Aera tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Rasa yang begitu kuat saat dirinya berada di dekat Taehyung. Oh ayolah, mereka berdua sedang tidak mengalami drama romantis. Bukan pula adegan yang menimbulkan bibit-bibit keuwuan. Sangat jauh dari kata manis. Bahkan seringkali bertengkar. Jadi, apa ada sejauh ini hal manis yang mereka lewati? Tidak ada.
Hari-hari Aera dipenuhi dengan kekesalan setiap ada Taehyung. Aera pikir hidupnya akan berjalan sempurna seperti apa yang ia bayangkan. Faktanya? Tidak sesuai ekspetasi. Realita yang membuatnya terpaksa terseret dalam arus drama memuakkan antara vampire dan penyihir.
Ingat, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Jangan pernah meremehkan skenario Tuhan yang nantinya bisa berubah-ubah. Kalau saja Taehyung memiliki hati yang lembut sedikit, mungkin pria itu mudah jatuh cinta. Siapa yang tak tergoda melihat sosok cantik itu? Pria mana yang tidak mau bersanding dengan Aera. Rambut yang berkilau bagai permata, bola mata semanis lelehan cokelat karamel dengan warna cokelat yang indah. Taehyung berpura-pura tidak melihat semua keindahan yang Kim Aera miliki. Atau memang hatinya terlalu dingin untuk dijamah.
Saat ini keduanya sedang berada di kantin. Seperti biasa Aera menyantap makanannya dengan lahap. Dan, Taehyung hanya diam menonton—vampire tidak bisa makan. Taehyung saja lupa bagaimana rasa lezatnya daging sapi asap berlumuran saus keju yang tampak menggugah selera itu. Selain rasa darah yang menghilangkan rasa laparnya.
"Kau tidak makan?" itu Aera yang bertanya.
"Kau mengejekku atau apa? Hei nenek sihir. Sejak kapan vampire bisa makan seperti manusia?" jawab Taehyung ketus. Tidak bersahabat sekali. Merotasikan bola matanya, tampak terlihat malas menemani Aera disini.
"Oh, sayang sekali. Padahal ini sangat lezat. Cobalah sesekali jangan meminum darah. Aku malah berpikir kau bukan vampire tapi kakek moyangnya nyamuk."
Ah, dia mulai lagi menyebalkan.
Barangkali jika Taehyung adalah kakak sepupunya—Min Yoongi. Dengan senang hati, Taehyung akan membalas lebih kejam lagi kalimat Aera barusan.
Dia hemat energi.
Malas berdebat, di pagi hari yang indah ini.
"Sepulang dari kampus jangan mengajakku ke toko buku lagi." Taehyung berkata datar. "Jangan mencoba kabur saat aku meminta kau ke rumahku. Aku hanya ingin semua ini berjalan cepat."
"Siapa juga yang memintamu mau ikut denganku?"
Taehyung berbaik hati hari ini. Memilih diam mengalah dan tidak melanjutkan konversasi menyebalkan itu. Aera adalah penyihir dengan segala macam sifat menyebalkannya. Taehyung rasa tidak ada penyihir secantik ini—lagi dia diam-diam memuji kecantikan Aera di dalam hatinya.
*****
Disisi lain, Jimin berdiskusi bersama Voulen mengenai ritual yang akan Taehyung jalani dalam waktu dekat. Kalau bukan penasaran, Jimin malas datang jauh-jauh kemari. Pun disekeliling rumah Voulen diselimuti hawa mencekam yang membuat siapa saja enggan menginjakkan kaki di tempat itu.
"Aku masih penasaran. Apakah benar dugaanku tentang Aera?" Jimin bertanya seraya mengusap bibir bawahnya, memikirkan sesuatu. "Kemarin malam, aku bermimpi bertemu seorang wanita yang begitu mirip dengannya. Tapi, mereka berdua berbeda. Warna mata mereka juga tidak sama. Aku melihat wanita itu memiliki ciri khusus di lehernya."
"Maksudmu? Ciri seperti apa?"
"Sebuah tatto di leher? Tidak terlalu jelas saat aku memimpikannya. Tapi yang kulihat wanita itu menggigit Taehyung."
Voulen sontak terkejut mendengar penuturan Jimin. Pasalnya benar selama ini. Taehyung bukan bagian dari mereka. Taehyung menjadi vampire bukan atas kemauan pria itu sendiri. Ini semacam petunjuk yang datang.
"Ah, mungkinkah dia wanita yang Taehyung ceritakan itu?"
"Aku tidak yakin, Voulen." Jimin mendesah frustasi. "Lagipula itu hanya mimpi. Tapi, tunggu..."
"Bukankah aku memiliki keahlian masuk ke dalam mimpi seseorang?" lanjut Jimin, dia melupakan itu disaat waktu yang penting.
Taehyung ataupun Jimin mempunyai kekuatan tersendiri. Jika Jimin memiliki kemampuan masuk ke dalam mimpi, Namjoon yang bisa membaca pikiran seseorang, maka Taehyung bisa menyakiti musuhnya tanpa menyentuh—hanya menatap lewat mata. Di antara mereka Taehyung yang paling istimewa karena sesekali Seokjin akan meminta bantuan Taehyung mengalahkan vampire dari kalangan lain yang menganggu ketenangan keluarganya.
Akan tetapi selama ini, Jimin belum pernah mencoba kekuatan itu. Seakan dia menyembunyikannya. Dan kini saatnya Jimin akan membuktikan itu, bahwa dia juga layak di akui vampire yang istimewa.
Pria berambut abu-abu itu menatap Jimin, curiga. "Kau berniat masuk ke dalam mimpi Aera?" Voulen menjeda sejenak sebelum ia memberikan Jimin sebuah botol kaca kecil, yang berisi cairan berwarna biru. "Kau tahu, Taehyung sebentar lagi mengklaim Aera. Dia bahkan melindungi Aera tanpa gadis itu ketahui. Jika dia tahu kau melakukannya tanpa sepengetahuannya—bibirmu jadi bahan taruhan."
Jimin tertawa mendengar Voulen. Disaat serius terkadang Voulen ini mirip Seokjin, melempar leluconnya.
"Bibirku tidak ada tandingannya, hyung."
Voulen berdecak. "Terserah kau saja. Pastikan kau minum ramuan itu sebelum tidur. Aku masih tidak menyangka kau bisa mengacaukan mimpi oranglain."
*****
Sunyinya malam hari ini membawa Taehyung pada memori masa lalu yang indah. Semasa ia belum seperti saat ini. Hidup terkadang membosankan bukan? Terlebih selama tiga ratus tahun, Taehyung hidup sebagai vampire. Ketika ia bertemu dengan Seokjin kala itu, kakaknya mengulurkan tangan dengan senyuman. "Tidak apa-apa. Jangan takut. Kau adalah bagian dari kami mulai hari ini."
Kakaknya merawat ia penuh kasih sayang. Tidak membedakan antara Namjoon dan saudara yang lain. Dalam beberapa waktu pun, Seokjin bahkan rela terluka demi menyelamatkan Taehyung yang menjadi vampire baru—haus darah dan tidak bisa mengontrol diri. Ikatan mereka kuat. Namun, Taehyung masih menyesali takdirnya yang gelap.
"Istirahatlah sudah malam, hyung." Jungkook menghampiri Taehyung yang berdiri di balkon kamarnya. "Kasihan kekasih penyihirmu sendirian di kamar. Tidak mau saling menghangatkan?"
"Sialan kau." Taehyung terkekeh. "Dia sudah tidur dan aku tidak mau mengganggunya."
"Cantik ya?"
"Apanya?"
"Bintangnya. Astaga, hyung. Pantas saja belum ada wanita yang mau denganmu. Tentu saja, Aera." Jungkook mendengus. "Omong-omong setelah red moon. Apa kalian berencana menikah?"
Jungkook entah mengapa malam ini senang sekali menggoda Taehyung dengan kalimat tidak masuk akalnya. Taehyung tertawa mendengar itu—mana ada yang mau menikah? Keduanya pun bertengkar sepanjang waktu.
"Tidak, Jeon. Vampire dan penyihir---,"
"Tidak di takdirkan bersama?" Jungkook menyela. "Tidak ada yang tidak mungkin. Kau bisa merubah takdirmu, hyung. Aku penasaran bagaimana keturunan kalian nanti? Oh, apakah Aera bisa berubah sama seperti kita?"
"Aku sudah menggigitnya. Tidak ada reaksi apa-apa. Dia masih penyihir menyebalkan."
Kali ini, Jungkook yang tertawa terbahak-bahak. "Tapi ada satu cara---," suara Jungkook berhenti. Bukan. Ini bukan karena dia ingin menghentikan kalimatnya. Sebab karena spontan mendengar suara teriakan Aera dari kamar.
"Sial, panggilkan yang lain!" Taehyung berteriak, Aera belum tersadar juga masih memejamkan matanya.
Seseorang yang pertama datang adalah Seokjin dan Yoongi. Mata sipit itu memandangi Aera malas-malasan. "Ada yang menganggunya. Kau tahu siapa itu." ujar Yoongi.
"Jimin? Tapi kenapa?" Seokjin menyahut penasaran. "Taehyung, kalian berdua apa ada masalah?"
"Tidak ada. Hyung sebenarnya ini ada apa? Mengapa Aera seperti kerasukan setan begini?"
Hening. Tidak ada yang mampu menjawab. Sebelum akhirnya, Yoongi mendorong Taehyung. "Minggir. Biarkan aku yang menyembuhkannya."
Dalam hitungan detik, tatkala Yoongi memegang pergelangan tangan Aera. Gadis itu berhenti bergerak. Seolah kembali tertidur dengan tenang.
"Yoon, apa yang terjadi?"
"Ini bukan ulah Jimin." Yoongi menatap mata Seokjin. "Bukan Jimin saja yang memiliki kekuatan itu. Sepertinya dia tahu kita akan segera melakukan ritual red moon."
"Rupanya dia mencari masalah denganku." Taehyung mengepalkan tangannya.
Hingga jarum jam berbunyi nyaring saat memasuki pukul dua belas malam. Aera membuka matanya. Awalnya tidak ada yang aneh, sampai mereka semua terkejut melihat perubahan pupil mata Aera yang memerah.
"Aera, bagaimana perasaanmu?" Yoongi tidak khawatir. Dia bertanya karena dia yang membantu Aera. dia belum menyadari keanehan itu.
"Yoongi, pupil matanya. Bukan dirimu yang membuatnya—"
Suara Aera berubah serak. Serak sekali. Sampai rasanya Taehyung ingin menjauh karena takut. Tetapi pria itu tetap duduk di pinggir ranjang. Mengamati wajah Aera yang memunculkan aura berbeda.
"Taehyung..." Aera menoleh dan tersenyum ke arahnya. "Ini aku... Aku sengaja masuk ke tubuh saudaraku untuk menemuimu. Kau tidak merindukanku?"
Lekas saja, Taehyung sengaja mengeluarkan kekuatannya dan menyakiti Aera dari tatapan mata. Gadis itu memekik menahan rasa sakit. "Kuperintahkan sekarang kau pergi iblis sialan."
Akhirnya, Seokjin dapat mengetahui kemarahan dari wajah adiknya. Serta, Jungkook yang menutup bibirnya sendiri—cemas. Dan, Yoongi menghela napas berat. "Dasar keluarga iblis aneh. Tidak bisakah sekarang saja kau lakukan ritualnya Taehyung?"
"Ya! Ini belum waktunya." Seokjin memukul kepala Yoongi.
"Apakah harus di waktu red moon?" Taehyung menghampiri Seokjin. "Buat perjanjian lain dengan mereka, hyung."
"Kau gila, Taehyung?! Kau mau melanggar aturan?" Seokjin marah, tangannya meremas pundak Taehyung. "Selama kau mengikuti perintahku. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi."
"Jika aku melanggarnya?" Taehyung menepis tangan Seokjin. "Ibu dan Ayah juga sama seperti diriku dan Aera. Apa itu tandanya aku bisa menikahi penyihir ini?"
"Kim Taehyung, kau tidak bisa!"
"Mengapa tidak?! Kau lihat sendiri bagaimana Alena masuk ke dalam tubuhnya! Aera bisa mati, hyung. Dan tujuan kita tidak pernah terjadi." Taehyung melemas, frustasi dan marah. "Yang terjadi malam ini bukan mimpi. Hyung tidak ada pilihan lain begitu juga denganku."
"Baiklah." Seokjin mengalah, pun ia berjalan ke luar kamar menoleh pada Taehyung yang terdiam kebingungan. "Lakukan apa yang menurutmu terbaik."
"Setidaknya aku sudah memberi solusi." Yoongi menambahkan.
"Dari semua solusi yang ada. Itu semua membunuhku secara perlahan." lirih Taehyung seraya menatap Aera.
'Aera, kau kah yang bisa kupercaya sekarang? Bantulah aku satu kali saja.'
[]