Di keramaian bandara internasional terlihat seorang Arzan berlari sekuat tenaga menuju mobilnya, dua orang asistennya sampai kewalahan mengejarnya sembari membawa koper milik sang majikan. Sejak dirinya tiba di Singapura semua terasa aneh, pasalnya cabang disana ternyata tidak seburuk dengan yang informan sampaikan. Setelah menyadari perasaannya Arzan bergegas untuk kembali ke negara asalnya tanpa menunda waktu lagi dan tanpa sepengetahuan siapapun jika dirinya memilih pulang, karena dia merasa jika mereka sengaja mengirimnya agar pergi dari sangkarnya.
Kedua pria yang bekerja sebagai asisten itu terlihat kewalahan karena terus berlari dan berhenti di parkiran mobil. Arzan berbalik dengan raut wajah serius, "Bawa ini ke hotel dan lindungi anakku disana. Mengerti?"
"Ya, Pak. Siap!" mereka berdua menyanggupi perintah atasannya dan segera berlari menuju mobil bertugas kemudian bergegas menuju hotel tempat Dhafin berada. Begitu juga dengan Arzan, pria itu segela meninggalkan bandara untuk menemui Stella di lokasi.
Mobil sport berwarna biru tua itu Arzan kendarai dengan laju kecepatan di atas rata-rata agar ia bisa sampai tepat waktu untuk menyelamatkan istrinya.
Ia tiba di rumah, dengan segera turun dari mobil dan berlari masuk menghampiri Stella.
Brak! Arzan membuka pintu dengan kencang, terlihat para suruhannya sedang menyingkirkan mayat itu satu persatu. Stella yang melihat majikannya sudah tiba dengan segera bangkit berdiri dan menghampirinya.
"Kau menemukan sesuatu?" tanya Arzan bermaksud mencari petunjuk. Stella menggeleng dan berkata, "Kami sedang mencarinya." satu tarikan nafas dan kembali berbicara, "Kuncinya aman," ujarnya sembari memperlihatkan sebuah kunci yang ia genggam.
Arzan menatapnya bingung, tidak ada yang pernah memberitahunya tentang kunci itu. "Apa itu?" tanyanya penasaran. Stella menjawab, "Kunci file utama perusahaan."
Arzan membelalak, dan segera berlari ke ruang petugas dimana orang suruhannya sedang bekerja melacak bukti. Saat dirinya sampai di sana Stella hanya menatapnya bingung apa yang sedang Arzan lakukan.
Tangannya bergerak di atas keyboard komputer dengan lincah, dan jari telunjuknya menekan tombol enter. Entah apa yang ia lakukan kini satu persatu data mulai bermunculan, semua cctv kota mulai terdeteksi. Stella tak percaya jika Arzan ternyata adalah orang pandai, ia mengira sejauh ini suami majikannya itu hanyalah orang polos yang tidak pernah mau terlibat masalah rumit.
"Ketemu," gumamnya perlahan dan mentransfer data yang ia temukan kepada petugas disana.
"Lacak semuanya di jam kejadian, tanpa terkecuali." lanjutnya dan segera bangkit berdiri menatap semua petugasnya.
"Sejak kapan kau pandai melakukannya?" tanya Stella tak percaya.
"Itu mudah, semua peralatan sudah ada hanya perlu meretas sedikit data untuk mengunduhnya," ujarnya menjawab dan kembali bertanya, "Oh, jelaskan tentang kunci itu."
"Lima tahun lalu kejadian yang sama sempat terjadi, lagi-lagi perusahaan yang menjadi akar permasalahannya. Dahulu tidak ada korban jiwa dan pelaku tertangkap, tetapi sayangnya bukan dia yang kami cari. Pelaku hanya pesuruhnya saja, dan pengendalinya belum tertangkap," ujar Stella bercerita.
"Lalu dia berulah lagi sekarang?" tanya Arzan dan diangguki oleh Stella. Arzan terkekeh kesal, "Dasar berengs*ek, tidak tahu malu."
"Plat nomor 224** ..."
Arzan dan Stella menoleh dan bergegas menuju layar utama. Setelah melihat nomor plat itu mereka berdua saling menatap tak percaya, bagaimana tidak plat nomor mobil yang membawa Dina pergi adalah jasa antar paket perusahaan. Dengan kata lain si pelaku memang sudah terhubung dengan perusahaan secara langsung.
"Mereka meninggalkan kota sejak setengah jam lalu," lanjut si petugas terus memberikan informasi yang mereka dapat. Arzan menundukkan kepalanya sesekali menahan kesal dan segera pergi menuju lokasi.
"Hubungi polisi setelah 15 menit aku pergi, pastikan semua karyawan tidak ada yang meninggalkan kota!" teriaknya seraya berlari menuju mobil, kali ini ia sedang mengambil peran penting sekali lagi untuk Dina.
Disebuah gudang tepi bukit barat kota.
"Berengs*ek! lepaskan aku! Hei!! aku bilang lepaskan!" Dina terus berteriak karena kesal dengan sisa tenaganya. Si pria bertopi hitam itu menatap garang wajah Dina.
Dalam hitungan detik, tongkat besi yang ia bawa sejak tadi kinipun mengayun dan menghantam kaki Dina dengan kasar hingga membuat sang pemilik terkejut.
Ya, Dina hanya bisa diam saat kakinya di pukul, dirinya tidak merasakan apapun. Ia tersenyum menatap si pria dan mengatainya. "Haha ... apa kau bodoh?"
Pria itu justru tertawa seperti orang gila dan berlari kemudian mengayunkan tongkatnya untuk memukul kaki Dina berulang kali lagi dan lagi tanpa henti. Dina hanya menutup mata tak mau melihat kakinya yang dipukuli dengan bruntal, hingga akhirnya berhenti dan matanya menangis menatap kondisi kakinya yang sudah dipenuhi darah berceceran dimana-mana.
"Kau tidak akan membunuhku secepat ini, karena jika aku mati kau belum tentu mendapatkan apa yang kau inginkan," ujar Dina dengan derai air mata, tubuhnya tidak merasakan sakit, hanya saja dia tak kuasa melihat kakinya yang sudah babak belur seperti itu.
Pria itu lagi-lagi tertawa lantang seperti orang gila, tertawa dan tertawa dirinya sudah tidak takut lagi untuk menyakiti orang lain.
"Tutup mulutmu. Kau kira aku yang berbuat dosa?" ujarnya bertanya dan mulai berbicara. Dina hanya diam mendengarkan tanpa berniat menjawab.
"Bayi lahir untuk hidup, dan bayi tumbuh untuk mati. Siklus yang mudah, lalu apakah kau takut mati? hahaha, baiklah mari kita bicarakan ini dengan baik-baik."
"Sejelek-jelek apapun bunga, bukankah masih disebut bunga? begitu juga dengan aku dan kau, bedanya hanya saja aku dibuang dan kau yang menikmati segalanya. Bukankah ini tidak adil?" si pria mulai bicara dan membuat Dina kebingungan apa yang ia maksudkan.
"Tetapi tenang saja, bukankah dunia ini memang tidak adil? terlebih kepada diriku. Kau hidup dengan mewah kesana kemari dengan mahkota harta, tetapi kau tidak sadar jika itu bukan sepenuhnya milikmu."
"Apa maksudmu?" tanya Dina.
"Maksudku? ah, kau tidak mengerti karena aku selama ini dibuang. Ayahmu, juga ayahku. Hahaha ...." si pria kini mengatakan rahasia tersembuyi yang tidak ada orang satupun yang tahu.
"Jangan melantur, bicara dengan akal sehatmu," tegas Dina merasa kesal karena pria itu mulai membawa-bawa almarhum ayahnya.
"Ck, apakah kau kesal karena aku menyebut kakek tua yang sudah mati itu?" ujarnya membuat Dina memuncak pada kemarahannya.
"Ya! baj*ingan! tutup mulutmu! kau hanya berbicara omong kosong." Sumpah serapah kini keluar dari bibir Dina.
"Hahaha, baj*ingan? baiklah akan aku jelaskan semunya agar kau tidak salah paham," jawabnya tegas dan mendekat ke arah Dina.
"Kau ingat sekretaris yang selalu mengirimmu makan siang ke sekolah?" tanyanya dengan sorot mata dingin dan Dina hanya diam membisu. "Ibuku, juga ibu tirimu."
Degh! Dina tak percaya, mulutnya kelu untuk berbicara, detak jantungnya berdegup kencang menatap mata si pria yang duduk di hadapannya. Pria itu tersenyum hingga kantung matanya mengkerut. "Kakak," dia menyebut Dina sebagai kakaknya.
"Ya, kakak. Dunia ini memang penuh kejutan, seorang pria tua yang tak menaruh ku di rahim seorang sekretaris dan membuangnya jauh agar tidak ada yang tahu perbuatannya. Dan hanya putrinya yang terkenang." Mendengar hal itu Dina masih tak percaya, memang ia mengenal sekretaris yang pria itu bicarakan tetapi dia tidak menyangka jika ayah yang selama ini dia banggakan telah menyembunyikan rahasia besar hingga akhir hayatnya.
"Kakak, kenapa kau tidak membagi kasih sayah ayah untukku juga?" tanyanya lagi dan Dina sudah berkaca-kaca menahan tangisnya.
"Ku dengar kau sempat ingin mati tetapi kau diberi kesempatan, kenapa tidak dengan ibuku? dan juga kenapa kau tidak mati bersama pria sialan itu?"
Dina mendongak dan berteriak, "Kau! berhenti menyepelekan ayahku seperti itu!" dirinya masih tidak percaya jika ayahnya melakukan dosa besar seperti ini.
"Ah, kau terlalu munafik kak. Pria itu memang pantas mati seperti itu, kenapa kau masih belum membuka mata? ck, sepertinya dia terlalu besar memberikan kasih sayangku untukmu."
"Berhenti merendahkannya, jika memang dia ayahmu kenapa kau menghinanya?" geram Dina dengan mata memerah dan wajahnya memanas menahan marah.
"Karena dia tidak pantas disebut ayah," tukas si pria.
"Oah, begitu? lalu kenapa kau tidak membuka mata dan melempar semua kesalahan ke ayahku?" Dina mulai berkata dan membuat pria yang mengaku adiknya itu kebingungan.
"Tidak ada wanita baik-baik yang mau berbuat seperti itu kepada suami orang lain," ungkapan Dina telah menyulut api pada diri si pria. Faktanya tidak ada anak yang rela mendengar orang tuanya di hina, seburuk apapun mereka tetaplah orang tua yang berjasa bagi hidup anaknya.
Degh! Pria itu diam menatap wajah Dina dalam keheningan, matanya memanas dan ikut menitikkan air mata. Dina juga hanya diam menatap wajah sang adik tirinya, dan sedetik kemudian dia kembali berkata.
"Kita! kita sama-sama terluka, kenapa kau menyudutkanku untuk semua yang terjadi?" tanya Dina menggeram.
Pria itu berteriak dan amarahnya benar-benar tak tertahankan.
"Kita tidak sama! kau- kau dan ayahmu adalah pembunuh! kau yang menyebabkan semua ini. Jika kau tidak ada maka sudah pasti aku yang berada di posisimu, kau tahu seperti apa rasanya melihat seorang saudari yang dikelilingi kasih sayang sedangkan diriku tidak? Kau tidak tahu semua itu!" teriaknya mengeluaran semua rasa sakitnya sedetik kemudian dia memukul tubuh kakaknya dengan tongkat besi itu berkali-kali hingga Dina terguling dari kursinya.
Hening, nafas pria itu terengah-engah dibalik penutup wajahnya, matanya juga menangis tetapi dia merasa puas melihat saudarinya yang tak berdaya dilumuri darah segar.
"Kau akan mati sekarang, kau pantas membayar penderitaanku!" gumamnya lirih dan mengeluarkan pistol dari sakunya. Dina yang tak berdaya itu hanya bisa diam dengan sisa kekuatannya yang tak seberapa, matanya hanya bisa menatap samar-samar yang adiknya lakukan. Tubuhnya terlalu lemah untuk melawan, dan setelah itu dia tersenyum kala tak sengaja melihat penutup wajah pria itu terbuka.
Matanya menangis melihat wajah sang adik, dia tampan dan cantik seperti ibunya. Dina tersenyum dengan ketidak berdayaannya itu, menatap sang adik yang mengenakan penutup wajah lagi sembari menodongkan pistol ke arahnya.
Bibirnya tersenyum dan matanya mengatup membayangkan momen indah yang dia lalui beberapa hari ini, dirinya tidak menyangka jika takdir yang tidak mengizinkannya mati kini dia harus berakhir di tangan sang adik, begitu indah.
"Aku tidak sendiri selama ini," gumamnya sembari tersenyum menatap pistol yang di todongkan ke arahnya. Pria itu masih diam, tangannya sudah bersiap menarik pelatuk pistolnya untuk menembus ulu hati sang kakak.
Dimatanya dia sudah dibutakan oleh ketamakan, dimatanya Dina bukanlah seorang saudari melainkan seorang perampas yang merebut kebahagiannya dan juga ibunya.
Diam, dia berfokus pada sasaran ... Dina juga hanya diam tersenyum bersiap menerima kematiannya hari ini. Di hari ini dirinya masih belum sempat mengucapkan perpisahan kepada suami dan anaknya.
Pelatuk di tarik, dan peluru itu menembus lengan kanan Dina. Pelatuk ditarik lagi dan berganti menembus lengan kirinya. Adiknya memang kejam, ia tidak membiarkan kakaknya mati dengan mudah.
Dina menahan sakitnya saat kedua lengannya tertembak, matanya menangis tetapi bibirnya tersenyum. Dan kini saat terakhir dimana peluru terakhir akan menembus tubuhnya untuk kesekian kali.
Adiknya menatap bagian ulu hati kakaknya dengan fokus, perlahan pelatuk iya tarik dengan sekuat tenaga, dan ....
Dorr!!