Sedikit melenguh, Rissa membuka kelopak matanya. Yang pertama dilihatnya adalah dirinya yang berada di dalam tenda besar.
"BJIRR GUE DI MANA NI?" Rissa langsung bangkit dari kubur, maksudnya rebahan. Melihat sekitar. Penglihatannya sedikit tak jelas. Di rabanya wajahnya yang seperti ditutupi sesuatu.
"Topeng? Topeng apa nih? Topeng monyet?" Rissa melepas topeng di wajahnya. Topeng hitam itu terlihat misterius dan menakutkan. Ia kembali menelisik tempat di sekitarnya. Ada beberapa pedang dan tameng di ujung tenda dan kotak-kotak kuno yang tak Rissa ketahui apa isinya.
"Ini gue udah mati? Di surga apa di neraka ni? Kok gue malah di dalam tenda gini?"
"Panglima Slavia, sudah saatnya kita berperang." Seseorang masuk ke dalam tenda. Membungkuk hormat padanya. Refleks Rissa memakai kembali topengnya. Tercengang, melihat penampilan sangar pria di depannya dengan baju besi. Kepalanya menunduk.
"What? G-gue kok pakai baju ginian juga sama kayak dia?" Rissa terpekik. Pantas saja tubuhnya terasa sangat berat. Ternyata karena dia mengenakan baju zirah.
"Panglima, apa maksudmu? Kita harus segera berperang. Pihak musuh sudah bergerak kemari," kata prajurit itu bingung. Panglimanya nampak kebingunan dan berbicara dengan bahasanya yang sulit dimengerti.
"Perang? Kita udah merdeka woyy. Bangun deh jangan kebanyakan ngebo." Ucapan pria itu membuatnya panik dan kalut. Pria asing di depannya ini tiba-tiba mengatakan hal yang tak masuk akal.
"Saya tak mengerti, panglima. Mohon bicara yang jelas dan segera keluar. Waktu kita tidak banyak lagi."
"Hah. M-maksud lo apa sih? Panglima apaan woyyy? Gue Rissa, lo pasti salah orang."
"Panglima. Pasukan kerajaan Verites sudah semakin dekat. Panglima harus segera keluar dan memimpin jalannya perang." Beberapa orang juga masuk ke dalam tenda. Muka Rissa cengo sekaligus bertambah panik. Bingung kenapa dirinya bisa terjebak di sini? Bukannya ke neraka atau ke surga dia malah nyasar di sini. Perang apa yang mereka maksud? Perang badar? Perang dunia ke 3? Perang uhud? Atau perang apa ni?
"Ayo, panglima!" Suara tegas itu membuat langkahnya mundur.
"Ada yang gak beres ni? Ini pasti cuma syuting kan Bang?"
"Eh gue kan habis kecelakaan. Masa bangun tiba-tiba udah disuruh syuting. Kapan gue tanda tangan kontraknya? Gak. Atau jangan-jangan...." Matanya membelalak.
"OMGGG, GUE NYASAR DI TUBUH ORANG?" Para prajurit dibuat terheran-heran dengan tingkah panglimanya. Mereka bertanya-tanya bahasa apa yang digunakan panglima sekaligus putri kerajaan mereka itu?
"Kalian tadi bilang apa? Gue panglima? Terus, terus sekarang kita lagi perang?" tanyanya histeris.
"Benar panglima dan kita harus bergerak sekarang." Prajurit-prajurit ini lebih dulu keluar. Mereka berpikir bukan saatnya mempertanyakan tingkah aneh panglima. Perang ini lebih penting dari apapun.
Rissa kepo, mau tak mau ikut berjalan keluar. Matanya menyipit saat sinar matahari yang sangat terik masuk ke indra penglihatannya. Mulutnya terbuka lebar melihat pemandangan di hadapannya. Ribuan tentara dan prajurit berbaris rapi. Dengan jarak yang menurut Rissa masih sangat jauh. Pihak musuh terlihat sudah sangat siap.
"Eh, bilangnya udah deket. Noh, masih jauh!" sewotnya menggeplak bahu prajurit di sampingnya. Sialnya tangannya langsung kesakitan karena bahu pria itu terdapat rompi besi. Bukannya kesal prajurit itu malah bergetar ketakutan. Bagaimanapun panglima mereka adalah wanita terkuat dan terkenal dengan julukan "Singa Higala". Ia mampu menghabisi para musuh dengan jumlah banyak sekaligus. Tak ada wanita yang dapat menandingi kehebatannya. Hanya ada satu yang kekuatannya setara dengan Panglima Slavia. Seorang pria dari kerajaan Verites. Duke Alaric.
"Pedangmu panglima. Aku benci mengatakan ini, tapi kemenangan kerajaan Higala ada di tanganmu." Seseorang yang dia yakini memiliki pangkat tertinggi dilihat dari mahkota di kepalanya menyerahkan pedang berukiran rumit dan gagang pedang yang berwarna emas.
"A-aku?"
"Wiih emas asli ni kayaknya," serunya berbinar melihat emas itu terlihat berkilau. Rissa mengambilnya tanpa ragu.
"Aduhh berat banget sih, kek dosa gue," gerutunya mengangkat pedang itu sekuat tenaga. Sang raja mengerutkan dahinya melihat tingkah tak biasa panglima.
"Maju lah. Lawan mereka. Jangan lupa taruhan dari peperangan ini adalah dirimu sendiri. Jadi berusahalah agar tidak kalah." Raja mengingatkan panglimanya. Wajahnya tanpa ekspresi. Nada bicaranya sangat dingin dan angkuh.
"Aku? Maksud om raja apa?"
"Jangan berpura-pura! Kerajaan kita sudah sepakat dengan pihak musuh, jika kita kalah maka kamu harus dibawa ke kerajaan Verites dan menikah dengan Duke Alaric," ucapnya marah.
"APA? MENIKAH? OM, AKU AJA MASIH KULIAH. BELUM ADA CITA-CITA PENGEN NIKAH MUDA." Ia menggeleng dengan mata membulat, tercengang. Rissa memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Terlalu banyak hal mengejutkan. Ia semakin cemas.
"Jaga bicaramu! Cepat lawan mereka! Aku tak ingin mendengar omong kosong yang tak aku mengerti sama sekali." Raja segera pergi. Rissa digiring menaiki kuda.
Dia sudah pasrah. Kalo mati dia tak perlu ada di dunia aneh ini lagi. Yang sangat Rissa yakini dia pasti akan jadi orang pertama yang mati. Mending mati lagi dari pada harus di dunia tipu-tipu gini.
Terdengar suara terompet yang seperti terompet sangkakala di telinga Rissa. Peluh membanjiri jidat juga seluruh tubuhnya. Yaa gimana gak keringetan kalo bajunya saja setebal dan seberat ini.
"Ini kalo gue yang pertama maju, pasti langsung metong."
"PRAJURIT, SERANG MEREKA!" teriak Raja. Suara berisik kaki kuda berlarian maju. Para prajurit langsung menyerbu yang juga diikuti pihak musuh.
"AYO MAJU MAJU! AYO MAJU MAJU! AYO MAJU MAJUU!" Rissa hanya berteriak menyemangati mereka. Dia masih takut untuk ikut menyerang.
"AA-APAAN TUH?" Rissa tergugu melihat banyaknya prajurit yang mati tertusuk pedang.
"AAAA BANTUIN WOOY ITU KEPALANYA COPOTT"
"HUAAA DARAAHHH. MEREKA BERDARAH."
"Panglima, Anda harus segera membantu. Prajurit kita sudah banyak yang mati." Pria yang pertama kali masuk ke tendanya sedari tadi masih berada di sisi Rissa.
"Aduhh gue belum siap, bjiirr. Nanti aja lah," sahutnya takut. Otak gesreknya langsung membayangkan kepalanya ikutan copot. Tubuhnya tertusuk dan tersayat pedang. Rissa panas dingin.
"Tidak bisa nanti, panglima. Kemenangan ada padamu. Akan semakin banyak pertumpahan darah dipihak kita jika panglima tidak segera bergerak menyerang." Pria itu tetap mendesaknya. Rissa semakin kalut. Ia sama sekali tak tahu caranya memakai pedang. Tapi kasihan juga melihat orang-orang itu semakin banyak yang mati karenanya.
Dengan tekat setipis tisu Rissa memantapkan hatinya. "Oke. Kita serang mereka sekarang. LET'S GOOO." Rissa memacu kudanya cepat. Pria itu juga mengikutinya. Untungnya dia memang bisa berkuda. Saat sudah berada di tengah-tengah peperangan, mendadak nyalinya ciut.
"Takuutt. HUAAA, MAAKK MAU PULANG." Tentunya teriakan itu tak terdengar sama sekali. Dentingan pedang yang saling beradu menciptakan suasana bising dan ricuh.
"Panglima. Baguslah saya bertemu langsung denganmu. Kamu baru terlihat padahal perang sudah berlangsung dari tadi. Ah, kamu pasti takut karena itu baru muncul sekarang." Pria tampan dengan gagahnya menunggangi kuda menuju arah Rissa.
"Busettt ganteng bener."
"Angkat pedangmu panglima. Sudah sangat lama saya menantikan momen ini. Akan saya pastikan kamu kalah."
"Elah, belum apaan udah percaya bakal menang. Lawan dulu nih gue, Rissa Carissa. Senggol dong bos quuu."
SRINGGG
"AMPUUUN BERJANDA GUEE, BERJANDAAAA." Rissa memekik saat pedang pria itu hampir mengenai lehernya.
"GUE BERUBAH PIKIRAN. GUE GAK MAU MATII LAGIII, HUAAA MAMA TOLONGIN RISSAA." Wajah panik dan hampir menangis.
"Apa sekarang Anda ingin langsung menyerah, panglima?" tanyanya tertawa jahat. Bibirnya menyeringai melihat panglima yang ditakuti semua orang malah terlihat ketakutan di hadapannya.
"Iya, gue nyerah. Oke. Hhehe kalem Mas. Ganteng-ganteng kok sangar." Tertawa garing. Perlahan mundur. Rissa membawa kudanya berbalik. Memacu kuda dengan sangat cepat.
"MUNDUR SEMUANYA. KITA UDAH KALAH. MUNDUUURR"
"NYERAH, GUE NYERAH. SEMUANYA BALIKK."
Peperangan mendadak terhenti. Suara pisau yang tadinya beradu tak terdengar lagi. Yang ada hanya suara teriakan Panglima Slavia sambil berlari mundur membawa kudanya.
Prajurit Higala dibuat mati kutu. Jika panglima mereka menyatakan menyerah dalam peperangan, berarti mereka sudah kalah. Sebagian kerajaan akan berada dalam kuasa kerajaan Verites.
Pria yang tadi hampir menggorok leher Rissa dibuat mematung. Dia bingung dan juga tak terima. Pasalnya gadis itu akan menikah dengan tuannya jika kerajaan mereka menang. Dia tak akan membiarkan hal itu.
"Ini gila. Gadis itu pasti sudah memiliki rencana jahat."
*****
Bagai hewan buas yang berhasil ditangkap, Slavia diikat di tiang tinggi yang di bawahnya ada panggung. Disaksikan banyak orang di lapangan terbuka tepat di depan gerbang istana. Raja dan para petinggi juga ikut melihat langsung hasil buruan mereka.
"Anying, gue kek gembel yang ditangkap terus dijadiin tontonan." Kepalanya tertunduk malu, rambut panjangnya menutupi wajah. Slavia diikat kuat di bagian kaki, perut, dan tangannya. Baju zirahnya sudah dilepaskan hingga hanya pakaian pria dengan baju dan celana yang kotor. Usai lari dari peperangan Slavia dibawa paksa dengan cara diseret sampai-sampai bajunya penuh dengan tanah.
Warga beramai-ramai keluar rumah menyaksikan kemenangan kerajaan mereka dan luar biasanya bisa menangkap seorang "Singa Higala" yang selama ini dirumorkan merupakan wanita kuat dan berbahaya, bahkan sangat sulit untuk ditaklukkan. Kabar ini menyebar secepat angin ke benua dan kerajaan lainnya.
"ANGKAT KEPALANYA! KAMI INGIN MELIHAT WAJAH WANITA KEJAM ITU." Salah satu warga berteriak, disambut sorakan orang-orang yang menyetujui usulan itu. Selama ini tak ada seorang pun yang mengetahui wajah asli Slavia. Gadis itu selalu menutupi wajahnya dengan topeng.
"IYA, PERLIHATKAN WAJAHNYA PADA KAMI! DIA PASTI MENYEMBUNYIKAN WAJAH BURUK RUPANYA DI BALIK TOPENG." Prajurit menatap sang Raja, meminta persetujuan.
"Paksa dia mengangkat kepalanya!" perintah Raja Artha.
"Baik yang Mulia." Prajurit itu turun dari kudanya. Naik ke atas panggung mendekati Slavia.
Slavia hanya bisa memejamkan mata, gugup. Tidak siap jika ternyata wajahnya yang sekarang benar-benar buruk rupa. Itu pasti akan menambah rasa malunya.
Dengan tangan gemetar prajurit itu memaksa dagu Slavia terangkat menggunakan ujung gagang pedangnya. Dia takut Singa Higala itu mengamuk.
Diam.
Hening.
Warga yang tadinya gaduh mendadak senyap tak bersuara.
"K-KENAPA? SEJELEK ITU KAH?
"WOOY NGOMONG g****k! WAJAH GUE BURUK RUPA YA?" ngegasnya bertanya pada prajurit yang tadi memaksanya dengan cara sedikit kasar. Dia baru saja berani membuka mata setelah tak mendengar apapun lagi.
Prajurit itu tak bergeming. Para warga juga mendongak kaku menatap Slavia.
Hampir semua dari mereka sampai ada yang pingsan dan mimisan. Slavia dibuat bingung dan bertanya-tanya. Wajah gue seburuk itu? batinnya nanar.
Tiba-tiba seorang pria dengan tubuh tegap dan aura gelapnya yang kental berjalan naik ke panggung. Sebuah cadar terpasang di wajah Slavia.
Sementara itu, Slavia menahan napasnya melihat wajah super tampan dan rupawan di hadapannya.
"Oh my ...." Slavia hampir menjatuhkan rahang saking takjubnya.
GTL GTL GTL, GANTENG BANGET LOOO!!!
INI MANUSIA APA MALAIKAT? GANTENG BANGEETTTT. RELA DEH GUE JADI ISTRINYA.
Alis tebal, hidung bangir, rambut hitam legam, bibir tipis menggoda, dan mata biru lautnya mampu menghipnotis Slavia. Ia sungguh terpesona dengan jelmaan malaikat di depannya ini. Tapi, tanpa ekspresi dan perawakannya sedikit membuat Slavia takut. Sepertinya pria ini orang hebat dan kuat.
"Tutup mulutmu, Nona. Sepertinya kamu terpesona padaku." Suara serak basah nan seksi membuat kaki Slavia lemas, meleyot.
"Om, nikah yuk!" ajaknya dengan mata bersinar, memuja.
Pria itu menaikkan sebelah alisnya. "Kau setidak sabaran itu ingin menikah denganku?"tanyanya, membuat Slavia semakin ternganga.
"Omg ... jadi om yang bakal nikah sama aku?"
"Kapan om? Sekarang aja gimana? Saya siap lahir batin ini mah," ucap gadis itu menggebu-gebu. Matanya semakin berbinar dengan mengedip genit ke arah si calon suami.
Ekhmm, calon suami gak tuh.
Alaric, menatap tajam gadis yang terlihat aneh di matanya. Sebelum Ia tersenyum menyeringai kemudian berbisik di telinganya, "Bersenang-senanglah dulu! Aku akan membuatmu menderita setelah ini." Alaric menjauhkan tubuhnya. Turun dari panggung kemudian pergi entah kemana.
Slavia merinding. Pria itu seperti memiliki dendam pribadi padanya. Tapi kenapa? Apa pemilik tubuh asli ini memiliki kesalahan yang membuat pria itu seperti memiliki dendam padanya?
Bodo lah. Yang penting gue bisa nikah sama tu cogan. Dia dendam apa gak bukan urusan gue. Tinggal bikin tu cowok kepincut aja sama gue, sampai cinta mati pokoknya.
Uhuyyy gue gak jomblo lagiiiiiii.