Episode : Aura Romantis Yang Dirasa Kurang Sempurna (4)
Bagas tidak segera melanjutkan ucapannya.
Lelaki itu justru menundukkan kepalanya sesaat, menatap tangan Windy yang masih berada di dalam genggamannya. Seakan-akan dia sedang menimbang, kalimat mana yang layak dikeluarkan dan kalimat mana yang sebaiknya ditahan dulu.
Alangkah lamanya jeda itu bagi Windy.
Ayo dong, Bagas. Jangan bikin aku menunggu begini. Ini jantungku sudah seperti mau pecah, jerit hati Windy.
“Win, aku..., aku mau minta sesuatu sama kamu,” ucap Bagas akhirnya.
Windy mengerjap.
Minta sesuatu? Bukan mau bilang sesuatu? batin Windy, yang sekejap saja merasa seperti sedang melangkah dan mendapati anak tangganya ternyata tidak ada.
“Minta apa?” tanya Windy, berusaha agar suaranya tetap terdengar ringan.
Bagas mengangkat wajahnya.
“Jangan terlalu cepat menilai aku,” kata Bagas.
Kening Windy berkerut.
“Maksudnya?”
“Ya..., itu tadi. Jangan terlalu cepat menilai aku. Baik atau buruk, dua-duanya. Aku ini bukan Orang yang gampang dijelaskan dalam satu dua kali pertemuan. Ada bagian dari diri aku yang sampai sekarang aku sendiri juga masih belajar untuk mengerti,” ujar Bagas pelan.
Windy terdiam.
Ia sungguh tidak menyangka akan mendengar kalimat semacam itu di tempat seperti ini, di pagi yang menurutnya sudah disiapkan sempurna oleh semesta untuk sebuah pernyataan cinta.
“Kamu ini ngomong apa sih? Aku nggak ngerti,” ucap Windy sambil tertawa kecil, demi mencairkan suasana yang mendadak terasa berat.
Bagas ikut tertawa. Tawa yang pendek dan cepat sekali reda.
“Nggak usah dipikirin. Nanti kamu juga ngerti sendiri,” sahut Bagas, lalu melepaskan genggamannya.
Selesai. Sesederhana itu.
Tidak ada pernyataan cinta. Tidak ada kalimat manis yang layak diceritakan kepada Yeslin sambil berbisik-bisik. Yang ada hanya sebuah permintaan aneh yang bahkan tidak dimengertinya.
Windy menelan rasa hampanya bulat-bulat.
Ia sempat menoleh ke sekelilingnya, seakan hendak memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang menyaksikan kekonyolannya barusan. Sebab sejujurnya, sedari tadi dia sudah menyiapkan segala sesuatunya di dalam kepalanya. Sudah disusunnya jawaban yang akan ia berikan. Sudah dibayangkannya bagaimana dirinya akan berpura-pura terkejut, lalu menunduk malu-malu, lalu mengangguk pelan.
Semuanya sia-sia.
Ya sudah lah, Windy. Kamu memang kebanyakan nonton drama. Orang belum ngomong apa-apa, kamu sudah menyusun adegan sampai ke ending-nya, cetus Windy kepada dirinya sendiri.
Ya sudah. Mungkin memang belum waktunya. Mungkin dia nggak mau menyatakan perasaan di tempat yang ada Pegawainya. Iya, pasti begitu. Bagas kan Orangnya sangat menjaga citra. Sabar, Windy. Sabar, hibur Windy kepada dirinya sendiri.
“Yuk, kita lanjut. Masih ada satu rumah kaca lagi yang belum kamu lihat,” ajak Bagas.
Windy mengangguk dan mengikuti langkah Lelaki itu.
Sepanjang berjalan, Windy sempat mencuri pandang ke arah Bagas beberapa kali.
Wajah Lelaki itu sudah kembali seperti biasa. Tenang, sopan, dan tak sedikit pun menyisakan bekas percakapan yang barusan berlangsung. Seolah-olah kalimat yang tadi diucapkannya adalah kalimat yang paling biasa di dunia.
Aku ini kenapa sih, jadi mikir kejauhan? Mungkin maksud dia tuh sederhana. Mungkin dia cuma mau bilang bahwa dia Orangnya susah ditebak. Ya kan? Nggak perlu diartikan macam-macam, bujuk Windy kepada dirinya sendiri.
Rumah kaca yang kedua ternyata jauh lebih kecil daripada yang pertama, tetapi isinya lebih rapat. Rak-rak besi bersusun tiga memenuhi kedua sisinya, dan di setiap raknya terdapat pot-pot kecil yang seragam betul ukurannya.
“Ini pembibitan,” terang Bagas. “Yang di sini belum boleh dijual. Masih terlalu muda.”
“Berapa lama sampai bisa dijual?” tanya Windy.
“Tergantung jenisnya. Ada yang tiga bulan. Ada yang setahun. Ada juga yang, ya..., harus ditunggu bertahun-tahun,” jawab Bagas.
“Nggak bosan nunggunya?” tanya Windy lagi.
Bagas menoleh. Sejenak, ada sesuatu yang berkelebat di matanya. Sesuatu yang tidak sempat ditangkap oleh Windy.
“Aku ini termasuk Orang yang sabar menunggu, Win. Sabar sekali, malah,” sahut Bagas.
Windy tertawa dan menyenggol lengan Lelaki itu.
“Sombong!” cetusnya.
Baru setelah keluar dari rumah kaca kedua itulah Windy akhirnya teringat pada niat awalnya. Cepat-cepat dirogohnya tasnya dan dikeluarkannya telepon genggamnya.
“Eh, aku foto-foto sebentar ya. Tadi lupa, keasyikan ngobrol,” pinta Windy.
Bagas mengangguk.
Dan lantaran mendapat lampu hijau, Windy pun tak menyia-nyiakannya. Dipotretnya deretan rumah kaca, dipotretnya hamparan tanaman berbunga di sebelah kanan, dipotretnya pula jalan setapak yang membelah kebun itu. Lalu ia berbalik, hendak memotret bangunan rumah tua bergaya arsitektur kuno yang tadi mereka masuki.
“Yang itu jangan,” cegah Bagas.
Windy langsung menurunkan tangannya.
“Kenapa?”
“Rumahnya jelek. Sudah tua,” sahut Bagas sambil tersenyum.
Windy mencibir.
“Ih! Justru bagus tahu, kalau difoto. Antik gitu.”
“Nanti saja ya. Kapan-kapan, kalau sudah aku cat ulang,” kata Bagas.
Windy mengangkat bahu. Diturunkannya telepon genggamnya, dan diam-diam ada sedikit rasa mengganjal yang menyelinap.
Aneh juga. Tadi dia sendiri yang cerita panjang lebar soal rumah itu peninggalan Ibunya. Sekarang malah nggak boleh difoto. Terus lukisan Ibunya yang dua itu juga, dia nggak cerita apa-apa. Padahal aku sudah pasang muka penasaran begitu, pikir Windy.
Namun sebagaimana biasanya, Windy segera menepis pemikiran itu.
Ah, sudahlah. Setiap Orang kan punya hal yang nggak mau dibicarakan. Aku juga begitu, kok. Masa iya aku mau cerita soal Derry ke dia? Ogah, kata Windy dalam hati.
Beberapa langkah kemudian, telepon genggam Bagas berdering.
“Sebentar ya, Win,” pamit Bagas, lalu menjauh sekitar sepuluh meter dan berbicara dengan suara yang tidak sampai ke telinga Windy.
Windy pun berdiri sendirian di tengah jalan setapak itu.
Dan barulah ketika sendirian, dia menyadari sesuatu.
Dari tempatnya berdiri, terlihat tiga Orang Pegawai yang tengah bekerja di petak yang berbeda-beda. Ketiganya menunduk, sibuk dengan tanaman di depan mereka. Tetapi setiap kali Windy memalingkan wajahnya, ia seperti menangkap gerakan kepala yang buru-buru kembali menunduk.
Perasaanku saja kali ya, bisik hati Windy.
Ia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan berjalan pelan menyusuri petak di sebelah kanannya. Petak itu ditanami sederet tanaman berdaun tebal yang tidak dikenalnya, dan di ujung setiap barisnya ada papan kayu kecil yang ditancapkan ke tanah.
Windy membungkuk, hendak membaca tulisan pada salah satu papan tersebut.
Tetapi yang tertera di sana ternyata bukan nama tanaman, melainkan deretan angka dan huruf yang tidak dimengertinya sama sekali.
Kode kali ya. Buat pembukuan mereka, pikir Windy sambil mengangkat bahu.
Ia berdiri tegak kembali, lalu menepuk-nepuk tangannya untuk membersihkan debu yang menempel.
Untung saja Bagas tidak lama.
“Sudah jam dua belas lewat. Kamu pasti lapar. Ayo, kita ke gazebo,” ajak Bagas begitu kembali.
Mendengar kata gazebo, wajah Windy langsung berubah cerah.
Nah! Ini nih yang dari tadi aku tunggu! sorak hati Windy.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang menurun landai di sisi barat kebun. Semakin ke bawah, suasananya semakin teduh. Pohon-pohon di kanan kiri jalan setapak itu jauh lebih tinggi dan lebih tua daripada tanaman yang tadi mereka lewati.
Dan ketika sampai di ujung jalan setapak itu, Windy menghentikan langkahnya tanpa sadar.
Di depannya terhampar sebuah danau buatan yang tidak besar, tetapi permukaannya begitu tenang sampai memantulkan langit dengan sempurna. Di tepinya, sebuah gazebo kayu berdiri dengan atap yang sudah menghitam dimakan usia.
“Bagus, ya?” tanya Bagas.
“Bagus banget,” sahut Windy, nyaris berbisik.
Ada rasa haru yang menyeruak begitu saja di dadanya. Rasa haru yang membuat semua kekecewaannya pagi tadi, mulai dari batalnya rencana ke Puncak sampai pernyataan cinta yang tak kunjung terucap, seakan-akan menguap tanpa bekas.
Ini worth it banget. Semua yang aku alami dari tadi pagi, worth it. Makasih ya, Bagas, batin Windy dengan mata yang berkaca-kaca.
Sesungguhnya, ada satu hal kecil yang sempat mengusik Windy ketika mereka menuruni jalan setapak tadi.
Yakni betapa sepinya area ini.
Di petak-petak yang di atas sana, selalu ada saja Pegawai yang terlihat sedang bekerja. Tetapi semenjak mereka melewati barisan pohon tinggi tadi, tidak ada satu pun Orang yang mereka jumpai. Bahkan tidak ada suara cangkul, tidak ada suara selang, tidak ada apa-apa.
Kayaknya memang sengaja dikosongin ya, biar tamu bisa santai, hibur Windy kepada dirinya sendiri.
Bagas mempersilakan Windy naik ke gazebo terlebih dahulu.
Windy melepaskan sandalnya, lalu duduk bersila di lantai kayu itu sambil memandangi permukaan danau yang tak beriak.
Tak berapa lama, terdengar suara langkah kaki dari arah jalan setapak.
Dua Orang Pegawai perempuan datang menghampiri sambil membawa nampan besar yang tertutup tudung saji. Salah satu dari mereka bahkan harus menopang nampannya dengan kedua tangan, saking beratnya.
Windy terperangah melihatnya.
Ya ampun. Sebanyak itu? Memangnya kita mau makan sama siapa lagi? pikir Windy.
Kedua Pegawai itu naik ke gazebo, meletakkan nampan mereka di atas meja rendah yang ada di tengah, lalu menata semuanya dengan cekatan.
$ $ Lucy Liestiyo $ $