Episode : Jatuh Cinta Berjuta Rasanya (8)
Eka tidak ingat bagaimana caranya kakinya membawa dirinya menjauh dari lorong itu.
Yang ia ingat hanyalah bahwa mendadak dirinya sudah berada di ruang belakang, di depan wastafel kecil yang biasa dipakai untuk mencuci gunting dan pisau rangkai, dengan kedua tangan mencengkeram tepian wastafel tersebut sekuat tenaga.
Dibukanya keran air. Deras-deras.
Bunyi air yang menghantam bak logam itu terasa perlu baginya. Setidaknya, bunyi tersebut sanggup menenggelamkan bunyi lain yang sedari tadi berdengung di dalam kepalanya.
Eka membasuh mukanya berkali-kali. Sekali. Dua kali. Entah berapa kali.
Seolah-olah dengan begitu, apa yang telah masuk lewat matanya dapat ikut luruh bersama air yang mengalir ke lubang pembuangan.
Tentu saja tidak bisa.
Yang paling menyiksa bukanlah apa yang dilihatnya barusan.
Melainkan kenyataan bahwa dirinya sama sekali tidak terkejut.
Itulah yang paling menyakitkan. Bahwa jauh di dasar hatinya, sesungguhnya ia sudah tahu. Sudah lama tahu. Sudah tahu semenjak pertama kali Windy datang ke toko itu dan Bagas mengubah nada suaranya. Sudah tahu semenjak Bagas mulai meminta dirinya untuk pulang lebih awal pada hari-hari tertentu, dengan alasan yang selalu masuk akal.
Yang selama ini ia lakukan hanyalah menutup mata, lalu berpura-pura bahwa selama tidak dilihat, berarti tidak ada.
Dan sore ini, mata itu dipaksa terbuka.
Eka mengangkat wajahnya dan menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang tergantung miring di atas wastafel.
Wajah yang menatap balik ke arahnya itu terlihat asing. Basah, pucat, dengan mata yang memerah, tetapi tidak menangis.
Jangan menangis, Eka. Jangan di sini. Kamu boleh menangis nanti, di apartemenmu, sendirian. Bukan di tempat yang bisa dilihat orang, kata Eka kepada bayangannya sendiri.
Ia menutup keran, lalu mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil yang tergantung di sebelahnya.
“Mbak Eka?”
Eka berbalik terlalu cepat, sampai handuk di tangannya nyaris terjatuh.
Diandra berdiri di ambang pintu sambil membawa selembar nota.
“Ada apa?” tanya Eka. Suaranya keluar lebih datar daripada yang dikehendakinya.
Diandra tampak ragu sesaat.
“Ini, Mbak. Pesanan yang buat besok pagi. Katanya minta ditambah dua standing flower lagi. Aku bingung, stok mawar putih kita kayaknya nggak cukup,” terang Diandra.
Eka menerima nota tersebut dan menatapnya lama sekali.
Terlampau lama, untuk sebuah nota yang isinya cuma empat baris.
“Mbak Eka nggak apa-apa?” tanya Diandra pelan.
“Nggak apa-apa. Kenapa memangnya?”
“Muka Mbak Eka pucat.”
“Kepanasan,” sahut Eka pendek.
Diandra mengangguk-angguk, walaupun jelas sekali dia tidak percaya.
“Telepon supplier yang di pasar. Minta dikirim sore ini juga. Bilang atas nama toko, biar dia percaya,” lanjut Eka sambil mengembalikan nota tersebut.
“Baik, Mbak.”
Gadis itu berbalik dan pergi.
Eka menghela napas panjang.
Bagus, Eka. Bagus. Kamu masih bisa bicara soal mawar putih. Kamu masih bisa berpikir soal stok. Ternyata kamu sekuat itu, ya? cetus Eka kepada dirinya sendiri, dengan getir yang tak terkatakan.
*
Sekitar satu jam kemudian, terdengar suara langkah kaki dan tawa kecil dari arah depan toko.
Eka yang tengah menghitung ulang tangkai bunga di ember, sengaja tidak mengangkat wajahnya.
“Mbak Ekaaa! Aku pulang dulu, ya!” seru Windy dari depan pintu kaca.
Eka mengangkat wajahnya.
Di sana, Windy berdiri sambil melambaikan tangannya. Wajahnya berseri. Rambutnya baru saja dirapikan dengan jari, dan pipinya merona sedemikian rupa sehingga siapa pun akan mengira Gadis itu baru saja memenangkan sesuatu.
Untuk sepersekian detik, Eka merasa ada sesuatu yang naik ke tenggorokannya.
Namun yang keluar dari mulutnya justru sebuah senyum.
“Hati-hati di jalan, Mbak Windy,” sahut Eka.
“Makasih ya! Oh iya, yang tadi siang, makanannya enak nggak?” tanya Windy.
Eka mengangguk.
“Enak sekali. Terima kasih ya, Mbak.”
“Syukur deh! Lain kali aku bawain lagi!” seru Windy riang, lalu berbalik dan berjalan menuju kendaraan yang sudah menunggunya di pelataran.
Eka tetap berdiri di tempatnya, dengan senyum yang belum ia turunkan dari wajahnya, sampai kendaraan itu benar-benar hilang dari pandangan.
Baru setelah itu, senyum tersebut runtuh.
Eka bersandar ke tepian meja panjang di belakangnya. Kakinya terasa lemas sekali, seakan-akan seluruh tenaganya habis hanya untuk mempertahankan satu senyum selama tidak sampai satu menit.
Sesungguhnya ada begitu banyak kalimat yang tadi berdesakan di ujung lidahnya.
Kalimat-kalimat seperti, hati-hati, Mbak. Atau, jangan terlalu percaya. Atau yang paling sederhana sekalipun, tanyakan dulu ke dia, siapa saja Perempuan yang pernah datang ke toko ini sebelum Mbak.
Tak satu pun yang keluar.
Dan Eka tahu persis alasannya. Bukan karena tidak sanggup. Melainkan karena kalau kalimat itu keluar, dirinya harus siap menghadapi pertanyaan balasan yang paling sederhana sekaligus paling mematikan.
Memangnya Mbak Eka ini siapanya Mas Bagas?
Pertanyaan yang selama bertahun-tahun ini tidak pernah sanggup ia jawab, bahkan kepada dirinya sendiri.
Kamu nggak salah apa-apa, Mbak Windy. Kamu cuma nggak tahu. Dan itu bukan salah kamu, batin Eka.
Lalu, tiba-tiba saja, ada rasa iba yang menyeruak. Rasa iba yang justru membuat Eka bingung kepada dirinya sendiri.
“Eka.”
Suara itu membuat seluruh tubuh Eka menegang.
Bagas berdiri di ambang pintu penghubung. Kemejanya rapi. Rambutnya rapi. Ekspresinya setenang setiap hari.
Seolah-olah satu jam terakhir itu tidak pernah terjadi.
Dan barangkali memang begitulah adanya. Barangkali bagi Lelaki itu, satu jam terakhir tersebut memang tidak berarti apa-apa. Tidak lebih dari sebuah urusan yang telah selesai dikerjakan, lalu ditutup, lalu ditinggalkan, persis seperti pintu ruangan kerjanya yang selalu ia tutup rapat setiap kali keluar.
Eka membalikkan badannya perlahan.
“Ya, Mas,” sahut Eka.
“Yang pesanan untuk gedung besok pagi, kamu sendiri yang antar, ya. Jangan dilempar ke yang lain. Klien itu penting,” kata Bagas.
“Baik, Mas.”
“Terus, malam ini kamu tutup toko agak telat. Ada kiriman datang dari Bogor,” tambah Bagas.
“Baik.”
Bagas menatap Eka sesaat. Lalu, kepalanya sedikit dimiringkan.
“Kamu kenapa?”
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sungguh-sungguh terdengar peduli. Nada yang dulu selalu membuat Eka merasa dirinya diperhatikan, dilindungi, dijadikan penting.
Sekarang, nada yang sama itu justru terasa seperti pisau tumpul yang digesekkan pelan-pelan.
“Nggak apa-apa, Mas. Cuma kurang tidur,” jawab Eka.
Bagas mengangguk.
“Ya sudah. Jangan sakit. Kalau kamu sakit, siapa yang urus toko ini?”
Kemudian Lelaki itu berbalik dan masuk kembali ke ruangan kerjanya.
Eka menatap punggung Bagas hingga pintu itu tertutup.
Dan barulah setelah pintu itu benar-benar rapat, Eka menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa kosong.
Sepanjang percakapan barusan, Bagas sama sekali tidak menyinggung nama Windy. Tidak sedikit pun. Padahal Gadis itu baru saja keluar dari ruangan yang sama dengannya, belum genap sepuluh menit yang lalu.
Bukan lantaran Bagas hendak menyembunyikannya.
Melainkan lantaran bagi Lelaki itu, hal tersebut memang tidak dianggap perlu untuk disebut. Sama sekali tidak penting. Sama tidak pentingnya dengan menyebutkan bahwa tadi siang dia makan apa.
Dan kalau sesuatu yang sebesar itu saja tidak dianggap perlu disebut kepadaku, lalu selama ini sebenarnya apa saja yang nggak dia sebutkan? batin Eka.
Siapa yang urus toko ini. Bukan, siapa yang urus kamu, kata Eka di dalam hatinya.
*
Malam itu, sesudah Kawan-kawannya pulang satu per satu dan rolling door telah diturunkan setengah, Eka duduk sendirian di kursi kasir.
Lampu toko sudah dimatikan sebagian. Yang menyala tinggal lampu di sudut kanan, yang cahayanya kekuningan dan menciptakan bayangan-bayangan panjang di lantai.
Dari tempatnya duduk, Eka dapat melihat pintu ruangan kerja Bagas yang kini tertutup rapat dan gelap.
Ia bangkit, melangkah pelan ke arah pintu itu, lalu berhenti tepat di depannya.
Selama bertahun-tahun ini, aku selalu percaya sama semua yang kamu bilang. Bahwa aku istimewa. Bahwa aku beda dari yang lain. Bahwa aku cuma perlu sabar sedikit lagi, batin Eka.
Ia meletakkan telapak tangannya di daun pintu tersebut.
Dan sekarang aku sadar, aku sama sekali nggak tahu apa-apa tentang kamu, Mas. Aku tahu ukuran sepatumu. Aku tahu kamu nggak suka kopi yang terlalu manis. Aku tahu kamu marah kalau ada yang menyentuh laptopmu. Tapi aku nggak tahu, kamu ini sebenarnya siapa, lanjut Eka di dalam hatinya.
Eka menarik tangannya kembali.
Kalimat itu berhenti di situ. Sebab pada detik berikutnya, ada sesuatu yang mendadak terasa dingin menjalari punggungnya.
Aku nggak tahu kamu ini siapa. Dan selama ini aku nggak pernah merasa perlu tahu, lanjut Eka di dalam hatinya.
Ia tidak menangis. Tidak juga membanting sesuatu.
Yang dilakukannya hanyalah berdiri diam di sana untuk waktu yang cukup lama, sampai akhirnya ia berbalik, mematikan sisa lampu, dan menurunkan rolling door hingga menyentuh lantai.
Namun ada satu hal yang berubah pada malam itu, betapapun tak seorang pun yang mengetahuinya. Bahkan Eka sendiri barangkali belum sepenuhnya menyadarinya.
Yakni, untuk pertama kalinya semenjak toko itu berdiri, Eka mulai ingin tahu.
$ $ Lucy Liestiyo $ $