Ranti menyambut pagi itu dengan semangat. Ia akan bertemu Ario hari ini, berdua saja. Ranti berdandan secantik mungkin, rambutnya ia urai dan mengenakan dress berwarna peach sesuai saran Cica. Kemudian menambahkan outerwear wool model cardigan longgar kesukaannya, tanpa ia kancingkan, dan tidak ketinggalan sneaker favoritnya. Melihat penampilannya di cermin, Ranti merasa puas. Terakhir ia mengenakan tali pinggang kecil yang membentuk cardigan, sehingga pinggang rampingnya terlihat.
Sudah lama sekali ia tidak berdandan untuk seseorang. Cermin di kamarnya menampilkan perempuan yang wajahnya ia kenal betul, tapi binarnya terasa baru. Ranti tersenyum kecil pada bayangannya sendiri, lalu buru-buru menyudahi senyum itu sebelum jadi kebiasaan.
Ia berjalan menuju kantor. Semilir angin pagi meniup rambut lurus sebahunya. Udara pagi berbau roti panggang dari gerai di ujung blok. Langkahnya ringan, seringan yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan. Di depan kantor, ia berpapasan dengan Mirna, "Hai Ranti." Ranti melihat dan membalasnya,"Hai, pagi.”
Sekilas Ranti melihat, Mirna mengenakan dress tangan pendek warna hitam selutut yang pas dibadannya yang ramping, dengan heels tinggi sekitar 7 cm. Mirna dan Ranti memiliki tinggi yang sama, tapi tingginya heels yang Mirna kenakan membuatnya terlihat lebih tinggi. Rambut Mirna yang panjang melebihi bahu terurai cantik. Ranti tiba-tiba merasa sneaker di kakinya terlalu kekanak-kanakan. Ia menarik cardigannya sedikit lebih rapat.
Ranti jadi teringat kejadian kemarin dan kembali merasa cemburu. Apalagi hari ini Ario akan pergi bersama Mirna. Meskipun Wira akan menemani mereka, tapi rasa cemburu itu ada. Wajarkah? Tanyanya dalam hati. Belum apa-apa sudah begini, batinnya. Padahal Ario bukan siapa-siapanya. Padahal baru semalam pria itu mengajaknya makan malam. Mereka pun berjalan menuju lift.
'Pagi,' Wira muncul di belakang mereka. 'Nanti jam 4 ya Mir, pergi bareng?' tanya Wira. 'Aku pergi bareng pa Ario,' ujar Mirna. Dug, jantung Ranti seakan berhenti, kenapa bisa mereka pergi berdua?
'Weits, ko bisa?' Wira bertanya usil. Mirna tersenyum. 'Jangan ganggu,' ujarnya. 'Tidak ada niat,' canda Wira sambil tertawa.
Ranti ikut tersenyum tipis. Senyum yang ia paksa naik ke pipi dan tidak sampai ke matanya.
Ranti cuma bisa tertunduk. Ko bisa? Kenapa mereka pergi berdua? Banyak pertanyaan berkecamuk dihatinya. Tiba-tiba, ia tidak enak hati. Perutnya yang sejak kemarin belum benar-benar pulih ikut melilit, entah karena obatnya belum bekerja atau karena hal lain yang tidak ingin ia akui.
"Kamu sudah enakan?" Wira bertanya sambil melihat padanya. "Tadinya gitu, tapi.." Ranti terdiam, antara kesal dan marah. Kenapa Ario.. Mirna... "Eh serius, kamu masih tidak enak?" Wira kembali bertanya. Dengan lesu Ranti menjawab,"Tidak apa-apa.”
Lift terbuka dan mereka melangkah masuk. Ranti turun duluan di lantai 7 dan melangkah dengan lesu, 'Duluan ya,' ujarnya pada Mirna dan Wira yang terus naik ke lantai 9. Pintu lift menutup pelan di belakangnya. Sekilas terdengar tawa Mirna dari dalam, lalu hilang.
Apa Ario tipe dengan banyak perempuan? Ranti langsung membayangkan yang tidak-tidak. Ia duduk dan mulai konsentrasi dengan pekerjaannya. Ranti ingin melupakan pikiran jeleknya. Ia membuka file laporan, menutupnya lagi, lalu membukanya lagi. Satu jam berlalu dan yang bertambah cuma tiga baris.
Jam makan siang pun tiba. Ranti tidak mood dan tidak ingin beranjak, berusaha fokus mengerjakan tugasnya. Ponselnya berbunyi. WIRA. Ranti menatap layar itu beberapa detik sebelum mengangkatnya.
Wira, 'Mau makan siang?' ujarnya.
Ranti, "Kayanya tidak, aku beresin kerjaan.”
Wira, 'Ok,' Wira menutup teleponnya.
Selang setengah jam kemudian, office boy mendekati mejanya. 'Bu Ranti, maaf, ini ada kiriman dari Pa Wira,' ujarnya. 'Oh, terima kasih,' Ranti menerima kiriman itu, lalu membukanya, isinya bubur hangat. Ia mengambil foto bubur itu dan mengirimkannya pada Wira.
Ranti : Thanks!
Wira : Cheer up. GWS.
Ranti segera memakan bubur tersebut. Harus diakui, perutnya belum 100% enak, bubur hangat itu membuat perutnya lebih baik.
Anehnya, yang menghangat bukan cuma perutnya. Ranti membalik ponselnya sekali lagi, berharap ada nama lain yang muncul di sana. Tidak ada.
Pukul 17.30, Ranti mengecek ponselnya, namun tidak ada kabar dari Ario. Pekerjaannya sudah selesai. Cica sedang ada pekerjaan di luar kantor dan Linda sedang keluar kota, tidak ada yang bisa ia ajak untuk meluangkan waktu sore ini. Ruangan sudah mulai kosong. Lampu di sisi utara dimatikan satu per satu.
Ranti memutuskan untuk berjalan pulang menuju apartemennya. Kalau Ario jadi mengajaknya makan malam, ia bisa menjemputnya di apartemen saja. Ranti pun beranjak turun dan mulai melangkah keluar dari komplek kantornya.
Namun, dari kejauhan ia melihat Ario. Ia tidak sendiri, Mirna disebelahnya. Mereka berdua memasuki kantor.
Ranti berhenti melangkah. Jaraknya mungkin dua puluh meter, cukup jauh untuk membuatnya berharap salah lihat, tapi cukup dekat untuk mengenali punggung siapa itu. Mirna menunjuk sesuatu di ponselnya, dan Ario menunduk untuk melihat.
Ranti kembali mengecek ponselnya. Tidak ada kabar dari Ario. Marah, sedih, cemburu, kesal, dan ragu bercampur aduk. Ia pun memutuskan untuk meneruskan langkah pulang ke apartemen.
Setibanya di apartemen, pukul 18.13, belum ada kabar apapun dari Ario. Ah.. Ranti terduduk di sofa, ia melamun. Akhirnya tertidur. Dress peach itu masih melekat di badannya, kusut di bagian pinggang. Tali pinggang kecilnya pun belum sempat ia lepas.
Pukul 19.25, ia terbangun karena ponselnya berbunyi. ARIO. Tega, pikirnya, janji ajak makan malam dan sudah dandan secantik mungkin, tapi malah bersama Mirna. Ponselnya kembali berbunyi, akhirnya Ranti mengangkatnya. Jarinya sempat menggantung di atas layar beberapa saat, sebelum menekan tombol hijau sambil menarik napas panjang.
Ario, 'Bu Ranti, maaf, kelihatannya malam ini batal.'
Ranti tidak ingin bertanya lebih lanjut, apalagi membayangkan Ario memilih untuk bersama Mirna. Ingin rasanya menangis. Ia menekan ponsel lebih rapat ke telinga, seolah dengan begitu suaranya tidak akan terdengar bergetar.
Ranti, "Iya, tidak apa-apa.”
Ario, 'Ada urusan mendadak.'
Ranti, "Iya, ok.”
Ranti tidak ingin menjawab panjang lebar. Ia tahu kalau ia bicara lebih lanjut, mungkin air matanya akan keluar. Bisa jadi ini efek mood swing datang bulan. Ah entahlah. Yang pasti, ia tahu, ia cemburu. Dan yang paling membuatnya kesal, ia cemburu untuk seseorang yang belum pernah sekali pun memanggil namanya tanpa embel-embel 'Bu'.
Ario hanya terdiam, lalu dengan ragu bertanya, 'Bu Ranti, baik-baik saja kan?'
Ranti rasanya ingin menjawab, TIDAK. I'm not ok, tapi ia memilih untuk menjawab, 'Iya baik.'
Dua kata. Sesudahnya Ranti menahan napas, takut ada bunyi lain yang ikut keluar.
Ario kembali terdiam, 'Mau memaafkan saya?'
Ranti, 'Untuk?'
Ario, "Membatalkan janji.”
Ranti, "Mmm.. ok.” Tidak tahu apa yang ia rasakan, yang pasti, bayangan Ario dan Mirna membuatnya tidak suka.
Tiba-tiba bel apartemennya berbunyi.