Teguh yang sudah satu minggu tak mengunjungi budenya. Ada rasa rindu yang bergemuruh dalam hatinya. Apalagi sekarang kondisi warung yang dua kali lipat lebih rame daripada hari-hari sebelumnya.
Tanpa sepengetahuan Teguh. Dia yang sedang membuka komputernya untuk mengecek beberapa laporan keuangan serta bahan-bahan yang harus segera dibeli. Tiba-tiba saja dia melihat sosok wanita yang sangat berharga dalam hidupnya.
“Jadi kamu sudah lupa sama Ami dan tak lagi peduli dengan Ami?”
Teguh beranjak dari kursinya. Dia segera melangkah serta meraih kedua tangan wanita yang begitu sangat dihormatinya itu. Teguh mengecup punggung tangan bude dengan sangat sopan.
“Maafkan Teguh, Mi. Teguh memang salah.”
“Wanita itu yang membuatmu seperti ini, kamu dibuat menjadi hilang ingatan kepadaku.”
“Ami i