- H a p p y R e a d i ng -
___________________________________
Kiara menghela napas kasar saat mendudukan dirinya di dekat pohon rindang di halaman sekolah. Ini waktunya istirahat sekaligus pertanda acara telah berakhir untuk hari ini dan dirinya lelah menghadapi MOS dadakan yang hanya dilakukan 2 hari ini.
"Baru hari pertama, kaki gue udah empot-mpot an" keluh Kiara sembari menunggu Arabella dan Martha yang entah hilang kemana. Dan kakak sepupunya yang juga tidak menunjukkan batang hidungnya sejak ia menginjakkan kaki masuk kedalam sekolah ini. Menyesal sudah dirinya mengiyakan permintaan Ibunya untuk masuk sekolah ini dengan iming-iming akan di hadiahi mobil agar bisa kemana-mana sendiri tapi nyatanya hanya omongan belaka. Harusnya, saat ibunya mengatakan itu, ia mendokumentasikannya sebagai bukti yang bisa dipertanggung jawab kan.
"Bodoh sih" decak Kiara yang masih berbicara sendiri mengasihani dirinya yang gampang termakan bujuk rayu ibunya.
"Hmm... gue boleh duduk disini?" Kiara mendongakkan kepalanya melihat perempuan yang tadi ia lihat bersama Gilang-ketua osis saat di lapangan tadi.
"Oh, iya boleh"
"Gue Anye, Anyelira. Nama lo siapa?" Perempuan bernama Anye itu mengansurkan tangannya dihadapan Kiara sembari memperkenalkan dirinya.
Kiara menatap Anye lalu menjabat tangannya "Gue Kiara."
"Lo ngapain sendirian disini? Perasaan tadi gue lihat bareng dua temen lo itu"
Kiara mengangkat bahunya, "ngadem, dilapangan berisik banget. Lagian udah jam pulang kan. Soal dua temen gue yang lainnya, gatau tuh mereka kemana"
Anye hanya ber Oh lalu membuka ransel yang dibawanya. Sedangkan Kiara hanya melirik sejenak sebelum mengalihkan pandangannya pada sekitar. Menunggu kakak sepupunya yang tidak kunjung mendatanginya. Dirinya hanya menunggu untuk mengambil ponsel yang ia titipkan pada Jeslyn.
"Lo mau? Lumayan gratis" Anye mengulurkan Sebungkus coklat mahal yang entah dari mana perempuan itu dapatkan.
"Weh coklat mahal nih. Lo beli?"
"Dikasih"
"Sama siapa?"
"Ketos gila" sahut Anye acuh dan perempuan itu membuka coklat bagiannya untuk dinikmati begitu juga Kiara yang berbinar mendapatkan coklat.
"Beruntung banget. Lo pacaran ya sama Ketos?"
"GILA! YAKALI!" pekik Anye dengan tampang jijik. Seolah-olah itu adalah hal yang tidak akan mungkin terjadi
"Hmm.. siapa tahu kan, abisnya gak mungkin lo dapet coklat mahal gini kalau gak ada udang di balik batu" jawab Kia sambil memandangi sebungkus coklat di tangannya.
"Gak deh, gue masih sayang nyawa" Kiara tertawa mendengar dengusan dan kata yang keluar dari mulut Anyelira. Ya. Masih sayang nyawa, yang berarti ketua osis itu adalah orang yang harus di hindari. Bukan karna tidak mampu untuk menjadi pacarnya tapi penggemar ketos itu yang mengerikan. Ia pernah mendengar dari Jeslyn bagaimana nasib temannya yang dulu di buly hanya karna mendekati ketos.
"Lo takut?" Kiara memberikan pandangan remeh pada Anyelira yang tidak tersinggung dengan kata-kata Kiara, melainkan tersenyum miring.
"Sama tikus yang gak ada attitude nya sama sekali itu? Cantik sih, gue akui, tapi kalau attitude nya Nol besar. Gue cuma ngerasa gak sepadan aja harus ngelawan mereka, ngerasa hina aja gitu cuma karna laki-laki doang. Harga diri gue lebih penting."
Kiara mengangguk setuju, buat apa mengelu-elu kan laki-laki. Hanya perempuan bodoh yang mau melakukannya sedangkan dirinya maupun Anye bukan yang termasuk salah satunya.
"Lo juga, hati-hati sama Kak Dimas, gue lihat dia perhatiin lo mulu"
"Hah?"
Anyelira menoleh pada Kiara yang terkejut dengan kata-katanya. "Gak nyadar lo?"
Kiara menggeleng, "gak mungkin lah"
Anye tersenyum sinis, "Well, kalau lo gak percaya sih, liat aja ntar. Tapi gue harap sih lo hati-hati soalnya— ah! Gak seru kalau gue bilang."
Kiara ingin menjambak rambut Anyelira karna perempuan itu tidak selesai menjelaskan sesuatu dan membuatnya penasaran. "Anjing! Kalau gak niat kasih tau, jangan ngomong" sahut Kia ketus dan Anye yang tertawa karna berhasil membuat Kia mengeluarkan k********r.
"Mau kemana lo?" Tanya Kiara, melihat Anye yang melipat lagi bungkus coklatnya dan memasukan kedalam kantong kecil di saku bagian samping tasnya. Anye berdiri sembari menyandang kembali tas ranselnya. "Pulang lah. Tidur."
"Oh okay."
"Lo masih mau disini?"
"Iya, gue nunggu orang." Anyelira menganggukkan kepalanya lalu pamit pada Kiara dan berjalan menuju gerbang. Saat Anyelira telah hilang dari pandangannya, Kiara memikirkan lagi ucapan Anyelira.
Dimas?
Kiara berusaha mengingat-ingat yang mana kakak kelasnya yang benama Dimas tapi tidak ada satupun hal yang berkaitan dengan Dimas muncul dalam benaknya.
Ah sialam! Short term memory
"Nih hape lo" seseorang mengulurkan hape pada Kiara yang masih memikirkan hal tadi. Kiara mendengus menerima ponselnya dari orang yang ia tunggu-tunggu kedatangannya.
"Lama amat sih."
"Sorry, gue ada rapat tadi. Ini aja nanti masih lanjut" sahut Jeslyn.
"Lah terus gue pulang sendiri gitu?"
"Iya. Naik angkot aja." Jawan Jeslyn enteng sedangkan Kiara yang kesal mendengar jawaban Jeslyn. Sudah lama menunggu, gak dapat tebengan pula. Mana dirinya sudah lelah. Lelah.
Kiara mengela napas panjang, ia buru-buru untuk membereskan barang-barangnya dan memeriksanya lagi agar tidak ada yang ketinggalan. Setelah memastikan semua barangnya ada. Ia langsung jalan menuju gerbang sekolah dan berjalan ke ujung jalan besar untuk menunggu angkutan umum.
Jeslyn Sialan
Hari sudah sore dan angkutan umum yang lewat sudah dapat dipastikan penuh. Apalagi perjalanan dengan angkutan umum, dirinya harus bedesak-desakan dengan penumpang didalamnya. Belum lagi dirinya yang harus dua kali ganti angkot agar sampai di persimpangan rumah tantenya lalu jalan lagi ke dalam gang untuk sampai didepan rumah bergaya modern dan bertingkat dua milik tante dan omnya - kakak kandung dan ipar kakak sepupunya Jeslyn. Ingin rasanya dirinya nge kos tapi tentu itu tidak diperbolehkan oleh kanjeng ratu.
●●●●●●●●●
"Baru pulang kak?" Kakak. Panggilan untuk dirinya. Kiara yang baru saja ingin mengucapkan salam, terhenti mendengar ucapan Tante Monik yang ada didepan rumah. Kiara menganggukkan kepalanya. "Iya tante, Assalammualaikum"
"Waalaikumsalam, langsung bersih-bersih ya kak, jangan lupa itu tubuhnya di dingin in dulu. Wajah kamu merah-merah itu. Kepanasan pasti" jawab Tante Monik lalu menyuruh Kia langsung masuk dan bersih-bersih. Kiara mengiyakan dan masuk kedalam rumah. Sampai di kamar yang ada di lantai dua, Kiara merebahkan dirinya sejenak untuk mendinginkan badannya. Terpaan angin air conditioner yang membuat sejuk tubuhnya.
"Kak Kiaaa!!" Suara teriakan serta pintu kamarnya yang terbuka menampilkan sosok makhluk kecil berkepang dua yang tersenyum melihatnya pulang. Kiara langsung merubah posisinya menjadi duduk. Dan menyambut dengan senyuman anak dari dari Tante monik yang berarti keponakannya juga kan ya? Ah tidak tahulah. Dirinya pusing kalau masalah silsilah keluarganya sendiri.
"Kakak bawa kue?" Kia memonyongkan bibirnya setelah mendengar ucapan dari ponakannya itu yang selalu menanyakan kue setiap dirinya atau Jeslyn pulang. Oh. Bukan hanya dirinya tapi setiap orang yang ada di rumah ini selalu di todong kue sama bocah dihadapannya ini.
Teringat dengan coklat mahal yang diberikan Anye padanya, Kia langsung mengeluarkannya dari tas tak lupa ia patahkan jadi dua agar dirinya juga bisa menikmati coklat mahal itu.
"Ini, buat kamu, kita bagi dua ya" Azura menerima coklat dengan mata berbinar lalu bocah itu lari keluar kamar Kia setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.
Kia ternganga melihat Zura yang lari keluar kamarnya membawa setengah batang coklat yang ia berikan tadi tanpa kata terimakasih. Kia berdecih, 'awas aja lo bocah. Gak gue kasih lagi'
Karna sudah merasa dingin, Kia mengambil handuk yang tergantung tempat gantungan handuk dan masuk kedalam kamar mandi di iringi musik yang ia nyalakan sebelum memulai ritual mandinya.
•
•
•
•
Di lain tempat, di sebuah kamar yang telah dipesan seseorang, terdengar desahan-desahan yang saling sahut bersahutan. Sedangkan di ruang tengah, segerombolan laki-laki tengah asik dengan minuman dan perempuan yang ada disampingnya mereka masing-masing.
"Woi suara lo kedengeran!" Teriak si baju merah yang kini posisinya duduk dengan perempuan yang ngangkang dipangkuannya. Sedangkan laki-laki yang menjadi ketua dari geng ini malah sibuk menyesap minumannya sembari memperhatikan teman-temannya yang tengah asik dengan mainannya.
"Lo gak mau ajak si Gia ke kamar Dim?" Laki-laki yang dipanggil Dimas itu menoleh saat namanya disebut dan juga melirik Gia—yang menemaninya saat ini sudah mulai meraba-raba dirinya.
"Hmm, nanti aja"
"Btw, lo liat gak adiknya Jeslyn? Beh! Cantik woi."
Radar Dimas langsung tegak saat adik dari temannya disebut. "Jangan lo sentuh, dia milik gue"
Yang lain langsung berteriak heboh saat mendengar kata Dimas. "Lah Marisa mau lo kemana in?"
Dimas tidak menjawab yang jelas, ia sudah menandai Adik Jeslyn sebagai area terlarang untuk disentuh teman-temannya. Sedangkan hubungannya dengan Marissa masih baik-baik saja sampai saat ini. Hatinya sepertinya mulai beralih, dan itu pada Adik Jeslyn yang terlalu polos dan bisa untuk menjadi sasaran empuk selanjutnya.
"Ke kamar" ucap Dimas singkat saat temannya menanyakan akan kemana, Gia langsung besorak senang saat akhirnya Dimas mengajaknya kekamar yang ada di sudut ruangan. Rumah ini adalah milik Dimas yang dijadikan sebagai markas untuk teman-teman nya jika ingin bersenang-senang. Tak lama terdengar desahan dan geraman dari balik kamar yang dimasuki Dimas.
"Kasian adiknya Jeslyn bakalan jadi sasaran empuk Dimas selanjutnya" Mario—senior yang pagi tadi sempat membantu Kia mengeluarkan pendapatnya yang juga disetujui temannya yang lain. Mereka sangat menanti apa yang akan dilakukan Dimas pada Kiara dan juga pada Marissa. Dua perempuan yang kini menjadi titik fokus Dimas.
Tidak ingin memikirkan urusan Dimas lagi, mereka semua kembali menikmati hari-hari mereka setelah lelah mengurus acara MOS disekolah tadi. Yap. Sebagian dari mereka ada panitia MOS yang diselenggarakan tadi yang lainnya berperan dibalik layar. Menikmati kesenangan duniawi tanpa memikirkan lagi masalah yang terjadi di hidup mereka masing-masing.
Bersambung...
________________________________
Thankyou untuk kalian yang udah sempat in baca cerita ini.
Give feedback berupa Vote dan komen yaa..
See you on Tuesday or Saturday
*kalau aku gak upload hari selasa, berarti aku up ceritanya hari sabtu ya.
Big Hug
REN
Ada yang mau kata-kata in Dimas? Dipersilahkan!!