"Udah fix tuh Agam masuk neraka jalur VIP,"
Nada menghela, baru saja dia berhasil cc email para pelamar sesuai permintaan Agam semalam. Merasa pusing dan puas secara bersamaan memang sulit untuk Nada jelaskan secara lisan. Namun, kini setidaknya ia bisa menghembuskan napas bebas kala tersadar jika urusannya dengan Agam sudah selesai.
Gila, Agam pada dasarnya akan sedetail itu. Bahkan Nada harus cek dulu skor TOEFL para pelamar, jika dibawah standar perusahaan, bakal langsung gugur padahal baru kirim CV. Astaga, belum saja wawancara dengan pihak HRD Samudra yang bakal bikin panas dingin.
Agam memang suka bikin aturan sendiri menyangkut perekrutan sekretaris untuk dirinya. Itu konyol, namun begitulah adanya. Dia tak mau HRD yang akan menuliskan "We Are Hiring!" untuk menarik pelamar. Agam hanya mau jika sekretaris-nya berasal dari koneksi orang-orang konglomerat.
Seperti Nada. Dulunya Nada bisa bekerja pada Agam karena direkomendasikan Rio──mantan sekretaris Agam──dan pak Gading, salah seorang Pejabat Negara yang sangat mengenal mendiang ayah Nada. Katanya, Nada kompeten. Nada pernah bekerja di Hokkaido 1 tahun, di sebuah perusahaan real estat. Jadi, jika Nada diterima, mungkin Nada akan sangat bisa membantu Agam di dunia profesional.
Mengingat Agam juga cukup sering memberikan suntikan dana pada acara politik. Salah satunya, Agam pernah membiayai hampir 1 triliun untuk acara penyambutan kedatangan raja Arab Saudi di Indonesia tahun lalu. Jadi, tentu pak Gading yang notabene adalah seorang Pejabat Negara, pasti akan memberikan tenaga terbaik untuk Agam.
Ya, mungkin itulah alasan kenapa Agam ingin sekretarisnya direkomendasikan langsung dari kalangan konglomerat. Selain profesionalitas, Agam juga mencari sebuah kualitas diri yang tinggi.
Nada mengiyakan saja. Pikirnya saat itu, biaya hidup di Indonesia tak semahal Jepang, dan tentu Nada sangat rindu dengan sate taichan pak Pon di Kuningan. Dan yang paling penting, dia makin bisa melarikan diri dari tuntutan keluarga berlabel "Menikah". Jenjang karir yang bagus pasti bisa mengikis sedikit demi sedikit virus kolot orang tua Nada.
Namun, Nada malah berakhir tragis dengan menjadi sekretaris manusia berlabel Agam. Kenapa Rio juga tak pernah mengatakan jika Agam adalah bos yang demen bikin senewen! Ah, forget it! Yang penting Nada sudah resign!
"Gitu-gitu juga sebenarnya baik kok, Sal. Tapi banyakan jahatnya sih,"
Salsa, teman Nada dari jaman orok, si empunya perusahaan penerbitan mayor yang sudah bakal nikah bulan depan itu terbahak-bahak.
"Padahal gue pikir lo bakal cinlok sama Agam waktu itu, Nad. Kan kaya raya tuh si Agam, asetnya banyak. Mana masih muda lagi,"
Nada meninggikan kedua alis. Memang, Agam bahkan menyandang predikat Direktur Utama termuda Samudra sepanjang 4 generasi. Boleh diakui pria 34 tahun itu sangat jenius dan kompeten.
Sebenarnya bukan hanya jenius, Agam juga seperti The Diplomat yang mumpuni dalam bidang komunikasi dan negosiasi. Atau seperti Eddad Stark dari Game of Thrones yang tak lagi dapat diragukan akan kejujuran, dan karakter tegas pada sesuatu yang menyimpang.
Agam semenakjubkan itu dalam hal profesional. Namun, sepertinya dia nol besar dalam hal roman.
"Eh, Nad," Salsa sudah menyelesaikan tawanya itu, kemudian memanggil Nada dengan binar cukup serius.
"Lo btw beneran mau ambil BA studio art di Alabama? I mean, nyokap lo dari dulu gak pernah setuju lo ambil seni, 'kan? Kalau nyokap lo tau gimana?"
Nada menghela. Sebenarnya, selain menghindari Agam, tujuan Nada keluar dari Samudra adalah untuk kuliah di Amerika. Dan, alasan utama kenapa Nada tak ikut ke Swedia, adalah karena ia tak ingin mimpinya harus kembali tunduk di bawah standard hidup orang tuanya.
Mengambil prodi management benar-benar bukan passion Nada, namun dia harus melakukannya karena tuntutan keluarga. Tapi, setidaknya itu lebih baik daripada Nada akan mati muda karena ambil kedokteran!
Diberi dua pilihan yang sebenarnya tak akan Nada pilih salah satunya, memang membuatnya bahkan dua kali lipat lebih senewen ketimbang diminta Agam membuat rincian mark up. Kedua orang tuanya tak suka jika Nada akan melanjutkan kakeknya sebagai seorang seniman.
Ayah Nada adalah orang tua yang strict kronis. Dan prospek kerja menurutnya tetap nomor satu. Baginya, seni tak lebih hanya akan menjadi salah satu beban hidup karena tak bisa menghasilkan banyak uang. Menjadi seorang seniman bukanlah profesi yang menjanjikan menurut ayah Nada.
Sementara ibu Nada adalah tipe ibu yang benar-benar terpaku pada tuntutan masyarakat. Jika Nada akan tumbuh sebagai gadis dengan ambisi tinggi dan berjiwa sebebas kakeknya, ibu Nada risau jika tak ada satu pun pria yang akan melirik Nada. Sejatinya banyak pria senang dengan sosok istri kalem yang diam di rumah, katanya.
Tapi, Nada tetaplah Nada. Gadis tukang ngeyel yang beruntungnya diberkati dengan keelokan visual. Bagi Nada, hidup bukan tentang hanya pria dan pernikahan. Nada sudah dewasa, Nada akan menentukan pilihan hidupnya sendiri. F*ck off tuntutan masyarakat.
"Gue udah sedewasa ini, Sal. Gue buat keputusan gue sendiri periodt. Gue mau kejar mimpi gue yang sebenarnya," sahut Nada.
"Lo biayain sendiri apa gak tekor, Nad?"
Nada terkekeh, "Gue cari sugar daddy apa ya, Sal?"
"Mantan bos lo tuh sugar daddy,"
"Mulutnya,"
Salsa tertawa lagi. Padahal bisa saja Nada menjadi salah satu kaum Gold Digger dengan menggaet Agam agar pria itu dapat membiayai seluruh kehidupan Nada. Membayar biaya kuliah di luar negeri seperti ini, pasti bukan suatu hal yang bakal bikin pusing bagi pria konglomerat sekelas Agam.
Namun, hanya mendengar namanya saja Nada sudah muak. Jangan lagi sampai menerima sentuhan dari Agam. Gadis itu memang benar-benar alergi dengan si Direktur Utama Samudra Group.
"Gak bakal gue ketemu sama dia lagi, Sal. Liat mukanya aja udah senewen,"
Salsa tertawa lagi. Seraya beranjak dari kursi, dia meraih tasnya kemudian berjalan bersisian dengan Nada untuk keluar dari restoran.
Salsa menyenggol lengan Nada dengan sikunya. "Biasanya yang awalnya sebel gini nih akhir-akhirnya demen,"
"Lo kebanyakan liat FTV," tukas Nada.
"Lagian mana ada orang kaya 7 turunan kayak pak Agam begitu nyari cewek cuma kayak modelan gue? Pasti ya nyarinya orang-orang besar juga. Bukan cuma partner ranjang, tapi juga bisa dijadiin partner bisnis. Please be realistic,"
Salsa menghela jemu. "Ya, ya, I know him pretty well. Tapi nikah bukan cuma tentang ranjang kali, Nad,"
"Gue juga tahu, Sal. Tapi gue bukan lagi ngomongin konteks nikah, gue lagi ngomongin pak Agam kalau nikah," Nada memang mendadak kesal jika menyeret Agam seperti ini.
"Ya iya sih, Nad. Kalau dilihat emang Agam aja modelannya begitu, pasti kalau nikah ya kurang lebih kehidupan pernikahannya begitu,"
Kata 'begitu' yang dilontarkan Salsa memang ambigu. Namun, Nada sudah bisa menangkap apa yang sebenarnya Salsa maksud. Memang, Nada yakin wanita yang menikahi Agam suatu saat adalah 100% Gold Digger.
Ya, tentu saja Nada yakin. Jangankan suamiable, Agam bahkan benar-benar jauh untuk bisa dikatakan tipe pacar idaman. Dia kaku seperti kertas amplas, dan datar macam tembok beton.
Mana ada cewek yang bakal suka dengan pria model begitu? Yang dicari dari Agam ya pasti duit dan aset. Untung saja Agam dianugerahi wajah tampan rupawan, juga otak encer dan jenius mampus. Jadi, karakter-karakter minusnya setidaknya bisa terbungkus dengan muka setengah dewa-nya itu, dan segala pencapaian yang sudah Agam raih.
"Lah, Nad,"
Baru saja Nada akan membuka pintu mobil, tubuhnya itu harus berbalik ke arah Salsa. Kerutan alis gadis itu sudah menjelaskan pada Nada jika Salsa akan mengatakan sesuatu yang mengejutkan pada Nada tak lama lagi.
"Gue lupa bilang sama lo. Edgar kemarin bilang sama gue, Agam juga dia jadiin groomsman di nikahan kita bulan depan,"
Nada manggut-manggut, "Oh, ya udah sih, terus kenapa──HAH? PAK AGAM?"
Dia menepuk jidatnya frustrasi. Oh Nada! Bagaimana bisa lupa jika calon suami Salsa adalah teman dekat Agam! Come on, tak ada yang tak tahu jika Edgar adalah kawan baik Agam!
Kenapa lagi-lagi Nada harus bertemu dengan Agam! Takdir, tolong jelaskan ini!