Usia Aarick sudah sepuluh bulan. Ia sudah bisa merangkak dengan cepat dari ruang tengah ke dapur, sudah memiliki dua gigi kecil di gusi bawah, dan sudah bisa memanggil ibunya dengan suara cempreng yang membuat Mela meleleh setiap kali mendengarnya.
“Ma... ma...”
Rusdi ia panggil dengan sebutan kek-kek, sambil menepuk-nepuk pipi kakeknya yang keriput. Setiap kali itu terjadi, Rusdi tertawa sampai matanya berair.
Malam itu dimulai seperti malam-malam biasa. Aarick makan bubur saringnya dengan lahap, lalu bermain bola karet bersama Rusdi di atas tikar. Mela mencuci piring di dapur sambil bersenandung.
Kemudian, tanpa tanda apa pun, Aarick menjerit.
Jeritan itu berbeda dari tangisnya yang biasa. Tajam dan keras, seperti orang yang kesakitan. Mela berlari dari dapur dan mendapati Aarick melipat kedua kakinya ke arah perut, wajahnya merah padam. Rusdi menggendongnya, menimangnya, menepuk punggungnya. Beberapa menit kemudian tangis itu berhenti, dan Aarick terkulai lemas di bahu kakeknya.
“Mungkin perutnya kembung,” ucap Rusdi, tetapi suaranya tidak yakin.
Belum sempat Mela menjawab, jeritan itu datang lagi. Lalu berhenti. Lalu datang lagi. Setiap jedanya semakin pendek. Pada jeritan yang ketiga, Aarick muntah. Wajahnya pucat, matanya sayu, dan tubuhnya yang biasanya tidak bisa diam kini terkulai seperti boneka kain.
Mela tidak menunggu lagi. “Pesan taxi, Yah. Sekarang.”
**
Rumah sakit terdekat hanya sepuluh menit dari rumah mereka. Malam itu, sepuluh menit terasa seperti sepuluh jam. Mela memeluk Aarick di kursi belakang taxi dan terus berbicara kepadanya, memanggil namanya, mencium keningnya yang dingin dan berkeringat.
Di ruang gawat darurat, seorang dokter muda memeriksa Aarick dengan cepat. Ia menekan perut kecil itu dengan hati-hati, lalu meminta pemeriksaan dengan alat USG. Tidak lama kemudian, seorang dokter bedah anak datang. Dokter itu lebih tua, berkacamata, dan berbicara dengan nada tenang yang justru membuat Mela semakin takut.
“Bu, sebagian usus anak Ibu terlipat dan masuk ke bagian usus yang lain,” jelasnya. “Seperti teropong yang dilipat. Kalau tidak segera ditangani, bagian usus itu bisa rusak. Aarick harus dioperasi malam ini.”
Mela mencengkeram lengan Rusdi. Lututnya terasa lemas.
“Lakukan, Dok. Lakukan apa saja.”
“Kami akan menyiapkan semuanya. Tetapi ada satu hal yang harus Ibu ketahui.” Dokter itu memandang kertas di tangannya. “Hasil pemeriksaan darah Aarick menunjukkan golongan darahnya B rhesus negatif. Golongan darah ini sangat langka. Kami harus memastikan darah yang cocok tersedia sebelum operasi dimulai, untuk berjaga-jaga kalau ia membutuhkannya.”
“Rhesus negatif,” ulang Mela pelan.
“Bank darah kami sedang tidak punya persediaannya. Kami sudah menghubungi PMI. Stok di sana juga kosong.”
Darah Mela dan Rusdi segera diperiksa. Hasilnya keluar dua puluh menit kemudian. Keduanya rhesus positif. Tidak ada yang bisa mendonorkan darahnya untuk Aarick.
“Golongan darah seperti ini biasanya diturunkan dalam keluarga,” ucap dokter itu. “Ibu dan kakeknya rhesus positif, jadi kemungkinan besar ia mewarisinya dari pihak ayahnya. Apakah ayahnya bisa dihubungi?”
“Ayahnya sudah meninggal, Dok.”
Dokter itu terdiam sejenak. “Keluarga dari pihak ayah? Saudara kandungnya, misalnya?”
Mela tidak segera menjawab. Kenangan itu datang begitu saja, seperti pintu yang tiba-tiba terbuka.
Kencan ketiganya dengan Rayan. Sebuah warung bakso di pinggir jalan. Rayan mengeluarkan dompet untuk membayar, dan sebuah kartu kecil berwarna merah terjatuh ke atas meja. Kartu donor darah. Di sudutnya tertulis B Rh negatif.
“Darah kami langka, Mel,” ucap Rayan waktu itu, ketika Mela bertanya. “Papa, aku, Bang Rey. Kami bertiga rhesus negatif. Waktu Papa dioperasi jantung, aku dan Bang Rey langsung mendonorkan darah kami. Tapi Papa butuh lebih banyak dari yang bisa kami berikan. Kami mencari ke mana-mana. Ke PMI, ke rumah sakit lain, ke kenalan Papa. Sisanya baru datang menjelang subuh.” Rayan memandangi kartu itu lama sekali. “Terlambat. Sejak itu aku donor rutin setiap tiga bulan. Supaya tidak ada keluarga lain yang menunggu seperti kami waktu itu.”
Mela menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya jatuh.
“Kakaknya, Dok,” bisiknya. “Kakaknya juga rhesus negatif.”
**
Mela menelepon Teguh dari lorong rumah sakit. Ia hanya ingin memberi tahu bahwa ia tidak bisa masuk kerja besok, tetapi begitu Teguh mendengar kata rhesus negatif, nada suaranya berubah.
“Tahun lalu bank kita mengadakan donor darah bersama sebuah komunitas donor rhesus negatif,” ucap Teguh cepat. “Saya masih menyimpan kontak koordinatornya. Saya akan menyebarkan permintaan ini sekarang juga. Kirimkan nama rumah sakitnya. Saya berangkat ke sana.”
Mela mengirimkannya, lalu mencari nomor Few di riwayat panggilan ponselnya. Hanya nomor itu satu-satunya jalan yang ia punya menuju keluarga Alteza. Nada sambung berbunyi lama, lalu terputus. Ia mencoba lagi. Dan lagi. Jam di dinding lorong menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Tidak ada jawaban.
Ia tidak pernah punya nomor Reyno. Nomor itu nomor pribadi, yang bahkan para perempuan yang dulu dekat dengannya tidak tahu. Ia sempat teringat Andri, tetapi seorang office boy tidak mungkin menyimpan nomor pribadi pimpinannya. Lalu ia teringat Deswita, yang dulu pernah ditelepon Reyno. Ia menelepon atasannya itu, tetapi ponselnya sudah tidak aktif.
Mela memandangi pintu ruang perawatan, tempat Aarick terbaring dengan selang infus di tangannya yang kecil. Bayi itu sudah diberi obat penahan sakit dan kini tertidur gelisah.
Hanya ada satu tempat yang ia tahu.
“Ayah tunggu di sini,” ucap Mela kepada Rusdi.
“Kau mau ke mana?”
“Ke rumah Mama.”
Rusdi berdiri. “Biar Ayah yang ke sana.”
“Tidak, Yah.” Mela menggeleng. Suaranya bergetar, tetapi matanya tidak ragu sedikit pun. “Ayah tunggu Aarick. Kalau dia bangun dan mencari, setidaknya ada kakeknya di sampingnya. Biar Mela yang memohon. Mela ibunya.”
Rusdi menatap putrinya lama. Lalu ia mengangguk dan memeluknya erat.
“Hati-hati, Nak.”
Sebelum pergi, Mela masuk sebentar ke ruang perawatan. Ia membungkuk di atas ranjang kecil itu, mencium punggung tangan Aarick yang ditempeli plester infus, lalu mencium keningnya lama sekali.
“Tunggu Ibu, Nak,” bisiknya. “Ibu pergi sebentar. Ibu akan membawa pulang darah ayahmu.”
Ketika taxi yang dipesan Mela keluar dari halaman rumah sakit, hujan mulai turun. Mula-mula hanya rintik, lalu semakin deras, mengguyur kaca mobil dan jalanan yang mulai sepi. Mela memeluk tasnya di pangkuan dan menatap lurus ke depan.
Di ujung jalan itu, di sebuah kawasan perumahan elite, berdiri sebuah rumah putih bertingkat tiga dengan pagar besi yang tinggi.