Pagi tiba, malam panjang yang dipenuhi kejutan tak terduga telah berlalu, hari baru dengan awal baru. Masih di tempat yang sama, rumah sakit tempat Dina dirawat.
Pintu ruang rawat itu terbuka, menampilkan sosok pria yang terguncang tetapi tak mampu mengungkapnya melihat kondisi sang istri. Bibirnya masih tersenyum menatap wajah pucat pasi istrinya yang dibantu peralatan medis untuk bertahan hidup.
Satu tas belanjaan berisi beberapa keperluan Arzan letakkan di atas laci meja dengan perlahan dan duduk di sofa menatap sela-sela jendela yang dilewati cahaya matahari pagi. Matanya menutup perlahan mengistirahatkan pikirannya yang terguncang sejak kemarin.
Baru beberapa saat Arzan memejamkan matanya tiba-tiba suara seorang wanita membuatnya terbangun. Ya dia Stella yang baru saja tiba dari rumah setelah berganti pakaian dan mengurus Dhafin.
"Kau sudah sarapan?" tanyanya lirih sembari menutup pintu kembali dengan perlahan menatap satu persatu isi ruangan itu dan ikut duduk di sebelah majikan laki-lakinya.
"Tidakkah dia egois?" tanya Stella menatap tubuh Dina yang terbujur lemah. "Seharusnya ia bangun dan memarahiku, tapi dirinya justru menanggung rasa sakit itu sendirian seperti ini."
Arzan hanya mendengarkan, sejak kemarin pria ini tidak banyak bicara dan memilih diam menahan keluh kesahnya sendiri. Bibirnya hanya mampu diam saat matanya menatap sang istri, sedetik kemudian ia membalas pertanyaan Stella.
"Tidakkah dia mau mendengar isi hatiku? ataukah ini caranya untuk menolak ku?" lirih Arzan membuat Stella menoleh dan tersenyum samar. "Dia sangat beruntung, banyak orang yang menunggunya bangun."
"Tuan ingin makan?" Stella beranjak dari duduknya dan menawarkan sarapan pagi untuk majikannya.
"Boleh ...."
"Sarapan apa?" tanya Stella lagi dan Arzan lagi-lagi hanya menjawab singkat, "Terserah padamu."
Dua jam berlalu, Stella baru saja tiba membawa menu sarapan pagi untuk atasannya. Saat ia membuka pintu kakinya berhenti melangkah ketika melihat Arzan mengelap tangan istrinya penuh kasih sayang, Stella tersenyum samar dan melangkah mundur menutup pintu kembali.
Di luar sana Stella kembali termenung duduk bersama manager perusahaan, dalam beberapa menit mereka hanya diam tanpa ada yang membuka bicara.
"Seberapa berharganya wanita itu hingga aku menangis untuknya?" tanya Stella kepada manager itu. Sebenarnya ia ingin menangis tetapi hatinya kembali teringat sosok Arzan yang berusaha tegar menghadapi kondisi.
"Dimata masyarakat ibu Dina adalah seorang wanita yang sukses meraih karir, dimata para karyawan terkadang ia adalah atasan yang suka memerintah tetapi saat itu juga ia adalah seorang wanita yang selalu membantu diam-diam. Ketika anak dan istriku hampir meninggal karena pendarahan ia membantuku dengan memberikan pekerjaan lembur, tidakkah ia terlalu baik untuk dihukum seperti ini?" Manager itu mengutarakan isi hatinya, para penjaga yang sejak tadi berdiri diam menjaga pintu kini ikut menteskan air matanya.
"Aku merindukan perintah anehnya, hiks ...." Mendengar isakan tangis itu semua orang menoleh menatap pria bertubuh besar yang sedang menangis. Semua orang tercengang, sekekar apapun badannya hatinya tetapnya sebuah kertas yang mudah robek karena keadaan.
Stella menahan tawanya sembari menangis, "Lihatlah tubuhmu itu ... malulah karena menangis."
"Ibu juga menangis," pengawal itu menjawab dan mencairkan suasana, semua orang terkekeh kecil melihatnya.
"Tidak, hanya kelilipan." Tolak Stella menutupi tangisnya, mereka yang terlihat biasa saja kepada majikannya sejujurnya mereka menghormati Dina seperti ibunya sendiri walaupun mereka tahu jika usia majikannya itu masih terbilang muda.
Tanpa terasa jam menunjukkan pukul empat sore. Di dalam ruang rawat Dina.
"Aku tak tahu harus percaya kepada siapa lagi, hanya kau yang benar-benar membantuku sejauh ini. Rawatlah perusahaan dengan baik selagi aku disini, hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu." Arzan sedang berbincang dengan managernya.
"Saya akan selalu berusaha yang terbaik untuk Bapak."
"Satu lagi, jangan biarkan informasi bocor terkait pelaku itu," Arzan menegaskan kepada pria paruh baya itu sembari berbalik badan setelah memandang kota dari ketinggian gedung rumah sakit di lantai 13.
Manager itu pamit undur diri dan Arzan hanya berdiri di depan jendela yang tertutup tirai sebagian. Tangannya ia letakkan di dalam sakunya dan berdiri tegak mencoba menenangkan pikirannya.
"Papa!" seorang anak berteriak saat pintu terbuka dan berlari menuju pelukan ayahnya sembari menangis. Arzan yang sedikit terkejut itu hanya bisa memeluk hangat putranya dengan erat, melihat anaknya ia teringat seperti apa dirinya dulu ketika orang tuanya meninggal di depan mata kepalanya sendiri.
"Papa, hiks ... Dhafin nggak mau lagi kehilangan ibu," lirih Dhafin dengan mata berkaca-kaca. Ya, anak itu menyampaikan keluh kesahnya yang takut kehilangan orang tua untuk kedua kalinya.
Melihat mata polos bocah itu membuat Arzan sebagai ayah ikut menangis dan kembali memeluknya. "Semua akan kembali baik-baik saja, hem?" Mendengarnya Dhafin mengangguk patuh setelahnya mereka berdua berjalan mendekati Dina.
"Ma ... Ma!" Dhafin memanggil ibunya dengan nada sedikit kesal, anak ini berusaha membuat ibunya bangun dengan memanggilnya.
"Bangunlah, ini tidak seru. Papa, Stella, dan semua orang menunggu Mama ... Da- Dhafin janji tidak akan membuat Mama marah lagi, ya? Wake up!"
Stella hanya bisa menyimak dari belakang, melihat derita yang sedang dialami keluarga kecil ini membuatnya ikut terluka. Hanya dengan semalam mereka kehilangan banyak harapan untuk esok hari.
Arzan dengan mata berkaca-kaca tak kuasa melihat anaknya yang terus berusaha membujuk ibunya untuk bangun. Dan setelahnya Arzan memilih untuk mencairkan suasana, diraihnya tubuh kecil Dhafin ke dalam gendongannya.
"Ah, makin besar saja putra ayah. Jangan menangis, tampan mu hilang umumu ...." Seorang Arzan kini tengah berusaha mengembalikan senyum putranya sembari berjalan keluar menuju taman.
Sesampainya ia di taman, Dhafin masih belum turun dari gendongan sang ayah. Wajahnya masih sedikit muram, melihat hal itu ayahnya merasa semakin gemas dan mencium pipinya berulangkali.
Karena merasa kesal, anak itu akhirnya memarahi sang ayah. "Papa! ck, jangan mencium ku!!"
Arzan terkekeh dan bertanya, "Why?"
Dhafin mengerucutkan bibirnya dan menjawab tanpa merasa malu, "Aku melihat orang dewasa akhir-akhir ini berkata seperti ini. 'Jangan mencuri ciuman pertamaku!, seperti itu."
Arzan terkekeh gemas melihat anaknya yang berbicara menirukan orang dewasa sembari duduk di kursi dengan perlahan, "Siapa yang berkata seperti itu?"
"Tidak tahu, aku hanya mendengarnya waktu di hotel tadi." Lagi-lagi Dhafin menjawab dengan kepolosannya. Ya, anak-anak sangat identik mengatakan apa yang mereka rasakan dengan jujur, tetapi tak sedikit juga seorang anak yang takut mengutarakan pendapat karena orang disekitarnya salah dalam menyikapi.
Dengan dalih pengalaman yang orang tua miliki, tentu pengalaman orang yang lebih dewasa memanglah penting ... tetapi bukan berarti seorang anak harus berjalan, bergerak, dan beraktivitas seperti robot yang dikendalikan remote control berupa kepatuhannya kepada orang tua.
Seperti pepatah jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jika mereka dididik dengan cara yang kurang tepat dan tumbuh dewasa secara demikian lantas bagaimana jika kelak mereka memiliki keluarga dan mendidiknya serupa? bukankah itu hal yang salah. Saat hal ini dilakukan maka secara tidak langsung anak akan merasa kurang percaya dengan pendapatnya pribadi dan bergantung kepada kebahagiaan orang lain.
Zaman semakin berkembang, bukankah cara berpikir juga harus maju? Kenalilah diri kalian sendiri sebagai seorang anak, di zaman ini banyak anak muda yang gagal mengapresiasikan dirinya sendiri. Teruslah berjuang dan berusaha, dengarkan orang tuamu dan jika mereka salah jangan takut untuk mengutarakan pendapat.