Sampai di rumah,Ace binggung dengan banyak orang yang berlalu lalang menyibukkan diri,dia menoleh pada dimas yang mengekorinya di belakang meminta penjelasan.
"Bos,hari ini universery orang tua lo"Ace melotot,pantas ibunya marah.
Dia memijat pelipisnya,dia pusing dan sungguh lupa dengan hari pernikahan ibunya ini.
"Bagus,baru sampai pasti lupa hari ini hari bahagia mommy,"Ace mengangkat wajahnya.
Dia tersenyum manis menatap ibunya yang bermuka masam.
"Mom,aku baru pulang dari bali,aku bahkan lupa hari ini hari apa,"elaknya memasang muka sedih.
Rose mendengus mendengar jawaban Ace. "Pantas kamu dapat penghargaan,di depan mommy kamu aja bisa acting sebagus ini,"ejek rose.
Ace mengaruk belakang kepalanya dia maju dan memeluk ibunya.
"mom maafin Ace ya,"rose mendengus lalu melepas diri dan pergi sambil mengerutu.
"Dasar,sibuk sama ceweknya dan melupakan hari bahagia orang tuanya,cih anak macam apa itu,"Ace meringis mendengarnya.
"Dim,lo punya saran gak,apa yang bikin kanjeng tidak marah lagi"dimas berlagak memikir.
Mama bosnya paling suka barang mewah.
"mobil,perhiasan,sepatu,tas,tiket keliling eropa,"sebut saja dimas kurang ajar karna memang benar dia sudah hapal dengan keinginan ibu bosnya.
"pesan mobil aja dan harus sampai nanti malam,paling lama besok pagi,"dimas dengan malas mengangguk.
Di bandara Alice dan ayu baru saja landing,mereka berdua berjalan ke mobil yang selalu dia parkir di bandara.
" al,lo hati-hati pulangnya ya,gue duluan"alice mengancungi jempolnya saja.
Setelah itu dia menancap gas ke rumah orang tuannya,mobil merah mahal dari hasil jerih payahnya sendiri memasuki perkarangan rumah mewah milik orang tuannya.
Dia menuruni kopernya lalu berjalan ke arah pintu besar hitam dan langsung masuk.
"orang sibuk datang,"ejek aleta duduk di kursi menonton tv.
Alice tersenyum,dia maklum karna dia anak satu-satunya makanya mamanya marah karna dirinya kesepian.
"Anaknya baru pulang,malah disambut dengan muka masam gitu," aleta memukul lengan alice pelan.
"gimana gak marah kamu tinggalin mama lama banget,mama kesepian tau,"alice tersenyum dia memeluk ibunya dari samping.
Ibunya emang berubah-ubah kadang ngeselin kadang manis pokoknya semua sifat ada pada mamanya.
"papa mana ma?"
"kerja,"jawabnya yang kembali fokus menonton sinetron kesukaannya sambil makan kerepik kentang.
"Ngapain juga nonton sinetron yang penuh drama.
"eh,kamu tau gak siapa pemeran utamanya,dia Ace tau udah ganteng,sexi ah pokoknya mama pengen banget menantu kaya Ace,"alice melirik sinis menatap mamanya yang berbinar membicarakan Ace,ace itu.
"jangan harap aku mau dengan actor atau apalah itu,sampai kapanpun aku gak mau hidupku dipenuh dengan drama yang menyebalkan,"tegas alice lalu naik kekamarnya.
"Ck,gagal deh punya mantu se hot Ace,"gumam aleta mendesah lesu.
***
"Al,anterin mama bentar,"teriak aleta mengedor-gedor pintu kamar alice.
Alice yang baru selesai mandi berdecak kesal.
"Ma,pak danang kan ada.suruh dia aja yang anter mama,"alice menatap mamanya lelah.
Aleta berdiri di pintu kamar seperti cancing tidak bisa diam,dia meraih tangan alice dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
Alice memutar mata malas melihat mamanya yang mulai dengan dramanya.
"Al,mama udah telat nanti papa minta pisah gimana,"rahang alice jatuh,dia gak salah dengarkan?
gimana papanya bisa minta pisah sedangkan papa cinta mati pada mamanya.
"Ck,yaudah ayo,"alice masuk mengambil dompet dan ponselnya.
Di jalan dia terus mengerutu dalam hati. "Kemana ni?"aleta menunjuk alamat yang akan di tuju.
Dengan setengah hati alice membawa mamanya ketempat tujuan,mobil alice memasuki perkarangan rumah mewah tiga lantai itu disana sudah terlihat pria berumur 40 tahun yang masih terlihat sangat tampan menatap mereka.
Aleta buru-buru keluar menatap suaminya begitupun dengan alice yang sangat merindukan papanya.
"Papa?"aksa yang melihat putrinya tersenyum lalu merentangkan tangan untuk di peluk.
"Oh,sweetheart papa merindukan mu,"alice tersenyum di pelukan papanya.
Aksa memperhatikan penampilan putrinya yang menggunakan rajut longgar dan ripped jeans.
"kamu gak ikut kedalam?,"
"oh c'mon dad,aku tidak suka pesta orang tua,"aksa tertawa dia mengecup kening alice menyalurkan rasa rindunya.
"Udah kan lepas rindunya,sekarang kita masuk,"aleta sudah jengah menatap ayah dan anak yang seperti setahun berpisah.
Alice menatap mamanya."aku gak ngerti deh pa,kenapa papa mau sama bu aleta yang tidak ada cantiknya," aleta melotot tak terima.
"Eh,kamu dapat wajah yang cantik itu turunan dari mama ya,"alice tersenyum mengejek lalu pergi dari hadapan mamanya yang di tahan papanya untuk tidak mengejarnya.
Tak lupa dengan ciuman jarak jauh menambah kekesalan aleta.
"papa pusing, kalian kalau dekat berantem terus, bila alice jauh selalu bilang rindu,ayo,"aksa ikut mengejek istrinya.
Tak jauh dari mereka Ace keluar ingin mengambil ponsel yang tertinggal di mobil tapi tak sengaja dia melihat gadis yang dua kali dia temui ada di perkarangan rumahnya.
Ace dengan senyum tak luntur ingin mengejar gadis itu tapi si gadis sudah masuk kenobilnya.
"Sial, kali ini gue gak akan lepasin dia,"Ace buru-buru berlari ke mobil dan menancap gas mengejar mobil sport merah,tapi sampai di persimpangan dia kehilangan jejak.
Ace memukul stir dengan keras menyalurkan kekesalannya.
"arrgg,sial,sial,sial,"dia kesel dengan dirinya kenapa dia tiap ketemu gadis itu selalu dalam keadaan tidak menguntungkannya.
Tak lama dia tersenyum mengingat penampilan gadis yang ada dalam mimpinya yang begitu sempurna,rambut coklat,wajah yang begitu cantik,bibir semerah buah plum,ah dia bisa gila hanya membayangkannya saja.
Di dalam mobil alice dapat pesan dari sahabatnya menyuruh dia kerumah nisa,dan dengan senang hati dia menuju kerumah sahabat satu-satu yang sudah menikah,pesta kemaren sekalian dengan akad.
Sampai disana dia melihat kelima temannya duduk makan di depan tv.
"Ada apa ni pengantin baru ngundang kita kesini,"pipi nisa memerah.
Alice tersenyum menggoda dia duduk disamping Misra.
"gue gak nyangka di antara kita cuma nisa yang membantah untuk nikah dan kalau kita bahas tentang itu dia selalu menghindar tapi sekarang malah dia yang ydah nikah duluan,"goda Misra.
Hahaha
"sa,enak gak,"nisa melempar bantal kearah alice,dia sungguh malu.
"Napa sih,cerita dong,"sahut zanna.
Nisa yang digoda menutup muka dengan bantal.
"Cepat nikah,baru tau gimana rasanya.
"Dulu aja jangan bahas itu bahas yang lain kek sekarang malah suruh kita nikah,"cibir alice.
Dan akmal yang biasa mereka panggil Komal cuma tertawa,dia seperti air yang mengikuti arus,bila sahabatnya tertawa dia juga ikutan jika sahabatnya sedih dia ikut sedih,ah kamu Komal jadi kangenkan.