaksa untuk terfokus pada belajar saja dan tidak memperhatikan hal lain. Bagaimanapun, Nick sudah seharusnya tidak tahu mengenai rencana yang sudah dibicarakan antara Ethan, Reika dan Keanu.