Percaya atau tidak, hari minggu merupakan hari yang paling kubenci dalam 7 hari dalam seminggu. Temanku—dan hanya dia satu-satunya—Benard, jelas memiliki pendapat yang bertentangan denganku. Karena di hari minggulah dia akan menaiki sofa, berbaring dengan santai sambil menggoyang-goyangkan ekor kecilnya.
Jika kalian mencoba menebak-nebak, yeah, satu-satu temanku adalah seekor anjing dengan totol-totol hitam di bulu-bulu tipis putihnya.
Alasanku cukup logis, kok. Aku benci hari minggu karena di hari itulah aku akan menghabiskan waktu untuk membaca buku selama 4 jam, sebelum akhirnya lanjut makan siang dan kembali dilanjutkan dengan tes mingguan dari Ayah. Tidak ada jadwal berkebun hari minggu, jadi Ayah menggunakan waktunya untuk memastikanku lebih pintar ketimbang penduduk sekitar. Dan kurasa Ayah berhasil.
Aku tidak masuk sekolah apa pun sejak berumur 12 tahun. Tapi aku tidak dikeluarkan. Aku justru mengeluarkan diri. Well, maksudku Ayah dan Ibu. Mereka memutuskan untuk mengajariku sendiri di rumah karena katanya sekolah tidak begitu membantu perkembanganku. Awalnya aku tidak begitu mengerti karena sebenarnya nilaiku bagus-bagus saja di sekolah, dan anak-anak lainnya nampaknya tidak menyukainya.
Hanya saja setelah menjalaninya, aku mulai mengerti. Aku bahkan baru tahu bahwa Ayah jauh lebih pintar ketimbang guru matematikaku. Di hari pertama belajar di rumah, Ayah langsung mengajariku sesuatu yang dia sebut dengan “aljabar”, menghitung sisi-sisi segitiga. Padahal di sekolah pelajaran yang terakhir diajarkan adalah menghitung sisa permen dari apa yang sudah diberikan.
Dan sekarang, di sinilah aku, 6 tahun belajar di rumah dengan Ayah. Dan sekarang aku masuk baru masuk ke dalam pembahasan tentang angkasa. Ibu menyebutnya dengan kosmologi atau apalah itu. Sialnya, materi ini agak sulit untuk kupahami.
Ayah memandangi kertas yang kutulis dengan tinta sebelum menggelengkan kepala. “Kurasa kau belum menangkap konsepnya, Ris. Apa ada yang sulit?”
Aku langsung mengangguk cepat. “Agak sulit membayangkan urutan tata surya. Dan lagi...” Kugerakkan jariku untuk menunjuk bulatan kecil di samping bulatan yang lebih besar. “Ini bulan kan, Yah? Kenapa kecil sekali? Sedangkan matahari besar.”
“Karena memang begitu. Dalam tata surya, bulan memang kecil sekali.” Bukan suara Ayah yang kudengar, tapi suara yang jauh lebih halus dari pintu. Ibu berdiri di sana sambil tersenyum, membawakan nampan berisi kue-kue kecil yang jelas baru matang. Aku bisa membauinya. Kue buatan Ibu selalu harum.
“Kurasa Alrisha akan lebih paham jika kau yang mengajarinya, Sayang,” kata Ayah pada Ibu, dan Ibu terkekeh pelan.
“Kau kan lebih pintar.”
“Bu, Yah, kalau kalian tidak pintar lalu aku apa?” Aku mengembuskan napas kasar, dan kali ini mereka berdua tertawa. Ini dia, tawa orang pintar yang mengaku tidak pintar. Itu agak menjengkelkan sih, tapi aku sayang mereka berdua.
Ibu memang pintar. Sebagai penduduk Kerajaan Bulan, Ibu memiliki kemampuan untuk mempelajari semuanya dengan cepat dan teliti. Ibu bisa mengingat banyak hal hanya dalam sekali lihat. Itu memang hebat, tapi di Kerajaan Bulan, bukan hanya Ibu yang begitu. Tapi dengan sifat Ibu yang memang teliti, kemampuannya begitu tajam.
Ayah, hm, aku sendiri bingung. Terkadang Ayah ceroboh, dan selera humornya payah—sesuatu yang tidak terlalu cocok dengan penduduk Kerajaan Bulan. Tapi Ayah juga pintar, pengetahuannya luas. Aku selalu suka saat Ayah bercerita tentang sejarah Kerajaan Bulan dan Kerajaan Matahari, peperangan dan hal-hal menarik lainnya. Katanya dia tahu semua itu dari membaca buku.
Aku belum pernah melihat Kerajaan Matahari atau bahkan penduduknya. Dan akan selalu seperti itu. kurasa Kerajaan Matahari pun tidak tahu apa-apa tentang Kerajaan Bulan. Karena begitulah hakikatnya. Kami tidak pernah menyentuh dan melihat satu sama lain.
Dari cerita Ayah—dan kadang Ibu ikut menambahkan—Kerajaan Matahari dan Kerajaan Bulan membuat sebuah perjanjian sejak beratus-ratus abad yang lalu agar tidak saling menyentuh kekuasaan satu sama lain. Hal itu dibuat untuk mencegah peperangan dan adu kekuatan.
Di Kerajaan Bulan, orang-orang cukup pintar. Beberapa sarana dan teknologi berkembang pesat di sini. Banyak ahli-ahli perang dan ahli strategi. Kerajaan Bulan terkenal dengan ketangkasan dan kemampuan berpikirnya.
Sementara itu, Kerajaan Matahari diberkati hal lain. Mereka punya kemampuan untuk mengendalikan hal-hal tertentu, seperti air, api, tanah, angin, listrik, logam, dan banyak lagi. Aku memang tidak pernah melihatnya, tapi aku yakin itu akan keren sekali. Aku bisa membayangkannya dari cerita Ayah.
Tapi, Ayah bilang kekuatan itu berbahaya. Apa yang jadi kekuatan Kerajaan Matahari bisa jadi titik kelemahannya juga. Banyak Kerajaan Matahari yang terlalu mengandalkan kekuatannya. Kekuatannya sering disalahgunakan.
Ada kalanya batu menggelinding yang terlalu besar terlalu mudah untuk dihindari. Titik yang membuat kita kuat bisa menjadi titik yang menjatuhkan kita juga. Di Kerajaan Bulan, fakta itu pun tidak bisa dihindari. Banyak orang-orang pintar yang mendadak menghilang, atau bahkan jadi gila. Seingatku, salah satu tetanggaku juga begitu. Dia penasehat raja yang kemudian menghilang sekitar satu tahun yang lalu. Orang bilang dia dipenjara dalam tahanan khusus karena menjadi gila dan mengacak-acak dokumen kerajaan.
Orang kuat memang yang memang akan dijatuhkan lebih dulu, ya?
“Ibu rasa ada buku tentang tata surya. Biar Ibu ambilkan.” Setelah meletakkan nampan berisi kue di sisi meja belajarku, Ibu melangkah keluar. Ayah yang lebih dulu mengulurkan tangan untuk mengambil kue Ibu, dan aku langsung protes.
“Yah, itu punyaku!” protesku. Ayah justru terkekeh, kemudian dia merogoh saku, mengeluarkan sesuatu yang dia letakkan di mejaku.
“Kue tadi Ayah tukar dengan ini. Boleh, ya?”
Segera kuambil apa yang Ayah letakkan. Sebuah kalung dengan kunci berwarna emas. Terlihat biasa saja, sebenarnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari kuncinya. Kendati berbentuk seperti kunci dengan dua kotak, ujung kunci itu justru berbentuk matahari pipih. Aku langsung menolehkan kepala ke arah Ayah, sementara Ayah berdesis, mencegahku untuk bertanya kuat-kuat.
“Ayah menemukan itu dua hari yang lalu di pinggiran Sungai Gerhana, ada di bawah pohon. Karatnya sudah Ayah hilangkan,” bisiknya sambil menyengir. “Simpan baik-baik ya? Dan rahasiakan ini dari Ibu.”
Aku melotot, tidak percaya bahwa Ayah baru saja mengatakan Sungai Gerhana. Siapapun tahu itu tempat perbatasan antara Kerajaan Bulan dan kerajaan Matahari. Tapi meskipun ke sana, Kerajaan Matahari tidak akan terlihat. Kabut tebal menutupinya, dan kurasa “sungai” hanya sebuah nama untuk menyederhakan genangan air raksasa yang entah seberapa lebarnya itu.
Buru-buru aku mengantungi kalung itu di saku baju panjangku, namun aku masih menatap Ayah dengan tatapan misterius. “Untuk apa Ayah ke Sungai Gerhana?”
“Mengejar kumbang tanduk satu.”
Ketimbang laki-laki berumur 42 tahun, aku rasa Ayah lebih mirip anak umur 4 tahun. Mengejar kumbang tanduk satu? Yang benar saja. Itu memang terbilang langka sih, tapi Ayah tidak seharusnya mengejarnya sampai ke Sungai Gerhana. Jika ada penjaga, Ayah bisa saja masuk ke dalam penjara.
Ayah melangkah mundur, kembali mengambil kue milikku, dan Ibu kembali masuk ke ruangan dengan membawa 2 buku tebal yang hanya dengan melihatnya saja sudah membuat kepalaku pusing. Biasanya penduduk Kerajaan Bulan identik dengan hobinya membaca buku. Mungkin aku jadi pengecualian.
“Bacalah ini dulu, Sayang,” kata Ibu. Dia meletakkan dua buku itu di mejaku. “Nanti setelahnya Ibu akan-”
Tok. Tok. Tok. Tok. Tok.
Kami bertiga langsung diam, saling berpandangan dengan kening yang mengernyit. Ketukan pintu itu terlalu keras, dan kami tahu siapa yang datang jika mendengar ketukan seperti itu. Tentara Bulan.
Di bawah Benard bahkan sudah menggonggong dengan kerasnya. Jelas yang datang merupakan sesuatu yang mengancam, karena itulah yang Benard lakukan—berisik ketika merasa terancam.
“Biar Ayah yang buka,” kata Ayah, dia langsung melangkah. Namun Ibu menahan lengan Ayah, membuatnya berhenti.
“Aku ikut.”
“Tenang saja. Mungkin mereka hanya minta sumbangan atau apa.”
Aku bingung kenapa Ayah bisa-bisanya tertawa di saat seperti ini. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Tawa Ayah berbeda. Terdengar lebih berat, lebih... dibuat-buat. Mendengar itu membuat benakku langsung menjerit, seolah ada sesuatu yang tidak beres.
Apa tentara mau menangkap Ayah karena ketahuan pergi ke Sungai Gerhana? Oh, tidak.
Aku tidak bisa melakukan apa-apa, hanya duduk di kursi sementara memandangi Ayah dengan sorot mata cemas. Ayah hanya menggeleng dan tersenyum, seolah menenangkanku. Tapi itu jelas tidak berfungsi, karena senyum itu terkesan dipaksakan. Bukan seperti senyum Ayah yang biasanya.
Akhirnya Ayah turun sendirian. Namun tak lama, Ibu ikut keluar dari kamarku setelah bilang, “Ibu akan menemani Ayah. Jangan turun ya, Alrisha.” Dan aku kembali sendirian di kamarku.
Kucoba untuk mengalihkan perhatian dengan membuka salah satu buku yang Ibu letakkan di meja dan membacanya. Aku mencoba membacanya cepat, membalik halaman demi halaman hingga di tengah halaman, menemukan lambang matahari. Tapi itu bukan hanya lambang matahari, tapi lambang kunci matahari. Kurogoh sakuku untuk mengeluarkan kalung yang sebelumnya Ayah berikan, dan tepat saja, kuncinya persis seperti yang ada di gambar.
Buku ini juga milik Kerajaan Matahari maksudnya? Kok bisa?
Ada tulisan kecil dibukunya. Oriane. Maksudnya?
Hal remeh begini seketika membuatku berpikir dan merenung di kursi. Seketika otakku berputar untuk membentuk beberapa hipotesis tentang buku ini. Jika memang ini buku ini milik Kerajaan Matahari, tidak seharusnya buku ini ada di sini. Dan lagi, Ibu yang memberikannya padaku. Lalu Oriane ini apa? Nama pemilik bukunya? Istilah untuk kunci? Atau apa?
Semua itu membuat kepalaku pusing, berputar-putar. Dan belum sempat aku menemukan jawaban dari pemikiran ala penduduk Kerajaan Bulan, suara tembakan terdengar, disusul dengan teriakan melengking.
Astaga!
Itu... teriakan Ibu. []