Atmosfer di zona ini jauh dari kata ‘aman’. Cuaca mendung dan langit keruh memancing gidik untuk ketiga pria itu. Siulan angin yang menambah kesan mistis di telinga turut merunyamkan ketenangan mereka. Ada suatu hawa yang seolah-olah begitu menekan ketiganya, lebih intens bahkan jika dibandingkan dengan kabut Topaz Lanford.
Rodeus menengadahkan telapak tangannya selagi bersandar di salah satu batang pohon. Ia menatap lurus ke arah sana dengan kening berkerut dalam, tetapi tidak lama lidahnya berdecak. “Mana bodoh ini tidak mau muncul-muncul, bagaimana dengan milikmu, Barro?” tanyanya, setengah kesal.
“Sama sepertimu,” Ignacio melirik koleganya satu itu jengkel, “tetapi milikku tidak bodoh.”
“Cih, mentang-mentang langka.” Rodeus mengubah raut wajahnya dengan dibuat seolah-olah tengah mel