"Apakah kamu orang yang dicari-cari oleh orang kerajaan?" Akhirnya sebuah pertanyaan dilontarkan oleh gadis pelayan yang bekerja di Time Pause kepada Ethan. Wajah gadis itu tampak terkejut. Ia tidak bisa menyembunyikan emosinya saat mengetahui orang di depannya ini kemungkinan besar merupakan orang yang ia cari-cari selama ini.
"Baiklah. Aku anggap kamu tidak tahu apa-apa. Maaf mengganggu waktumu," kata Ethan tidak berniat merespon pelayan tersebut.
Orang yang dicurigai Ethan ternyata bukan informan yang dicari. Karena jawaban gadis itu sudah tidak sesuai dengan ekspektasi Ethan, maka Ethan tidak ingin berlama-lama di ruangan itu. Ethan pun membalikkan badannya dan bermaksud menekan gagang pintu untuk keluar. Namun tiba-tiba saja si empunya ruangan menarik tangan Ethan.
"A...aku tahu orang itu. Orang yang kamu cari."
Ethan melemparkan pandangan pada gadis yang menghalanginya untuk keluar dengan wajah kesal lalu melanjutkan kembali gerakannya untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka beberapa sentimeter, si gadis mendorong pintu tersebut hingga tertutup kembali. Suara pintu yang tertutup cukup berisik hingga terdengar sampai ruangan di sebelahnya. Karena sudah dua kali membuat keributan, gadis itu diteriaki oleh tetangganya supaya tidak berisik. Gadis itu tidak peduli dengan teriakan tetangganya dan tetap menahan Ethan untuk keluar.
"Dia temanku. Dia juga salah satu pelayan di Time Pause. Sejak tahun lalu ia ingin menemuimu tapi tidak bisa karena ia belum mencapai Kota Windhill," kata si gadis dengan cepat sebelum Ethan melakukan tindakan kêkerasan sesuai dengan ucapan Ethan sebelumnya.
Ethan memicingkan matanya untuk memperhatikan wajah si gadis yang terlihat ketakutan dengan mata hampir berkaca-kaca. Dan setelah beberapa saat Ethan baru sadar bahwa tangan gadis itu gemetaran.
"Hei… tolong mundur," kata Ethan sambil mengibaskan tangan kiri sebagai tanda untuk menyuruh gadis di depannya menjauh.
Tangan gadis itu masih berada pada daun pintu sehingga badan si gadis dan badan Ethan hampir bersentuhan. Si gadis pun menjadi malu saat mendapati dirinya seakan sedang berada pada posisi yang sedang menyerang secara agresif terhadap laki-laki. Ia langsung mundur beberapa langkah sambil menoleh ke arah lain untuk menurunkan rasa malu dan ketakutannya sekaligus.
"Kenapa kamu berubah pikiran?" tanya Ethan.
"Karena…. Aku tidak akan bisa kembali lagi ke Time Pause setelah ini. Dan aku juga tidak bisa kembali ke tempatku terdahulu. Biarpun aku tidak memberitahukan informasi kepadamu sekalipun, aku sudah melihatmu sehingga mereka akan mengincarmu dan akan membunuhku."
Si gadis mengganti Kerajaan Alexandria dengan kata "tempat terdahulu" karena mengucapkan nama-nama yang tidak lazim di Kota Windhill akan mengundang banyak pertanyaan apabila percakapan mereka didengar oleh tetangga. Seperti yang dikatakan oleh gadis itu sebelumnya, Kerajaan Alexandria sudah dibicarakan sebagai dongeng belaka oleh banyak penduduk Kota Windhill.
Ethan mengerenyitkan dahinya atas maksud yang tersirat dari ucapan gadis itu. Perkataan seperti gadis di depannya ini bukanlah pertama kalinya didengar oleh Ethan. Ada satu jenis kekuatan magis yang bisa membuat orang lain ketakutan walaupun orang tersebut tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
"Dia bisa membaca pikiran?"
"Ya. Ada orang di Time Pause yang bisa membaca pikiran. Aku tidak tahu dia mengabdi pada siapa. Ia menyelediki informan yang berasal dari tempatku terdahulu setiap harinya. Setiap malam ia akan menghampiri kami dan membaca pikiran kami."
Penyihir yang mempunyai kekuatan membaca pikiran adalah hal yang menyusahkan. Membuat rencana yang sangat detil pun akan percuma bila tidak memperhitungkan bila ada pihak oposisi yang bisa membaca rencana tersebut dengan mudah. Untungnya, Ethan tidak pernah lupa untuk memperhitungkan hal tersebut. Bahkan sebelum ini ia sudah berasumsi bahwa telatnga informasi dari Kerajaan Alexandria disebabkan oleh penyihir dengan kekuatan magis seperti itu. Dan asumsi Ethan ternyata benar.
"Aku akan memberikan semua informasi padamu," kata si gadis sambil menggerak-gerakan jari di atas layar handphone dengan gemetaran. Ia bermaksud memberikan informasi mengenai temannya pada Ethan.
"Apakah kamu berharap padaku akan dilindungi setelah ini?"
"Ti..dak.. aku akan pergi dari Kota Windhill sesegera mungkin. Lebih baik aku pergi ke desa-desa terdekat tanpa melalui jalur Timur. Setidaknya akan lebih mudah keluar dari Kota Windhill setelah aku mengerti bagaimana bagaimana kehidupan di sini dibandingkan dengan tempat tinggalku terdahulu. Aku…. hanya berharap… Nona Charlotte bisa selamat kembali ke rumahnya."
Si gadis tersenyum dengan gugup sambil membesarkan bola matanya. Rasa takut dan penuh harap bercampur aduk pada wajah gadis itu. Gadis itu sudah mengerti bahwa saat ia bertemu dengan Ethan maka hidupnya sudah tidak akan tenang seperti sebelum ini. Si gadis tidak peduli apabila Ethan bukanlah orang yang dicari-cari. Memberitahukan semua informasi pada orang yang salah tidak akan berdampak apa-apa bagi Putri Charlotte. Namun tidak memberitahukan informasi pada orang yang benar akan mempersulit rencana yang dibuat untuk melindungi Putri Charlotte. Maka dengan yakin gadis itu memilih pilihan yang kedua.
Si gadis memberikan semua informasi temannya kepada Ethan. Nama. Nomor telepon. Tempat tinggal. Jam kerja. Dan informasi-informasi lainnya. Setelah Ethan menerima semua informasinya, gadis itu berpikir bahwa setelah tamunya ini pulang maka ia bisa bersitrirahat dan menyimpan energi terlebih dahulu sebelum melarikan diri dari Kota Windhill.
"Aku masih membutuhkan informasi lebih banyak darimu. Temui aku di tengah-tengah taman Windhill Bussiness District jam dua belas siang. Aku akan mempertemukanmu dengan Nona Charlotte dan yang akan menentukan apakah kamu bisa mengikuti kami atau tidak adalah Nona Charlotte sendiri. Seharusnya kamu tahu akibatnya bila membohongi kami."
Si gadis terdiam sesaat mendengar tawaran dari Ethan. Setelah mencerna apa yang ia dengar selama beberapa detik, si gadis tak dapat menyembunyikan emosinya lagi. Ia tersenyum lebar dengan mata yang menyipit lalu berulang kali berterima kasih pada Ethan dengan membungkukan badan.
Tidak ada keraguan dalam pikiran gadis itu untuk mengikuti yang Ethan katakan. Ia tahu bahwa konsekuensi dari membahayakan seorang tuan putri adalah bahaya yang lebih besar, bahkan sebuah kematian. Tapi gadis itu tidak takut sama sekali. Ia mengangguk dengan semangat kepada sosok yang memberikannya kesempatan untuk hidup lebih aman di hadapannya.
Ethan pun berpamit pulang dan menaikan penutup kepalanya saat berada di koridor. Sepanjang berjalan melewati jalan keluar pada rumah susun, Ethan memasang kembali kabel CCTV yang telah ia cabut sebelumnya dengan kekuatan magis. Dengan menonaktifkan CCTV sebelum datang dan mengaktifkannya kembali setelah pulang, maka tidak ada rekam jejak yang merekam kehadiran Ethan di sana.
Saat berada di luar gedung langkah Ethan terhenti sejenak dan intuisinya menyuruhnya untuk mendongakkan kepala. Langit seakan terlihat lebih cerah daripada biasanya. Atau lebih tepatnya biasanya Ethan tidak pernah menikmati visual dari pemandangan di sekitarnya dan baru bisa menikmati keindahan langit sekarang ini. Dan hal tersebut membuat dirinya bertanya-tanya.
"Apakah langit terlihat indah karena aku baru saja berniat menyelamatkan seseorang yang tidak kukenal?"
Ethan tersenyum pada langit dan pada dirinya sendiri. Seorang Skyf Oleander yang diketahui oleh orang-orang adalah sosok tidak pernah berbelas kasih seperti yang dilakukan Ethan saat ini. Perubahan kecil yang dialami Ethan membuat beban dalam dirinya lebih ringan menjalani pagi hari itu. Setelah berpikir beberapa saat pun ia masih tidak mengerti beban apakah yang sebenarnya sudah terangkat. Yang ia tahu hanyalah suara Nick lah yang telah membuatnya merubah pikiran sehingga ia berniat untuk memberikan kesempatan baik pada pelayan gadis yang berasal dari Kerajaan Alexandria.