"Nih, Kak, calon terbaik yang udah lulus seleksi dari gue. Pilih deh tuh mana yang cocok buat jadi suami lo. Gue kirim ke w******p ya."
Sahabatku ini sibuk merogoh sesuatu dalam tas Michael Kors-nya. Sebuah ponsel dengan logo apel tergigit berhasil ia keluarkan. Jari jemarinya mulai sibuk menggeser-geser benda pipih tersebut. Aku nampak antusias kali ini. Kandidat dari Asya, sahabat sekaligus teman sekantorku ini biasanya tak pernah mengecewakan.
Maka tanpa perlu basa basi lagi, aku berujar, "Oke gue liat dulu." Begitu notifikasi pesan masuk memenuhi ponselku, tak perlu menunggu waktu lama untuk melihat foto-foto yang dikirimkan Asya.
Aku memperhatikan foto pertama. Satu foto ukuran seluruh badan. Wajahnya ganteng, namun ada sesuatu yang mengganjal dalam benakku.
"Yang ini kurang laki. Gue ngeri dia homo," komentar pertamaku menoleh pada Asya. Aku kurang suka lelaki yang gemulai. Dan foto ini jelas membuktikan, dari bahasa tubuh, pria ini terlihat kurang macho.
Asya ikut memperhatikan layar ponselnya sendiri. Gadis itu menzoom foto yang ia kirimkan dan membuka lebar-lebar matanya, nampak memastikan apa yang aku ucapkan tadi benar atau tidak.
Lalu aku melihat foto kedua. Seorang pria yang sedang berdiri dengan latar puncak gunung Semeru. Senyumnya begitu merekah sembari merentangkan bendera merah putih. Senyum bahagia pendaki gunung pada umumnya karena berhasil menginjakkan kaki di puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa.
"Yang ini mukanya gradakan. Kayak jalanan belum di aspal," komentarku untuk foto kedua.
Asya langsung menoleh padaku, ia mendengkus sebal. Aku tak peduli.
Foto pertama dan kedua gagal. Aku mulai melirik foto ketiga dan berharap kali ini lebih baik. Foto pria mengenakan kaos lengan pendek dan celana pendek. Tubuhnya terlihat atletis. Wajahnya sesuai dengan kriteriaku.
"Nah yang ini oke, nih. Ganteng, badan oke," gumamku tanpa memandang ke arah Asya.
"Akhirnya ada juga yang cocok sama lo." Nada suaranya terdengar lega.
Aku masih mengamati foto itu dengan seksama. Kugeser jemari pada layar untuk menzoom gambar. "Tapi kok jari tangannya bantet ya? Udah gemuk, pendek lagi," tanyaku kemudian. Aku menoleh pada Asya, gadis itu memutar bola mata ke atas. Jengah.
"Ampun dah, Kak. Lo masih mikirin gituan. Takut anu nya kecil? Kecil juga bisa bikin merem melek. Daripada gede nggak bisa bangun. Mending milih mana?" tanya Asya memberi pilihan.
Aku tersenyum yakin. "Milih gede dan bisa bangun."
"Ah ribet lo, Kak."
"Loh, itu masalah penting. Demi kelangsungan hidup gue. Bibitnya harus bener."
"Milih sih milih, tapi inget, Kak, dua tahun lagi umur lo tiga puluh. Inget kata nyokap lo, rahim kita itu nggak kayak wine. Dia ada jangka waktunya. Jangan karena kebanyakan milih akhirnya lo nyesel melewatkan yang terbaik begitu aja."
Aku tersenyum. "Kalo gue nggak milih-milih mungkin udah dari lima tahun lalu gue udah nikah, Sya. Entah sama pacar gue pada saat itu. Atau mungkin juga sama tukang bakso langganan gue karena dia selalu ngasih bonus tiap kali gue beli dagangan dia. Faktanya, nikah nggak sesimpel itu."
Asya tersenyum dan menatapku tajam. "Don't set your standart too high. Simple!"