H a p p y r e a d i ng
______________________________
Ini hari kedua Kia dan teman-teman seangkatannya melakukan MOS sekaligus hari terakhir. Hari ini, Kiara dan yang lainnya mengikuti seleksi untuk kegiatan Upacara 17 Agustus yang akan dilaksanakan 3 minggu lagi. Dan sialnya Kiara mendapat bagian dibagian paduan suara.
'Perasaan gue udah nyalah-nyalahin gerakan, suara udah gue cemprengin juga, masih aja kepilih' batin Kiara saat pengumuman tadi dan namanya disebutkan.
"Sial banget ya, jadi bagian padus" Kiara yang tengah menikmati makan siangnya menoleh kearah sampingnya. Lalu ia memutar bola matanya saat mengetahui jika yang ada disampingnya itu adalah Anyelira. "Lo juga sial" balas Kiara. Kia tahu, yang dimaksud sial adalah mereka berdua dibagian Padus yang latihan pakai suara. Malesin banget wey.
Anye tertawa kecil saat dirinya juga dikatakan sial oleh Kiara. Dan Kiara yang tidak peduli dengan teman baru dua hari nya itu, melanjutkan lagi makan siangnya karna sebentar lagi acara selanjutnya akan dimulai.
"Gue pikir sekolah ini gak seru, tapi kayaknya bakalan jadi seru deh"
"Hah?" Kia kembali menoleh pada Anye karna mendengar gumaman Anye.
Anye yang awalnya memandang ke depan, ke arah lapangan yang menjadi tempat mereka berkumpul karna saat ini Kiara dan Anye berada di sudut barat dari sekolahnya dibawah pohon rindang yang menghalau panas matahari yang menyengat.
"Ya, gue pikir sekolah disini membosankan, tapi ternyata enggak. Karna bentar lagi bakalan ada hal-hal yang seru" ucap Anye menjelaskan pada Kiara yang masih bingung.
Kiara yang merasa Anye mengatakan hal-hal aneh, "Lo cenayang ya?" tanya Kia,
"Enggak lah, gue cuma nebak doang." balas Anye lalu perempuam itu bangkit dari posisi duduknya. "Gue cabut duluan" lanjut Anye dan berjalan menjauh menuju kumpulan barisan teman-teman seangkatannya. Kia yang awalnya termenung langsung menyegerakan makannya saat suara panitia MOS terdengar di gendang telinganya. Menyuruh semua peserta untuk kembali berkumpul dilapangan.
Semua peserta MOS SMA NUSA telah berkumpul dilapangan menunggu instruksi selanjutnya dari panitia. Entah kenapa sekarang barisan mereka diacak dan dibuat lingkaran lalu disuruh tutup mata. Kia hanya mengikuti saja karna ia tidak tahu akan dikemanakan dirinya. Lalu ia tersentak saat ada yang menutup matanya pakai kain hitam.
"Eh eh, ini mau dibawa kemana?"
"Udah ikut aja, gue Monik, panitia MOS, lo ikut aja, awas didepan ada orang" Monica, salah satu panitia MOS SMA Nusa membimbing Kia menuju sebuah ruangan yang sebagiannya telah terisi beberapa peserta terpilih lainnya.
Kia terkejut saat mendengar teriakan dan tangisan yang sudah pasti diakibatkan oleh panitia dan peserta. Ia masih bingung dan hanya mengikuti saja kemana senior bernama Monik itu membawanya.
"Duduk disini" Kia duduk lesehan dilantai, ia tidak tahu sudah dimana dirinya saat ini. Yang ia dengar hanya suara teriakan senior nya dan ada juga suara teman-temannya.
"Eh" Kia reflek menepis tangan yang memegang dagunya dan mendongakkan wajahnya keatas.
"Kenapa kamu tepis tangan saya?"
'Anjir ini siapa sih? Tapi suaranya damage ey' batin Kia.
"Tuli kamu? Gak bisa jawab? Gak punya mulut?" Kia ingin menarik lagi kata-katanya tadi. Suaranya sih enak didengar, serak-serak seksi gitu tapi dia gak suka sama nada membentak dan ngegas yang digunakan senior yang entah siapa di hadapannya saat ini.
"Hei! Woi! Punya mulut gak?" Kali ini yang berbicara bukan senior yang tadi, melainkan Senior perempuan. Suaranya jelas banget, tapi fals anjim. Bikin kuping Kia b***k.
"Maaf kak." Hanya itu yang Kia ucapkan lalu dia merasa tubuhnya ditarik untuk berdiri. Kia membatin dalam dirinya kalau bukan ini salah satu kegiatan wajib, sudah dari tadi ia ingin pergi.
Irina dan Erza, dua senior yang tadi berbicara pada Kia membawa perempuan itu menuju depan kelas dan mendudukannya diatas kursi. Siap untuk disidang. Irina melirik Orina yang ada disudut kelas dan tersenyum miring melihat adik kelas mana yang ada ditangan Irina dan Erza.
•
•
•
Sampai di puncak acara MOS dimana pemilihan Queen dan King angkatannya dimulai. Ternyata tadi saat dirinya dipilih untuk masuk kedalam ruangan karna dirinya salah satu kandidat yang akan dijadikan Queen pada angkatannya. Dan untung saja dirinya menjawab dengan santai, bahkan tadi dia melihat ada yang menangis saat tutup matanya dibuka dan dirinya mulai ditanyai berbagai macam pertanyaan dari seniornya yang merupakan panitia MOS.
"QUEEN & KING TAHUN INI, JATUH KEPADAAA..... AYUNDA PUTRI DAN KEVIN RADEVAN"
Tanpa sadar Kiara menghela napas lega. Karna bukan dirinya yang terpilih. Tugas nya berat cuy. Harus jadi contoh teladan, dirinya kan bar-bar.
Pandangan Kia mengarah pada orang yang ada di sudut ruangan. Salah satu panitia MOS. Lumayan ganteng tapi Kia merasa aneh dengan salah satu senior yang sedari tadi menatap ke arahnya dan kemudian saat dia balas menatapnya malah laki-laki itu mengalihkan pandangannya.
"Kenapa sih Kia?" Arabel yang baru saja kembali dari toilet heran, ia sudah memanggil Kia sebanyak tiga kali tapi perempuan itu tidak menyahut. "Lo liat senior yang itu gak? Dia dari tadi ngeliatin gue mulu"
Arabela dan Marta mengikuti pandangan Kia dan mereka menemukan ada salah satu senior yang menjadi idola di sekolah ini. Itu Dimas Suryadi, anak kelas dua IPA 2.
"Ha?"
Mendengar ucapan Kia yang mengatakan jika Kak Dimas sedari tadi memperhatikan Kia membuat mereka tidak percaya.
"Tunggu-tunggu. Maksud lo Kak Dimas? Orang yang lo maksud Kak Dimas kan? Yang ini?" Kiara mengangguk saat melihat layar ponsel milik Arabela yang menunjukkan profil akun i********: dari Dimas Suryadi. Senior yang ia minta tanda tangan tadi sekaligus juga minta nomornya.
"Oh, jadi namanya Dimas Suryadi" Batin Kiara saat Arabela menyebutkan nama senior kelas dua itu. Dia lupa dan baru ingat, laki-laki itu yang menanyakan berapa nomor sepatunya dan juga yang ia mintai tanda tangan. Karna di bukunya hanya tertera nama Dimas, dan tidak nama lengkapnya.
"Lah! Jangan geer deh lo" Kiara menatap aneh pada Arabela yang malah tertawa. Entah apa yang ditertawakan oleh teman barunya itu. Padahal itu kenyataannya.
"Gak mungkin lah Kia, Pacarnya Kak Dimas itu cantik banget tahu. Kalau — maaf nih ya, bukannya gue bilang lo jelek, tapi kalau dibandingin sama lo, jauh banget. Gak mungkin lah Kak Dimas natap lo gitu. Halusinasi kali"
"Ta—"
"Itu tuh! Kak Marissa! Pacarnya Kak Dimas. Gimana? Pastilah lo tadi cuma halusinasi"
Kiara tidak lagi berusaha untuk membuat Arabela percaya. Dan kalau di lihat - lihat lagi, memang tidak mungkin sih jika seorang Dimas Suryadi, suka pada nya. Halusinasi.
▪︎
▪︎
▪︎
▪︎
▪︎
▪︎
▪︎
Waktu berjalan cepat dan tidak terasa, ia sudah akan memasuki kelas dua karna dia saat ini tengah melaksanakan ujian kenaikan kelas. Sial sekali kedua sahabatnya— Rosalita dan Anyelira tidak satu kelas dengannya. Pupus sudah harapannya untuk bisa mendapatkan jawaban dari sahabatnya itu agar bisa lulus ujian ini tanpa harus melewati remedial.
"Billy ..."
"Hmm? Lo mau minta contekan ya?"
"Ha ha, lo tau aja deh Bil, mau yak? Sialnya gue gak belajar semalam"
Billy Wirawan seketika mengejek Kiara yang telah lumayan dekat dengannya sebagai teman. Kiara dan buku? Bah. Itu hal yang mustahil untuk perempuan itu lakukan dan selama ini ia dibantu oleh kedua perempuan yang selalu meraih peringkat kelas - siapa lagi jika bukan Anyelira dan Rosalita. Tapi sayang sekali, sebenarnya Kiara bisa menjadi pintar seperti kedua sahabatnya itu namun perempuan itu malah memilih untuk berlagak bodoh dan tidak peduli dengan pelajaran.
"Traktir gue. Lontong sayur depan sekolah"
"Lah! Kok gitu sih? Lo gak inget semua hutang budi lo sama gue? Gue selalu bantuin lo kalau telat datang, gue se—"
"Berisik. Iya, iya, bakalan gue kasih contekan ntar"
Billy membungkam mulut cerewet Kiara dengan buku catatan yang tengah ia pegang hingga membuat omelan Kiara tertahan. Ia tidak tahan jika harus mendengarkan omelan Kiara tentang ia yang sering ditolong oleh perempuan itu. Cukup pacarnya saja yang sedikit cerewet, tidak untuk mak lampir satu ini.
"Yesss! Nah gituuu dong!"
Bunyi bell yang menandakan jika ujian akan segera dimulai membuat seluruh siswa/i memasuki ruangan yang telah dintentukan. Uniknya, satu ruangan tidak hanya diisi oleh satu kelas siswa/i yang sama. Melainkan dicampur dengan siswa/i kelas dua dan tiga. Tapi berhubung ini adalah akhir semester, Anak kelas tiga tidak ikut ujian seperti ini, mereka fokus pada persiapan UN.
"Ah elah! Duduk lo kok jauh amat sih Kiaaaa" Vivian, teman satu SMP nya Anyelira ternyata sekelas dengan Kia. Kia mengangguk setuju memebenarkan jika dirinya duduk jauh dari Vivian.
Kiara hanya mengangguk pasrah, sama sepertinya, Vivian juga tengah berusaha mencari contekan. Lagipula, untuk apa belajar terlalu serius kalau hidupnya sejak awal sudah ditentukan oleh kedua orangtuanya?. Mengingat itu membuat Kiara mengeluh kesal, ia hanya ingin terlahir di keluarga yang mendukung dirinya apa adanya. Ingin mempercayainya atas semua yang ingin ia raih, seperti kepercayaan yang diberikan Ibunya pada adiknya.
Semua peserta ujian masuk kedalam kelas dan bersiap ditempat duduk mereka masing-masing saat bel berbunyi. Pengawas kelas yang ditempati Kia untuk ujian masuk dan langsung menyuruh peserta untuk meletakkan tas mereka didepan kelas untuk menghindari peserta yang menyontek.
"Baiklah, sekarang tas kalian letakkan didepan dan diatas meja hanya aja peralatan tulis. Jika kalian ketahuan mencontek, kertas lembar ujian kalian akan saya robek"
Bibir Kiara mengerucut beberapa senti mendengar ucapan dari pengawas yang merupakan guru Killer yang tidak disenangi hamir semua murid termasuk dirinya. Pasrah dengan apa yang akan ia dapatkan nantinya. Sebelum duduk ia menendang pelan kursi yang di duduki Billy sebagai tanda, apapun yang terjadi, laki-laki itu tetap harus memberikannya contekan. Billy memutar bola matanya mengangguk malas.
Kiara duduk tenang di kursinya yang berada tepat dibelakang Billy, dan saat laki-laki itu memberikannya lembar soal dan kertas jawaban, ia tersenyum manis.
"Jangan lupa contekannya" bisik Kia tanpa suara, ia hanya menggerakan bibirnya dan Billy langsung mengerti apa yang diucapkan Kia padanya.
Tanpa disadarinya, ada seseorang yang dari kelas sama sedari tadi memperhatikannya dan tersenyum kecil saat melihat tingkahnya.
*****
Bel pertanda ujian selesai berbunyi, Bu Rina segera berdiri dan meminta seluruh murid untuk mengumpulkan kertas lembar jawaban berserta soalnya kedepan. Dengan senyum lebar, Kiara memberikan kertas lembar jawaban serta soalnya. Karna ia yakin tidak perlu ada remedial untuk mata pelajaran Fisika yang tadi ia kerjakan.
Ia lalu keluar kelas dengan hati senang dan tidak lupa melemparkan kecupan singkat dari jauh pada Billy yang sudah membantunya dan ditanggapi dengusan geli dari laki-laki itu. Menunggu di selasar kelas, Kia menunggu Vivian yang belum juga keluar karna ia ingin mengajak Vivian ke kantin. Perutnya sudah minta diisi. Dan tadi aneh, saat ia sebelum keluar kelas, sebelum dirinya mengangkat pantatnya untuk mengumpulkan lembar jawabannya pada Bu Rina didepan, ia sempat melirik pada senior nya yang dulu pernah juga kepergok menatapnya dengan tatapan aneh.
"Ah gak mungkin lah Kiara, ini efek lo kelamaan jomblo ini"
"Hei!" Bahu kiri Kiara ditepuk oleh Vivian yang baru saja keluar dengan senyum menggoda yang pastinya membawa kabar ngawur padanya.
"Eh lo dari tadi di perhatiin sama Kak Dimas lho! Dia juga nanya nama lo! Wagelaseeeehh! Susuk yang lo pasang ternyata mempan nya gak nanggung-nanggung yak, langsung ke Kak Dimas lagi. Manteeep!"
"Sialan lo! Enak aja bilang gue pake susuk, gak ada yak. Ini murni beauty gue kali. Lagian lo jangan ngarang deh, itu Kak Dimas kan udah punya pacar, namanya Kak Marissa"
"Lah! Lo belum tau kalau mereka berdua udah putus? Jadi sih wajar aja kalau Kak Dimas cari ceng ceng an yang baru. Tapi sih gue herannya kok malah lo ya? Gak ada gitu yang lebih bagusan dikit?"
"SIALAN! BANGKE! udah ah, jangan ngomongin dia lagi. Gue laper! Mau makan. Lo ikut apa enggak?"
"Ikut lah!"
Selama perjalanan menuju kantin yang terletak cukup jauh dari kelas ujiannga tadi, mau tidak mau, pikiran sialan itu merangsek masuk ke dalam otaknya. Ia tidak mendengarkan ocehan Vivian tentang seseorang yang disukainya. Ia lebih fokus pada apa yang tadi di ucapkan oleh Vivian.
Seorang Dimas Suryadi, yang tampan dan manis dan juga memiliki prestasi itu menanyakan namanya? Untuk apa? Lagipula ia tidak ada urusan dengan Dimas. Sama sekali tidak. Dan perihal jika Dimas meliriknya? Bah! Bisa jadi itu hanya Halusinasi saja. Bukan kenyataan. Ah! Pusing! Lebih baik ia fokus pada makanannya dan setelah itu fokus pada ujian selanjutnya. Sialannya, untuk ujian kali ini ia membutuhkan Anyelira. Perempuan itu nilainya selalu sempurna pada ujian bahasa inggris..
TBC
_____________________________
T h a n k y o u
Terimakasih sudah menyempatkan untuk membaca cerita ini.
Big Hug
-REN-
Karna hari sabtu ini aku udah double up, berarti aku gak upload hari selasa yaa.. eh tapi gatau kalau tiba-tiba berubah pikiran.
See you on Tuesday or Saturday.
Kira-kira, menurut kalian, aku harus upload hari apa? Dan pastinya nanti aku usahain double up.
Silahkan komen ya kalian mau di apa untuk up ceritanya.
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu