Identitasnya bukanlah sebuah masalah besar baginya. Tentu saja dalam pikirannya, ia sudah mengerti dengan jelas bahwa seluruh keluarganya sudah dibantai habis oleh lelaki kejam di hadapannya. Jadi, tidak ada masalah jika saat ini dirinya mengungkapkan namanya.
Kiera masih menatap tajam lelaki di hadapannya. Sejak dahulu, tatapan matanya terhadap apapun selalu kosong dan tak bernyawa. Kini tatapan tak bernyawa itu telah tergantikan dengan tatapan membunuh dan penuh kebencian ketika melihat senyuman miring yang dilontarkan oleh lelaki di hadapannya itu.
Kiera dapat merasakan cengkeraman tangan di bahunya melonggar dan pistol di sisi bahunya yang lain menjauh. Pistol itu memang menjauh dari bahunya. Namun, sesaat kemudian Kiera dapat merasakan pistol itu bergerak menyentuh pipi seputih salju miliknya. Dengan gerakan pelan, lelaki itu sedikit mengusapkan pistol di tangannya ke pipi pucat milik Kiera seakan memberikan suatu salam perkenalan mengenai benda berbahaya nan mematikan di tangannya.
“Kau akan terus menatapku dengan tatapan itu?” tanyanya.
Kiera diam tak menjawab ataupun menggubris pertanyaan konyol itu.
Sesaat setelahnya Kiera dapat merasakan pistol itu berhenti tepat di keningnya. Mungkin memang ini adalah waktu bagi Kiera untuk menjemput kematiannya dan menemui seluruh keluarganya di surga. Kiera lantas menutup matanya pasrah ketika dirinya mendengar suara tarikan pelatuk dari pistol di hadapannya.
“Kau adalah satu-satunya gadis yang tidak patuh padaku,” ujarnya sembari tertawa pelan.
Kiera dapat mendengar tangan lelaki itu semakin mengerat pada pegangan pistol di tangannya. Ia sudah mengerti bahwa dalam hitungan detik, peluru itu akan menembus kepalanya. Namun, di tengah kegelapan pandangannya yang sedang menutup mata, Kiera tidak merasakan kembali sentuhan pistol di keningnya. Dirinya segera membuka matanya tergesa. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pemuda itu hanya menatapnya lekat.
Sang Jenderal terlihat kembali mendekatkan dirinya kepada Kiera dan membisikkan sebuah kalimat, “Sayang sekali, kematianmu tidak dapat kau peroleh dengan mudah karena aku masih membutuhkan informasi darimu.”
Sesaat setelahnya Kiera hendak memberontak, tetapi Kiera merasakan sebuah suntikan di sisi lehernya. Tusukan jarum suntik itu menancap dengan kasar ke leher pucatnya. Kemudian, Kiera tidak dapat megendalikan tubuhya. Kiera merasa pandangannya memudar dan kepalanya sangat berat. Beberapa detik setelahnya, Kiera merasakan tubuhnya tumbang dan pandangannya gelap sempurna.
‘Apa yang telah ia lakukan?’
***
Gadis muda nan cantik tampak lemah dan terjatuh dari kursi kayu usang itu. Gadis itu bernama Kiera. Nama yang indah untuk gadis tak patuh sepertinya. Lelaki berseragam itu masih duduk di tempatnya dan menatapi tubuh Kiera yang terjatuh tak berdaya. Ia pun menatap wajah pucat Kiera lekat. Wajah cantik Kiera sedikit ternodai oleh debu sehingga rona merah di pipinya tertutupi oleh warna coklat kehitaman kotor.
Pemuda itu lantas berjongkok di hadapan tubuh Kiera yang sudah terkulai tak berdaya. Tangannya menyibak rambut panjang kecoklatan yang menutupi sebagian wajah Kiera. Pemuda itu seakan terus mencoba mengamati wajah Kiera seakan mencari-cari kesalahan yang ada pada wajahnya. Namun nihil, selain kecantikan yang ia lihat, dirinya tak menemukan tanda-tanda kejanggalan pada wajah gadis itu.
“Kiera van Criselle? Jadi dia adalah putri dari keluarga Criselle? Namun mengapa identitasnya tidak dapat diketahui? Aku yakin di keluarga Criselle tidak ada yang bernama Kiera,” gumamnya pelan.
Sesaat setelahnya, ia mendengar suara pintu kayu usang di ruangan itu terbuka dan menampakkan dua orang prajurit yang memberikan hormat padanya.
“Jenderal Leonardo One Greenson, sudah saatnya pertemuan dengan duta besar—“
“Aku mengerti,” potongnya. Sesaat setelahnya Sang Jenderal bangkit dengan menggendong Kiera di lengannya.
“Jenderal, biar kami—“
“Tidak perlu, cukup siapkan teh dan camilan untuk duta besar itu, aku akan segera kembali.”
***
Jenderal Leonardo One Greenson mereka memanggilnya. Jenderal perang yang terkenal karena kekejamannya terhadap lawan dan memang terbukti selalu membawa kemenangan di setiap peperangan. Jenderal Leon selalu memiliki taktik dan juga persiapan yang matang ketika berperang. Kecerdasan sekaligus ketampanan yang dimilikinya selalu membuat setiap wanita terpikat padanya. Namun, dengan citranya yang kejam, tak ada satupun wanita yang berani mendekatinya ataupun menjauhinya. Semua seakan tunduk padanya bahkan, ia memiliki koneksi besar kepada Sang Raja. Hal itu membuat dirinya sangat berpengaruh di Kerajaan Cellius dan tak ada yang berani melawan perintahnya.
“Hormat untuk Jenderal Greenson,” ujar seorang pria bertuuh gempal dengan perut buncit sembari menunduk sopan padanya.
Leon tersenyum melihat lelaki gendut itu. Ia adalah duta besar dari Kerajaan Qiren yang begitu serakah. Leon mendapatkan informasi bahwa duta besar itu memiliki tujuh belas istri dan rencananya ia akan menikah kembali ke delapan belas kalinya dengan putri dari keluarga Criselle. Melihat dari track record lelaki gempal itu, Leon tak dapat menemukan keistimewaan di dirinya melainkan ia adalah lelaki yang serakah dan mata keranjang. Lelaki itu pernah sekali tertangkap dalam kasus korupsi besar-besaran terkait dengan proyek pembangunan jalan di pedesaan. Lantas mengapa keluarga Criselle yang terhormat berencana menempatkan satu-satunya putrinya di sisi lelaki sepertinya?
Leon balas menganggukkan kepalanya sopan untuk mengisyaratkan bahwa hormat yang ia berikan sudah diterima dan kedua belah pihak dapat memulai perjamuan.
“Makanan di sini sangat enak, Jenderal cicipilah beberapa—“
“Aku tidak memiliki banyak waktu, kita bicarakan langsung ke intinya, Duta Besar Mario” potong Leon.
Lelaki itu jelas langsung menutup mulutnya mendengar kata-kata dingin dari Jenderal Leon.
“Baiklah, Jenderal Greenson memang bukan orang yang menyukai basa-basi,” ujarnya sembari tersenyum.
“Siapa nama calon istrimu yang kedelapan belas?” tanya Leon singkat.
Lelaki itu tertawa kencang.
“Jika aku menyebutkan namanya, apakah kau akan menemukannya untukku? Dia adalah gadis yang sangat cantik—“
“Cukup jawab pertanyaanku, dan aku akan memikirkan keinginanmu,” balas Leon.
“Baiklah, namanya adalah Lily,” ucapnya singkat.
“Kau yakin?” tanya Leon lagi.
“Duke Stephen Criselle yang memberitahuku langsung,” balasnya.
“Kau mengerti aku tidak memiliki banyak waktu, benarkah yang kau katakan?” tanya Leon sekali lagi dengan nada penuh penekanan.
“Aku berkata yang sebenarnya—“
Seketika seluruh senjata tertuju pada lelaki itu. Lelaki itu berteriak ketakukan dan terjatuh ke lantai.
“Aku tidak pernah berani menyebarkan kebohongan kepada Jenderal Greenson yang kuat—“
Lelaki itu tampak bergetar dan merangkak menuju kakinya. Setelahnya ia langsung memohon di bawah kaki Sang Jenderal dengan wajah memelas dan penuh air mata.
“Ampuni aku, aku tidak berkata bohong, Duke Stephen Criselle benar-benar memberitahu bahwa nama putri keluarga Criselle adalah Lilian van Criselle.”
Leon tampak mengangkat kakinya dan meletakkan kakinya di atas kepala Duta Besar Mario. Anjing-anjing negara sepertinya, memang sangat mudah untuk dibujuk dan diberikan iming-iming merugikan selagi ia mendapatkan harta, tahta, dan wanita. Leon memutar bola matanya bosan melihat tingkah Duta Besar Mario itu.
“Ke- keluarga Criselle memang sangat tertutup terhadap anggota keluarga mereka, ji- jika nama yang kusebutkan salah, besar kemungkinan bahwa Duke Stephen Criselle juga menipuku menjanjikan untuk menikahkan aku dengan putri keluarga Criselle—tolong ampuni aku—“
Leon akhirnya mengangkat kembali kakinya dari kepala Sang Duta Besar.
“Kau bilang Duke Stephen Criselle menipumu?”
“Benar—“
“Lantas di mana dia saat ini?” tanya Leon dingin.
“Bukankah keluarga Criselle sudah dibantai habis? Aku tidak ta—“
Tanpa menunggu lelaki itu selesai menjawab, Leon langsung mengangkat tangannya memberikan aba-aba untuk setiap bawahannya.
“Tinggalkan jejak untuknya, tetapi jangan bunuh dia,” perintahnya.
‘DOOOR!!’
Suara tembakan terdengar menggema ke seisi ruangan.
“Kau harus mengingat rasa itu ketika kita kembali bertemu, Duta Besar Mario.”
Siapapun pemimpin dari keluarga Criselle ini, dia adalah seseorang yang tidak dapat diremehkan. Jika sebelumnya tidak ada yang bisa kabur dari pengawasan Leon, Duke Stephen Criselle justru kabur dari pengawasannya. Saat ini bahkan dirinya kalang kabut mencarinya karena ternyata Duke Stephen Criselle kabur bersama dengan Raja Bowen dari Kerajaan Qiren.
***
Di dalam ruangan gelap dan lembab Kiera mengerjapkan matanya perlahan. Kesadarannya dapat kembali setelah dirinya larut dalam gelap gulita. Kiera kini berada di balik jeruji besi yang sebelumnya sudah ia tempati sebelumnya. Tentu saja kembali dengan tangan terikat kuat pada ujung besi pembatas dinding penjara tersebut.
Kiera akhirnya menutup matanya kembali. Ia mencoba untuk kembali tertidur saja di saat seperti ini. Keadaan seperti ini sudah tidak asing untuknya. Ia hanya diizinkan untuk menutup mata dan membuka mata setiap harinya di kastel megah milik keluarga Criselle. Kiera sendiri tidak mengerti niat dari ayahnya melarang dirinya untuk mengetahui dunia luar. Namun, jika ayahnya berkata hal itu demi kebaikan dirinya, Kiera akan menerima peraturan itu untuk mematuhi dan menghormati ayahnya. Meskipun, sesekali Kiera tetap bersikap nakal dan kabur dari kastel untuk sekadar melihat danau dan pantulan bulan.
Kiera tidak menyangka semua peraturan yang diberikan ayahnya saat ini berguna untuk membuat dirinya terbiasa di situasi seperti sekarang.
“Aku tidak mengurungmu untuk bermalas-malasan.”
Suara berat seorang lelaki menyadarkannya. Kiera langsung bangkit dan menatap lelaki yang selalu ia kutuk di dalam hatinya. Kini lelaki itu sudah berjongkok di ujung selnya dan tersenyum padanya.
“Bukankah aku sudah memberi tahu namaku padamu? Bukankah itu yang kau mau? Kau masih ingin menyiksaku?” tanya Kiera.
Lelaki itu tertawa pelan.
“Kau masih saja tidak patuh padaku,” ujarnya.
“Apa yang kau inginkan dariku? Aku bukanlah orang yang berguna untukmu,” balas Kiera.
“Kau lebih berguna dari yang dibayangkan, Gadis Cantik.”
Kiera membalas perkataan itu dengan tatapan tajamnya. Tentu saja kini semua hatinya sudah dipenuhi oleh kebencian dan dendam terhadap pemuda di hadapannya itu.
“Apakah kau memiliki pengalaman dalam pekerjaan rumah?” tanyanya.
“Tidak,” jawab Kiera.
“Kalau begitu, kau perlu membuktikannya.”
Kiera mendengar suara dentingan besi yang saling bergesekan. Terlihat lelaki itu sedang berusaha membuka kunci gembok di bagian depan jeruji besi yang mengurung Kiera. Sesaat kemudian, kunci itu pun terlepas dan jeruji besi itu terbuka perlahan.
Pemuda itu akhirnya berdiri dan memasuki sel yang ditempati oleh Kiera.
Leon dapat melihat pergelangan tangan Kiera yang memerah karena tali yang mengikat erat di pergelangan tangannya membuat kulit pucat Kiera menjadi memerah. Leon lantas membuka perlahan tali yang mengikat kedua pergelangan tangan Kiera.
Begitu semua tali di tangan Kiera terlepas, Kiera langsung menarik tangannya menjauh dari tangan Leon yang masih memegangi tali yang sebelumnya mengikat pergelangan tangan Kiera.
Melihat perlakuan Kiera, Leon hanya tersenyum dan berjalan keluar dari sel sembari menggandeng tangan Kiera.
“Aku tidak akan kabur, kau bisa lepaskan tanganku dan aku akan berjalan sendiri,” ucap Kiera ketus.
Lagi-lagi Leon hanya bisa tertawa kecil sembari tersenyum miring ke arah Kiera.
“Baiklah—“
Kiera langsung menjauhkan tangannya dari tangan Leon.
“Kau adalah satu-satunya gadis yang bersikap kasar padaku,” ujar Leon.
Kiera hanya menatap Leon datar dan berjalan di belakangnya perlahan. Kiera hanya dapat melihat punggung pemuda itu. Kiera dapat melihat bahu lebar dan juga postur tinggi yang dimiliki pemuda itu dibalut dengan kain hitam seragam militer dengan selempang merah berhiaskan emas yang menghiasinya. Bahkan ketika dilihat dari belakang, pemuda itu memiliki wibawa dan juga keangkuhan yang tinggi.
“Kau tahu risiko jika kau membohongiku soal namamu?” tanya Leon.
Kiera hanya terdiam.
“Aku akan meledakkan kepalamu saat ini juga,” ucap Leon.
“Maka lakukanlah,” balas Kiera.
Langkah Leon seketika terhenti. Leon membalikkan tubuhnya dan menatap gadis pemberani dan pasrah di belakang tubuhnya.
“Kau lebih pemberani dari yang aku bayangkan, tidakkah kau mengerti siapa aku?”
Kiera hanya menatap mata pemuda di hadapannya dengan tatapan penuh kebencian. Keduanya saling bertatapan dengan tatapan yang berbeda. Kiera dapat melihat tatapan yang tak dapat diartikan dari mata pemuda di hadapannya.