Ruang keluarga terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Hujan tipis turun di luar, memantulkan cahaya lampu taman ke jendela besar rumah.
Ariel menutup map berisi beberapa dokumen, lalu mengembuskkan napas panjang."Leo hanya berbicara tentang Rumah Sakit, Sayang. Dia gak berbicara sesuatu yang penting," katanya pelan.
Yani yang duduk di sofa di depannya hanya diam.
"Kamu tahu sendiri kan, dia salah satu pemegang saham di Yayasan Rumah Sakit. Dia mendatangiku untuk membahas Rumah Sakit yang semakin rame. Dia bertanya, fasilitas apa yang perlu ditambah untuk para pasien agar mereka nyaman." Ariel tidak sepernuhnya berbohong. Mereka juga sempat membahas itu juga setelah pembahasan upaya penculikan Lili di Bandara yang gagal.
Yani bergeming. Walau wajahnya nampak lelah karena pekerjaan rumah seharian, tetapi sorot matanya tetap tegas.
Ariel sangat hapal dengan watak istrinya. Jika sudah dengan mode 'diamnya' berarti itu tanda dia harus mendapatkan apa yang dia mau.
Pria itu berdiri, mendatangi istrinya, duduk di sebelahnya dengan pelan. Tangannya memegang kedua bahu Yani, memutar tubuhnya pelan agar berhadapan dengannya. Mengelus pipi Yani lembut untuk memancing mata mereka bertatapan.
"Aku tahu kamu khawatir." Jempol Ariel bermain di pipi Yani. "Tapi tenanglah, serahkan semuanya padaku. Apa kamu gak percaya pada suamimu ini?"
"Berarti benar, Leo mendatangimu di ruang kerjamu untuk membahas Lili?" Yani masih belum menyerah.
"Kenapa kamu malah minta bantuan Leo, bukannya meminta bantuanku? Apakah aku tidak bisa diandalkan sebagai suamimu dan sebagai papa Lili?"
Yani kaget dengan serangan balik Ariel. "Bukan begitu. Aku gak pernah punya pemikiran seperti itu. Aku hanya ... aku hanya gak bisa kehilangan keluargaku." Wanita itu menunduk.
Ariel segera memeluk istrinya. Tentu saja Ariel sangat tahu Yani begitu sangat menyayangi keluarga. Cuma kadang istri yang sudah menemaninya beberapa tahun itu selalu berpikir untuk menyelesaikan segala masalah seorang diri. Dia gak mau keluarga mereka terluka.
Ariel juga sangat tahu semua hal yang sudah menimpanya. Apa saja kesakitannya. Bahkan, dulu, dia sendiri juga menjadi salah satu orang yang menyakiti wanita hangat dan penuh kasih sayang ini. Walau sekarang dia malah cinta mati.
"Sekarang kamu gak perlu melakukan semua sendiri. Bersandarlah padaku. Aku pasti akan berusaha sebaik mungkin untuk keluarga kita." Ariel memeluk Yani.
"Aku hanya tidak ingin mengganggu kesibukanmu. Pekerjaanmu sebagai Dokter sudah sangat menguras waktu, pikiran dan juga tenagamu."
"Hei ..." Ariel merenggangkan pelukan. Menjauhkan tubuh Yani sedikit agar bisa menatapnya. "Bukankah kita masih punya Bu Adisty, asisten Mama."
Yani memukul bahu Ariel pelan. "Jangan kejam! Bu Adisty sudah berumur. Kamu masih mau ngasih kesulitan pada beliau."
"Kan ada anaknya."
"Dasar!" Yani mencubit perut Ariel gemas.
Ariel pun kembali memeluk istrinya. "Jangan khawatir Aku akan melakukan segala sesuatu untuk keluarga kita."
Yani mengusap punggung suaminya. "Aku tahu.Sama sepertiku, kamu juga terlalu mencintai keluargamu."
Ariel terkekeh pelan.
"Itu salah?"
"Tidak."
Tatapan mereka saling bertemu. Ketegangan pembicaraan perlahan mencair.
Ariel menggeser sedikit menjauh, menatap wajah cantik istrinya walau sudah tidak muda lagi, tapi bagi Ariel wanita itu tetap yang tercantik. "Sudah lama kita tidak duduk berdua seperti ini."
Yani mengangkat sebelah alis. "Baru lima belas menit yang lalu kita masih berdebat tentang anak kita."
"Beda lagi."
"Terus sekarang?"
"Sekarang... waktu untuk istriku."
Yani tertawa kecil. "Kamu masih saja pandai merayu."
"Aku merayu orang yang sama selama belasan tahun."
"Bukan karena kamu mantan pemain wanita." sindir sang istri.
"Merayu wanita dan merayu istri sendiri sangatlah berbeda."
Yani mengerutkan alis. "Apa bedanya?"
"Sampai sekarang, di umur kita yang sudah tua ini, aku masih deg-degan kayak remaja yang sedang jatuh cinta."
Pipi Yani memerah tipis. "Kamu mulai berlebihan."
Ariel meraih tangan istrinya, lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut. "Aku serius." Wajahnya kini mendekat, hingga Yani bisa merasakan hangat napas suaminya yang menerpa pipinya.
Yani menggeleng sambil tersenyum malu. Menahan d**a sang suami. "Masih sore. Baru jam sembilan malam."
"Memangnya kenapa?"
Kalau anak-anak lihat bagaimana?"
"Mereka belum pulang."
"Tapi ini jam mereka pulang. Kita juga ada di ruang keluarga"
Ariel mendekat lagi hingga jarak mereka tinggal beberapa senti. "Sebentar saja."
Yani pura-pura memalingkan wajah. "Sebentar itu biasanya lama."
Tak menghiraukan, Ariel memaksa Yani kembali menatapnya dan langsung mengecup bibir wanita itu.
Yani tak menolak, Dia juga rindu sentuhan suaminya setelah beberapa hari jarang bertemu karena pekerjaan sang suami.
Yani menyambut ciuman Ariel, bahkan lebih dalam dari pada pria itu.
Kesenangan, Ariel tak menyia-nyiakankesempatan. Segera tangannya melingkar di pinggang Yani, menariknya lebih rapat ke dalam dirinya. Lidah Ariel mulai melesak masuk, memaksa Yani membuka mulut. Mengacak segala sesuatu di dalam bibir Yani.
Wanita itu mulai kewalahan. Suaminya begitu agresif seperti ingin menelan bibir dan lidahnya bulat-bulat. Tangannya juga sudah mulai nakal. Tangan kanan sudah melesat masuk ke dalam baju dan tangan kiri menekan kepala belakangYani agar ciuman semakin dalam.
Saat itulah...
Bruk.
Suara benda terjatuh.
Reflek baik Ariel maupun Yani menghentikan segala kegiatan mereka dan langsung menoleh ke asal suara.
Nampak Lala yang sedikit syok sampai mematung melihat kedua orang tuanya bermesraan.
Hening selama dua detik.
Lala berkedip sekali. Lalu, dengan ekspresi datar yang luar biasa meyakinkan, ia langsung memalingkan wajah ke arah lain.
"Hmm... aneh ya. Rumah kok kosong. Tidak ada siapa-siapa." Ia berjalan lurus sambil menatap langit-langit, seolah-olah sofa di ruang keluarga benar-benar tidak berpenghuni. "Aduh... ternyata aku salah masuk rumah. Eh, ternyata benar rumah sendiri."
Yani langsung menutup wajahnya karena malu.
Ariel berdehem keras. "Lala..."
"Oh? Ada suara manusia."
Lala masih pura-pura tidak melihat.
"Selamat malam, suara misterius."
Ariel tidak bisa menahan tawa. "Kamu sengaja, ya?"
Lala akhirnya menoleh sambil tersenyum jahil. "Tenang saja. Aku tidak melihat apa-apa. Mataku sedang cuti."
Yani semakin salah tingkah.
"Dasar anak ini..."
Lala mengangkat kedua tangan. "Aku langsung ke kamar saja. Anggap saja aku belum pulang."
Ia berbalik, lalu berjalan menuju tangga.
Namun sebelum naik, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Oh ya..."
"Kalian lucu juga, lho."
Setelah berkata begitu, Lala segera berlari menaiki tangga sambil tertawa kecil.
Di ruang keluarga, Ariel dan Yani saling berpandangan.
Yani mencubit pelan lengan suaminya. "Nah, gara-gara kamu."
Ariel mengusap lengannya yang dicubit. "Yang penting..."
"Apa?"
"Kita masih bisa membuat anak kita salah tingkah."
Yani menggeleng sambil tertawa.
"Sudah, jangan macam-macam lagi. Nanti Lala turun lagi."
Ariel tersenyum pasrah.
"Baik, Bu."
Meski momen romantis mereka terpotong, keduanya justru tertawa bersama. Di tengah ancaman yang masih membayangi keluarga mereka, tawa sederhana malam itu menjadi pengingat bahwa rumah tetap menjadi tempat paling hangat untuk kembali.