Bel pulang sekolah telah berbunyi. Valerie keluar dari kelas dan langsung mengarah ke parkiran. Sudah terlihat Nathan yang sedang berdiri di samping motornya sembari melihat ke arah kamera. Sangat tampan. Itulah gumaman Valerie ketika melihat Nathan.
Mata yang tegas namun terlihat sayup. Hidung mancung, bibir merah dan tubuh atletis yang mempunyai tinggi sekitar 178 cm. Sangat banding dengan Valerie yang hanya 155 cm.
Oh semesta, Kau sangat baik dalam menciptakan hal indah. Termasuk dia. Lelaki bermata hitam legam yang dengan indahnya mampu melululantahkan hati sang gadis Ashana. Mungkin benar cinta itu sejuta rasa. Sudah berulang kali kekasih di pandang. Tapi tetap saja ia seakan menjadi sorotan terkeren yang ada. Tak pernah menjadi orang yang membosankan untuk dilihat dan di pandang.
"Udah?," Tanya Nathan yang melihat Valerie dengan matanya yang masih berbinar. Valerie hanya cengir lebar dan langsung menghambur ke pelukan Nathan. Mencium aroma tubuh Nathan adalah favorit Valerie. Entah kenapa hatinya selalu tenang jika ia mencium aroma dari kekasihnya itu.
"Lov, ini masih di sekolah." Nathan melepaskan pelukannya. Ia sangat canggung dengan tatapan orang orang yang melihat kearah mereka. Nathan kurang suka menjadi sorotan orang orang.
"Kamu nggak suka kalau aku peluk," lirih Valerie dengan mata yang sedikit berkaca kaca.
"Bukan Lov. Ini masih di sekolah. Jangan ngelakuin hal seperti ini kalau masih di sekolah. Kan aku udah bilang sama kamu," ucap Nathan dengan nada yang sangat lembut.
"Di luar juga kamu nggak mau aku peluk. Alasan aja," cibir Valerie dengan bersedekap d**a dan mengerucutkan bibir merahnya.
"Aku sayang sama kamu. Dan aku peduli sama kamu. Tapi gak semua sayang harus di tunjukkan bukan?"
"Ihhh ya kadang kan cewek juga butuh perhatian,"
"Kamu ngapain butuh. Aku kan gak pernah cuek,"
"Ngawur! Kamu manusia paling cuek ya!"
Nathan hanya terkekeh dan memasangkan helm kepada Valerie, "Kalau sayang itu ya harus melindungi yang disayang," Kemudian ia membantu Valerie duduk di motornya. Sebenarnya Valerie tidak mau menaiki motor. Namun kalau naik motor kan bisa modus dengan memeluk Nathan dari belakang. Ada saja perilaku Valerie jika berdekatan dengan Nathan. Bahkan ia tak peduli di bilang posesif oleh siswa siswi lainnya. Yang penting dia mencintai Nathan dan itu sudah cukup.
Sesampainya di tempat yang di inginkan Valerie, mereka berdua langsung turun. Valerie mencoba melepaskan helmnya namun Nathan dengan cepat membuka helm Valerie. Valerie selalu suka dengan segala perhatian kecil Nathan. Zoya salah jika dia mengatakan Nathan tidak perhatian kepadanya. Menurutnya Nathan itu perhatian dan pengertian. Kalau tidak, mana mungkin Valerie tahan dengan Nathan selama 1 tahun lebih ini kan? Ya walaupun kesan gak pedulinya lebih banyak di bandingkan dengan sikap manisnya.
Mereka berdua masuk ke sebuah caffe bernuansa vintage namun masih dalam lingkup modern. Dreams CoffeShop. Nama café yang di buat oleh Valerie. Valerie mengumpulkan uang jajannya dari kelas 5 SD. Ia selalu berharap bisa membuka café semenjak ayahnya mengajaknya minum kopi di pinggir jalan di kota Seoul. Semenjak itu ia jatuh cinta pada kopi dan membuka café. Valerie menamai café tersebut dengan nama Dreams Coffe Shop karena ia selalu berharap mimpi mimpi yang orang orang inginkan, dapat di tulis di dinding yang di sediakan Valerie.
Terlihat di dalam café bergaya vintage tersebut penuh dengan coretan di sebelah kirinya. Coretan atau tanda tangan di dinding putih besar tersebut. Dan di sekelilingnya penuh dengan mural yang berisi kata kata harapan dan keinginan. Nathan lah yang membuat mural tersebut. Selain hobi fotografer, Nathan juga hobi membuat mural. Maka dari itu jika Valerie menyuruh Nathan membuat mural, pasti dengan cepat Nathan membuatnya.
Valerie datang dengan membawa coffe latte kesukaan Nathan. Nathan yang sedang melihat mural buatannya langsung mengambil minuman itu sambil mengucapkan terima kasih pada Valerie.
"NatNat, kamu bisa kan ganti mural ini lagi?" Tanya Valerie dengan menatap lembut pada Nathan yang sedang menyesap kopi.
"Bisa, kamu mau kapan?"
"Sekarang aja gimana? Kalau kamu nggak capek "
"Yaudah aku anterin pulang dul-"
"Aniyo," potong Valerie dengan tegas.
"Lov, ini udah jam 2. Kamu harus pulang, makan dan istirahat"
"Kamu kayak mamaku aja," sungut Valerie dengan mengerucutkan bibir khas dirinya.
"Aku pacar kamu," Nathan menarik tangan Valerie. "Ayo"
Inilah yang dia kesali dari Nathan, kekasihnya ini selalu saja membuat jarak antara mereka. Valerie merasa Nathan tidak menyukainya maka dari itu ia berusaha menjauh dari Valerie.
Tapi Valerie tidak mau terlalu cepat berasumsi. Ia mensugesti dirinya bahwa Nathan hanya malu untuk mengungkapkan isi hatinya. Maka dari itu ia tahan selama satu tahun ini menyikapi sikap Nathan yang kadang kelewat cuek. Memang benar cinta buta dan tuli. Bahkan jika orang yang kamu sayang di omongi dengan kata kata negative, pasti kamu tetap menyayangi bahkan tak ayal pasti membelanya walau kamu tau dia salah. Cinta mampu membuat semua hal yang semula waras dan normal. Berubah menjadi sesuatu yang gila dan aneh. Bahkan bisa melewati zona nyaman yang telah di buat.
Walaupun Valerie merasa bahwa hati Nathan masih abu abu. Belum terlihat jelas letak dan rasa cintanya pada Valerie. Apa karena kasihan atau memang mencintai.
Saat Valerie ingin meletakkan cangkir belas Nathan minum ke bar. Ia malah menabrak seorang pemuda tinggi dan menjatuhkan air itu ke baju sang pria.
"Ahh.. maaf. Astaga saya gak sengaja. Ma-"
Mata itu
Mata yang sama seperti 2 tahun lalu. Tatapan yang sama seperti 2 tahun lalu. Dan aroma parfum yang sama.
"Saya permisi-"
Pemuda itu pergi. Meninggalkan Valerie yang masih tercenung sendirian. Valerie masih hafal dengan diri pria itu. Dia masih hafal secara detail.
Dan tadi,
Is That Him?
--/--
"Sampai rumah makan, terus langsung tidur ya," ucap Nathan sambil membuka helm pada Valerie.
"Kan sholat dzuhur dulu NatNat," sungut Valerie. Dia masih sedikit kesal pada Nathan.
"Kamu belum shalat dzuhur?" Nathan menaikkan alisnya sebelah.
"Belum, tadi aku mau sholat tapi takut kamu kelamaan nunggu jadi aku berniat sholat di rumah aja. Lagipula kamu aku anggurin bentar aja yang ngeliat udah banyak. Apalagi lama lama kalau aku tinggalin. Untung mereka nggak berani mendekat kalau nggak." Valerie merematkan tangannya.
"Nggak boleh gitu," Nathan mengenggam tangan Valerie yang terkepal. Ia harus memberi tahu Valerie bahwa tindakan yang ia lakukan hanya akan menambah permusuhan dirinya dan yang lain.
"Kamu suka di liatin mereka?"
"Nggak,"
"Terus, kamu kok marah aku bilangin mereka"
"Nggak kenapa napa. Aku nggak suka kamu seperti itu sama orang orang. Mereka boleh suka sama siapa aja itu bebas. Asal orang yang kamu cintai ini gak berusaha untuk mendekat ke yang lain,"
"You can't look at people together and think they're wrong," lanjut Nathan.
"Lah emang mereka salah kok. Bisa bisanya genit sama kamu padahal mereka tau aku pacar kamu,"
"It's called you don't believe me. Because I won't turn my back on you,"
Valerie hanya diam dan menganggukkan kepalanya. Jika Nathan sudah berbicara dengan nada serius, Valerie selalu diam dan tak mau membantah apa yang di katakan Nathan.
Walau Nathan tak pernah marah jika Valerie membantah perkataannya, tapi ia tetap mau mendengar perkataan Nathan. Ya walaupun kebanyakan Valerie sendiri ngegas juga sih. Tapi Nathan adalah definisi pacar impian para umat perempuan. Selain tampan, pintar dan keren. Dia selalu menghormati wanita dan tidak pernah berkata kasar.
"Yaudah kamu masuk sana,"
"Kamu jangan lupa makan dan kabarin aku ya. Pokoknya chat aku ya," tunjuk Valerie dengan jari telunjuknya pada Nathan.
"Iya, kamu masuklah." Nathan mengusak rambut Valerie dan menaiki motornya. Valerie terdiam sampai punggung kekasihnya sudah tak terlihat lagi. Ia benar benar bingung dengan hati Nathan. Entah kenapa Nathan selalu seperti ingin menjauh darinya. Sebenarnya Valerie bukannya haus perhatian. Namun ia ingin tau seberapa besar cintanya pada Nathan. Bahkan saat anniversary satu tahun mereka saja, Nathan tak memberikan apapun. Jangankan memberi hadiah, menelepon untuk mengucapkan hari jadian mereka saja tidak ada.
Ingin rasanya Valerie berhenti. Namun ia tak kuat menjalaninya. Nathan adalah pacar pertamanya. Dan pacar pertama tidak bisa dengan mudah di lupakan. Melupakan Nathan itu bagai membalikkan telapak tangan.
Iya, telapak tangan raksasa.
Walau sebenarnya Valerie tahu, alasan Nathan sedikit menjauh adalah hanya karena menjaga hati seseorang. Ia tak mau orang tersebut tersakiti. Itu maksud Nathan. Bukan karena tidak mencintai.
Valerie masuk dan mengarah ke ruang tamu. Di lihatnya mama, papa dan Jae yang sedang duduk menonton TV. Mungkin hari ini mereka sedang waktu santai mengingat orangtua Valerie yang biasanya sibuk sekarang tengah bersantai. Malvin dan Zara bekerja sebagai dokter. Malvin yang bekerja sebagai dokter bedah dan memiliki rumah sakit tekenal di Jakarta. Sedangkan Zara adalah dokter gigi. Ia memilih menjadi dokter gigi dengan waktu yang relatif lebih bebas setelah Valerie lahir. Ia tak mau menyia-nyiakan waktu kebersamaannya dengan anak anaknya. Karena waktu tak dapat di tukar dengan mudah.
"Adik abang kenapa manyun gini?," ucap Jae ketika Valerie duduk dengan wajah yang bisa di klaim sedang bad mood. Jae tau kalau sudah manyun begini pasti adik kecilnya itu sedang marah pada Nathan. Siapa lagi yang membuat Valerie ngembek begini kalau bukan Nathan. Bahkan hal sepele seperti Nathan senyum pada gadis lain saja Valerie sudah emosi tingkat dewa. Bisa di bilang Valerie berlebihan. Tapi coba kalian rasakan punya pacar populer. Pasti sama rasanya seperti yang Valerie rasakan sekarang.
"Pasti Nathan ya kan?" celetuk Malvin dengan mata yang masih menonton siaran TV berita.
"Ya siapa lagi pa, kalau bukan si NatNatnya Lov. Ya kan?" goda Zara dengan wajah senyum senyum.
Memang Valerie selalu menceritakan banyak hal tentang Nathan pada keluarganya. Dia mau terbuka hubungannya dengan Nathan. Ia tidak mau orangtuanya tidak tau menahu tentang hubungan mereka. Karena sejatinya, kita akan tetap membutuhkan perkataan orangtua jika kita dalam masalah dalam berhubungan. Ya wajar sih, orangtua kan pernah muda. Duluan makan garam daripada kita.
"Ah jangan gitu dong. Lov kan lagi galau"
"Kamu kan emang sehari harinya galau ya kan? " cibir Jae.
"Kayak oppa nggak aja"
"Oppa galaunya masih wajar. Lah kamu labil gini"
"Lov bukan labil, tapi sayang Nathan,"
"Abang juga gak labil tapi sayang sama kamu,"
"Abang kelamaan jomblo. Cari pacar sana. Ih dah tua juga umurnya,"
"Lah, Abang masih 18 tahun dan kamu bilang tua gimana Papa sama Mama dek?"
"Yahhh, terserah Lov lah. Situ yang ngatur huh," dengan gaya pongahnya Valerie berjalan ke arah kamar. Dan meninggalkan Jae yang masih terbengong-bengong. Dan Papanya hanya tertawa kuat melihat sang Abang yang di skakmat.
"Jangan lupa minum obatnya Lov. Bentar lagi hari check up kamunya," Valerie mengangguk dan masuk ke kamarnya yang bernuansa pink. Banyak gambar bunga sakura juga di kamarnya.
Walau dia benci suasana di Negara kelahirannya, tapi ia tetap mencintai Negara tersebut. Walau sekarang ia sudah pindah kewarganegaraan. Menjadi warga Negara Indonesia mengikuti sang mama dan papa kemudian di susul oleh Valerie dan Arsha.
Valerie merebahkan tubuhnya di kasur bergambar Mickey Mouse tersebut.
Ia suka kartun yang sudah ada sejak ia masih SD. Bahkan sampai sekarang ia masih suka mengoleksi barang barang yang berbau kartun tersebut. Valerie mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat pesan Nathan yang sudah ada sekitar 10 menit yang lalu.
Nathan
Aku udah sampai café
Valerie
Syukurlah, kamu udah makan?
Nathan
Udah
Valerie
Ohh udah siap buat muralnya? Nanti kita teleponan kamu mau?
Valerie menatap handphonenya yang belum dapat jawaban dari Nathan. Ia mematikan lockscreen handphonenya dan mengambil obat dari atas nakasnya. Menunggu Nathan membalas pesannya sama saja seperti menunggu doi yang tak peka terhadap perasaanmu.
Nathan selalu mendiamkan pesan Valerie. Entah apa yang di lakukan kekasihnya sampai ia tak berniat menjawab pesannya. Bahkan hanya di read saja. Valerie ingin berprasangka buruk. Namun ia tak mau rasa egonya menghancurkan hubungan yang sudah ia jalani selama satu tahun ini. Valerie beranjak dari kasurnya dan mengambil obat yang sudah menemaninya selama 17 tahun ini.
"Kapan gue berhenti minum obat sialan ini," lirih Valerie dengan air mata yang turun membasahi obatnya.
Ia merasa dirinya tak berguna jika meminum obat itu. Selalu saja ia harus menelan pil pahit itu. Tak boleh absen meminumnya. Ia akan mengalami sakit yang luar biasa jika tidak menelan pil itu. Rasanya ia tak bisa bebas jika obat itu selalu mampir di tenggorokannya.