Malam itu Vizena sama sekali tak bisa memejamkan matanya meski dia ingin sekali terlelap. Dia hanya melihat ke arah langit-langit yang memantulkan bayangan dari lampu minyak yang diletakkan tak jauh dari ranjangnya. Ucapan kakaknya terus berulang-ulang di telinganya seperti sebuah mantra. Hatinya terasa sangat berat jika harus melepaskan dendam yang sudah menemaninya selama beberapa tahun ini, rasanya seperti dia tidak mentutaskan sebuah tugas yang telah dipercayakan untuknya. Terlebih saat bersama dengan Tyrisa menjenguk para pengungsi yang telah dievakuasi ke tempat pengungsian sementara mereka.
Melihat rakyatnya menaruh harapan besar padanya benar-benar membuat Vizena semakin bimbang untuk tinggal. Dia tidak ingin mengecewakan para penduduknya, namun tak ingin juga membuat orang-orang