"Aarhg, seharusnya tadi naik motor saja. Daripada harus menempuh macet parah" batin Oliver sambil berlari kecil menuju lobby, bergegas pada meeting point lantai 17.
Oliver Lewis, 27th seorang pria muda yang sedang meniti karir dengan 'double degree'-nya sebagai design Interior dengan pengetahuan teknik sipil. Perawakan tinggi 185cm dengan tubuh proposional, maskular. Potongan rambut cukup panjang dan bergelombang menambah volume rambut sehingga terlihat cukup tebal. Oliver cukup dikagumi oleh lawan jenisnya, paras tampan namun penampilan serampangan. karena baginya tidak ada waktu banyak untuk bersolek. Perkerjaan yang banyak dihabiskan dilapangan, bertemu dengan buruh bangunan dan mandor, baginya cukup pakaian praktis saja, namun untuk 'meeting' ia mempersiapkan diri lebih rapi demi menghargai 'client'-nya.
Dengan kemeja lengan pajang yang tergulung hingga batas lengan, sehingga menonjolkan otot lengannya. Terselip rapi pada celana katun basic dengan sepatu pantofel. Lari kecil Oliver menimbulkan suara tok tok tok pada lantai lobby, siapa pun tau pemilik sepatu sedang tergesa-gesa.
Dengan terburu-buru Oliver bergegas menuju lift, namun dalam langkahnya ia terhenti, ketika matanya menangkap 'silhouette' seorang wanita yang ia kenal bertahun-tahun lamanya. Bayangan yang terus ia simpan dan ia kejar tanpa ujung yang jelas. Tetapi hari ini, serasa mau copot saja jantung-nya, berdegum kencang tak terkendali. Sepintas kembali ia menoleh, memastikan.
"Emma?!" panggil Oliver dengan ragu-ragu. Ketika paras wanita cantik, modis, dewasa terlihat mandiri, sosok yang percaya diri itu menoleh.
deg.
Seperti hentakan yang seketika membuat runtuh semua kepercayaan dirinya.
"Ollie?!" dirinyapun berusaha mengumpulkan kepercayaan diri yang seketika terhempas mengenang masa lalu-nya bersama Ollie, panggilan yang ia sematkan kepada mantan murid favorite-nya.
Ketika Oliver berusia 18th, Emma Joline adalah guru 'Physics' Oliver. Emma sempat mengajar hanya satu tahun lamanya, baginya mengajar sebagai pengalaman tak terlupakan, suatu kenangan manis dalam hidupnya yang dikubur dalam-dalam.
Semua bermula ketika Emma memberikan pelajaran extra kepada muridnya yang mau serius untuk pelajaran mereka dalam subject fisika, apa yang mereka belum pahami di dalam kelas, ia lanjutkan diluar kelas. Emma mengumpulkan muridnya dan memberikan soal-soal latihan sehingga mereka dapat memahami sebagai bekal mereka untuk ujian akhir mereka. Dan Oliver merupakan salah satu murid yang ikut dalam pelajaran tambahan tersebut.
Ketika Emma berusia 24th, adalah masa limbung bagi Emma, ia tidak tau arah hidupnya. Terlahir dari keluarga menengah diasuh oleh Oma-nya, karena orang tua Emma meninggal dalam kecelakaan ketika Emma masih remaja, dan beberapa tahun kemudian menyusul Oma tercinta yang menjadi satu-satunya keluarga Emma, juga berpulang kepangkuan Tuhan. Ia tidak tau bagaimana lagi melanjutkan hidupnya.
Setelah lulus kuliah Emma sempat berkerja disebuah kantor konsultan arsitek, untuk mengisi pengalaman mangang. Ketika masa-masa terpuruknya Emma mengundurkan diri, karena pada saat masa tersebut ia merasa mentok dalam ide dan kreasinya. Hal tersebut membawanya menjadi seorang guru pengganti disebuah sekolah dengan reputasi terkenal sangat baik.
*Hempasan Masa Lalu*
"Ok guys, bagi yang masih belum paham mengenai 'vector' kalian bisa kumpul bersama setelah pulang sekolah, Saya akan beri tambahan latian soal-soal. Ingat, bagi yang mau saja tidak ada paksaan dan tidak ada penambahan ataupun pengurangan nilai bagi kalian yang ikut maupun tidak" ucap Emma dengan suara lantang. Berharap memberikan sepenuh perhatikan kepada murid-muridnya, agar mereka tidak gagal dalam ujian akhir mereka.
Perjalanan hidup yang panjang dan melenceng dari cita-cita Emma menjadi seorang arsitek terkenal, hanya bisa ia jalani dengan lapang d**a dan berharap masih tersisa kewarasan dalam pikirannya. Takdir yang membawa Emma menjadi seorang guru, siapa sangka takdir ini yang akan mengubah hidupnya.
Emma dengan pembawaan pribadi tegas namun supel menjadikannya sebagai guru favorite dikalangan muridnya, ia dengan mudah berbaur dalam lingkungan remaja, memaklumi kenakalan mereka namun tegas untuk kenakalan diluar batas.
"Miss, jangan dilapangan sekolah terus lah, bosan. Sekali-kali di apaterment Miss. Jadi selesai kami kerjaan soal latihan, kami bisa berenang. Kita belajar tempat teduh pinggir kolam. Boleh yah Miss" ucap Sora sambil merengek manja.
Tak kuasa Emma menolak permintaan muridnya. toh, ia berfikir selalu kesepian di unit apatermennya.
"Ok, Ok, tapi kalian janji beri Saya nilai terbaik, terutama kamu Sora" ujar Emma seraya memberi semangat.
"Oliver, come on" tepuk Sora dibahu Oliver.
"Ok guys, kita kumpul depan gerbang sekolah setelah selesai jam pelajaran. Cukup 2 mobil saja yah. Miss, boleh nanti ikut mobil Miss?" instruksi Sora, yang terbiasa mengatur teman-temannya.
"Ok" isyarat Emma dengan jarinya yg lentik.
Setelah selesai jam pelajaran, anak murid Emma sudah berkumpul riuh didepan gerbang sekolah, namun pikir Emma, tumben sekali hari ini banyak yang mau ikut pelajaran tambahan. Terdapat sepuluh murid yang Biasanya hanya sekitar lima atau paling banyak delapan itu pun sangat jarang. Pelajaran tambahan yang Emma berikan sudah melalui izin Principle sekolah, yang di berikan dua kali dalam seminggu dan tentu di sambut baik oleh Principle karena berharap dapat meningkatkan kualitas mutu sekolah tanpa membayar lembur karena adalah inisiatif Emma sendiri yang menawarkan bantuan, sekolah Emma mengajar yang notabene sekolah untuk kalangan atas. Dengan mengajar di sekolah terkenal dan bereputasi baik, gajinya cukup untuk Emma, membayar sewa apatermen dan cicilan mobil.
Sora mengkoordinasi teman-temannya, dengan sesuka hati, ia memilih siapa saja yang satu mobil dengan Emma. Sora, Anna, Oliver, Finn dan Alex.
Sementara lima murid lainnya berada satu mobil dengan supir pribadi salah satu teman Sora.
Emma bersiap menyalakan mesin mobilnya, sementara muridnya bergegas masuk. Disampingnya, Sora duduk tak bisa diam dengan ceriwis dan cerianya ia membawa suasana sangat ramai dalam mobil. Emma hanya tersenyum, merasakan sambil berfikir kapan terakhir ia berkumpul dengan temannya, berebut bercerita satu sama lain seolah takut kebersamaan segera berlalu.
Sifat ceria Sora, selalu membuat iri Emma, terlahir dalam keluarga harmonis dan berkecukupan, melimpah kasih sayang dari kedua orang tuanya, namun Emma pun merasa bersyukur bila Sora tidak perlu merasakan rasa kesepian Emma yang ditinggalkan oleh orang-orang yang dikasihi.
Kedekatan Emma dengan muridnya cukup membuat Emma mengenal karakter masing-masing anak. Tertangkap pada spion kaca tengah yang mengarah pada bagian belakang. Anak yg tampan namun kikuk dan pendiam, Oliver. Sebetulnya Oliver tidak pernah ada masalah dengan pelajaran Fisika, ia hanya bosan dirumah sendiri sambil menunggu orang tuanya pulang berkerja. Oliver adalah anak tunggal, dari sepasang pengusaha yang bisa dikatakan cukup sukses.
Disela-sela kesibukan kedua orang tuanya selalu menyempatkan untuk berbincang dan bergurau dengan Oliver, kekikukan Oliver lebih karena disebabkan ia banyak menghabiskan waktu dengan orang dewasa, setiap perjamuan dengan relasi orang tua serta keluarga besar-nya ia selalu diikut sertakan, setiap pembicaraan orang dewasa ia dengar dengan keingintauannya yang tinggi, sehingga perlahan mempengaruhi cara berfikirnya. Baginya emosi yang meluap luap adalah kekanak-kanakan. Namun Bagi Emma, Oliver adalah pribadi dewasa yang terjebak dalam tubuh remaja.
"Ollie, apa nyawa mu sedang melayang? Diam saja." canda Emma.
Oliver tersadar oleh panggilan Emma, dan melirik mata Emma melalui spion, dan hanya tersenyum kikuk.
"Oliver, aku bingung mengapa kau selalu ikut pelajaran tambahan ini, padahal nilai mu bagus, bila alasanmu bosan dirumah sendirian, kau pun terlihat bosan bersama kami" protes Anna. Namun Oliver hanya kembali tersenyum kikuk.
Sesaat tiba di apaterment Emma, murid-muridnya membuat suasana ramai diarea kolam renang, Emma memberikan waktu kepada mereka sejenak untuk menikmati waktu santai mereka, dan Ia bergegas kembali ke unit apaterment untuk berganti pakaian casual. Dilihatnya hanya Oliver saja duduk berteduh dibawah payung besar sedangkan teman-temannya bermain cipratan air.
"Oliie, temani keatas untuk mengambil minuman dingin supaya kalian tidak kehausan nanti"
Oliver tersentak dan menurut.
"Guys, Miss ganti baju dulu yah. Ollie sekalian bantu ambil minuman dingin"
"sekalian snacks yah Miss, hahaha" guyon Finn.
Emma dan Oliver berjalan menuju lift, didalam lift Oliver yang begitu kaku hanya terdiam.
"Ollie, kenapa kamu begitu serius? Tidak seperti temanmu yang selalu bercanda tak bisa diam!" ucap Emma memecahkan keheningan.
"biasa aja" jawab Ollie, kembali terdiam.
"itu bukan biasa, tetapi luar biasa. Pikiran mu pikiran orang tua tetapi terjebak dalam tubuh anak-anak"
"aku bukan anak-anak, aku sudah 17 tahun, sepertinya sudah cukup dikatakan dewasa. Mereka yang telat dewasa" protes Oliver dengan wajah datar.
Emma hanya tertawa, mungkin memang benar ucapan Oliver.
Dalam batin Oliver, senyuman Emma sangat manis menambah kecantikan wajah Emma yang tirus.
Sesampainya mereka didepan pintu, Emma bergegas mencari kunci dan membuka pintu apatermentnya. Emma menginstruksikan Oliver untuk mengambil tas belanja agar diisikan beberapa botol minuman dingin didalam kulkas dan mengambil beberapa snacks dalam rak kabinet dapur, sembari menunjuk area dapur, Emma masuk kedalam kamar tidurnya untuk berganti pakaian.
Oliver melakukan apa yang diminta Emma, namun ia kesulitan mencari snacks yang dimaksud Emma, ia membuka dan menutup seluruh kabinet atas namun tidak menemukan snacks, yang ada hanyalah peralatan makan dan masak. Oliver menuju kamar, ketika hendak mengetuk pintu untuk menanyakan kembali kepada Emma, namun pintu kamar tidak sepenuhnya tertutup masih terdapat cela kecil untuk melihat bagian dalam kamar. Jantung Oliver berdegum kencang, dapat dilihatnya Emma sedang berganti pakaian, dipandangnya Emma lekat-lekat ketika membuka bajunya dan rok yang dipakainya ketika mengajar disekolah. Tubuh putih, padat dan kencang yang kini hanya terbalut bra dan celana dalam, bokongnya yang bulat penuh seperti bola volley siap dipukul, kenyal dan bouncing. Oliver berharap Emma berbalik agar ia dapat melihat buah dadanya yang ia bayangkan begitu ranum seperti buah plum siap di petik dan digigit sehingga mengalir air manis masuk kedalam dahaganya. Tak berkedip mata Oliver memandangi Emma, namun ia juga tidak ingin tertangkap basah dengan sengaja memandangi tubuh Emma. Bergegas Oliver berbalik, diurungkan niatnya mengetuk pintu, dicarinya kembali snacks didalam kabinet dapur, dengan jantung yang masih berdegum kencang, dan gemetar tangan Oliver membuka pintu kabinet atas yang pikirannya masih dengan sosok tubuh sintal didalam kamar yang baru saja ia lihat, oliver hanya membuka dan menutup seakan suara sibuk didapur menutupi kejadian ketidaksengajaan melihat Emma berganti pakaian dan akhirnya kali ini kabinet bawah yang ia buka dan ia menemukannya snack yang dicarinya.
Orang macam apa ini, menaruh peralatan berat pada kabinet atas, dan snack ringan pada kabinet bawah.
Baru kali pertama Oliver melihat seorang wanita muda setengah telanjang dan meningkat birahinya. Ia terbiasa melihat Ibunya setengah telanjang, yang juga dengan ketidak sengajaan. Tubuh Ibu-Ibu yg ia liat tentu saja tidak membangkitkan birahinya, melihat saja malas apalagi melotot. Bahkan ketika ia berlibur bersama orang tuanya kepantai, dimana para turis dengan santai berlenggak lenggok dalam bikini, baginya biasa saja.
*Ada Rasa yang Beda*
Sejak kejadian di apaterment Emma, Oliver mulai berubah cara padangnya kepada Emma. Bukan lagi melihatnya sebagai guru, namun perlahan Oliver mulai membayangkan Emma sebagai wanita seutuhnya. Khayalannya memenuhi harinya siang dan malam, Oliver pandai menyembunyikan perasaannya ketika berhadapan dengan Emma, ia hanya memasang tampang cool seolah memang tidak ada yang mengganggu pikiranya namun hati dan birahinya berkecamuk di dalam kalbunya.
"Ollie!" panggil Emma, memecah lamunan Oliver yang tanpa disadarinya, Emma sudah berdiri disampingnya.
"are you OK? Apa kamu punya masalah? Sudah beberapa hari ini kamu terlihat berbeda dari biasanya".
"yeah, I'm ok!" ucap Oliver, yang berusaha santai tetapi jatungnya selalu berdegup kencang setiap Emma berjarak dekat dengannya. Emma menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan Oliver, tetapi ia belum tau apa yang telah terjadi pada Oliver.
"Ollie, nilai mu turun 10 point. Jika yang kau katakan tidak ada masalah dengan mu, maka ku anggap kamu tidak memahami subject kali ini, ingat ujian akhir sebentar lagi hanya hitungan minggu, aku harap kalian semua tetap semangat. Jangan segan, pelajaran tambahan selalu ada dan siap membantu kalian" ucap Emma sekaligus kepada seluruh murid dikelasnya sambil mengakhiri sesi kelasnya.
"Oliver!" panggil Sora sambil menempuk pundaknya.
"what's wrong?!"
"nothing wrong!" ucap Oliver sambil mengangakat bahunya.
"Ok, so hari ini kita jadi pelajaran tambahan lagi?" tanya Sora
"ehm, Ok! "
"kalo gitu, aku mau minta Miss, pelajaran tambahan di apaterment lagi, biar ga bosan. Sudah lama kita ga pernah main kesana lagi" ucap Sora seraya berlari menjauhi Oliver dan mencari Emma.
Sebelum Oliver menjawab Sora, ia sudah berbelok diujung lorong. Pikiran Oliver kembali kepada pengalaman pertamanya yang tidak akan pernah hilang dalam ingatannya. Hatinya kacau, sebagian dari dirinya ingin kembali lagi, namun sebagian dari dirinya gugup dengan situasi yang akan terjadi, ia kuatir bila perasaannya akan diketahui oleh Emma.
Seperti biasa Sora yang mengatur teman-temannya. Oliver hanya terdiam duduk di jok belakang, sesekali berbicara dengan temannya. Namun rasa penasaran hatinya tidak dapat menahan rasa ingin memandang Emma melalui spion kaca mobil, dilihatnya Emma sedang sibuk berbicara dengan Sora dengan serunya mereka tertawa seperti kakak dan adik yang kompak.
Sesampainya di apaterment, Oliver mulai menyibukan diri berpura-pura mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya, namun tingkahnya kedapatan menjadi aneh, seperti bukan Oliver yang santai dan dingin. Emma menyadari dan mengira ada masalah yang dihadapi Oliver, namun ia tetap saja belom menyadari apa yang ada di hati Oliver.
"Ollie, Sora, Alex bantu yah. Bawa minuman dan snacks dari atas. Hari ini aku traktir pizza" ucap Emma, sedikit berteriak karena jarak mereka cukup jauh.
"hooray, thank you Miss" teriak anak-anak kegirangan.
Oliver, Sora dan Alex berjalan mengikuti Emma, didalam lift Emma dan Sora begitu serunya membahas pembicaraan khas wanita, mulai dari pakaian hingga gossip terbaru yang sedang menjadi trading topic. Dalam hati Oliver, mengapa kedua temannya harus ikut, namun di lain pihak hatinya pun tenang bila kedua temannya ikut naik kedalam unit apartment Emma.
Sesampainya didalam unit apaterment,
"Ollie, kau tau tempatnya kan?" ucap Emma.
"yes" ujar Oliver sembari menunjuk kabinet kepada Alex.
"Sora, pudding didalam kulkas ya, aku pesan pizza, sekalian mau ganti baju dikamar" kata Emma, sambil berjalan menuju kamar.
"Tenang Miss" balas Sora.
Mata Oliver diam-diam mengikuti Emma, sambil memastikan pintu kamar kali ini tertutup rapat. Seolah ia tidak ingin berbagi kesempatan yang pernah ia alami kepada Alex.
Yah, pintu tertutup rapat.
Batin Oliver.
Dan beberapa saat kemudian, Emma keluar dari kamar.
Mereka semua sudah siap dengan makanan dan minuman yang dibawanya, dan hendak turun menuju kolam renang dan bergegas menuju lift. Sora dan Alex masuk terlebih dahulu, seketika Emma teringat masih ada manisan gula yang belum diambil dan menyuruh mereka turun terlebih dahulu, Sora meminta Oliver yang kebetulan belum melangkah masuk lift untuk membantu Emma. Seperti gaya khasnya yang kikuk, Oliver mematuhi instruksi Sora.
Sesampainya mereka kembali kedalam unit apartment, Emma mulai mencari manisan gula yang ia lupa simpan dimana. Emma membungkuk mencari disetiap bagian bawah laci. Oliver berdiri tepat di belakang Emma, ingatannya kembali kepada b****g Emma yang kencang.
Tangan ini seperti ingin bergerak maju, menyentuh, meremas dan merasakan kenyalnya. Memeluk pinggulnya dan mendekatkan pada pinggul bagian depan ku.
Tiba-tiba Emma berdiri tegak dan berbalik, mendapati mata Oliver baru saja memperhatikan bokongnya. Dengan malu dan salah tingkah Oliver membuka kantong belanjaan, dan menyodorkan kepada Emma untuk memasukan manisan gula-gula kedalamnya.
"apa yang kau lihat" celetuk Emma
"nothing" jawab Oliver.
"apakah bokongku tembus padang , sehingga kau tidak melihat apa-apa" goda Emma.
"hah" dengan mulut menganga, tidak menyangka dengan kata yang baru saja ia dengar.
"tutup mulutmu, lalat akan masuk nanti" ujar Emma sambil tertawa.
"Ollie!" lanjut Emma, dengan wajah serius
"apakah benar kau tidak ada masalah? Masalah dirumah mungkin, atau dengan temanmu?"
Kekuatiran Emma tulus, dapat dirasakan oleh Oliver.
"no, I'm fine" jawab Oliver berusaha meyakinkan Emma.
"jika dengan memandang bokongku, kau merasa baik, lakukanlah. Namun lakukan secara diam-diam, jangan sampai temanmu tau" tawa Emma pun pecah. Entah mengapa ia senang menggoda Oliver yang kaku dan dingin.
Oliver terpukau hanya tersenyum kaku, Entah kejutan apa lagi yang akan dia dengar.
Lalu mereka bergegas turun, menuju lift. Didalam lift Emma mengingatkan kepada Oliver untuk memberitahukan kepada orang tuanya bahwa hari ini akan ada pelajaran tambahan, untuk mengejar ketinggalan point Oliver.
"Akan ada banyak soal-soal yang sudah ku siapkan, kamu harus mengejar ketinggalanmu, sebelumnya kamu sudah satu bab lebih maju dari teman-temanmu, sekarang kamu sedikit tertinggal, Entah ada apa denganmu , namun akan ku gembleng kau hari ini" ucap Emma dengan tegas.
Oliver hanya mengangguk, namun dalam hatinya bertanya apakah ia akan berdua saja nanti.
Kacau, kalau berdua saja bagaimana aku bisa paham semua soal-soal nanti, arrgh. Mengapa aku ga bisa fokus sekarang. Oh, "amin" kuat kan dirimu. Seraya ia menengok kebawah, melihat bagian alat vitalnya, mengingat candaan Finn "Imannya kuat 'amin' nya ga kuat"
Sesampainya mereka di area kolam renang, Emma masih memberikan mereka waktu untuk bersantai, lalu mereka memulai mengerjakan latihan soal-soal yang sudah disiapkan.
2jam sudah berlalu, dilihatnya mereka sudah 'kram otak' dengan latihan soal mereka dan Emma menyudahi sesi tambahan serta membiarkan mereka bergurau sejenak dipinggir kolam.
"Sora, apakah kita sudah mau pulang? Aku sudah capek. Pengen pulang dan berendam air hangat" ucap Anna.
Finn melihat Oliver yang masih sibuk dengan soal-soalnya,
"Oliver, bagaimana denganmu ?"
"masih ada beberapa lembar lagi, kalian duluan saja" jawab Oliver, sambil memperlihatkan soal yang diacungkan.
"nanti pulangnya bagaimana?"
"driver yang jemput"
"oh, ok" Finn menyudahi, sambil bergegas pulang.
Mereka pun saling berpamitan.
Dan sekarang tinggal mereka berdua, Oliver masih dengan serius mengerjakan soalnya dan Emma dengan sabar menemani salah satu murid kesayangannya. Hari sudah menjelang senja, Emma mengusulkan Oliver untuk mengerjakan didalam unit apartment.
Didalam unit apartment, Oliver kembali mengerjakan soalnya dengan serius. Ada beberapa soal yang ia kurang paham, dan Emma membantunya. Dengan keadaan apartment kecil, dapur Emma tersambung dengan meja makan dengan model bar table, dan disisi pintu masuk terdapat sofa yang empuk dengan two seater dan coffee table kecil dimana Emma bisa bersantai. Mereka duduk di lantai dan coffee table sebagai pembatasnya mereka.
Emma melihat Oliver, seperti kepalanya sedang berasap persis ia bayangkan mobil sedang mogok karena radiator yang pecah sehingga mengeluarkan kepulan asap mendidih.
"Ollie, apakah kamu ingin istirahat sebentar? Percuma bila otakmu sudah penat masih kau paksakan. Berikan soalnya, coba aku cek jawabanmu".
Oliver menurut dan menyodorkan kertas soal-soalnya,
Emma mengambil dari tangan Oliver dan dengan serius memeriksa soal-soal tersebut.
Sambil menunggu, Oliver merenggangkan ototnya yang kaku karena sudah terlalu lama ia duduk tegang.
"boleh aku minta minum?!" baru disadari Oliver sudah beberapa jam ia tidak minum karena terlalu fokus dengan soal-soalnya, tenggorokannya menjadi kering.
"sure, anggap rumah sendiri" jawab Emma, yang masih serius memeriksa setiap lembar kertas.
Segera Oliver mengambil minuman segar dalam kulkas dan kembali duduk dihadapan Emma. Sembari menunggu, Oliver memandang Emma dengan seksama, dilihatnya rambut panjang Emma yang hitam legam mengkilat, menjuntai beberapa anak rambut diwajahnya sebagian terselip dibelakang telinga. Tak kuasa matanya melirik leher Emma yang terbuka, putih bersih, seperti disiapkan posisinya seakan mempersilakan vampire mengigit dan menghisap darahnya persis seperti dalam film-film hollywood.