Tok tok tok
Suara pintu kediaman Ara nampak di ketuk oleh seorang pemuda. Sesekali pemuda itu kembali mengetuk karena belum ada jawaban dari sang pemilik rumah.
Beberapa saat kemudian pintu kayu itu terbuka, menampilkan sosok yang begitu Dhafin ingin jumpai. Ara berdiri di ambang pintu melihat siapa tamunya kali ini yang ternyata adalah atasannya sendiri.
Dia tak menunjukkan raut wajah senang karena Dhafin bertamu, justru hanya datar dan biasa saja. Dia tidak menyangka jika pria yang dia pikirkan sejak kemari itu tengah berdiri di depan rumahnya.
Flash back kemarin malam.
Ara berbaring termenung di atas ranjang tidurnya, pikirannya melebur kemana-mana terlebih perkataan Dhafin masih begitu jelas dia dengar.
"Ah! kenapa aku terus memikirkannya! lupakan, Ra. Memikirkannya hanya akan me