"Abrie bangunlah dasar perempuan bodoh!" teriak seorang wanita paruh baya tersebut yang tidak lain adalah bibi dari Abrie, Desi.
Abrie yang sudah terbiasa dengan teriakan dan cemoohan dari bibinya hanya bisa menurut karna apabila dia melawan maka ia akan mendapatkan perlakuan keras dari bibinya.
"Iya bi aku sudah bangun, apa yang harus aku kerjakan" ucap pelan Abrie yang baru keluar dari kamar kakak sepupunya, Daniel.
Dengan tatapan tajam Desi melihat Abrie dari atas hingga bawah "Cepat pergi ke swalayan untuk membeli keperluan dapur, dan kerjakan semua pekerjaan dapur!" Abrie hanya mengangguk dan pergi meninggalkan bibinya dan pergi ke dapur
"Bu, pergi kemana Abrie tadi?" tanya Daniel kepada ibunya "Aku menyuruhnya pergi ke swalayan" Daniel hanya ber-oh ria.
Sesampainya di swalayan Abrie langsung membeli semua yang dibutuhkan untuk di rumah, hampir 2 jam Abrie berada di swalayan itu "Bagaimana aku bisa membawa belanjaan sebanyak ini sendirian" gumamnya sambil menatap kresek belanjanya
Tanpa berfikir panjang Abrie langsung membawa semua kresek tersebut dan pergi meninggalkan swalayan itu untuk menuju ke halte bus.
Dengan banyaknya belanjaan yang ia bawa Abrie terus mengomel sepanjang perjalanannya menuju halte. "Sial, hari ini sangat panas sekali" keluh Abrie. Wanita berbadan mungil tersebut terlihat cukup kesulitan membawa kantong belanjaan yang cukup banyak tersebut.
"Ah seharusnya tadi aku memakai bawahan panjang saja, Abrie kau bodoh sekali" keluhnya.
Sesampainya didekat zebra cross Abrie melihat bus yang akan ditumpanginya di seberang jalan sana akan segera berangkat dia pun tanpa berfikir panjang langsung berlari menyebrangi jalan, hingga sebuah kejadian tak terduga terjadi
TIIINNNNNNN!!!
BRRAAAKKKKK!!
"Arrggghh sakit" rintih Abrie pelan, sebuah mobil hampir menabrak Abrie yang menyebrang jalan tanpa melihat sekeliling, seorang laki-laki keluar dari mobil menghampiri Abrie yang terjatuh sembari menyeka rambutnya yang berantakan.
"Nona apa penglihatanmu bermasalah, apa kau tidak melihat kalau lampu jalan masih hijau? Bisa bisanya kau berlari sembarangan" ucap Edgar, laki-laki berbadan jangkung dengan mata dan rambut hitam pekat berkilau itu.
Edgar pun menundukkan badannya hingga setara dengan Abrie kemudian melepas kacamata hitamnya dan meneliti wajah Abrie "Apa ada yang luka selain kakimu?" Tegasnya, hanya gelengan kepala yang Edgar dapat.
"Bagaimana bisa ada orang secantik ini" gumam Edgar terpesona dengan wanita yang ada di hadapannya, seolah tersihir Edgar tiba-tiba langsung menggendong Abrie untuk menepi
"Mari kubantu berjalan ketepian jalan" Ujar Edgar, Abrie hanya bisa terus merintih merasakan sakit dikakinya.
Edgar merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan sebuah kartu "Aku tidak memiliki waktu untuk mengantarkanmu ke rumah sakit jadi bawalah ini untuk biaya rumah sakitmu, anggap sebagai bentuk tanggung jawabku" Edgar memberikan kartu kredit tersebut kepada Abrie.
Abrie menatap Edgar kebingungan "Lantas bagaimana aku bisa mengembalikan kartu kredit ini?" Tanya Abrie penasaran, Edgar menggunakan kembali kacamata hitamnya kemudian berdiri.
"Simpan saja, jika Tuhan mentakdirkan kita untuk bertemu kembali kau bisa mengembalikannya kepadaku" ujarnya sambil tersenyum kepada Abrie kemudian berjalan masuk kedalam mobilnya kembali.
"Oh ya aku melupakan sesuatu, kartu tersebut tidak memiliki pin jadi kau bisa menggunakan untuk kepentinganmu" ucap Edgar kemudian membawa mobil tersebut pergi. Abrie hanya dapat menatap mobil Edgar perlahan menjauh. "Heii setidaknya beritahu aku namamu!!!".
***
Edgar Emiliano Dewangga, adalah putra dari pengusaha besar di Indonesia, yaitu Fredie Dewangga dengan istri keduanya Audrey Yaza Maddison.
Edgar di dewasakan dengan tegas oleh sang ayah sebagai satu-satunya penerus dikeluarganya. Seiring berjalannya waktu Edgar tumbuh dewasa dengan sehat dan tampan layak ayahnya.
Selang 6 tahun berlalu Elvara Dewangga, istri pertama dari Fredie Dewangga sekaligus ibu tiri dari Edgar tersebut akhirnya mengandung setelah 8 tahun pernikahan tidak dikaruniai seorang anak.
Kemudian anak tersebut diberi nama Enzi Gevarielle Dewangga. Meskipun Enzi dan Edgar Saudara Tiri, hubungan mereka berdua bisa dikatakan lumayan baik.
Edgar selalu menganggap Enzi seperti adik kandungnya sendiri begitupun sebaliknya, Enzi menganggap Edgar layaknya kakak kandung nya sendiri.
Namun semua itu tidak berlangsung lama hingga terjadi sesuatu yang membuat hubungan keduanya merenggang.
***
"Ada perlu apa Gar?" ucap asisten pribadi Edgar tersebut, Ricko. "Pergilah ke jalan edelweiss didekat pemberhentian bus 3, carilah seorang wanita yang sedang membawa barang belanjaan dengan kaki terluka" ucap Edgar diseberang telpon sana
"Untuk apa aku mencari seorang wanita? apa dia wanita yang telah kau campakkan Gar?" ujar Ricko penasaran, "Tidak, aku ingin kau bantu dia dan bawa dia ke rumah sakit" ucap Edgar,
"Apa yang sudah terjadi?" tanya Ricko penuh penasaran, "Akan ku ceritakan nanti saat kau sudah melesaikan tugas yang kuberi" ujar Edgar dan segera menutup telpon itu.
"Apa terjadi sesuatu dengan tuan Edgar?" tanya supir pribadi Edgar, "Tidak ada, dia hanya menyuruhku pergi ke suatu tempat, kita menuju ke jalan edelweiss Jos" ucap singkat Ricko yang kemudian fokus ke laptopnya kembali.
"Baik Tuan."
Joshua melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang sudah diberitahu Edgar, "Bagaimana caranya mencari kalau informasi yang diberikan hanya sekedar menyebutkan jenis kelamin" ketus Ricko sambil memijit pelipisnya.
"Kau tunggu disini aku akan pergi kesana untuk mencari seseorang" ucap Ricko kepada Joshua yang hanya di iya kan olehnya.
"Tidak ada siapa-siapa disini, apa wanita itu sudah pergi? Ah tapi tidak mungkin." gumam Ricko. Ia memfokuskan mata nya kepada wanita yang berada di seberang jalan sana.
Tanpa banyak berfikir, Ricko pun menyebrangi jalan dengan larian kecil. "Parah sekali, dia menabrak seorang wanita tua dan di tinggalkan begitu saja??" gumam Ricko dengan menggelengkan kepalanya heran.
"Nyonya, mari Saya bantu membawa belanjaan mu, dan Saya hantarkan ke rumah sakit" ucap Ricko yang membuat Wanita tua itu merasa heran.
"Kau siapa?" tanya wanita tua itu. Ricko tidak menjawab, ia mengambil belanjaan yang dibawa wanita tua itu.
"Mari Nyonya, apa kau bisa jalan?" tanya Ricko, Wanita itu mengangguk. Ricko pun tersenyum ramah dan sedikit membungkuk kan badannya, menghormati wanita itu agar jalan lebih dulu.
"Bagaimana bisa kau tahu jika aku akan pergi ke rumah sakit Tuan?" tanya Wanita itu.
"Aku hanya di perintahkan oleh seseorang."
***
Sesampainya di rumah sakit Ricko mengantarkan wanita tua tadi menuju ruang pemeriksaan. "Anda masuklah saya akan menunggu anda diluar sini dan menjaga belanjaan anda nyonya" ucap Ricko sambil tersenyum ramah
Wanita tua tersebut mengangguk dan berjalan masuk kedalam ruang pemeriksaan. "Hmm, memang benar kata Freya untuk tidak membiarkan Edgar menyetir mobil sendiri" lirihnya sambil menghela nafas panjang
Satu jam berlalu akhirnya wanita tua tadi keluar dari ruang pemeriksaan. "Bagaimana kondisi anda nyonya, apa lebih baik?" tanya Ricko sambil membantu wanita itu untuk duduk.
"Lebih baik dari tadi, terimakasih sudah memberikan tumpangan tuan" ujar wanita tua itu dengan senyuman. "Anda tidak perlu berterimakasih ini sudah tugas saya, anda tunggu disini saya akan membayar administrasinya sebentar" ucap Ricko kemudian pergi menuju loket pembayaran meninggalkan wanita tua itu sendiri.
"E-ehh tuan,,."
Sesampainya didepan meja resepsionis Ricko mengantri untuk membayar administrasinya, tiba-tiba telpon masuk dari Edgar. "Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?" tanya Edgar diseberang sana. "Sudah kuselesaikan, sekarang aku sedang mengurus administrasinya" jawab Ricko.
"Tuan, silahkan maju". Ucap resepsionis tersebut Ricko hanya mengangguk. "Boleh saya lihat data pasiennya tuan" Ricko memberikan data pasien itu
"Sudah dulu gar, akan ku hubungi kau lagi nanti".
****
"Terimakasih banyak tuan sudah membantu saya" ucap wanita tua tadi. "Sama-sama nyonya hati-hati dijalan ya, maaf saya tidak bisa mengantar anda pulang ada urusan lain yang harus saya laksanakan" Ucap Ricko sambil membungkuk dan kemudian meninggalkan wanita tua tersebut.
"Apa aku perlu pergi ke kantor atau masih ada hal lain yang harus aku urus?" ujar Ricko yang sedang menelepon Edgar.
"Sudah selesai, segeralah pergi ke kantor" Tegas Edgar.
"Baik".
****