Ruang program Virtual Reality (VR) berada di lantai satu bersebelahan dengan ruang penyimpanan nemesis di kapal pelatihan 11. Sebuah ruang yang dirancang oleh UCRD untuk menguji keterampilan para calon potensial yang mendaftar untuk menjadi seorang Arz.
Program VR sendiri memiliki beberapa tingkat kesulitan berbeda yang dapat disesuaikan untuk menguji para calon Arz. VR bekerja dengan memanipulasi otak sehingga seolah-olah merasakan berbagai hal yang virtual terasa seperti hal yang nyata.
Bisa dibilang, virtual reality merupakan proses penghapusan dunia nyata di sekeliling, kemudian membuat si pengguna merasa tergiring masuk ke dunia virtual yang sama sekali tak bersentuhan dengan dunia nyata.
Di depan ruang program VR yang akan menjadi lokasi latihan, dua orang Arz laki-laki dan perempuan, keduanya mengenakan seragam Arz, terlihat sedang berbincang. Keduanya adalah Arz yang baru bergabung, namun Arz wanita itu adalah orang misterius yang muncul dari lubang spiral di Planet Orla. Dia belum mendapatkan pelatihan dasar Arz, namun tekadnya untuk mencari tahu tentang identitasnya membuatnya bergabung dengan pasukan penjaga armada luar angkasa Uricle.
Keduanya masuk ke dalam ruang program VR yang serbaputih, ada sebuah papan tombol di dinding dekat pintu masuk, dan sebuah dinding hologram berjarak dua meter dari pintu yang mereka lewati. Dinding hologram itu adalah pembatas antara program VR dan dunia nyata. Ruang itu tidak terlalu luas, mungkin seluas sebuah lapangan sepak bola. Hanya ada dinding logam berwarna putih yang terlihat.
Fenz dan Ava terlihat sedang duduk di belakang dinding hologram, wajah mereka menunjukkan rasa letih setelah menunggu Lunar dan Mae selama hampir satu jam. Keduanya melambaikan tangan ke arah Lunar dan Mae yang berjalan santai masuk ke ruang itu.
Ketika Ava melihat Lunar, dia menepuk tempat kosong di sampingnya. Tanpa berkata, Lunar menarik pintu ruangan itu untuk menutupnya lalu menghampiri Ava dan duduk.
“Kalian lama sekali.” Ava telah kehilangan semangatnya, sepertinya menunggu membuatnya lebih cepat lelah dibanding latihan nemesis sebelumnya. Wajahnya menunjukkan bahwa dia mungkin telah tertidur beberapa menit saat menunggu kedua temannya pergi ruang baca.
Lunar hanya tersenyum tipis, merasa sedikit bersalah telah membuat kedua temannya menunggunya.
“Apa kau sudah memahami tentang Arz dan misi yang akan kita lakukan kedepannya?” Fenz langsung mengarah ke titik utama pembicaraan mereka.
Mae hanya mengangguk, menandakan dia telah menyelesaikan apa yang diminta oleh ketua timnya itu.
“Lalu… weapon apa yang akan kau gunakan?” tanya Fenz sambil menekan beberapa tombol yang berada di dekat pintu masuk ruangan itu. Terlihat dia sedang melakukan sesuatu untuk program VR yang akan dijalani Mae.
Lunar hanya terdiam memperhatikan Mae, dia menebak-nebak kekuatan apa yang dimiliki wanita yang akan menjadi teman satu timnya itu. Kemudian dia teringat dengan mimpinya saat Mae menggenggam tongkat sihir untuk memurnikan energi negatif Darlz.
Mungkin dia pengguna sihir, pikirnya dalam hati tanpa mengucapkannya.
“Kau benar.” Suara seorang wanita terdengar di dalam pikirannya.
Lunar kini telah terbiasa dengan suara-suara yang sering muncul di dalam pikirannya, dirinya telah menerima bahwa dia dapat berkomunikasi dengan Mae lewat pikirannya. Kemudian dia tersadar sesuatu, apakah dia dapat mendengar semua yang aku pikirkan? gumamnya.
Tidak ada jawaban dari wanita itu, kemungkinan komunikasi itu dapat dilakukan jika mereka melakukannya dengan sungguh-sungguh, atau mereka memang berniat melakukannya. Berbagai kemungkinan yang dipikirkan Lunar, termasuk wanita itu dapat membaca semua yang ada di pikirannya.
Tapi Mae tidak terlihat seperti sedang membaca pikirannya, dia sedang memperhatikan Fenz yang sedang menjelaskan program pelatihan yang akan dia jalani sebentar lagi.
Benar saja, Mae mengambil sebuah tongkat sihir yang berada di sebuah loker tak jauh dari tempat duduknya. Dari semua weapon yang tertata rapi itu, Mae memilihnya. Lunar tidak terkejut dengan hal itu. Dirinya dapat merasakan energi photon yang cukup besar mengalir dari tubuh Mae.
Fenz memulai program VR dengan menekan tombol cukup besar yang bertuliskan START berwarna merah yang berada pada sebelah kiri papan tombol itu. Kemudian Mae berjalan melewati dinding hologram yang menjadi pembatas.
Tidak terlihat sedikitpun keraguan ataupun rasa takut dari langkah kaki wanita itu, seakan dirinya telah terbiasa dengan pertarungan atau semacamnya. Tangannya menggenggam tongkat sihir dengan mantap dan matanya menatap lurus ke depan menampakan keseriusannya menjalani pelatihan ini.
Lunar memperhatikan dari balik dinding hologram itu, terlihat Mae telah siap dengan kuda-kuda bertarung sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke depan. Dia bisa melihat apa yang sedang terjadi di balik dinding hologram itu dan juga mendengar suara yang dihasilkan dari monster-monster Darlz yang keluar melalui program VR.
Wave pertama telah dimulai, monster-monster Darlz bermunculan dan mendekati Mae. Kira-kira ada lima monster Darlz berbentuk laba-laba sebesar manusia yang harus dia kalahkan untuk menyelesaikan wave pertama, dan bertambah lima monster di setiap wave dari total keseluruhan lima wave.
Mae mengarahkan tongkat sihirnya dan bola api merah besar keluar dari tongkat yang digenggamnya itu dan membakar hangus kelima monster yang dihadapinya. Seketika terdengar suara dari program VR yang menyatakan bahwa wave pertama telah diselesaikan dengan baik.
Lunar bisa menduganya, bahwa Mae dulunya seorang Arz seperti dirinya dan sesuatu terjadi hingga dia juga kehilangan ingatannya.
Fenz sedikit terkejut dengan hasil dari wave pertama. Lalu Fenz memulai wave kedua dan sepuluh monster Darlz berbentuk laba-laba sama seperti wave pertama, muncul dihadapan Mae. Fenz terlihat penasaran apakah Mae dapat menyelesaikan wave itu sama cepatnya dengan yang pertama.
Mae tidak terlihat ketakukan, dia menatap sepuluh monster itu dengan tajam lalu mengarahkan tongkatnya ke depan. Kini bola api merah yang lebih besar keluar dari tongkat sihir Mae dan menghancurnya sepuluh monster laba-laba Darlz dalam satu serangan.
Wave Completed. Excellent.
Suara yang keluar dari program VR itu menyatakan bahwa Mae telah menyelesaikan wave kedua dengan sangat baik. Hasil yang sedikit mengejutkan untuk seseorang yang baru saja bertarung. Tetapi dugaan bahwa Mae adalah Arz senior yang kehilangan ingatan, memang benar adanya. Tidak mungkin bagi seorang yang baru bertarung dapat mengeluarkan kekuatan sebesar itu.
“Apa kau sudah siap dengan wave selanjutnya?” tanya Fenz sambil menekan beberapa tombol di papan tombol yang ada di hadapannya.
Mae dengan mantap menjawab, “Ya, silahkan lanjutkan, aku sudah siap.”
“Oke... Aku mulai wave berikutnya.”
Terdengar suara bising dari wave ketiga, rupanya kali ini monster yang akan dihadapi Mae adalah tiga monster nyamuk berukuran besar dan sisanya monster laba-laba seperti wave pertama dan kedua.
Lunar sedikit khawatir mengingat monster nyamuk itu dapat mengeluarkan jarum beracun dari ekornya. Dia terlihat ingin mengingatkan Mae tentang hal itu, tetapi dia tidak mengucapkannya. Kemudian Lunar memusatkan pikirannya dan mulai berbicara melalui pikirannya.
“Hati-hati Mae, monster itu mengeluarkan jarum beracun dari ekornya.” Lunar tidak tahu apakah pesan itu sampai kepada wanita itu. Lunar memandang Mae, memastikan pesannya telah tersampaikan dengan baik.
“Oke, aku akan hati-hati, thanks, Lunar.”
Suara Mae terdengar di dalam pikiran Lunar. Rupanya usaha untuk mengingatkan Mae melalui pikirannya itu telah berhasil. Dia sedikit menyukai caranya berkomunikasi dengan wanita itu.
Mae mengarahkan tongkat sihirnya kepada tiga monster nyamuk yang berterbangan di depannya. Lalu dia menembakkan bola api besar yang langsung membakar habis ketiga monster nyamuk raksasa itu. Kemudian Mae mengeluarkan bola api merah lagi dan menembakkannya ke arah monster laba-laba yang ternyata mulai mendekatinya. Serangannya itu berhasil menyelesaikan wave ketiga.
Lunar merasa lega melihatnya, dia menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan meluruskan kakinya yang sejak tadi sedikit tegang.
“Luar biasa, ternyata dia sangat hebat.”
Ava yang sejak tadi hanya memperhatikan Mae, baru mulai mengeluarkan suaranya. Dia terkejut dengan kemampuan Mae menyapu habis monster-monster itu dengan satu serangan.
“Sepertinya dia bukan warga sipil biasa yang tersesat, kemungkinan dia seorang Arz yang kehilangan ingatannya,” ucap Lunar. Dia sangat yakin dengan kemungkinan itu, melihat kemampuan yang dimiliki Mae di atas rata-rata Arz pemula.
“Aku pikir juga begitu. Kau tahu… Lunar. Aku pikir kalian berdua memiliki kemiripan. Sama-sama kehilangan ingatan dan sama-sama memiliki kekuatan yang hebat,” kata Ava sambil mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Lunar.
“Entahlah… mungkin… aku juga berpikiran seperti itu.”
Wave keempat telah dimulai, kini ada tiga jenis monster Darlz dari total 20 monster yang muncul. Lunar pernah menghadapi semua monster-monster itu, kecuali monster yang berkaki empat berukuran besar dengan leher menjulang dan kepala seperti burung. Terdapat sayap yang menutupi bagian kepala. Monster itu berwarna hitam dengan bagian merah di bagian belakang kepalanya.
Tiba-tiba monster aneh itu membuka sayap hitamnya lalu menembakan laser berwarna ungu kehitaman ke arah Mae, lalu sayap itu menutup kembali. Lunar seketika terlonjak dari tempat duduknya melihat itu. Dia belum pernah melihatnya dan sedikit khawatir dengan Mae.
Mae dengan mudahnya menghindari serangan laser itu dengan melompat ke kanan, lalu dia menembakkan bola api ke arah monster-monster lain yang sudah mendekat. Mae meninggalkan monster dengan laser hitam itu dan berencana menghabisi monster lain terlebih dahulu agar tidak terganggu ketika menghadapi monster aneh itu.
Bola api yang ditembakkan Mae membakar habis beberapa monster nyamuk dan menyisakan beberapa monster laba-laba yang semakin mendekat ke arahnya. Sementara itu, monster dengan kepala burung berwarna hitam kembali membuka sayapnya dan menembakkan laser hitamnya, membuat Mae kembali harus menghetikan upayanya mengalahkan monster laba-laba, lalu menghindari tembakan laser dengan berguling sambil tetap menggenggam tongkat sihirnya.
Monster laba-laba semakin mendekat ke arah Mae, masih ada tujuh monster yang harus dia hadapi. Di sisi lain, monster kepala burung yang bisa menembakkan laser berjalan mendekatinya perlahan-lahan sambil membuka sayapnya. Mae sedikit terpojok kali ini.