Hampir 6 bulan semenjak kenangan pagi itu, tak lagi ada kecupan hangat di kening hasna.
Manusia yang dicintai terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang oksigen dan alat penyambung nyawa. Disanalah cintanya terpaku hingga memberatkan kehidupan di semester awal tahun. Meski dia bisa meninggalkan paku itu namun cintanya yang membuat bertahan menahan sakit.
Semenjak pagi itu jadwalnya berubah bahkan senyumannyapun berganti dengan kelu. Namun setiap lelah mendera dan merisaknya dia menatap ke langit seakan menguatkan hatinya untuk tetap bertahan karena langit masih mencintainya.
Saat matahari masih malu untuk menunjukkan sinarnya hasna sudah menyusuri lorong-lorong gelap mengkilapkan lantai hingga setiap lorong tak lagi terasa seram. Bahkan sebelum semua penghuni sementara terjaga hasna sudah membersihkan setiap sudut ruangan rumah sakit itu. Benar, sebelum pagi menjelang hasna telah menjadi cleaning service di rumah sakit dimana suaminya dirawat. Kemudian saat pagi mulai menyilaukan dia bergegas untuk berangkat mangajar di sebuah sekolah yang sudah menjadi keluarga keduanya. Setelah sore dan menuntaskan pekerjaan intinya dia kembali menacapkan gas untuk kembali ke rumah sakit bukan untuk menjaga Rifa'i, namun dia berkutat lagi dengan lantai,lorong,bak sampah dan ruangan untuk di bersihkan. Ketika Maghrib tiba itulah tanda dia harus mengistirahatkan tubuhnya sejenak sembari mengadu kepada sang pencipta hingga isya' usai. Pukul 19.30 malam dia bergegas mengarahkan motornya menuju sebuah cafe & resto yang bergaya clasik milik sahabanya untuk mengais sedikit rezeki. lepas tengah malam dia kembali mengarahkan motornya untuk ke sebuah pom bensin disana pun dia bekerja part time disana dan selesai kembali lagi ke rumah sakit. Begitulah setiap hari yang dia lakukan, jika di tanya tidakkah lelah yang di rasa? Dia bahkan lupa bagaimana rasanya bersantai sepanjang hari dan bersenda gurau dengan anak-anaknya. Ah... sungguh sulit benar pilihannya yang harus di lakukan.
Setiap hari hatinya terasa rindu pada kedua anaknya zahra dan dzuha. Namun apa daya tanggungannya menggunung, dari urusan dapur karena suaminya sudah pasti tidak bisa menafkahinya, urusan sekolah anaknya yang makin lama makin meningkat, urusan rumah sakit bahkan biaya sekolah adik Rifa'i yang harus nya menjadi tanggung jawab Rifa'i menjadi tanggung jawab hasna.
--------
“Hei...”sentuhan lembut maria membuyarkan lamunannya.
“Kenapa bebz??”sahut hasna.
“Kalo kamu melamun gitu... Tuh piring bisa jatuh pecah na...” Seringai Maria.
“Ah...kirain kamu khawatir sama aku ternyata lebih berhaga piringnya...” Sindir hasna.
“Hehehehe....iya deh iya... Hasna yang rajin kenapa melamun??” mengatakan sambil tersenyum mengejek. “Lagian apa lagi yang kamu pikirkan selain anakmu,rifa'i dan uang na...” Lanjut maria sambil menyandarkan tangan d bahu hasna sahabatnya setengah memeluknya.
“Hah... Aku benar-benar rindu mereka... Aku capek mar...” Tak terasa mata hasna sudah lembab. Bukan lelah fisik yang dia keluahkan, namun lelah hati yang begitu rindu keluarganya dapat berkumpul bersama meski dalam keadaan sederhana.
“Sabar bebz... Hidup itu gak selalu di bawah. Ingat Tuhan gak akan kasih cobaan hambanya melebihi batas kemampuannya. Kamu harus kuat na... Kaluarga kamu sekarang bergantung padamu...” Ucapan maria yang selalu menenangkannya ketika rindu itu menggerogotinya.
“Makasih maria....” air mata yang tadinya di tahan akhirnya meluap.
Maria adalah sahabat yang dikirim tuhan kepadanya ketika dia sedang dalam kebingungan mencari penghasilan tambahan untuk keluarganya.
Bahkan mariapun yang membantu memasukkan hasna untuk bekerja di rumah sakit untuk tambahan, karena hasna ingin bisa tetap melihat suaminya setiap waktu dan mendapatkan Uang untuk biaya tambahan. Paman maria adalah salah satu kepala di rumah sakit tersebut hingga dengan mudah maria meminta agar hasna dapat bekeja disana. Ya..walau karena itu juga hasna sering di cibir sinis rekan kerjanya.
Kalau ditanya kapan hasna istirahat??
Itulah hebatnya dia...dalam sehari mungkin dia hanya tidur satu atau dua jam di sela-sela istirahat pekerjaannya yang padat merayap.