Aura menatap ke sekeliling basement salah satu gedung bertingkat. Zac baru saja keluar mobil. Sebelum Zac mengunci pintu mobil. Aura segera mengambil tasnya dan menutup pintu dengan keras.
Setelah itu Aura melangkah pergi menjauhi mobil Zac. Tanpa mengucapkan apa-apa Aura berjalan menjauh. Tapi sebuah cekalan menahannya dan membuat Aura terhempas.
Tentu saja Aura tau siapa pelaku yang dengan berani bertindak lebih padanya. Jika bukan Zac tidak akan ada yang berani. Pria angkuh dengan kesombongannya.
"Kau ingin kemana ?" tanya suara maskulin itu.
Jika dalam keadaan yang dirinya meleleh karena suara Zac adalah suara pria yang bisa membuat perempuan mabuk kepayang hanya degan mendengarnya. Tipikal pria penakhluk wanita.
"Aku ingin pulang" ucap Aura dengan sinis.
"Kita baru sampai dan kau ingin pulang ?"
"Ya! Kau pikir aku anak kecil yang tidak tau ini gedung apa ?" sungut Aura dan ingin melangkah pergi.
Tapi Zac lagi-lagi menahannya dan membuatnya berbalik badan. Aura melototkan matanya kesal. Sedangkan Zac menatapnya dengan tatapan tak kalah kesal.
Zac sangat jago sekali menunjukkan wajah kesalnya jika bersama Aura. Pria itu selalu menunjukkan wajah ingin menerkamnya dan menghilangkannya dari muka bumi ini.
"Ini apartemen. Bahkan anak kecil bisa membaca tulisan di depan tadi yang menjelaskan ini apartemen!" sahut Zac yang membuat Aura menarik tangannya.
"Ya! Terus mau apa kau membawaku ke apartemen ini ? Belajar masak ?" sungut Aura tak kalah kesal.
"Saya hanya ingin membawamu ke apartemen saya" ucap Zac dengan enteng.
"Kau gila ??? Aku tidak mau!" ucap Aura dengan melangkah pergi.
Zac mengangkat tangannya kesal. Sebelum menyusul Aura yang melangkah menjauh dengan cepat. Zac dengan cepat mengangkat Aura di pundaknya. Dengan mudah atau lebih tepatnya sangat mudah.
Aura berteriak dan menjerit layaknya orang gila yang belum dijinakkan. Mungkin saja jika ada orang lain di basement ini mereka tentu saja akan memaki Aura karena berteriak terlalu keras.
"Kenapa kau susah diatur" ucap Zac dan memukul b****g Aura dengan keras.
Aura yang masih menyesuaikan kepalanya yang kebalik melotot. Aura begitu kesal ketika Zac memukul bokongnya dengan seenaknya sendiri.
"Kau! Ini namanya pelecehan!" jerit Aura ketika mereka masuk ke dalam lift.
"Ck! Begini saja sudah pelecehan. Nanti akan saya kasih tau bagaimana pelecehan yang benar"
Aura makin tak menyangka mendengar ucapan dari mulut Zac. Padahal dikiranya pria itu adalah pria terhormat. Tapi ternyata semua salah tak seperti itu. Jangan pernah percaya dengan apa yang baru pertama kali kau lihat
Zac menurutkan Aura di depan salah satu pintu di lorong ini. Aura memegang kepalanya yang terasa pusing. Hingga dua tangan memegang kepalanya. Pandangan mata Aura dan Zac bertemu.
Aura sempat terpanah tapi segera ditampisnya. Dari jarak dekat saja ketampanan Zac sangat harus dikagumi. Pria itu terlihat tampan di segala suasana. Aura memundurkan langkahnya dan menatap Zac tajam.
"Ini sama saja penculikan. Kau membawaku ke apartemenmu dengan seenaknya sendiri" ucap Aura dengan keras.
"Bisakah kau mengecilkan suaramu ? Para tetanggaku bisa mati mendengarnya" ucap Zac seakan memberi pengertian.
Tanpa mereka sadari jika pintu disamping mereka terbuka. Aura masih menatap Zac dengan tatapan membunuhnya.
"Daddy" gumam suara kecil membuat kedua orang dewasa itu menoleh.
Aura melihat seorang anak kecil tampan dengan wajah tembamnya. Zac yang ikut menoleh tersenyum dan mengangkat tubuh mungil itu kegendongannya.
Zac bahkan mencium pipi gembil tersebut. Aura sempat terpanah melihat kedua orang itu yang terlihat sama. Hanya berbedakan jarak usia yang tentu saja terpaut jauh. Aura hanya diam hingga kedua orang berbeda generasi itu menatapnya.
"Beri salam kepada Aunty, sayang" ucap Zac yang membuat anak kecil itu merentangkan tangannya.
Aura yang melihat hal itu langsung mengambil alih anak kecil tersebut. Ketika Aura menggendongnya anak kecil itu langsung mengecup pipinya dengan sayang.
Aura kaget mendapat kecupan manis itu. Sedangkan Zac yang melihat ekspresi tersebut terkekeh. Anak kecil itu memegang pipi Aura dan mengecup pipi satunya lagi. Dengan senyuman yang sangat tulus dan manis. Sangat berbanding terbalik dengan pria yang dipanggil Daddy oleh anak kecil ini.
"Halo, Aunty" ucap anak kecil itu dengan senyum manisnya.
"Halo, sayang. Namamu siapa ?" sapa Aura dengan lembut.
"Evan, Aunty. Aunty ?"
"Aura, sayang" balas Aura dengan nada gemasnya.
"Aunty Aua ?" gumamnya dengan nada cadelnya.
"Daddy, Evan laperrrr" gumam Evan yang membuat Zac terkekeh.
"Baiklah, kita akan makan. Masuklah terlebih dahulu okay ?" ucap Zac yang membuat Evan mengangguk lucu.
Aura terkekeh dan mengecup pipi gembilnya. Evan beranjak turun dan masuk ke dalam setelah melambaikan tangannya dengan Aura dan Zac. Sebelum menghilang ke dalam apartemen tersebut.
"Namanya Zevan. Dia baru berusia 2 tahun" jelas Zac yang membuat Aura menoleh.
"Dia anak pertama saya" ucap Zac yang membuat Aura terdiam.
"Masuklah" ucap Zac membukakan pintu.
Aura menghela nafas dan melangkah masuk ke dalam apartemen itu. Aura benar-benar tak menyangka jika pria di depannya ini telah memiliki anak. Bagaimana bisa pria ini sudah memiliki anak dan tetap terlihat tampan dan gagah seperti ini.
Aura menatap Evan yang ternyata sedang duduk di tengah mainan yang begitu banyak. Evan melambaikan tangannya kepada Aura dan dibalas Aura dengan ramah.
"Tuan" ucap seseorang yang membuat mereka berdua menoleh.
"Bukannya kau ijin pulang cepat karena anakmu sedang sakit ?" tanya Zac yang membuat perempuan itu mengangguk.
"Ya, tuan. Tapi saya tidak mungkin meninggalkan Tuan Evan dirumah sendiri"
"Bukannya saya sudah katakan kau bisa menelfon Mama ?"
"Beliau sedang ada perlu dirumah sakit, Tuan" Zac menghela nafas dan mengangguk.
"Pulanglah segera. Saya yang akan menjaga Evan" ucap Zac yang membuat perempuan itu mengangguk.
"Oh ya tuan. Terima kasih atas kebaikan Tuan" ucap perempuan itu.
"Sudahlah, kau pantas menerimanya. Segera bawa anakmu kerumah sakit" ucap Zac dan pelayan itu mengangguk pergi.
Zac melepaskan jasnya dan menaruhnya di lengan sofa. Zac menghampiri Evan dan mengecup kening Evan dan mengatakan sesuatu.
"Daddy akan memasakkanmu makanan. Kau tunggu sini okay ? Jangan kemana-mana. Daddy ada di dapur" ucap Zac yang diangguki Evan.
"Saya akan memasak untuk Zevan. Kau tunggulah disini" ucap Zac dengan melipat lengannya.
"Biar aku bantu"
*-*-*
Aura memotong kecil-kecil wortel tersebut. Setelah itu Aura mengambil kentang yang sudah dikupas oleh Zac. Pria itu entah mengapa terlihat semakin tampan dengan celemek itu.
Zac terlihat asik mengupas beberapa sayur. Bahkan pria itu juga yang baru saja mencuci sayur serta ayam yang dikeluarkannya dari kulkas.
"Saya memiliki dua anak lagi. Mereka berdua berumur 1 tahun dan mereka kembar" ucap Zac yang membuat Aura menoleh kaget.
"Ehm jika boleh tau. Kemana mereka ?" tanya Aura yang membuat Zac tersenyum.
"Mereka sedang dirumah Mama saya. Mama saya mengambil alih mereka jika saya sibuk bekerja. Saya hanya membawa Zevan" ucap Zac menjelaskan.
Aura mengangguk dan kembali memotong sayuran di tangannya. Aura merasa begitu canggung dan kenapa juga dengan bodohnya Aura menawarkan diri untuk membantu.
Sejak tadi Aura meruntuki responnya yang begitu cepat menanggapi Zac. Aura menghela nafas dan mengambil sebutir kentang lagi dan memotongnya.
"Saya seorang duda dengan tiga anak. Mungkin kau sudah tau dari Reon"
"Tidak, Reon tidak pernah mengatakan apapun tentangmu" ucap Aura yang membuat Zac mengangguk.
"Ehm, apa kau ingin menikah denganku ?"
*_*_*