"Kita harus pergi dari sini sekarang juga."
Kalimat pertama yang terucap oleh Ethan mau tidak mau direspon dengan anggukan oleh Nick. Selama satu menit terdiam memeluk Ethan, Nick sudah memikirkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi dan perkataan Pedro tentang kembali ke Kerajaan Alexandria langsung terlintas di dalam kepala Nick. Jadi bila Ethan menyuruhnya untuk pergi, Nick sudah terlebih lebih dahulu mengantisipasi supaya kecemasan tidak terlihat di wajahnya.
"Aku akan mengemas barang-barangku."
"Ya. Aku akan memberitahu Pedro lalu menemanimu mengemas barang. Kita tidak bisa terlalu banyak membawa barang."
Nick mengangguk-angguk sambil memegang tangan Ethan dengan erat. Lalu gadis itu pun beranjak dari tempat duduknya dan melakukan kegiatan sesuai dengan apa yang ia katakan sebelumnya.
Sementara itu Pedro keluar dari kamar Ethan dan melihat ke arah dapur dengan menahan rasa sedihnya. Ia sudah mendengar pembicaraan antara Ethan dan Nick sehingga Ethan tidak perlu mengulang kembali perkataannya.
"Aku akan mengemas barang-barangku juga," kata Pedro sambil berjalan ke arah gudang dan membuka salah satu pintu lemari.
Sebelum menepati janjinya untuk menemani Nick, Ethan terlebih dahulu masuk ke dalam kamarnya. Dengan kekuatan magisnya ia bisa membawa semua perlengkapan yang ia butuhkan dalam sepersekian detik. Lalu Ethan keluar dari kamar dan melemparkan tas selempangnya yang sudah dipenuhi barang ke arah sofa. Setelah itu barulah ia melangkahkan kaki ke arah pintu yang terbuka di seberang posisinya.
Di dalam kamar, Nick sedang sibuk memasukan baju ke dalam tas ransel yang terbuka di tengah-tengah kasur, lalu ia berjalan ke arah lemari, mengambil beberapa barang dari sana dan kembali lagi ke arah kasur. Tangan dan kaki Nick tidak berhenti berkolaborasi untuk memasukan barang yang diperlukan ke dalam tas. Walaupun Ethan sudah berada di sampingnya saat ini, Nick tetap berkonsentrasi penuh untuk melakukan kegiatannya. Tampaknya saat kondisi darurat pikiran Nick pun dapat menyesuaikan fokusnya dengan sendirinya.
"Kita akan tinggal sementara di tempat Sasha dan Olly," kata Ethan membuat gadis yang berada satu ruangan dengannya menoleh dan memberikan anggukan sebagai respon singkat.
Ethan mengambil handphone dari sakunya dan langsung menelepon orang yang baru saja disebutkan olehnya. Tidak perlu menunggu hingga dua detik, terdengar suara perempuan tanpa intonasi yang berasal dari handphone Ethan.
"Ada apa, Ethan?"
"Kami harus menginap di tempatmu untuk beberapa saat."
"Datang saja ke kamarku kapan pun kalian mau. Aku akan memberitahukan Ibu sekarang."
Percakapan antara Ethan dan Olly via telepon berlangsung kurang dari tiga puluh detik. Tidak perlu prolog yang panjang pun Olly sudah tahu apabila Ethan langsung meneleponnya seperti tadi maka kondisi saat itu dinyatakan sebagai kondisi darurat. Dengan kesigapan Olly yang bisa langsung dihubungi setiap diperlukan Ethan selalu bisa mengandalkan Olly setiap keadaan darurat seperti ini.
Setelah selesai melakukan panggilan telepon, pandangan Ethan mengarah pada Nick yang masih sibuk bolak-balik dari arah lemari menuju kasur. Lalu pandangan Ethan berpindah ke arah meja belajar Nick. Ethan mengambil semua buku yang berada di sana dan memasukkannya ke dalam tas jinjing yang terlipat di samping tumpukan buku.
"Aku sudah membawa semua bukumu."
"Ok, Ethan. Dan aku pun sudah selesai. Kita bisa langsung pergi sekarang juga." Walaupun Nick mengatakannya dengan wajah yakin, dari lubuk hati terdalam terdapat keraguan yang berusaha diabaikan. Selama membereskan barangnya, Nick berusaha tidak membawa perasaan ke dalamnya. Saat ia hampir saja melihat ruangan kamar tidurnya sebagai sesuatu yang penuh kenangan, Nick menggelengkan kepala untuk berhenti memikirkannya. Pikiran yang menjadi prioritas utama Nick saat itu adalah membereskan barang secepat mungkin karena distraksi yang melibatkan emosi sedikit saja dapat menghambat kegiatan Nick dan menyulitkan rencana dari Ethan.
Kegiatan yang dilakukan Nick pun selesai. Ethan memakai ransel Nick di punggungnya sambil membawa buku-buku di dalam tas yang dijinjingnya. Karena semua barang yang diperlukan sudah dibawa oleh Ethan, Nick hanya tinggal memasukan handphone ke dalam saku celananya dan menyusul keluar dari kamarnya untuk menyusul Ethan. Saat berada di ambang pintu Nick melihat ke arah kamarnya untuk terakhir kalinya. Dengan senyuman sedih, Nick bergumam kata "Selamat tinggal" lalu menutup pintunya.
Semua tas sudah dibawa baik oleh Ethan maupun Pedro. Nick ingin membantu barang bawaan Ethan namun ia merasa tidak punya waktu lagi untuk berinisiatif saat itu.
Sambil meraih tangan Ethan yang terbuka untuknya, Nick melihat ke sekitarnya. Semua hal yang berada di ruangan itu sudah menemani hidupnya selama dua tahun. Suasana bangun di pagi hari. Makan bertiga di meja pantry. Bermain di sofa dengan Pedro. Dan mengobrol santai dengan Ethan di balkon pada malam hari. Semua hal yang dilihat oleh Nick sekarang mungkin akan menjadi saat terakhir kalinya.
Tangan Pedro sudah menggenggam siku Ethan dan siap untuk berteleportasi. Tangan Nick pun sudah digenggam oleh tangan Ethan. Namun Ethan memberikan waktu beberapa detik bagi Nick untuk melihat ke sekitarnya. Sampai akhirnya pandangan Nick pun berlabuh pada kedua bola mata Ethan. Sambil tersenyum Nick pun mengangguk dengan yakin.
Pemandangan ruangan apartemen 3903 berubah menjadi sebuah ruangan berukuran dua belas meter persegi. Di sudut ruangan terdapat ranjang dengan sprei dan selimut berwarna merah muda. Di sekeliling sisi ruangan terdapat perabotan standar seperti lemari, meja belajar dan rak buku. Namun yang paling mencolok di ruangan itu dan memperlihatkan identitas seorang pelajar bernama Olive Greencherry adalah begitu banyak buku yang disusun dalam dua buah rak memanjang hingga hampir menyentuh atap.
Bagi Ethan pemandangan kamar itu sudah familiar baginya, termasuk pemandangan buku-buku dan warna merah muda yang dominan pada beberapa perabotan. Namun bagi Nick dan Pedro memasuki kamar Olly pertama kalinya membuat mereka kagum dan ingin mengamati banyak hal lebih lama lagi. Namun kedua anak muda itu harus mengubah fokusnya dari sekeliling ruangan menuju orang yang baru saja membuka pintu kamar.
"Selamat datang, Ethan, Nick dan Pedro."
Kata sambutan dari Sasha mengundang senyuman dari ketiga orang yang sudah terlebih dahulu berada di ruangan. Olly yang berada di samping ibunya langsung masuk ke dalam kamar dan mengajukan diri untuk membawakan barang milik Nick.
"Kalian berdua bisa tidur di kamarku. Aku dan Nick akan tidur bersama Ibu di kamar Ibu. Ikuti aku, Nick."
Sementara Nick dan Olly keluar dari ruangan, Ethan mendekati posisi Sasha yang berada di dekat ambang pintu. Wajah Ethan terlihat tidak setenang biasanya sehingga Sasha berusaha untuk mengerti dari sudut pandang Ethan bahwa Ethan mungkin saja baru mengalami hal tidak baik. Sasha tersenyum sambil menepuk-nepuk lengan Ethan.
"Aku tahu kamu akan mengatakan bahwa kamu telah merepotkanmu. Tenang saja, Ethan. Kamu bisa menganggap rumah ini sebagai rumahmu. Kalian selalu diterima kapan saja di sini."
"Terima kasih banyak, Sasha."