Hari-hari berlalu begitu saja. Terasa lambat bagi Ardan. Sudah dua Minggu ia datang mengunjungi Abel setiap sore. Gadis itu masih tidak memberikan respon apa pun mengenai banyaknya kisah yang ia bawa. Matanya masih terpejam. Abel masih nyaman dengan istirahatnya.
Dua Minggu rutin berkunjung, sudah beberapa kali pula ia bertemu dengan Abi. Ia menjadi cukup akrab dengan Abi karena Abi kerap menceritakan banyak hal mengenai kehidupan gadis itu. Jujur saja Ardan tidak tertarik, tapi ia hanya menghargai usaha Abi yang kerap menemaninya menjenguk Abel.
Ardan tidak tahu bagaimana Abi bisa tahu kapan ia datang. Mungkin penjaga Abel yang memberitahunya jam berapa biasanya ia datang. Yang pasti, gadis itu kerap datang dan menemaninya. Bukan untuk menjenguk Abel, tapi hanya menemaninya.
Hari ini p