Episode : Jatuh Cinta Berjuta Rasanya (5)
Bila ia hitung-hitung, sudah entah keberapa ratus kalinya kalimat itu diucapkan oleh Bagas kepadanya.
“Sabar ya, Eka. Belum waktunya.”
Selalu kalimat yang sama. Diucapkan dengan nada yang sama. Diiringi belaian di puncak kepalanya yang juga selalu sama.
Dan selalu berhasil.
Itulah yang paling membuat Eka membenci dirinya sendiri. Bahwa sesudah sekian lama, sesudah sekian banyak alasan, kalimat sesederhana itu masih saja sanggup meruntuhkan seluruh perlawanan yang telah susah payah ia bangun berhari-hari.
Yang paling ganjil, Eka bahkan tidak pernah sanggup marah ketika mendengarnya. Yang muncul justru rasa lega. Rasa lega yang aneh, yang seakan-akan berkata bahwa selama kalimat itu masih diucapkan, berarti dirinya masih ada di dalam perhitungan Lelaki tersebut.
Berapa kali sih, Eka? Coba dihitung, bujuk sebuah suara di dalam kepalanya.
Dan setiap kali suara itu muncul, Eka selalu menolak untuk menghitungnya sampai selesai. Sebab dirinya tahu, kalau sampai hitungan itu tuntas, dia tidak akan sanggup menghadapi hasilnya.
Eka membuka matanya perlahan.
Dipandanginya langit-langit toko yang catnya mulai mengelupas di satu sudut. Sudut yang sama, yang setiap tahun ia laporkan kepada Bagas, dan setiap tahun pula dijawab dengan, “Nanti ya, kalau sudah agak longgar.”
Sudah berapa lama sih aku di sini? gumam Eka di dalam hatinya.
Ia tidak perlu berpikir lama untuk menjawabnya. Sebab jawaban itu selalu tersedia, terlipat rapi di suatu tempat di dalam kepalanya, dan sesekali ia buka sendiri untuk menyiksa dirinya.
Semenjak toko ini masih berupa ruko kosong yang berbau cat. Semenjak Bagas masih menghitung untung rugi dengan kalkulator dan buku tulis. Semenjak Lelaki itu masih menyetir mobil pinjaman, dan masih memanggil dirinya dengan sebutan “Mbak”.
Eka ingat betul hari ketika panggilan itu berubah.
Hari itu hujan turun begitu deras sampai jalanan di depan toko tergenang setinggi mata kaki. Para Pegawai sudah pulang lebih awal. Tinggal mereka berdua, menunggu air surut, sambil menghitung setoran hari itu di bawah satu lampu yang menyala.
Dan sejak hari itu, Bagas tidak pernah lagi memanggilnya dengan sebutan Mbak.
Ia juga ingat betul hari ketika Bagas untuk pertama kalinya berkata kepadanya, “Kamu jangan terlalu dekat sama Pegawai yang lain, ya. Nanti mereka bisa salah paham soal posisi kamu di sini.”
Waktu itu, kalimat tersebut terdengar bagai penghargaan. Bagai pengakuan bahwa dirinya memang bukan Pegawai biasa.
Baru bertahun-tahun kemudian Eka menyadari, kalimat itu sesungguhnya adalah sebuah pagar. Pagar yang dipasang rapi, dengan senyum, dan dengan alasan yang tidak dapat dibantah.
Dan selama bertahun-tahun itu pula, Eka menyaksikan sendiri Perempuan-perempuan datang ke toko ini.
Datang dengan wajah berseri. Datang dengan sepatu yang bagus dan tas yang mahal. Datang membawa harapan yang sama persis dengan harapannya sendiri.
Lalu satu per satu, mereka berhenti datang.
Dan tak satu pun dari mereka yang pernah Bagas ceritakan kepadanya. Tak satu pun.
Kalau ditanya, jawabannya selalu sama. Cuma kenalan. Cuma klien. Cuma teman lama.
Padahal Eka hafal betul urutannya. Mula-mula Perempuan itu datang untuk membeli. Lalu datang lagi untuk bertanya-tanya soal perawatan. Lalu datang lagi tanpa membeli apa-apa. Lalu mulai datang di jam-jam ketika toko sudah sepi. Lalu, pada suatu hari, tidak datang lagi sama sekali.
Dan setiap kali salah satu dari mereka berhenti datang, Bagas selalu terlihat lebih tenang daripada biasanya. Lebih rapi. Lebih murah senyum kepada Para Pegawainya.
Dulu, Eka mengira itu pertanda bahwa Lelaki tersebut sudah selesai dengan urusannya, dan bahwa giliran dirinya akan segera tiba.
Sekarang, entah mengapa, mengingat hal itu justru membuat tengkuknya terasa dingin.
Eka menunduk. Ditatapnya tas karton yang tergeletak miring di lantai, dengan kuah yang mulai merembes membasahi kardus di bagian bawahnya.
Ia berjongkok, mengangkat tas karton itu, lalu meletakkannya di atas meja panjang tempat merangkai bunga. Bukan lantaran ia berubah pikiran, melainkan lantaran ia tak tahan melihat lantai tokonya kotor.
“Mbak Eka?”
Eka menoleh cepat.
Diandra berdiri di ambang pintu penghubung, dengan gunting rangkai masih di tangannya.
“Ya, Diandra?”
“Itu..., tadi Mbak Windy datang, ya?” tanya Diandra hati-hati.
“Iya.”
“Bawa makanan?” tanya Diandra lagi. Kali ini nadanya berubah, seperti Anak kecil yang sedang menahan diri untuk tidak terlihat terlalu berharap.
Eka menatap Gadis itu sesaat. Lalu, entah mengapa, ada sedikit rasa geli yang menyelinap di dadanya yang sedari tadi terasa penuh.
“Ada. Panggil yang lain. Kalian bagi saja,” kata Eka.
Mata Diandra langsung berbinar.
“Serius, Mbak? Mbak Eka nggak makan?”
“Aku sudah kenyang.”
“Yaaah, Mbak Eka. Bilang saja lagi diet,” gurau Diandra sambil menghampiri meja dan membuka tas karton tersebut.
Eka tidak menjawab. Ia hanya mengulas senyum tipis, lalu melangkah menjauh.
Dari kejauhan, terdengar suara Diandra memanggil-manggil yang lain, disusul derap langkah dan tawa. Suara-suara yang biasa. Suara-suara yang selalu ada setiap hari di toko ini.
Suara-suara yang tak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Sesungguhnya bukan mereka yang menjauh. Eka sendiri yang selama ini menjaga jarak, persis sebagaimana yang dipesankan Bagas kepadanya bertahun-tahun lalu.
Jangan terlalu akrab. Jangan ikut makan bersama setiap hari. Jangan ikut bergosip. Nanti wibawamu jatuh, dan mereka jadi susah diatur.
Alasan yang terdengar sangat masuk akal. Alasan yang selama ini dipatuhinya tanpa pernah sekali pun ia bantah.
Dan hasilnya adalah hari ini. Sebuah toko yang penuh oleh Orang, dengan satu Orang yang selalu berdiri sedikit di luar lingkaran.
Eka melangkah melewati pintu penghubung, menuju ke ruangan kerja Bagas.
Ruangan itu kosong. Tirai horizontal blind-nya tertutup rapat, sebagaimana yang selalu ditinggalkan Bagas setiap kali dia pergi.
Mata Eka jatuh ke sofa panjang yang menghadap ke meja kerja.
Dan seketika, sesuatu di dalam dadanya mengencang.
Kamu tahu apa, Mbak Windy? Kamu datang bawa makan siang, kamu tersenyum manis, kamu pikir kamu sedang berbaik hati sama Pegawainya, batin Eka.
Sekiranya kamu tahu Siapa aku, kamu nggak akan sanggup berdiri di depanku sambil tersenyum begitu, lanjut Eka di dalam hatinya.
Tetapi kemudian, sebagaimana yang selalu terjadi, kemarahan itu berbelok arah. Bukan lagi kepada Windy, melainkan kepada dirinya sendiri.
Sebab pada akhirnya, siapa yang menyuruhnya bertahan? Siapa yang menyuruhnya menerima setiap alasan? Siapa yang menyuruhnya menyimpan segalanya rapat-rapat, bahkan dari Kawan-kawannya sendiri di toko ini?
Tidak ada. Semua itu keputusannya sendiri.
Eka mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, cepat sekali, seakan-akan takut ada yang memergokinya walaupun di ruangan itu tidak ada siapa-siapa.
Sudah, Eka. Cukup. Kamu ini sudah bukan Anak kecil. Kalau memang nggak sanggup, ya berhenti. Kalau masih mau bertahan, ya jangan cengeng. Pilih salah satu, tegur Eka kepada dirinya sendiri.
Sayangnya, ia tahu benar bahwa selama bertahun-tahun ini dirinya tidak pernah sungguh-sungguh memilih. Dirinya hanya menunggu, lalu menyebut penantian itu sebagai sebuah pilihan.
Eka menghela napas panjang, lalu keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintunya perlahan.
Ia kembali ke bagian depan toko.
Kawan-kawannya sudah tidak ada di sana. Rupanya mereka membawa makanan itu ke belakang, ke ruang kecil tempat mereka biasa beristirahat. Suara tawa mereka terdengar samar-samar dari sana.
Eka berdiri sendirian di antara ember-ember berisi bunga potong.
Perlahan, langkahnya membawanya ke depan pintu kaca.
Di luar sana, siang sedang terik-teriknya. Aspal jalan raya berkilat oleh panas. Kendaraan lewat silih berganti, sesekali berhenti karena lampu merah di ujung sana, lalu bergerak lagi.
Dan tanpa disadarinya, mata Eka mulai mencari-cari.
Sedan berwarna gelap. Nomor polisi yang sudah ia hafal di luar kepala. Cara mengemudi yang tenang dan tidak pernah tergesa, sekalipun sedang terlambat.
Setiap kali ada kendaraan yang melambat di depan pelataran, dada Eka berdegup. Dan setiap kali kendaraan itu ternyata melaju lagi, ada sesuatu yang jatuh perlahan di dalam dirinya.
Sudah, Eka. Dia bilang tadi masih di Kebayoran. Nggak mungkin dia ke sini, tegur Eka pada dirinya sendiri.
Namun kakinya tak juga beranjak dari sana.
Matanya tetap terpaku ke jalanan. Menghitung kendaraan. Menghitung lampu merah. Menghitung entah apa lagi.
Di luar sana, seorang Ibu penjual minuman keliling mendorong gerobaknya melewati pelataran. Seorang Bocah berseragam berlari kecil sambil menenteng kantong plastik. Dua Orang Karyawan kantoran berjalan berdampingan sambil tertawa, entah menertawakan apa.
Semua orang punya tempat untuk dituju. Semua orang punya seseorang yang menunggu mereka pulang, gumam Eka di dalam hatinya.
Ia menyandarkan dahinya ke kaca yang terasa hangat oleh matahari.
Sampai-sampai dirinya sama sekali tidak menyadari, bahwa sedari tadi ada seseorang yang tengah mengamatinya dari luar pelataran, dengan senyum jahil yang sudah tersungging di bibirnya.
$ $ Lucy Liestiyo $ $