Seminggu setelah Reyno meminta izin kepada Rusdi, Maya datang ke rumah krem. Kali ini ia tidak membawa kue atau salad. Ia hanya membawa sebuah kotak kecil berlapis beludru, yang ia genggam erat sepanjang jalan dari pagar sampai ke ruang tengah.
“Boleh Mama bicara berdua denganmu?” tanyanya kepada Mela.
Mereka duduk di kamar kuning muda. Aarick sedang tidur siang di boks putihnya, dengan kedua tangan terangkat di samping kepala.
Maya memandangi cucunya sebentar, lalu menoleh kepada Mela.
“Mama mau minta maaf soal turun ranjang,” ucapnya pelan. “Mama salah memakai kata itu. Mama memperlakukanmu seperti sesuatu yang harus tetap tersimpan di dalam keluarga, supaya tidak hilang lagi. Mama takut kehilangan lagi, Mela. Itu saja.” Ia menarik napas. “Kau bukan warisan. Kau perempuan yang dipilih oleh kedua anak Mama. Dan sekarang, kau sendiri yang memilih.”
Mela memeluk perempuan itu. Maya membalas pelukannya dengan erat, seperti seorang ibu yang baru saja menemukan anaknya kembali.
Setelah pelukan itu terlepas, Maya membuka kotak beludru di pangkuannya. Di dalamnya ada sepasang anting emas kecil berbentuk bunga melati.
“Ini hadiah dari suami Mama di hari akad kami,” ucapnya. “Mama ingin kau memakainya nanti. Papa pasti senang.”
**
Mela ingin semuanya sederhana. Akad di ruang tamu rumah krem, dengan kursi-kursi pinjaman dari tetangga dan orang-orang yang menyayangi mereka. Maya tidak membantah. Ia hanya meminta izin untuk mengurus konsumsi, dan Mela tidak sanggup menolaknya.
Reyno sendiri yang mengurus pendaftaran di kantor urusan agama. Ia tidak menyerahkannya kepada Few. Ia mengantre bersama pasangan-pasangan muda lain dengan map di tangan, mengisi formulir dengan tulisannya yang tegak dan rapi, lalu memotret tanda bukti pendaftaran itu dan mengirimkannya kepada Mela.
“Sudah terdaftar. Tinggal menunggu hari,” tulisnya.
Siska tiba sehari sebelum akad. Perutnya sudah membulat, lima bulan kata dokter. Begitu melihat Mela di depan pagar, ia menjerit dan memeluknya, lalu memeluk Rusdi, lalu memeluk Aarick yang memandanginya dengan bingung.
“Rayan junior sudah bisa berlari!” serunya. “Dulu waktu aku pergi, kau masih di dalam perut ibumu.”
Malam itu Siska tidur di rumah krem. Ia dan Mela berbaring berdampingan di kamar depan, berbisik-bisik seperti dua gadis remaja, sampai Rusdi mengetuk pintu dan mengingatkan bahwa pengantin perempuan butuh tidur.
Menjelang terlelap, Siska meraih tangan Mela. “Mel, kau bahagia?”
Mela memandangi langit-langit cukup lama. “Aku bahagia, Sis. Dan aku masih merindukan Mas Rayan. Ternyata dua-duanya bisa ada bersamaan.”
Siska meremas tangannya dalam gelap. “Itu artinya kau sudah sembuh, Mel. Bukan lupa.”
**
Pagi itu ruang tamu rumah krem penuh. Kursi-kursi plastik pinjaman tetangga berderet rapat. Deni, Risa, Fany, dan Agus duduk di barisan belakang. Aqil sibuk memasang kamera di sudut ruangan. Pak Iwan dan Pak Ridwan duduk di dekat pintu. Herman dan Andri datang mengenakan batik yang serupa. Pak Yudi duduk di samping Maya, masih tampak canggung karena majikannya sendiri yang mengajaknya datang.
Deswita datang dengan dua kotak besar salad dan seorang lelaki berkacamata yang ternyata Few. Mereka duduk berdampingan, dan entah kenapa wajah Deswita merah sepanjang acara.
Mela keluar dari kamar dengan kebaya putih sederhana. Di telinganya, anting melati milik Maya berkilau kecil. Siska menggandengnya sampai ke kursi di samping Reyno.
Reyno menoleh. Untuk sesaat ia lupa bernapas.
Penghulu dari kantor urusan agama duduk di balik meja kecil, dengan sebuah buku catatan besar terbuka di depannya. Ustaz Harun duduk di sebelahnya. Saksi dari pihak perempuan adalah Pak Ridwan. Saksi dari pihak laki-laki adalah Teguh, yang memintanya sendiri kepada Reyno dua minggu sebelumnya.
“Saya pernah melihatnya menanggung semuanya sendirian,” ucap Teguh waktu itu. “Saya ingin melihat hari ketika dia tidak perlu lagi melakukannya.”
Rusdi duduk berhadapan dengan Reyno. Ia mengulurkan tangannya, dan Reyno menjabatnya.
Tangan lelaki muda itu dingin sekali. Rusdi tersenyum kecil. Tangan menantunya yang pertama juga sedingin itu, di ruang tamu yang lain, lebih dari dua tahun yang lalu.
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Arreyno Savian Alteza bin Savian Alteza, dengan anak kandung saya, Mela Gianina binti Rusdi, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas sepuluh gram, dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Mela Gianina binti Rusdi dengan mas kawin tersebut, tunai.”
Satu tarikan napas. Suara Reyno tidak bergetar sedikit pun.
“Bagaimana, para saksi? Sah?” tanya penghulu.
“Sah,” jawab Pak Ridwan.
“Sah,” jawab Teguh. Suaranya pelan, tetapi jelas.
“Sah!” seru seisi ruangan.
Mela memejamkan mata. Air matanya jatuh, dan kali ini ia membiarkannya.
Ustaz Harun memberikan nasihat singkat. Ia tidak berbicara panjang. Ia hanya berpesan agar mereka berdua tidak pernah berhenti mendoakan orang yang sudah lebih dulu pergi, dan tidak pernah lupa menjaga orang yang masih ada di samping mereka.
Lalu penghulu menyodorkan dua buku nikah kecil. Mela membuka salah satunya dengan tangan yang gemetar. Di sana, tercetak rapi, ada namanya dan nama Reyno.
Ia teringat hari di makam itu, dua tahun yang lalu, yang kini terasa seperti seumur hidup. Bahkan pernikahan yang kalian sebutkan telah terjadi itu tidak tercatat sama sekali di kantor urusan agama.
Mela menoleh kepada Reyno. Lelaki itu sedang memandangi buku nikah di tangannya dengan wajah yang sama, seolah ia juga sedang mengingat hari yang sama.
“Sekarang tercatat,” bisik Reyno.
**
Setelah doa selesai, para tamu bergantian memberi selamat. Siska menangis lebih keras daripada pengantinnya. Deswita memeluk Mela dan berbisik bahwa ia sudah rela, lalu buru-buru kembali ke kursinya di samping Few. Aqil memotret semua orang dari setiap sudut, termasuk Agus yang sedang mengambil salad untuk ketiga kalinya.
Teguh menjabat tangan Reyno, lalu tangan Mela.
“Selamat, Mel,” ucapnya. “Mulai hari ini, laporan bulananmu boleh terlambat satu hari.”
Mela tertawa di antara air matanya.
Maya mendekat paling akhir. Ia memandangi Mela lama sekali, lalu memeluknya dengan kedua tangan.
“Menantu Mama,” bisiknya di telinga Mela. “Menantu Mama, dua kali.”
Di belakang mereka, Rusdi menggendong Aarick, yang bertepuk tangan dengan semangat tanpa tahu apa yang sedang dirayakan. Di dinding ruang tengah, di atas meja makan, tulisan tangan Rayan di balik brosur itu tergantung di dalam bingkainya.
Kamar depan, kita.
Untuk pertama kalinya sejak bingkai itu dipasang, Mela membacanya tanpa menangis.