~Happy Reading~
"Lo gak akan pernah bisa ngerebut Dimas dari gue"
________________________________
PRANG!!!!
"ARRRGGHHHH"
Teriakan perempuan yang kesal dan marah hingga melampiaskan kepada semua barang yang ada didekatnya. "b*****t! Lo gak akan pernah bisa jauh dari gue Dimas! Gak akan pernah!!! Lo milik gue" Tekan perempuan itu dan menjambak rambutnya sendiri karna ia benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya. Pelayan rumahnya tidak berani mendekati si Nona Muda kesayangan Majikannya ini. Habis semua barang di kamar Nona Muda itu berantakan bahkan pecah. Tempramental dan sedikit sifat aneh yamg dimiliki anak majikannya itu membuatnya takut. Ia hanya akan mendekat jika benar-benar kondisinya aman.
TING!
Bangsat 1: Dia lagi ngedeketin anak kelas satu adiknya Jeslyn
~Send a picture~
Setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya, perempuan itu menggeram marah seakan dunia tidak adil padanya. Susah payah dirinya membuat rencana agar Dimas putus dari Marissa, sekarang malah ada tikus kecil yang berani mencoba mendekati Dimasnya. Miliknya. Hanya dirinya.
"Gue gak akan biarin hidup lo tenang b***h!" Decih perempuan itu dan langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian seksi yang menonjolkan lekukan tubuhnya dan ia meraih kunci mobilnya yang terletak diatas meja belajarnya. Ia siap untuk berpesta malam ini demi menyegarkan pikirannya dan merancang rencana baru untuk menghancurkan tikus kecil yang berani menghalangi jalannya untuk memiliki Dimas Suryadi.
"Beresin kamar gue. Pokoknya sampai bersih dan ganti baru semua barang-barang yang pecah. Gue gamau tau, kalau waktu gue pulang belum beres, lo akan terima akibatnya" Ancam perempua itu pada salah satu pembantu dirumahnya yang ketakutan saat ia menghampiri pembatu itu. Senyum miring tercetak di bibirnya dan berlalu pergi keluar dari rumahnya yang selalu sepi tanpa pernah ada kehidupan selain dirinya dan para pembantu yang dibayar oleh Papanya.
Gue tunggu kalian di club XQ malam ini. Kita party. Gue traktir
~Send~
Ia langsung menjalankan mobilnya menuju Club tempat biasa ia berpesta dan mencari kesenangan semalam.
●
●
●
●
"EH ITU ES TEH GUEEE!" Pekik Kiara saat minumannya diserobot oleh Vivian yang saat ini ada di rumahnya bersama Anye dan Rosa. Malam ini mereka merencanakan Pajamas Party di rumah Rosa kana kebetulan orangtua Rosa dan adiknya pergi ke luar kota untuk menghadiri pernikahan salah satu kolega bisnis Papanya dan Rosa malas untuk ikut sehingga ia memiliki ide untuk memanggil semua sahabatnya agar mengadakan Pajamas Party di rumahnya sekalian menemanimanya yang sendirian di rumah.
"Tinggal buat lagi sih" balas Vivian enteng tanpa rasa bersalah. Kiara menendang tulang kering Vian karna kesal dan balik menuju dapur. Ruang tengah kediaman Rosa telah disulap denga terbentangnya kasur lipat dan beberapa bantal serta cemilan diatas meja dan tayangan film horror yang sebentar lagi akan di putar. "Ganti deh Nye! Masa nonton film horror sih." Rengek Rosa dan Kiara berbarengan karna dua perempuan itu paling tidak bisa untuk menonton film yang berbau hantu.
"Kan kalian kalah tadi, ya gue dong yang nentuin filmnya" jawab Anye enteng, tadi mereka memainkan sebuah permainan dan Anye yang menjadi pemenang berhak menentukan film apa yang ingin mereka tonton malam ini. Sedangkan Vivian tidak masalah dengan semua genre film, malah ia semakin penasaran dengan film tentang psycopath yang akan diputar sebentar lagi.
Mau tidak mau Rosa dan Kiara menerima dengan film yang di pilih oleh Anye, mereka penasaran sebenarnya setelah melihat rate yang tinggi dan ulasan serta blurb yang ada di bekalang kemasan CD filmnya. Anyelira memang juaranya jika urusan memilih film dan buku. Kedua itu adalah ciri khas dari Anye.
"Siap guys?" Anye menyamankan duduknya diatas kasur yang dibentangkan di ruang tengah didepan sofa, ia menyandarkan tubuhnya pada badan sofa sembari meluruskan kakinya dan memakai selimutnya begitu juga dengan Kiara yang langsung mengambil tempat di dekat Anye sedangkan Rosa dan Vivian telah menyamankan diri mereka duduk diatas Sofa.
CTAK!
"AAAAAA!"
"BELUM WOI! Ah sial, pake mati lampu segala" decak Anye karna Rosa, Vian dan Kiara langsung berteriak kencang hingga membuat kupingnya berdengung. "Lepasin dulu" pinta Anye yang terjebak dalam pelukan ketiga sahabatnya yang menjerit saat lampu mati dan memeluknya erat hingga ia sedikit kesulitan bernapas.
TOK-TOK!!
"Siapa tuh?" Tanya Rosa yang heran karna ada yang mengetuk pintu rumahnya tapi tidak ada suaranya. Karna tidak berani untuk melihat siapa yang iseng bertamu ke rumahnya malam-malam begini, Rosa meminta Anye untuk mengecek siapa yang datang. Anye memutar bola matanya, karna ketiga temannya tidak ada yang bisa diharapkan. Ia beranjak tapi tarikan pada bajunya bagian belakang hampir saja membuatnya terjengkang.
"Heheh, gue ikut.!"
"Gue juga!"
"Iya gue ikut!"
Ketiga sahabatnya mengekor dibekalangnya sembari memegang baju bagian belakangnya. Anye - Rosa -Vian - Kia bersama-sama untuk memeriksa siapa yang datang ke rumah Rosa.
"Ish, jangan dorong-dotong Kia" bisik Vian yang merasa jika bajunya ditarik lumayan keras oleh Kia yang ada dibelakangnya. "Jangan berisik" sahut Rosa yang telah siap dengan peralatan tempurnya, vas bunga.
TOK TOK TOK!!
Ketukan pada pintu semakin keras hingga membuat Anye mau tidak mau bersuara. "siapa?" Posisi mereka saat ini berada di depan pintu dan siap untuk membuka pintu. Mereka berempat saling melirik satu sama lain karna tidak ada sahutan dari luar.
KRIEEET...
"Pesanannya Mbak!" Dihadapan Anye kini terpampang plastik yang membungkus makanan dari driver gojek yang mengantarkan makanan. Hampir saja Rosa melemparkan vas bunga pada abang driver gojek.
"Siapa yang mesen makanan?" Tanya Anye lalu melirik pada Kia yang menunjuk tangannya.
Anye beralih pada driver gojek itu, "Kenapa gak nyahut pas saya tanya dari dalam Pak? Ngetok pintu juga enggak ada suaranya"
"Tenggorokan saya sakit Mba, jadi gak bisa balas teriak"
Anye dan yang lainnya menghela napasnya. Lalu ia melirik pada Kia yang maju dan mengambil kresek makanan yang di antarkan driver gojek itu.
"Makasih Pak"
Setelah memastikan jika lampu yang padam bukan hanya di rumah Rosa tapi tetangga disekitar juga mengalami hal yang sama. Mereka masuk kembali kedalam rumah.
"Kok lu gak bilang order makanan sih?" Decak Vivian karna ia sudah ketakutan, takut jika yang mendatangi rumah Rosa adalah perampok atau orang jahat lainnya. Begitu juga dengan Rosa yang kini kembali duduk di sofa sembari menenangkan jantungnya yang sempat ingin keluar. Ingin dirinya melempar vas bunga yang ada ditangannya pada Kiara yang kini malah asik membuka makanan yang ia pesan dengan bantuan penerangan dari layar ponsel yang di nyalakan.
Anye yang sedari tadi diam menatap ketiga sahabatnya walaupun tidak terlalu jelas "Ros, ada lilin atau lampu elektrik ? Soalnya baterai ponsel gue tinggal beberapa persen" tanya Anye, ia tidak ikut mengomel seperti yang lainnya, Rosa menyalakan cahaya ponselnya. Seingat dirinya ada lilin yang selalu di sediakan Mamanya di laci meja ruang tengah. Rosa membuka laci itu dan mencari di laci bagian mana biasanya mamanya meletakkan lilin.
"Ah ketemu!" Pekik Rosa menunjukkan sebatang lilin ukuran besar. Satu-satunya Lilin yang tersisa di dalam laci itu.
"Tinggal korek, lo ada gak?" Tanya Anye saat Rosa menyerahkan lilin padanya. Rosa juga menyerahkan korek api pada Anye dan perempuan itu segera menghidupkan lilin dan meletakkannya di atas tatakan yang sekalian dibawa Rosa.
"Serem juga ya rumah lo, Ros— aduuh!" Pekik Vian yang mendapatkan cubitan dari Kiara. Rumah Rosa adalah rumah tipe lama yang diwariskan turun temurun dari nenek Papanya dan karena Papanya adalah anak tunggal, jadinya rumah ini resmi menjadi milik Papanya dan sekarang di huni oleh keluarganya sedangkan Nenek dan Kakeknya pindah ke tempat yang lebih sejuk dan jauh dari polusi udara demi menikmati hari senja mereka berdua. Dan sesekali Keluarganya akan mengunjungi nenek dan Kakeknya atau sebaliknya.
Kiara berusaha untuk tidak menoleh ke belakangnya karna ia merasa takut. Ia menikmati Ayam kripsy yang dibelinya dan dibagi ke yang lainnya. Mereka menikmati makanan dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya Lilin. Sungguh sial malam ini dan sepertinya pemadaman listrik ini akan memakan waktu yang lama, setelah menunggu beberapa jam dan listrik tak kunjung menyala, membuat keempat perempuan itu memilih tidur.
●
●
●
●
Suara musik yang terdengar keras dan menghentak membuat Arjun bertanya dengan suara kerasnya pada Dimas yang tengah digelondoti oleh salah satu perempuan kenalannya. "Lo Udah Putus dari Marissa?" Tanya Arjun, teman sekaligus sahabat Dimas sejak kecil tetapi mereka beda sekolah.
"Hm" Dimas hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Arjun karna ia tahu apa yang ada di pikiran sahabatnya itu. "Kalau gitu gue yang kejar dia sekarang ya?" Dimas tidak menanggapi pertanyaan Arjun dan ia sibuk menyesap minuman yang telah dipesannya sembari menikmati musik. Melihat tidak ada tanggapan dari Dimas menjadi lampu hijau untuk Arjun mendekati Marissa karna dia sejak dulu sudah mengincar perempuan itu tapi sayang, Marissa malah terjebak dalam pesona Dimas hingga ia memilih untuk mundur dan sekarang adalah kesempatan emasnya untum memiliki Marissa yang ia yakin tengah dilanda kesedihan dan patah hati dan dirinya akan datang sebagai pahlawan untuk perempuan itu.
Memikirkan rencananya membuat Arjun terkekeh dan pandangannya tidak sengaja melihat Orin yang tengah asik berjoget di lantai dansa ditemani beberapa orang laki-laki mengelilinginya. "Woi, itu Orin?"
Dimas menolehkan pandangannya ke arah yang di tunjuk oleh Arjun, saat mengetahui siapa orang yang dimaksud oleh Arjun, Dimas langsung berdiri dan melepaskan perempuan yang masih merangkul lengannya. Tanpa bicara Dimas memberikan kode untuk pamit dari club yang didatanginya. Arjun heran dengan tingkah Dimas yang pergi saat mengetahui jika ada Orin disini seakan-akan Dimas anti satu ruangan atau bertemu dengan Orin yang setahu dirinya merupakan salah satu teman dekat perempuan yang dimiliki Dimas.
_____________________________
Bersambung...
See you next chapter yaa
Vote dan komen jangan lupa..
Love
~REN~