Bila dihitung berapa kali Ethan melihat ke arah handphone nya selama satu jam, jumlahnya sudah lebih dari seratus kali. Walaupun ia tetap fokus dalam mendengarkan semua informasi yang diucapkan oleh Ilona, setiap beberapa saat bola mata Ethan akan mengarah pada handphone yang sengaja diatur supaya layarnya tidak menjadi gelap secara otomatis bila tidak digunakan selama beberapa saat. Dan bila layar handphone tersebut memberikan informasi dari Nick maupun Pedro, Ethan tidak akan segan-segan untuk memotong pembicaraan lalu berteleportasi langsung menuju posisi dari kedua penghuni apartemennya.
Setelah selesai menjalankan rencana yang melibatkan Ilona dan Keanu, Ethan pun langsung melanjutkan rencana lain telah ia susun sejak ia mengetahui bahwa Irvine adalah salah satu anggota Keluarga Peruvian. Ethan langsung meninggalkan Pehme Tera Bar dan mengunjungi alamat informan yang diberikan oleh Ilona.
Letak tempat tinggal informan tersebut tidak berbeda jauh dari rumah susun yang ditinggali oleh Ilona sebelum ia ditawarkan untuk tinggal di Pehme Tera Bar. Sebuah rumah susun yang lain namun dengan kualitas bangunan yang lebih modern. Namun tidak seperti kondisi saat pertama kali mengunjungi Ilona, kali ini suasana tempat tinggal si informan lebih ramai dan lebih sulit bagi Ethan untuk bertindak kêkerasan bila diperlukan. Baru saja Ethan mengetuk pintu kamar si informan, ada seorang tetangga yang membuka pintunya.
"Dia lagi kedatangan seorang ta…."
Suara tetangga yang membuka pintu terhenti dan wajahnya bergeming dengan mulut yang terbuka. Ethan langsung mengetahui ada yang salah dengan kondisi yang terjadi saat itu. Saat melihat ke arah lain, orang yang asalnya berjalan di koridor pun tiba-tiba berhenti bergerak.
Tidak hanya menjadi saksi berhentinya semua pergerakan di sekitarnya. Ethan pun menyadari bahwa suara kompresor yang asalnya memekakan telinganya kini sudah tidak terdengar. Saat itu hanya ada suara samar-samar yang terdengar dari beberapa lantai di bawah atau pun di atasnya. Suara-suara bising yang keras dalam sekejap menjadi suara halus yang hampir mencapai suasana hening.
Semua perubahan kondisi secara ekstrim membuat Ethan tahu bahwa ada kekuatan magis yang bekerja saat itu. Dengan waspada Ethan pun bersiap-siap untuk mengantisipasi segala sesuatu yang dapat terjadi saat mendapati ada satu hal yang sapat bergerak selain dirinya, yaitu pintu yang terbuka di hadapannya.
Ethan memicingkan mata saat melihat sebuah sosok dari pintu yang terbuka. Sosok itu beberapa kali terpampang di media massa sebagai pengusaha muda yang berbakat. Walaupun Ethan sudah melihat sosok itu berkali-kali, baru kali ini ia langsung bertemu langsung dengan orang yang bernama Irvine Formit.
"Kamu bisa menahan kekuatanku seperti ini. Kamu bukan penyihir sembarangan."
Tepat saat Irvine mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya, kebisingan kembali memenuhi indera pendengaran Ethan. Termasuk kata-kata yang diucapkan oleh si tetangga dan diakhiri dengan suara pintu yang ditutup oleh tetangga yang sama.
"Kamu benar-benar sembarangan menggunakannya," kata Ethan membalas senyuman Irvine dengan wajah tidak senang.
"Mereka akan berpikir bahwa mereka berhalusinasi. Percayalah. Aku lebih banyak menggunakannya di depan mereka daripada siapa pun."
Ethan bergeming dengan perasaan tidak nyaman. Orang di hadapannya ini baru saja menghentikan dan melanjutkan waktu di sekitarnya dengan begitu saja. Di sisi lain perkataan Irvine tak dapat dibantah. Di mata manusia biasa, kekuatan pengontrol waktu memang tidak bisa disaksikan begitu saja. Baru saja manusia biasa mengedipkan matanya, sebuah pintu sudah terbuka di hadapannya. Kondisi itu akan membuat manusia yang terkena dampak penghentian waktu kemungkinan tidak akan mempertanyakan tentang ilmu magis dan malah mempertanyakan kondisi psikologisnya sendiri.
Satu alasan yang membuat Ethan tidak nyaman adalah bahwa Irvine dengan sengaja bertindak sembarangan. Tindakan Irvine dengan motif yang masih dipertanyakan tidaklah biasa bagi para penyihir yang terbiasa untuk menyembunyikan dirinya di antara manusia biasa. Terlebih lagi Irvine cukup dikenal di kalangan penduduk Kota Windhill. Tindakan Irvine yang sembarangan bisa membuatnya dengan mudah tertangkap. Tapi nyatanya Irvine begitu percaya dirinya sehingga membuat Ethan bertanya-tanya.
"Masuklah…. Kami sudah menunggumu."
Dan hal lain yang membuat Ethan tidak nyaman adalah rencananya yang telah diketahui oleh Irvine. Sekali lagi ia mengecek handphone di tangannya sebelum mengikuti Irvine masuk ke dalam ruangan.
"Setidaknya mereka baik-baik saja," kata Ethan lalu mengikuti langkah Irvine.
Di tengah ruangan sudah ada tiga orang lain selain Ethan dan Irvine dan salah satunya adalah seorang laki-laki yang sedang terikat di kursi dengan mulut yang disumpal dengan kain. Dua orang lainnya adalah seorang laki-laki berbadan tinggi dengan rambut pirang yang berdiri di samping si laki-laki yang terikat dan seorang laki-laki berbadan besar dengan tato di sekujur tangannya sedang duduk di sofa sambil memegang pîstol.
Laki-laki yang diikat pun membelalakan mata ke arah Ethan sambil berusaha berbicara dari tenggorokannya namun yang terdengar hanyalah suara-suara tidak jelas. Bahkan volume suaranya kalah jauh dari siaran televisi yang sedang terpasang.
Irvine mendekati laki-laki yang sedang diikat kemudian menepuk-nepuk bahunya. Sambil melihat ke arah Ethan, Irvine seakan ingin memperlihatkan orang yang menjadi tujuan Ethan datang sudah berada di tangannya.
"Aku mempunyai banyak pertanyaan padamu. Mungkin kita bisa menikmati kopi di sebuah kafe. Ah iya… aku bisa mengetahui minuman favoritmu karena aku melihat ada coffee maker di apartemenmu. Maafkan aku memasuki apartemenmu tanpa seizinmu."
Ethan hanya bergeming mendengar ucapan demi ucapan dari Irvine yang berusaha mengintimidasinya.
"Dan hal pertama yang aku ingin tanyakan adalah… mengapa kamu membiarkannya hanya diawasi oleh laki-laki berambut merah yang sangat mudah disingkirkan olehku?"
Ethan menarik kesimpulan bahwa saat berada di Windhill Business District, Irvine juga berada di sana namun tidak menampakan diri. Bahkan sangat mungkin bila Irvine mengikuti Nick dan Pedro ke apartemen saat Ethan tidak ada. Untungnya saat Ethan bertemu dengan Pedro, ia sudah menyiapkan rencana cadangan dengan memberikan Pedro jam tangan dengan kamera yang bisa memperlihatkan kondisi sekitar mereka seperti CCTV berjalan.
"Aku juga bisa dengan mudah menyingkirkanmu saat itu juga," jawab Ethan dengan ketus.
"Oh…. Teleportasi. Benar juga. Aku hampir saja melupakan kekuatan seorang mantan pengawal yang legendaris ini. Kamu tinggal mengawasinya dari kejauhan dan berteleportasi ke tempat tersebut bila dibutuhkan. Kamu pasti sudah cukup lama tinggal di kota ini sehingga bisa memanfaatkan barang-barang elektronik dengan cukup baik."
"Apa sebenarnya maumu, Peruvian?"
Irvine menyeringai saat mendengar ucapan Ethan. Sudah lama ia tidak mendengar nama lainnya disebut.
"Karena kita sudah cukup mengenal satu sama lain, sepertinya aku tidak perlu menjelaskan banyak hal padamu. Aku tidak akan menyakiti tuan putri. Sebaliknya, aku menawarkan kalian untuk bekerja sama denganku."
"Bekerja sama dengan orang yang berusaha menahan informasi dari kerajaan?" Ethan mengerenyitkan dahinya sambil mendengus pada perkataan Irvine.
"Ya. Aku berusaha menahan kalian untuk tidak kembali ke sana. Karena aku sedang menghentikan perbuatan kalian yang sia-sia."
Tidak ada senyuman pada wajah Irvine kali ini. Wajahnya tampak serius saat mengatakan kalimat terakhirnya. Dan keseriusan Irvine membuat Ethan harus berpikir kembali sebelum melakukan tindakan lebih jauh saat itu.