Jordanius
Aku pasti melewatkan begitu banyak hal.
Begitu bangun, tubuhku terasa pegal sekali, seakan tiap saraf di tubuhku berteriak dan memintaku kembali ke tempat tidur. Namun, terlalu lama berebah membuat kepalaku makin berdenyut.
Berapa lama sebenarnya aku tidur? Matahari saja baru terbit sekarang. Aku melangkah keluar dari kamar, menemukan Risha berada di ruang tengah, sibuk membaca buku tebal di pangkuannya. Ada satu tumpukan cukup tinggi juga di meja terdekat.
“Oh, Jordanius. Sudah bangun?” sapanya begitu menyadari keberadaanku.
Aku mengangguk saja, menempati sofa yang berseberangan dengannya, kemudian bersandar dengan posisi sedikit miring ke belakang sambil memijat pelipisku.
“Kenapa rasanya aku tidur terlalu lama?” gumamku. Aku bahkan tak menyadari mulutku mengucapkan i