Arif menoleh kebelakang saat merasa bahunya ada yang menepuk.
Pria dengan tubuh tegap proporsional. Rahang tegas dengan kumis dan brewok tipis baru tumbuh karena dicukur. Dengan semburat senyum tipis.
"Dek arif kenapa disini sendiri?" Tanya pria itu. Yang ternyata om irwan. Orang yang duduk disebelahnya saat di bus tadi.
"Eh.. om irwan. Iya om barusan kasih kabar temen" jawab arif juga membalas senyum.
"Nggak makan di dalem?" Tanya irwan lagi.
"Nggak om, saya belum laper"
"Mau rokok?" Pria itu menawari sebungkus rokok kepada arif.
"Oh nggak om. Terimakasih. Saya nggak merokok" jawab arif sopan, karena ia memang tidak merokok.
"Atau mau rokok yang lain?" Tanya irwan lagi, sembari terkekeh kecil.
Arif mengerutkan dahi bingung.
"Maksudnya om?" Tanya arif balik karena tidak mengerti.
"Hahaha.. lupakan saja. Saya mau ngopi di warung seberang sana, kalau kamu nggak sibuk kamu bisa temani saya, sambil ngobrol" ucap irwan menawari lagi.
"Iya om. Tapi saya mau ke toilet dulu sebentar. Nanti saya susul" jawab arif karena memang ingin buang air kecil.
"Ya sudah. Saya duluan kalau begitu"
"Iya om" jawab arif diiringi irwan yang lenggang
Arif menatap irwan yang pergi lebih dulu, karena sedikit bingung dengan arti pertanyaan tadi.
Sampai sebuah senggolan bahu dari orang lain yang mengenai bahunya menyadarkannya.
Ia mengamati orang tersebut. Menggunakan jaket hoodie yang menutupi kepalanya, mengenakan sapu tangan yang diikat untuk menutupi hidung dan mulutnya. Berjalan sedikit cepat menuju mobil yang baru saja berhenti.
Pemilik mobil turun. Badan tegap dan maskulin, mengenakan setelan formal Tampak tengah menelepon seseorang sambil melihat kekanan dan kiri seperti mencari seseorang.
Seketika bola mata arif melebar saat melihat pria misterius itu mengeluarkan pisau dari hoodie nya. Menggenggam pisau dengan kuat dan bersiap menghujam pria yang baru saja turun dari mobil tadi.
Sontak arif berlari lalu dengan cepat menepis hujaman tersebut, membuat pisau tadi terlempar ke sembarang arah.
Baik pria misterius maupun pemilik mobil itu serentak melihat arif. Namun bedanya pemilik mobil menatap arif dengan tatapan bingung dan kaget, dengan apa yang terjadi. Sedangkan pria misterius itu menatap tajam, tidak terima rencananya digagalkan orang asing.
"BRENGSEKK..!!" Maki pria misterius itu sembari melayangkan pukulan kearah wajah arif.
Dengan mudah arif menghindari dan memegang pergelangan tangan pria itu dan memutarnya keatas.
Arif memang sudah diajari ilmu bela diri oleh kakeknya sejak ia masih kecil.
Arif terlibat perkelahian hebat antara dirinya dan pria misterius itu, sampai saat ia menangkis serangan pria itu lalu memutar pergelangannya kebelakang untuk menguncinya.
Tapi pria itu lalu menendang kebelakang, mengenai tulang kering arif, menyebabkan kuncian arif terlepas.
Karena merasa kehabisan tenaga pria itu memilih kabur, namun arif tidak mau melepaskannya begitu saja. Pria itu harus ditangkap, untuk mengetahui unsur percobaan pembunuhan ini.
Arif berlari mengejarnya, kemudian saat jarak mereka cukup dekat, arif melompat menerjang pria itu, menyebabkannya tersungkur.
Arif segera mendekat untuk mengunci tangan pria itu kebelakang tubuhnya.
Namun saat arif hendak menarik tangannya, seketika pria itu membalik tubuhnya dan menusukkan sebuah pisau ke bagian perut arif. Ternyata pria itu tidak hanya membawa satu pisau.
Arif yang merasakan sebuah benda menusuk perutnya tak bisa berbuat apa apa. Lalu pria itu bangkit dengan senyum psikopat.
"Itu balasan untuk orang yang berani menggagalkan rencanaku" ucapan lirih di samping telinga arif, kemudian mendorong arif hingga ia tergeletak.
Kemudian seorang security rumah makan berlari mendekat. Pria misterius yang mengetahui hal itu segera lari meninggalkan arif yang sudah bercucuran darah tak berdaya.
Namun naas nya saat ia berlari menyebrangi sebuah jalan, sebuah truk melintas dengan kecepatan tinggi. Seketika ia tertabrak kemudian tubuhnya terlindas ban truk tersebut. Walhasil pria misterius itu mati ditempat.
Bisa dikatakan karma is real.
Disana, arif yang masih tergeletak masih sempat melihat kejadian naas pria misterius itu, tepat sebelum pandangannya menjadi buram.
Buram.
Dan gelap.
Arif tak sadarkan diri karena luka tusukan dan kehilangan banyak darah.
Security datang menghampiri tubuh arif yang tak sadarkan diri bersama sang pemilik mobil tadi. Diki hermanto, pemilik salah satu perusahaan tinggi di kota X.
Kemudian diki meminta tolong kepada secirity dan beberapa orang untuk membawa arif masuk ke mobilnya.
Ia harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan, melihat darah yang belum juga berhenti.
Ia meminta security untuk menyetir mobilnya menuju rumah sakit terdekat, karena ia tak tahu dimana rumah sakit di daerah itu. Ia duduk di kursi penumpang, menjaga tubuh arif yang terkulai lemas.
Rasa khawatir dan merasa bersalah bercampur didalam pikiran diki.
"Pak rumah sakitnya masih jauh tidak pak?" Tanya diki pada security yang sedang mengemudi.
"Tidak pak. Itu di depan sudah terlihat" jawab security itu.
Kemudian diki kembali menatap wajah arif,
Bibir yang tadinya terlihat manis berwarna merah muda kini terlihat pucat begitu pula dengan kulit wajahnya.
"Bertahanlah nak. Bertahanlah.. kamu harus kuat. Kamu harus sembuh" nada bicara diki seperti frustasi.
Setelah mobil berhenti. Diki lalu membopong tubuh arif sendiri menuju UGD untuk segera ditangani.
"Tolong dia dok.. tolong selamatkan dia.!" Nada bicara diki parau karena ia benar benar khawatir.
"Bapak silahkan tunggu disini, biarkan dokter melakukan yang terbaik" ucap salah satu suster karena diki hendak ikut masuk.
Diki duduk dan sesekali melirik kearah pintu, dia benar benar khawatir dengan kondisi anak itu.
Ponsel diki berbunyi, panggilan masuk dari sahabat lamanya. Bisa dikatakan sahabat seperjuangan saat baru merantau ke kota X. Kemudian ia mengangkatnya.
"Halo dik. Kamu dimana sih, katanya mau sampe tadi?" Suara diseberang sana.
"Aku minta maaf, sepertinya kita belum bisa ketemu lagi"
"Hah.. memangnya kenapa?"
"Pria gila itu datang lagi dan mencoba membunuhku lagi"
"Apa..? Terus bagaimana keadaan kamu?"
"Alhamdulillah saya baik baik saja"
"Syukurlah kalau begitu. Lalu bagaimana ceritanya orang gila itu bisa tahu keberadaanmu?"
"Jadi, tadi waktu saya turun dari mob---"
Ceklek...
Suara pintu ruang rawat arif terbuka. Sontak arif berdiri dan menuju kearah pintu.
"Nanti saya hubungi kamu lagi, saya ada urusan penting" sambung diki sembari mematikan ponselnya.
Lalu diki mendekati dokter yang baru keluar dari ruangan arif dirawat.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya diki terhadap dokter.
"Kondisi pasien masih lemah karena kehilangan banyak darah, golongan darah pasien A. Kebetulan stok golongan itu habis dirumah sakit ini, jadi pasien but---" ucap dokter mencoba menjelaskan.
"Saya dok.. golongan darah saya juga A. Saya yang akan mendonorkan darah saya" ucap diki memotong ucapan dokter yang sedang menjelaskan.
"Baiklah. Kalau begitu bapak bisa ikuti saya" ucap dokter itu lagi.
"Baik dok" jawab diki mantap.
--------------------------------------------------
Bersambung...
Ok sampai disini dulu ya untuk part ini.
Sebelum lanjut. Jangan lupa vote dan komentar ya ?
Maaf kalau ada typo. Dan mohon ditandai agar bisa saya benahi ?