“APA?!”
Mulut Rodeus tidak bisa tidak menganga saat mendengar pemaparan dari rajanya terkait ia dan Ignacio berhasil ditumbangkan oleh dua bocah kembar di depannya ini. Karena terlalu lebar, rahang Rodeus kini terasa sakit—tetapi ia yang syok tidak menghiraukan. Tatapan pria bernetra cokelat itu tidak kunjung lepas dari si dua bocah kembar bersurai kuning yang cengar-cengir memamer gigi.
Mereka tidak lebih dari seorang bocah! batin Rodeus, tetapi kelibang ingatan tadi mulai kembali bersamaan dengan kesadaran utuh pria itu. Daun telinganya mulai merah, jengah bukan main. Wah, bocah singa itu! Kurang ajar!
Sorot tajam Rodeus menatap kesal Zee. Merasa ditatap, bocah itu memiringkan kepalanya heran. Tidak lama, Zee maju selangkah dengan kepala mencondong ke arah depan, mendekati wajah Rodeu