BAB-6. PILIHAN YANG SULIT.
“Apakah terakhir kali kita melakukannya, aku membuatmu terluka?”
Aku maju satu langkah, masih dengan kebimbangan yang terus menggelayut di hatiku. Kedatanganku kemari adalah untuk mengakhiri semuanya tapi kalau dia tidak punya pilihan selain itu, maka aku juga tidak akan membiarkan dia memilih jalan lain.
Sisi terliarku terus mengatakan Sekar mungkin akan tetap melakukannya meskipun bukan denganku karena hanya itu pilihan yang dia punya. Dan sampai sekarang aku masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya dan kenapa dia nekat mengambil keputusan ini.
Baiklah. Aku juga tidak punya pilihan selain menerimanya. Aku akan memilih jalan yang buruk itu. Aku akan memilih mengambil jalan memutar demi bisa menyelesaikan apa yang telah kumulai. Meski kutahu ini tidak akan mudah, tapi kuharap dengan begini aku bisa menyelamatkannya.
Sekar hanya menggeleng. Aku tahu itu bohong.
“Kamu yakin?” tanyaku sambil melangkah satu kali lagi. “Tidak sakit?”
Satu menit berlalu, ia tetap bungkam. Aku menunggu dengan sabar. Untuk maju ke tahap berikutnya, aku perlu mendengar jawabannya yang jujur.
Ia akhirnya mengangguk. “Sakit.”
“Tapi kamu masih mau mengulanginya lagi?” tanyaku sambil maju satu langkah.
“Sudah kubilang... aku tidak punya pili…”
“Baiklah.” Aku merengkuh bahunya lalu menarik dagu Sekar dengan lembut. “Aku tahu kamu tidak punya pilihan. Maka dari itu, mulai sekarang jangan memilih. Pilihanmu cuma satu. Aku atau tidak sama sekali.”
Semua yang keluar dari mulutku jelas membuat Sekar kebingungan. Aku tahu dia mungkin belum bisa mencerna kalimatku dengan baik. Dia sedang dalam mode ketakutan, wajar kalau dia tidak bisa berpikir jernih.
Saat sisi terliarku menguasai, aku memilih untuk merengsek maju, memagut lagi bibirnya dan mendorongnya tubuhnya hingga menabrak dinding, menguncinya di sana. Satu tanganku meraih coklat yang telah Sekar siapkan sebelum aku datang. Aku mengambil coklat itu darinya lalu memasukkan ke dalam mulut. “Aku tahu coklat ini,” ucapku setelah melepas pagutan bibir kami. “Kenapa coklat?”
Sekar ragu-ragu menjawab, ia terus menunduk, enggan menatap mataku. “Untuk mempermudah semuanya. Kurasa bukan cuma aku yang membutuhkannya. Kamu juga…”
“Bagaimana kalau aku bilang aku tidak pernah membutuhkannya saat bersamamu?” Aku merengkuh pinggangnya lalu mengangkat tubuh Sekar dalam satu kali sentakan. Sekar menjerit pelan, reflek melingkarkan kedua kakinya di pinggangku.
“Bisakah kita lakukan dengan cepat seperti sebelumnya?” ia ragu-ragu mengucapkannya. Suaranya bergetar dan jantungnya terus berpacu lebih cepat. Dadanya naik turun karena ketakutan. Dan lagi-lagi Sekar hanya menunduk. Malu.
Aku meraih kedua tangannya lalu meletakkan di bahuku. “Pegangan!”
“Bisakah?” tanyanya lagi sambil mengalungkan kedua tangan di leherku.
Pertanyaan itu seketika membuatku tersenyum. Dialah yang memulainya. Dia juga yang menginginkan hubungan ini.
Lalu kenapa pula sekarang dia ingin buru-buru? Kenapa pula dia terus menerus malu?
Aku terus berjalan membawa tubuhnya yang ringan itu menuju tempat tidur. Sejujurnya tanpa diburu-buru pun aku tetap menyelesaikannya dengan cepat. Dengan wajah polosnya itu, siapa pun pasti tidak akan bisa menahan godaannya.
“Bisa.” Aku meletakkan tubuh Sekar dia atas ranjang. Ia berpaling dariku, menyembunyikan wajah di balik bantal. “Dengan satu syarat.”
“Apa?” tanya Sekar masih sambil membenamkan wajah di bantal.
Aku melepas satu per satu pakaianku dan melemparnya ke sembarang tempat. Di hadapanku, telah berbaring sosok bidadari cantik dengan lingerie barunya. Aku tidak lagi bisa menahan godaan ini. Meski salah, aku akan terus melanjutkannya. Aku akan terus menghitung berapa banyak dosa yang telah kuperbuat saat bersama Sekar. Nanti, semoga Tuhan mau mengampuni semuanya.
“Kamu tahu berapa kali aku sudah membayar angsuranmu?”Aku membenamkan di bahunya. Lidahku menjelajah di sepanjang garis leher dan terus turun hingga berakhir di dadanya. Sekian lama kuhabiskan dengan berkutat dengan bagian tubuhnya yang kenyal itu. Bibirku mengulum bagian itu sementara lidahku terus menyusuri setiap senti kulitnya.
Sekar mengerang pelan. Ia meletakkan satu tangannya di kepalaku, menjambakku keras. “Tiga kali,” sahutnya lemah sambil terus menahan erangan.
“Maka, kamu akan menjadi milikku selama tiga kali itu pula. Jangan melapor pada siapa pun, termasuk ke kantorku. Jangan biarkan ada yang menyentuhmu selama kamu masih terikat denganku dan jangan terima bantuan dari siapa pun. Maka aku akan terus melakukannya dengan cepat. Sesuai permintaanmu.”
“Setuju.” Satu kata itu terucap dengan sangat cepat. Hanya sekian detik setelah aku menutup mulutku. Aku mengembuskan napas lega. Artinya, jika suatu saat Evron mencoba mengganggu wanita ini, dia seharusnya tahu perjanjian kami.
Satu jam kemudian akhirnya aku mencapai puncak. Seharusnya aku bisa melakukannya sejak tadi tetapi aku terus menundanya. Aku masih ingin berlama-lama menghabiskan waktu dengan Sekar. Menyentuh, mencium, dan menghirup aromanya bak candu untukku. Juga mungkin terapi bagi jiwaku yang sejak lama terluka. Bersamanya, aku bisa merasakan ketenangan yang sudah sejak aku hilang dari hidupku.
“Sudah?” tanya Sekar saat kami selesai. Napasku masih memburu, bekas keringatku masih menempal di hampir seluruh bagian seprainya. Sementara itu tubuh kami masih saling terpaut satu sama lain.
Aku mengangguk, segera menyingkir dari atas tubuhnya dan berbaring dengan posisi telentang. Saat aku hendak menarik tangannya, Sekar lebih dulu berlari ke kamar mandi. Lagi-lagi, dia bilang, “Terima kasih, Pak. Anda bisa pergi sekarang. Tutup saja pintunya setelah Anda keluar.”
Mendengar hal itu, aku hanya bisa mendesah pelan. Kali ini aku tidak bisa bicara dengannya atau sekedar bertanya apakah dia sungguh baik-baik saja atau mungkin ada yang perlu kami bahas.
Lima menit menunggu, aku terpaksa menelan pil kekecewaan karena Sekar tidak mau keluar dari kamar mandi. Dia terus di sana sampai aku selesai memakai pakaianku. Aku masih menunggu lima menit lagi. Namun hasilnya nihil. Sekar tetap bersembunyi.
Akhirnya aku menyerah. Sepertinya kali ni juga bukan waktu yang tepat untuk bicara dengannya. Aku memakai sepatu dan tas lalu pergi meninggalkan kamar itu.
Semoga di pertemuan ketiga nanti, ada kemajuan spesifik sehingga aku bisa mengobrol panjang lebar dengannya.
*
Satu minggu kemudian, Sekar kembali mengirim pesan itu. Sehari sebelumnya aku sempat menunggu dengan gugup pesan dari Sekar. Selama ini aku tidak pernah menghubunginya lebih dulu karena takut suaminya bersamanya. Lalu pesan singkat itu datang di saat yang tepat. Tepat saat aku hampir mati karena penasaran dan kelelahan menunggu.
Selamat siang, Pak. Terima kasih sudah membayar angsuran saya. Kalau Bapak mau datang hari ini, bisa kabari saya dulu.
Aku bersorak dalam hati. Yess! Akhirnya penantianku terbayar lunas. Buru-buru aku mengetik balasan dan bilang kalau hari ini aku akan datang jam sebelas. Seperti biasa.
Selama satu minggu ini aku terus berpikir. Bagaimana meyakinkan Sekar kalau kami bisa bicara dan bagaimana meyakinkan diriku sendiri untuk tidak ikut campur lebih jauh dengan urusan orang lain? Sejak awal aku tahu ini salah. Dan kali ini aku ingin benar-benar berhenti. Pertemuan ini harus menjadi yang terkahir atau semua akan semakin buruk nantinya.
Sekar membuka pintu saat aku tiba tepat pukul sebelas siang. Ia bersembunyi di balik daun pintu, wajahnya muncul sedikit lalu tangannya dengan cepat membuka lebar-lebar pintu itu, mempersilakan aku masuk. “Selamat siang,” sapanya dengan suara rendah dan serak itu.
Hari ini dia memakai lingerie hitam. Air liurku nyaris menetes saat ia keluar dari balik pintu.
untuk visual dan AU bisa langsung ke IG @littleeva93