Sejak ulang tahun itu, setiap Sabtu pagi mobil hitam Reyno berhenti di depan pagar rumah krem. Kadang ia datang bersama Maya, tetapi lebih sering sendirian. Ia selalu membawa sesuatu. Sebuah bola karet, sebuah buku bergambar dengan halaman tebal, sekantong jeruk untuk Rusdi.
Aarick selalu menyambutnya di pintu. Bayi itu kini sudah bisa berjalan beberapa langkah sebelum jatuh terduduk, dan setiap kali melihat Reyno, ia akan berjalan terhuyung-huyung ke arahnya sambil merentangkan kedua tangan.
“Om!” serunya suatu pagi. “Om!”
Reyno terpaku di ambang pintu. Lalu ia berjongkok dan mengangkat Aarick tinggi-tinggi, sementara Rusdi tertawa di belakangnya.
“Dia belajar kata itu minggu ini,” ucap Rusdi. “Setiap pagi dia berdiri di depan pintu dan memanggil-manggil. Om. Om. Ternyata dia menunggu Nak Reyno.”
Reyno tidak berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Aarick sedikit lebih lama dari biasanya.
**
Suatu Sabtu, keran di dapur bocor. Air menetes terus-menerus ke bak cuci piring, dan Rusdi sudah menyiapkan kunci inggris dan sebungkus karet kecil sejak pagi. Reyno menawarkan diri membantu.
“Nak Reyno bisa memperbaiki keran?” tanya Rusdi ragu.
“Belum pernah,” jawab Reyno jujur. “Tapi saya mau belajar.”
Rusdi menjelaskan langkah demi langkah. Tutup dulu saluran airnya, lalu buka kepala keran pelan-pelan, ganti karetnya, pasang kembali. Reyno mengangguk-angguk dengan serius, seperti sedang mendengarkan laporan keuangan perusahaan. Lalu ia membuka bagian yang salah sebelum saluran airnya ditutup.
Air menyembur ke wajah dan kemejanya. Reyno terlonjak mundur, basah kuyup dari kepala sampai dada. Aarick, yang duduk di kursi makannya, tertawa sampai terguling ke samping. Rusdi buru-buru menutup saluran air sambil terbahak-bahak.
“Di kantor, saya mengurus ribuan baris kode program,” ucap Reyno sambil menyeka wajahnya dengan lap dapur. “Ternyata satu keran lebih susah.”
“Kode di kantor tidak bisa membasahi baju, Nak,” jawab Rusdi, masih tertawa.
Mela, yang baru pulang dari pasar, berdiri di ambang pintu dapur dengan kantong belanjaan di tangan. Ia memandangi lelaki basah kuyup di dapurnya, ayahnya yang tertawa sampai memegangi perut, dan anaknya yang terbahak-bahak di kursi makan. Ia tidak bisa menahan tawanya sendiri.
Siang itu, keran itu akhirnya berhasil diperbaiki. Reyno memakai kaus milik Rusdi yang kependekan di bagian lengan, dan ia tidak terlihat keberatan sama sekali.
**
Malam itu Reyno tinggal sampai makan malam. Setelah Aarick tertidur dan Rusdi masuk ke kamarnya, Reyno dan Mela duduk di kursi teras. Lampu jalan menyala kuning. Dari dalam rumah terdengar sayup-sayup suara radio tua milik Rusdi.
Reyno memandangi tangannya cukup lama sebelum berbicara.
“Dulu aku bukan laki-laki yang baik, Mela,” ucapnya. “Mungkin Rayan pernah bercerita. Aku punya banyak perempuan di belakang Mama, dan aku tidak pernah mengingat nama satu pun dari mereka.” Ia menarik napas. “Aku berhenti sejak malam kau berlutut di lobi. Atau mungkin sebelum itu. Sejak tanganku terulur di ruang rapat bank, waktu kau meringis karena Aarick menendang, padahal pada saat yang sama aku sedang menghakimimu.”
Mela tidak menjawab. Ia memeluk lengannya sendiri.
“Aku jatuh cinta kepadamu,” ucap Reyno pelan. “Aku tidak tahu sejak kapan. Aku tidak memintamu menjawab sekarang. Aku hanya tidak mau terus berpura-pura bahwa aku datang ke sini setiap Sabtu hanya untuk Aarick.”
Angin malam berembus pelan, menggoyangkan daun-daun pohon jambu di taman. Mela memandangi lelaki di sampingnya. Wajahnya disinari lampu jalan dari samping, dan dari sudut itu, ia mirip sekali dengan Rayan. Terlalu mirip.
“Bang,” ucap Mela akhirnya. Suaranya bergetar. “Waktu Aarick melangkah ke arahmu di hari ulang tahunnya, kau tertawa. Dan jantungku berdebar.”
Reyno menoleh dengan cepat.
“Tapi aku tidak tahu debar itu untuk siapa.” Air mata Mela jatuh. “Alismu, matamu, caramu tertawa. Kalian hampir sama. Setiap kali melihatmu, aku melihat Mas Rayan. Aku takut yang aku rasakan bukan untukmu. Aku takut aku hanya sedang merindukan Mas Rayan lewat wajahmu.”
Reyno terdiam.
“Itu tidak adil untukmu, Bang,” lanjut Mela. “Kau pantas dicintai sebagai dirimu sendiri, bukan sebagai bayangan adikmu.”
Untuk waktu yang lama, Reyno hanya memandangi lampu jalan. Rahangnya mengeras, lalu perlahan mengendur.
“Lalu apa yang kau minta?” tanyanya.
“Waktu.” Mela mengusap pipinya. “Untuk sementara, jangan datang dulu. Aku harus tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Dan aku tidak bisa tahu kalau kau ada di sini setiap minggu, tertawa dengan wajah itu.”
Reyno mengangguk perlahan. “Aku mengerti.”
Ia bangkit dari kursinya. Sebelum pergi, ia meminta izin masuk sebentar ke kamar kuning muda. Mela mengikutinya sampai ambang pintu. Reyno membungkuk di atas boks putih, mengusap rambut Aarick yang tertidur dengan kedua tangan terangkat di samping kepala, lalu mengecup keningnya pelan sekali.
“Jaga ibumu, Jagoan,” bisiknya.
Lalu ia pergi tanpa menoleh lagi.
**
Sabtu berikutnya, mobil hitam itu tidak datang.
Aarick berdiri di depan pintu sejak pagi. Setiap kali ada suara mobil lewat, ia menunjuk-nunjuk ke arah pagar dengan jari mungilnya.
“Om? Om?”
Mela menggendongnya masuk dan mengajaknya bermain bola karet. Aarick bermain sebentar, lalu kembali berjalan terhuyung-huyung ke pintu.
Sabtu berikutnya pun sama.
Reyno menepati permintaan Mela. Satu-satunya kabar darinya datang setiap Sabtu sore, berupa pesan singkat kepada Rusdi yang menanyakan keadaan Aarick.
“Apa Aarick masih menunggu di depan pintu setiap pagi, Pak?” tulis Reyno pada Sabtu yang ketiga.
Rusdi menunjukkan pesan itu kepada Mela. “Ayah harus menjawab apa, Mel?”
Mela tidak sanggup menjawab. Akhirnya Rusdi membalas dengan sebuah foto. Aarick duduk di lantai di depan pintu, memeluk boneka gajah kecil, memandang ke arah pagar.
Malam itu, Rusdi duduk di teras sambil mendengarkan radio. Mela keluar membawa dua gelas teh dan duduk di sampingnya.
“Rumah ini sepi kalau hari Sabtu, ya, Mel,” ucap Rusdi tanpa menoleh.
Mela tidak menjawab. Ia memandangi kursi kosong di sebelah ayahnya, kursi yang beberapa minggu lalu diduduki seorang lelaki yang memakai kaus kependekan dan baru saja disembur air keran.
Sebelum tidur, ia membuka ponselnya. Nama Reyno masih tersimpan di sana, nomor yang dulu Reyno ketikkan sendiri di taman rumah sakit.
Mela memandangi nama itu lama sekali. Lalu ia mematikan layar dan meletakkan ponsel itu di atas meja.