"Terima kasih sudah mengantarkanku sampai sejauh ini," kata Near melihat wajah Ethan dari kaca spion tengah sambil menunduk hormat. "Sampai besok, Nick."
Terdengar pintu mobil yang dibuka dan ditutup. Lalu sosok yang tadinya berada di kursi belakang mobil Ethan sudah berada di luar mobil dan berjalan menuju sebuah gâng kecil yang gelap. Sebelum melanjutkan langkah kakinya menuju tempat tinggal, Near membalikan badan dan membalas lambaian tangan dari gadis yang membuka jendelanya untuk mengucapkan salam perpisahan dengannya.
Mobil berputar arah dan berjalan kembali dengan menyisiri jalan yang sama saat berangkat. Nick menutup jendelanya lalu melihat ke arah sosok di sampingnya dengan hati-hati. Ia masih berpikir bahwa Ethan mungkin akan memarahinya sekarang karena Near sudah tidak ada. Mungkin saja Ethan menahan emosinya karena ada orang asing bersama mereka.
"Ethan... kamu… benar-benar tidak marah?" tanya Nick dengan kecepatan bicara yang lebih lambat dari biasanya.
"Apakah kamu benar-benar ingin dimarahi dengan bertanya sebanyak dua kali?"
"Ti...dak. Tentu saja tidak!" Namun Nick masih penasaran. Jadi gadis itu menengok ke arah kiri sambil memperhatikan ekspresi wajah Ethan dengan intens. Saat Ethan menoleh untuk membalas pandangan Nick, Nick langsung berpikir untuk mengalihkan pembicaraan. "Ah… bagaimana dengan kondisi Pedro?"
"Tentu saja dia tidak baik-baik saja bila bertemu kembali orang yang menyîksanya saat ia masih kecil."
Mata Nick pun membelalak. Ia baru sadar mengapa Pedro begitu ketakutan saat bersembunyi dari kejaran laki-laki berbadan besar itu. Hanya satu hal yang bisa membuat Pedro kehilangan semangatnya yaitu bila ada sangkut pautnya dengan masa lalunya.
Nick menyesal tidak menghajar laki-laki berbadan besar itu lebih lama. Kalau saja ia bisa membalaskan rasa sakit yang diterima Pedro, Nick merasa Pedro akan lebih baik saat ini. Dalam hati Nick berjanji pada dirinya sendiri akan kembali ke Time Pause lagi untuk berkelahi dengan laki-laki berbadan besar itu. Namun semangat Nick yang berapi-api menjadi turun seketika saat mendapati tangannya yang baru terasa sakit saat tidak sengaja terantuk dashboard mobil.
"Ouch…."
Rasa sakit yang tidak terasa selama ini akhirnya kini timbul tanpa diundang. Nick mencoba menutup lengan bajunya kembali supaya Ethan tidak mengetahuinya lalu menahan rasa sakit dengan mengalihkannya pada hal lain. Ia menyalakan radio mobil dan mencari channel yang bisa membuat perasaannya lebih tenang.
"Tidurlah. Setelah sampai aku akan menggendongmu," kata Ethan melihat Nick yang menguap dengan keras saat mendengarkan lagu ballad dari radio.
"Baiklah…" Nick menggosok-gosok matanya dengan tangan kanan. Dan saat hendak menyandarkan kepala pada jok mobil, ia tersadar sesuatu. "Aku bukan berharap digendong olehmu. Kamu… tidak perlu melakukannya bila tidak mau…"
"Aku kan bilang akan menggendongmu."
"Ah iya… maksudku tidak perlu menggendongku bila aku berat…" Nick memejamkan mata dan mengatupkan bibirnya. Ia bahkan tidak mengerti dengan perkataan yang baru saja ia ucapkan.
Ethan tidak ingin mengulang perkataannya untuk kedua kalinya pada orang yang sedang setengah sadar seperti Nick. Ia menurunkan sandaran jok Nick dari tombol yang berada di gagang pintu, di sebelah kirinya. Nick tersentak karena tiba-tiba badannya bergerak ke arah belakang karena tindakan Ethan. Saat itu ada dua pilihan bagi Nick : melanjutkan perdebatan dengan Ethan dengan energinya yang minim atau mengikuti saran Ethan untuk tidur. Dan Nick memilih yang kedua.
Setelah Nick sudah bernafas menggunakan nafas perut, Ethan menganggap bahwa Nick sudah tertidur pulas. Sebuah jaket yang terlipat melayang dari jok belakang menuju ke hadapan Nick. Dengan kekuatan magisnya, Ethan meluruskan kembali jaket yang melayang sehingga kain itu mempunyai area yang lebih luas. Lalu jaket yang sudah terbuka pun terjatuh dan menutupi badan Nick hingga ke bagian leher.
Layar pemutar lagu pun memperlihatkan volume suara yang dinaikan secara otomatis. Lagu ballad yang asalnya terdengar samar-samar kini lebih terdengar jelas untuk mengiringi perjalanan Ethan dan Nick untuk kembali ke tempat tinggal mereka. Lebih tepatnya mengiringi Ethan yang sedang ditinggal Nick untuk tidur.
Sesampainya di basement apartemen, akhirnya Nick tidak perlu digendong oleh Ethan karena saat Ethan akan menurunkannya dari mobil, Nick meringis kesakitan. Tampaknya safety belt telah mengenai tangan kiri Nick yang terluka sehingga ia langsung terbangun. Sementara Nick masih memperlihatkan wajah meringis, Ethan langsung mengecek tangan kiri Nick. Hanya dengan sebuah sentuhan pelan dari Ethan pun Nick sudah meringis kembali.
"Bagian mana lagi yang terluka?"
"Hanya tangan saja. Aku tidak apa-apa, Ethan. Aku masih bisa berjalan sendiri kok," jawab Nick mengundang anggukan dari Ethan.
Sebelumnya Ethan sudah mengamati bahwa tidak ada yang salah dengan cara berjalan Nick. Nick pun tidak memperlihatkan rasa kesakitan sama sekali sehingga Ethan menganggap bahwa Nick baik-baik saja. Tapi Ethan tidak menyangka bahwa Nick bisa menahan rasa sakitnya selama ini sehingga tidak memperlihatkannya sama sekali.
Fokus Ethan bukanlah tentang rasa sakit yang diderita oleh Nick namun mengenai perubahan Nick yang menjadi semakin pandai menutupi rasa sakitnya. Selama ini Ethan dapat mengetahui bila ada yang salah dengan Nick, yaitu apakah Nick sedang menutupi rasa sedihnya atau pun rasa sakitnya. Kali ini Ethan pun menjadi bertanya-tanya : Mengapa ia bisa menyembunyikan sesuatu dariku? Apakah ia menutupi sesuatu selain rasa sakitnya ini?
Sesampainya Ethan dan Nick di apartemen nomor 3903, Pedro yang sudah mengembalikan penampilannya menjadi berambut merah kembali langsung menyambut kedua penghuni ruangan lainnya dengan senyuman lega. Pedro juga langsung mengambil gelas yang ada di atas meja pantry dan memasukkannya ke dalam microwave. Seperti biasa, Pedro cukup sering memberikan servis kepada Nick apabila kondisi saat itu kurang baik. Sebuah sûsu cokelat panas pada cuaca yang dingin tidak pernah gagal untuk membuat Nick merasa bahagia.
Sementara itu Ethan langsung masuk ke dalam kamarnya dan keluar beberapa detik kemudian sambil membawa selembar kain seukuran kertas A3. Ethan melebarkan kain itu di atas meja pantry, membuka bagian atas kulkas, dan mengambil sebuah ice pack dari sana. Ice pack itu ditaruh di atas kain untuk kemudian dibungkus dengan kain itu sendiri. Pelapisan kain itu berfungsi untuk mengurangi rasa dingin yang berlebihan bila ice pack bersentuhan langsung dengan kulit.
Setelah selesai mengamati Ethan yang sibuk mempersiapkan alat kompres, Nick melihat ke arah bungkusan di atas meja kemudian ke arah tangannya. Tanpa disuruh, Nick membuka lengan baju dan warna merah mendominasi lengan kirinya yang seharusnya berwarna putih.
"Setelah ini kalian beristirahatlah. Aku harus pergi ke suatu tempat dahulu," kata Ethan sambil mulai mengompres tangan Nick dengan ice pack yang telah dilapisi oleh kain.
"Kamu mau kembali ke tempat itu? Selarut ini?" tanya Nick.
"Aku sempat melihat orang yang dicurigai berasal dari kerajaan. Bila kalian belum mengantuk, Pedro bisa menjelaskan tentang rencana tadi malam kepadamu."