Kedua mata Sekar seketika berair, melihat apa yang terjadi pada Ningrum. Pintu kamar Ningrum yang tak dikunci itu membuat Sekar dengan mudah segera mendekat ke arah Ningrum. Dia hanya ingin menenangkan adiknya yang sepertinya sedang kalut itu.
Melihat kamar Ningrum seperti kapal pecah, semua barang-barang itu nampak berserakan dan tidak pada tempatnya. Ningrum nampak duduk di lantai dengan berderai air mata. Sungguh isak tangisanya begitu sangat memilukan.
“Ningrum, aku tahu apa yang ada sedang engkau rasakan, tetapi ...”
“Cukup! Aku tak butuh nasehatmu!”
Ningrum seolah tak terbagi lagi konsentrasinya. Apa yang ada di dalam pikirannya hanya tentang suaminya yang kini tak lagi berada dalam lingkar setia. Mengadukan nasib yang sangat buruk itu dengan tangisan yang tiada henti.
Sekar tak