Teguh sangat berharap jika budenya memberikan restu atas apa yang akan dilakukannya itu. Dia akan memberikan kedua matanya untuk wanita yang begitu sangat dicintainya itu. Teguh tampak menangkap sebuah kediaman yang sama sekali bukan jawaban yang diinginkannya.
“Mi, Ami setuju kan dengan apa yang Teguh katakan tadi.”
“Tidak, apa maksudmu dengan mau mendonorkan kedua matamu untuk wanita yang sebenarnya bukan siapa-siapa dari keluarga kita.”
Suara bude begitu sangat lantang dan keras. Sama sekali tak memberikan sebuah ijin dari apa yang diinginkannya itu. Teguh yang masih saja menata hatinya. Dia tak ingin membantah wanita yang sudah merawatnya dari kecil. Akan tetapi Teguh pun memiliki sebuah pandangan tersendiri akan langkah yang akan diambilnya itu.
“Mi, cobalah mengerti!”
“Harusnya