Sasti kembali menelan kekecewaan dengan sikap Robi yang masih tak berubah padanya. Rasanya sangat ingin menampar atau memukul laki-laki yang tak berhati itu. Akan tetapi cinta dan balas budi mengalahkan semua itu.
Tetes air mata Sasti yang terus bercucuran membuatnya dalam rasa yang semakin gundah gulana. Sasti yang berdiri dengan tatapan tajam itu, tak bisa hanya diam saja tanpa melakukan sesuatu dengan statusnya sebagai tunangan Robi.
Sasti kemudian segera mengambil mobilnya. Dia hendak mengikuti ke mana Robi pergi. Sasti beitu cukup diam dalam sakitnya. Kini dia tak bisa lagi menahan apa yang seharusnya menjadi kemarahan yang selalu ditahan olehnya.
Sasti masuk ke ruangan Robi tanpa permisi. Dia bahkan tak peduli jika nantinya kemarahan Robi akan didapatnya. Bagi Sasti yang terpentin