Episode : Kepingan Rahasia Kelam Masa Lalu (7)
Sesaat tidak ada jawaban dari dalam kamar itu.
Merna yang berdiri mematung di lorong yang remang, sampai menahan napasnya. Punggungnya menempel rapat ke dinding, sementara telinganya ia dekatkan sedapat mungkin ke arah pintu.
“Aku tidak pernah mengatakan bahwa awal hubungan kita sebuah kesalahan, Fatin,” akhirnya terdengar suara Pak Handara. Pelan, namun berat.
“Lalu apa? Coba katakan, apa?” tuntut Bu Fatin.
“Yang aku katakan adalah, aku yang salah. Bukan hubungan kita. Aku yang lemah. Aku yang tidak sanggup menahan diri. Dan aku sudah menanggung akibatnya semenjak hari pertama kamu kubawa masuk ke rumah ini,” sahut Pak Handara.
“Menanggung akibat? Ha! Akibat apa? Kamu tetap punya rumah, punya kebun, punya nama baik. Yang menanggung akibat itu aku, Mas! Aku yang dilihat sama seisi desa seperti Perempuan yang merebut Suami Orang! Aku yang kalau ke pasar dipandangi dari ujung kaki sampai ujung kepala!” teriak Bu Fatin.
“Karena itulah aku jarang menyuruhmu ke pasar,” sahut Pak Handara.
“Jawaban macam apa itu?”
Terdengar helaan napas yang panjang.
“Fatin, sudah malam. Anak-anak bisa terbangun.”
“Jangan bawa-bawa Anak-anak kalau kamu sendiri tidak pernah benar-benar memikirkan mereka!” sentak Bu Fatin.
Merna hampir saja mengeluarkan suara mendengar ucapan itu. Buru-buru dibekapnya mulutnya sendiri dengan telapak tangan.
Ya ampun. Yang tidak memikirkan Anak-anak itu siapa? Yang tiap malam menyeret Farah masuk kamar dan membentak-bentak itu siapa? Pikir Merna geram.
“Katakan saja, apa maumu,” kata Pak Handara akhirnya. Suaranya terdengar lelah sekali.
Sunyi sesaat. Barangkali Bu Fatin sedang menyusun kalimatnya.
“Ceraikan Mbak Endah.”
Merna terkesiap.
“Fatin...”
“Ceraikan dia, Mas. Aku tidak minta harta. Aku tidak minta kebun. Aku hanya minta satu hal itu saja. Biar aku yang tinggal di rumah ini. Biar aku yang jadi satu-satunya. Bukankah itu wajar? Aku ini juga Istrimu yang sah!” desak Bu Fatin.
“Tidak.”
Satu kata itu diucapkan tanpa jeda, tanpa ragu, dan tanpa perlu dipikirkan lebih dahulu.
“Kenapa tidak?” tantang Bu Fatin.
“Karena Endah tidak pernah melakukan satu kesalahan pun kepadaku. Dan karena akulah yang berhutang kepada dia, bukan sebaliknya,” jawab Pak Handara.
“Berhutang apa? Dia itu cuma diam saja, Mas! Dia itu cuma pintar berpura-pura sabar! Kamu tertipu sama tampang tenangnya!”
“Kalau memang begitu mudahnya, kenapa kamu tidak menirunya sedikit saja, Fatin?”
Suara benda yang jatuh terdengar dari dalam kamar itu. Entah gelas, entah apa. Merna sampai terlonjak di tempatnya berdiri.
“Bagus. Bagus sekali,” suara Bu Fatin bergetar, campuran antara marah dan tangis. “Kalau begitu, aku pergi. Aku tidak sudi tinggal serumah dengan dia sehari lagi pun. Besok aku pergi dari rumah ini!”
Merna menajamkan telinganya, menanti sahutan Sang Majikan.
Sahutan itu datang beberapa saat kemudian. Dan justru sahutan itulah yang membuat bulu roma Merna berdiri.
“Pintu rumah ini tidak pernah kukunci, Fatin. Tidak dulu, tidak sekarang. Tetapi kalau kamu pergi, Farah dan Fina tetap tinggal di sini. Mereka Anak-anakku.”
Hening.
Hening yang panjang sekali, sampai-sampai Merna sempat mengira percakapan itu telah usai.
“Kamu..., kamu kejam sekali, Mas,” akhirnya terdengar suara Bu Fatin, lirih dan parau.
“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Sudah, tidurlah. Besok pagi aku harus ke kebun.”
Terdengar bunyi langkah kaki mendekat ke arah pintu.
Merna langsung bergerak cepat. Diangkatnya ujung kainnya, lalu ia berlari berjingkat menuju ke balik tiang besar di ujung lorong, dan merapatkan tubuhnya di sana.
Pintu terbuka. Pak Handara keluar, menutup pintu itu perlahan, lantas berdiri diam sesaat di depannya, dengan kedua tangan bertumpu pada daun pintu.
Dari tempatnya bersembunyi, Merna dapat melihat wajah Majikannya diterpa cahaya lampu lorong yang temaram. Dan seumur-umur bekerja di rumah itu, baru kali itu Merna melihat wajah Pak Handara yang begitu tua.
Lelaki itu kemudian berjalan menjauh, ke arah sayap sebelah timur. Ke kamar Bu Endah.
Merna tetap tidak berani bergerak sampai suara langkah itu hilang sepenuhnya.
Malam itu Merna tidak dapat tidur. Ia berbaring memandangi langit-langit kamarnya sampai ayam berkokok, dengan satu kesimpulan yang terus berputar di kepalanya. Bahwa Wanita yang tinggal di sayap sebelah barat itu tidak akan pernah berhenti. Dan bahwa yang paling perlu dijaga di rumah ini adalah Bu Endah.
Keesokan paginya, Merna sempat menanti-nanti dengan hati berdebar. Ia ingin tahu, apakah ancaman yang didengarnya semalam benar-benar akan dilaksanakan.
Tetapi sampai matahari naik, sampai sarapan diangkat, sampai kendaraan Pak Handara keluar dari pelataran, tidak ada satu pun koper yang dikeluarkan dari kamar di sayap sebelah barat. Tidak ada teriakan. Tidak ada pamitan.
Bu Fatin justru muncul di ruang makan seperti biasa. Duduk seperti biasa. Menyendokkan nasi ke piring Fina seperti biasa. Bahkan tanpa satu pun bekas tangis di wajahnya.
Seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa semalam.
Dan justru itulah yang paling membuat bulu kuduk Merna berdiri.
Orang yang marah lalu meledak itu biasa. Yang bahaya justru yang marah lalu diam, pikir Merna waktu itu.
Pemikiran tersebut disimpannya sendirian, tanpa pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Bahkan kepada Rekan-rekannya di dapur, yang sesungguhnya paling gemar diajaknya berbagi kasak-kusuk.
...
Kini, di taman samping yang disiram matahari pagi, Merna tetap berdiri di tempatnya.
Bu Endah sudah dua kali memberikan isyarat dengan matanya agar Merna melanjutkan pekerjaannya saja. Namun Merna berlagak tidak paham. Ia justru mengambil gunting tanaman yang tergeletak di meja bundar, lalu berpura-pura membersihkannya dengan ujung kainnya.
Silakan Ibu marahi saya nanti. Tapi saya nggak akan meninggalkan Ibu berdua saja dengan Anaknya Wanita itu, kata Merna dalam hati.
Sementara itu, Bocah kecil yang sedari tadi berdiri di depan Bu Endah masih saja menengadah, dengan mata yang tidak berpindah dari perut Wanita itu.
Bu Endah tersenyum. Ia meraih tangan Fina sebentar, lalu melepaskannya lagi, dan mengelus perutnya sendiri dengan gerakan yang amat perlahan.
“Dedek..., ini pagi-pagi sudah ada yang datang, lho. Kok Dedek diam saja? Ayo, sapa dulu,” ucap Bu Endah dengan suara yang dibuat rendah dan lembut, persis seperti orang yang sedang berbicara kepada seseorang yang benar-benar ada di hadapannya.
Fina kecil terbelalak.
Bocah itu memiringkan kepalanya, seakan hendak memastikan bahwa suara yang barusan didengarnya memang benar-benar keluar dari perut Wanita di depannya, dan bukan dari mulut Wanita tersebut.
Merna, yang mendengarnya dari jarak beberapa langkah, refleks mengerutkan keningnya.
Duh, Ibu ini. Kenapa malah diladeni? Nanti kalau Bu Fatin tahu, saya juga yang kena, keluh Merna di dalam hati.
Bu Endah tidak peduli. Ia justru menunduk sedikit ke arah perutnya sendiri dan melanjutkan.
“Dedek, di depan Ibu ini ada Kakak. Namanya Fina. Cantik, lho. Rambutnya panjang. Nanti kalau Dedek sudah lahir, Dedek harus baik sama Kakak Fina, ya.”
Mulut Fina kecil terbuka sedikit. Bocah itu bahkan lupa mengedipkan matanya.
Merna melihat semua itu dengan perasaan yang campur aduk.
Di satu sisi, ia terharu. Ia tahu betul, sudah bertahun-tahun Bu Endah menahan diri untuk tidak terlalu dekat dengan kedua Anak madunya, semata-mata demi menghindari keributan. Dan pagi ini, hanya karena seorang Bocah kecil berlari menghampirinya, semua penjagaan itu seolah runtuh begitu saja.
Namun di sisi lain, kecurigaan Merna justru menajam.
Kenapa Fina tiba-tiba mendekat? Selama ini kan Ibunya melarang keras. Jangan-jangan dia disuruh. Jangan-jangan ini jebakan. Nanti kalau Fina kenapa-napa sedikit saja, pasti Bu Endah yang disalahkan, pikir Merna dengan hati kebat-kebit.
Merna melangkah maju satu langkah. Cuma satu. Cukup untuk membuat dirinya dapat menjangkau Bu Endah dalam sekali gerak, seandainya terjadi sesuatu.
Sementara itu, di depan sana, Bu Endah sama sekali tidak memperlihatkan kewaspadaan macam apa pun.
Wanita itu justru menurunkan dirinya sedikit lagi, sampai posisi wajahnya sejajar dengan wajah Bocah kecil di depannya. Rambut Fina yang sedikit berantakan di bagian depan, dirapikannya dengan ujung jari, pelan sekali, seakan-akan takut Bocah itu terkejut lalu berlari pergi.
Dan Fina tidak berlari.
Bocah kecil itu justru berdiri semakin dekat, sampai lututnya nyaris menyentuh lutut Bu Endah.
Melihat itu, ada sesuatu yang mengencang di dada Merna. Rasa yang aneh sekali, campuran antara terharu dan gemas, ditambah kekhawatiran yang tak juga mau pergi.
Duh, Bu. Ibu ini kenapa nggak bisa keras sedikit saja sih, sama Anaknya Wanita itu, keluh Merna di dalam hatinya.
Padahal, kalau ia mau jujur kepada dirinya sendiri, Merna tahu benar jawabannya.
Bu Endah memang tidak pernah bisa. Tidak kepada Anak-anak. Tidak kepada siapa pun.
Dan tepat pada saat itu, Bocah kecil di depan Bu Endah membuka mulutnya.
* * Lucy Liestiyo * *