Sepanjang perjalanan, suasana begitu sunyi. Hanya ada suara hujan yang menghantam atap mobil, dan suara musik radio yang diputar sangat pelan, nyaris tak terdengar—lagu balada lama yang liriknya seolah diciptakan khusus untuk malam yang penuh kesedihan ini.
Arka beberapa kali melirik ke arah kaca tengah. Perempuan itu, Naura—setahunya nama di aplikasi—duduk bersandar di pinggir kursi, menatap lurus ke arah jendela samping yang berkabut.
Matanya kosong, menembus tetesan air yang meluncur turun. Di tangannya, ia menggenggam selembar kartu undangan berwarna putih bersih dengan pita emas yang melilitnya.
Genggamannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tangan itu gemetar. Samar-samar terlihat dari bayangan kaca, bahunya naik turun menahan sesuatu yang berat.
Entah kenapa, hati Arka terasa tergores melihat itu. Ia sendiri sudah terbiasa dengan kesusahan, terbiasa menahan tangis demi kewarasan, tapi melihat orang lain—terutama seseorang yang terlihat begitu rapuh—berjuang keras agar air matanya tidak jatuh lagi, membuat rasa iba itu muncul begitu saja.
Dan entah kenapa juga... Arka jadi tak tega. Rasanya tak pantas membiarkan orang itu tenggelam sendirian dalam kesedihannya di dalam kotak bergerak ini.
Ia memberanikan diri berbicara, suaranya lembut agar tidak mengejutkan. "Di samping kursi ada air mineral, Mbak. Kalau mau diminum, silakan saja."
Perempuan itu sedikit tersentak, seolah baru sadar ada orang lain di sana. Ia menoleh perlahan ke arah kursi depan, meski matanya tak bertemu langsung dengan mata Arka.
"Makasih," jawabnya lirih, lalu kembali diam.
Hening kembali menyelimuti mereka, namun kali ini rasanya tak lagi setajam pisau seperti sebelumnya.
Sampai akhirnya, di tengah suara hujan yang tak kunjung reda, suara Naura terdengar lagi.
"Mas."
"Iya?" jawab Arka sigap.
Naura tertawa kecil. Tawa yang kering, pahit, dan menyakitkan. "Kalau seseorang selingkuh sama sahabat kita sendiri, terus mereka nikah karena sahabat kita hamil duluan, menurut Mas, itu lebih sakit yang ditinggalin atau yang dikhianatin?"
Arka terdiam beberapa detik. Pertanyaan yang begitu berat, begitu pribadi, datang dari orang asing yang baru ia temui lima belas menit lalu.
Tapi ada kepedihan di balik nada bicaranya yang membuat Arka tak bisa menganggap itu sekadar candaan atau obrolan kosong. Suara itu terdengar terlalu hancur untuk diabaikan.
Ia berpikir sejenak, merangkai kata yang jujur. "Dua-duanya sakit," jawab Arka pelan namun tegas. "Cuma biasanya... yang dikhianatin itu lukanya lebih dalam. Lebih lama sembuhnya. Karena bukan cuma kehilangan orang yang dicintai, tapi juga kehilangan kepercayaan sama kenyataan kalau semua yang pernah dibangun ternyata palsu."
Di belakang sana, Naura menunduk dalam. Bahunya berguncang pelan. Lalu terdengar lagi tawa kecil yang sama menyakitkan. Kali ini, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos, jatuh membasahi pipinya.
"Hebat ya," bisiknya, suaranya bergetar menahan isak tangis. "Enam tahun... enam tahun kami pacaran. Susah senang bareng, mulai dari nol bareng. Ternyata kalah sama perempuan yang baru dekat beberapa bulan. Sahabat aku sendiri lagi."
Arka menggenggam setir sedikit lebih erat. Dadanya terasa sesak mendengarnya. Ia tidak tahu harus berkata apa, tidak punya kata-kata penghiburan yang indah.
Ia hanya bisa merasakan betapa hancurnya hati perempuan di belakang sana. Oke, batinnya. Sekarang aku paham kenapa matanya semerah itu. Kenapa suasananya seberat ini.
Patah hati. Jenis patah hati yang paling kejam.
Mobil berhenti di lampu merah yang menyala panjang. Hujan masih turun tanpa ampun. Kota seakan berhenti berputar sejenak.
Lalu, di keheningan itu, Naura tiba-tiba mengangkat wajahnya, menatap punggung Arka dengan tatapan yang sudah berubah. Tatapan yang penuh keputusasaan, namun juga tekad yang nekat.
"Mas."
"Iya?" Arka menoleh sedikit ke samping.
"Kalau saya bayar sepuluh juta..."
Arka mengernyitkan dahi, ragu apakah ia salah dengar.
"…mau jadi pacar saya buat malam ini?"
Hening. Membeku.
Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, tapi Arka masih diam di tempatnya beberapa detik, pikirannya berputar kacau. Ia menoleh sepenuhnya ke belakang, menatap bayangan Naura.
"…Apa?" suaranya terdengar parau.
Naura dengan cepat menyeka sisa air matanya, menegakkan tubuh, dan menatap lurus ke arah kaca depan. Wajahnya kembali tertutup topeng dingin, meski matanya masih basah.
"Saya serius, Mas."
Arka menggeleng tak percaya. "Maaf, Mbak, tapi saya nggak nerima bercandaan kayak gini. Ini pekerjaan saya mengantar penumpang, bukan—"
"Saya juga nggak bercanda." Nada suaranya datar, kosong, namun bergetar di ujungnya. Ia mengangkat undangan yang sedari tadi digenggamnya, lalu mengibaskannya sedikit. "Mantan saya nikah malam ini. Di gedung besar di pusat kota sana. Dan saya... saya nggak mau datang sendirian. Saya nggak mau keliatan kayak perempuan gagal yang cuma bisa menangis di pojokan sambil lihat mereka bahagia."
Arka langsung menggeleng tegas. "Nggak bisa, Mbak. Saya cuma supir taksi online biasa. Saya nggak pantas, dan ini nggak benar."
"Saya bayar."
"Bukan soal uangnya."
"Lima belas juta," ucap Naura memaksa.
Arka tercekat. Jantungnya seakan berhenti berdetak sekejap.
Lima belas juta rupiah.
Angka itu berputar di kepalanya, memekakkan telinga. Uang sebanyak itu lebih dari cukup untuk biaya check up rumah sakit ibunya, lebih dari cukup untuk membayar lunas sekolah Dimas dan mengambil ijazah itu besok pagi.
Cukup untuk membayar sewa kontrakan yang sudah tertunggak berbulan-bulan. Cukup untuk membuatnya bisa bernapas lega, setidaknya untuk beberapa minggu ke depan. Uang itu adalah penyelamat yang selama ini ia doakan datang.
Tapi tetap saja... ini salah. Ini cara yang salah.
"Saya cuma supir," ulangnya lagi, kali ini nadanya lebih lemah, lebih ragu.
Naura menatapnya lewat pantulan kaca tengah. Untuk pertama kalinya, mata mereka bertemu pandang. Arka melihat ke dalam manik mata cokelat itu.
Ka tidak melihat kemewahan, tidak melihat keangkuhan, tidak melihat gengsi. Ia hanya melihat seseorang yang hampir hancur lebur, seseorang yang rela membayar mahal hanya agar tidak terlihat sepi dan kalah di depan orang yang telah menyakitinya.
"Buat malam ini," bisik Naura, suaranya melembut, memohon. "Tolong jangan biarin saya keliatan sendirian di sana. Saya nggak kuat, Mas."
Jantung Arka berdetak kencang, aneh. Ada rasa sakit yang menyelinap masuk ke dadanya melihat perempuan itu memohon pada orang asing.
Mobil kembali hening, hanya suara hujan.
Lalu tiba-tiba, layar ponsel Arka di dasbor menyala terang, bergetar hebat. Nama penelepon memunculkan nama Pak Burhan, pemilik kontrakan.
Arka langsung menepikan mobil ke pinggir jalan, menghentikan mesin sejenak, dan mengangkat telepon dengan tangan gemetar.
"Iya, halo? Pak Burhan?"
Suara di seberang sana terdengar tegas dan sedikit tidak sabar. "Mas Arka, maaf banget malam-malam ganggu. Ini saya mau nagih uang kontrakan. Udah tiga bulan nunggak, Mas. Saya udah ngasih kelonggaran, kalau Mas Arka nggak bisa bayar, mau saya kasih ke orang lain yang bayarnya lancar."
Arka memejamkan mata sekuat tenaga, menahan rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Iya, Pak... saya usahakan malam ini juga. Saya janji."
"Kalau bisa sebelum besok pagi ya, Mas," suara Pak Burhan terdengar berat. "Kalau enggak ada pembayaran masuk, mohon maaf banget, Mas Arka cari kontrakan lain aja."
Klik. Telepon terputus.
Arka menundukkan kepalanya ke kemudi, napasnya memburu. Ia tertawa kecil. Tawa yang kering dan menyedihkan. Hidup kadang memang lucu dan kejam sekaligus.
Harga dirinya, prinsipnya, rasa malu dan gengsinya... semuanya ternyata bisa kalah begitu saja oleh keadaan yang menekan dari segala arah. Demi ibunya, demi adiknya, demi agar mereka tetap punya tempat dan harapan.
Perlahan, Arka mengangkat kepalanya, menoleh ke belakang. Naura masih menatapnya diam-diam, menunggu, matanya penuh harap dan ketakutan bercampur jadi satu.
Arka mengembuskan napas panjang, napas yang terasa seperti membawa keluar separuh nyawanya. Ia menatap perempuan itu lekat-lekat.
"…Cuma malam ini, kan?" tanyanya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Naura mengangguk cepat, seolah takut Arka berubah pikiran.
Arka menarik napas dalam-dalam, lalu menyalakan kembali mesin mobil. Tangannya gemetar saat memegang tuas persneling. Ia tahu, keputusan kecil yang ia ambil detik ini... akan mengubah segalanya.
"Baiklah," jawabnya pelan, hampir berbisik. "Aku ikut."